
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Rajandra
BRAK!
Hempasan pintu yang terlempar keras menggema di ruangan berukuran lima kali tiga. Ruangan yang selama beberapa waktu ini ia gunakan sebagai tempat beristirahat.
Ia mengeraskan rahangnya dengan begitu geram. Ada apa ini, mengapa ia tak bisa menahan diri untuk tak menjawab Demas tadi.
" Sial, harusnya aku bisa lebih menahan diri!"
Gumamnya seraya membasuh wajah dengan penuh kegusaran. Menatap wajahnya pada cermin yang berada di kamarnya. Sesal menggelayut dan menderanya, jika sudah begini, sama saja ia menggiring diri untuk segera menyelesaikan misinya.
Tak ada waktu lagi.
.
.
Eva
" Ada apa mas? Mas lapar?"
Ia yang melihat gelagat aneh dari suaminya tak mau lagi menunda diri untuk menggali informasi meski suaminya masih nampak berpikir keras.
" Tidak ada, aku...hanya tidak bisa tidur. Sudah ayo kita masuk!" Sahut Demas enggan membuat istrinya kepikiran.
Ia hanya bisa terdiam saat suaminya lekas menggerakkan kakinya yang masih kaku untuk berjalan bersama tongkat. Merasa masih penasaran dengan raut wajah suaminya yang begitu tegang.
Setibanya ia dikamar, Eva memijat lembut kaki suaminya yang saat ini masih saja tampak berpikir keras.
" Sebenarnya ada apa mas? Kenapa mas keliha..."
" Tidak ada apa-apa. Aku hanya sulit tidur!" Sahut Demas sekilas sembari tersenyum. Membuat Eva berinisiatif untuk membuat sesuatu.
" Aku buatin susu hangat ya, mas harus banyak istirahat. Besok kan jadwal mas untuk terapi."
Suaminya mengangguk menyetujui, membuatnya semangat untuk menuju dapur.
Namun, siapa sangka, malapetaka yang selama ini bersisihan dengan mereka, malam ini benar-benar menghantam mereka bagai badai, dan seketika meluluh lantakkan pondasi rumah tangga yang baru seumur jagung itu.
Sebab, manakala Eva tengah sibuk membuka kotak berisikan susu tinggi kalsium untuk suaminya, sebuah suara seseorang mengalihkan atensinya.
" Siapa?" Dengan rasa penasaran bercampur rasa takut, ia bermonolog demi memecah kesunyian yang mendadak mencekam di malam itu.
Sialnya, belum juga ia sampai ke area luar, sebuah bekapan dari sapu tangan berbau memusingkan membuatnya limbung dan tumbang dalam waktu sekejap.
BRUK!
Eva tak sadarkan diri.
.
.
Demas
Merasa waktu yang berlalu terasa begitu lama jika hanya digunakan untuk membuat segelas susu, pria tampan itu mendadak resah. Ada apa? Kenapa istrinya lama sekali?
Ia melihat jam dan sudah sangat larut, tak enak hati jika membangunkan pembantunya yang mungkin saja telah terbuai alunan mimpi.
Dengan tertatih, ia berusaha berjalan keluar sekuat tenaganya. Namun, sebuah hal mengejutkan benar-benar seolah-olah membuat dada dan kepalanya meledak saat itu juga.
KLAK!
KLEK!
DEG!
" Apa-apaan kau ?!" Tanya Demas dengan wajah memerah dan dada yang bergemuruh demi melihat Rajandra menodongkan senjata api ke arahnya.
Oh Shiit!"
" Kau pasti sudah curiga kepadaku kan? Aku sudah muak, cepat minta keluargamu mencabut tuntutan untuk kakakku, atau jika tidak, malam ini aku akan menikmati tubuh istrimu!"
DEG
Lagi, oa hanya bisa tercengang manakala Raja tergelak penuh kemenangan dengan suara iblis yang begitu mengerikan.
Kakakku?? Memangnya dia siapa?"
" Kurang ajar!" Geram Demas menggertakkan giginya demi menahan amarah.
" Bagaimana rasanya menjadi tidak berguna hah? Hah, enak sekali bukan?"
"Dan...oh iya, aku sangat puas karena selain tolol, kamu juga begitu bodoh untuk diperdaya!"
" Hahahaha!"
BUG!
BUG!
" Brengsek!" Raja yang kesakitan kini membalas Demas dengan sebuah tendangan yang membuat laki-laki itu seketika tersungkur. Sungguh tak dibenarkan berjiwa pengecut, melukai musuh yang bahkan untuk berdiri saja ia tak bisa.
" Argghh!" Ringis Demas yang saat ini tak memiliki topangan apapun dan merasakan nyeri di bagian kakinya.
" Astaga! Pak Demas! Mas Raja! " Bik Sulis yang mendengar keributan seketika mendelik manakala melihat Demas tersungkur dan Raja yang membawa sepucuk senjata.
Membuat adik dari Anthoni itu mendadak merasa kaget, ambigu dan juga seketika bingung karena ia melupakan wanita tua yang tak memiliki dosa itu.
" Sial, aku lupa jika ada bik Sulis disini. Bagaimana ini?" Batinnya semakin gugup.
" Lari bik, tolong cari bantuan!" Titah Demas dengan berteriak sembari berusaha menjauhkan diri dari Raja.
Membuat Raja seketika berlari dan langsung memukul tengkuk Bik Sulis sebelum wanita itu melakukan apa yang dikatakan oleh Demas, dan menggagalkannya seluruh rencananya.
BRUK!
Sempat mendecak kesal karena saat ini, ia benar-benar bingung dan merasa bersalah. Ya, Rajandra berada di titik kebingungan sebab ia melupakan bik Sulis. Dan entah kenapa, ia sebenarnya tak tega untuk membuat Bik Sulis celaka dan terlibat.
Double damned!
.
.
Rajandra
Apa yang ia lakukan semalam benar-benar mengharuskan dirinya untuk bergerak cepat. Ia memisahkan Eva dan Demas, serta dua penghuni lain dalam ruangan yang berbeda.
Ya, ia telah meminta Boni untuk membawa beberapa anak buahnya untuk menolongnya membawa Eva, Demas, ibu Eva juga bik Sulis menuju ke sebuah tempat.
Ia yang kehilangan kendali kala menjawab ketus ke arah Demas, dengan sendirinya takut jika usahanya gagal. Membuatnya mengganti haluan dengan menggunakan cara kekerasan.
" Siapa kau sebenarnya?" Tanya Demas yang saat ini diikat di sebuah kursi dengan wajah yang babak belur sebab semalam Raja meluapkan kekecewaan, kekesalan, serta kemarahan kepada anggota dari keluarga Darmawan itu.
Raja tersenyum licik sembari mencengkram kasar rahang kokoh Demas. Membuat wajah anak bungsu Jessika itu mendongak ke atas secara paksa.
"Dengar bangsat, aku tak ingin basa-basi lagi. Aku ingin kakakku Anthoni keluar dari penjara sekarang juga. Dan kau, kau harus bisa melakukan hal itu atau istrimu aku perkosa di depanmu saat ini juga!"
DEG!
" Anthoni? Jadi...dia?" Batin Demas yang kini tahu siapa pria yang selama ini menjadi supirnya itu.
" Binatang!"
" Cuih!" Maki Demas geram seraya meludah sekali lagi demi mendengar ancaman menjijikan itu.
BUG!
Membuat wajah adik Deo Darmawan itu seketika terlempar sebab rupanya apa yang dilakukannya membuat Rajandra tersulut emosi.
" Apa kau pikir aku main-main hah? Bon, bawa wanita itu kemari!"
Raja berteriak demi kemarahan yang kian berkuasa atas dirinya. Sama sekali tak terima dengan penghinaan yang di lakukan oleh Demas.
Dan beberapa saat kemudian, sebuah suara ribut membuat Demas memusatkan perhatiannya ke ambang pintu. Benar-benar pagi yang tak pernah ia sangka jika akan sesuram ini jadinya.
" Lepas!" Eva yang biasanya terlihat kuat, saat ini benar-benar ketakutan dan terlihat berpenampilan kacau. Sepertinya, wanita itu terus berontak semalaman sebab ibunya juga turut di kurung di ruangan yang berbeda bersama Bik Sulis.
" Sayang?" Demas yang baru melihat istrinya sejak semalam, benar-benar seketika merasa geram, khawatir, cemas dan sedih.
Benar-benar turut menyesal karena selama ini, ia terperdaya jebakan Raja dan membuat lisannya kerap menyakiti Eva.
" Kemari kau!" Raja menarik pinggang Eva lalu memeluknya dari belakang, membuat Eva seketika menangis ketakutan.
" Hentikan brengsek!" Demas yang melihat hal itu tentu saja tak sanggup. Apalagi, kondisinya saat ini benar-benar sangat lemah.
Membuat Eva yang saat ini merasa pusing hanya bisa menitikkan air matanya dengan perasaan takut.
" Kalau begitu, cepat keluarkan kakakku dengan cara rapi!"
" Dan ingat, jika kalian gagal, aku tak segan membunuh mertua dan pembantu mu itu!"
Membuat Demas benar-benar terdesak dengan titik geram yang tiada bisa ia sembunyikan.
" Kalian benar-benar kurang ajar!"
.
.
.
.
.
Hallo assalamualaikum buebo. Insyaallah hari ini mommy udah bisa membersamai kalian setiap hari.
Makasih ya yang mau nungguin aku.