
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Diatas singgasananya, ia melirik dengan sorot penuh keingintahuan kala Erik menyembul dari balik pintu ruangannya dengan raut wajah lesu.
BRUK!
Pria dengan rambut yang selalu tampil rapih itu, nampak melemparkan punggung lebarnya ke sofa dengan gerakan tak memiliki daya.
Lemah, letih, lesu, lunglai, loyo.
Membuat Deo memicingkan matanya.
" Kenapa? Berangkat berapi-api pulang jadi hilang harga diri begini?" Tukas Deo masih dengan jari yang mengetik sesuatu di laptopnya. Membuat Erik mendengus.
Namun, alih-alih menjawab, Erik justru semakin membenamkan wajahnya ke sofa. Nampak seperti kehilangan semangat juang.
" Gagal? Atau, pesanan istriku enggak ada?" Timpal Deo demi menggali sebab musabab mulut yang bisu itu.
" Kalau itu aman bos. Mau cuss sekarang juga bisa!" Sahut Erik akhirnya.
" Lah terus masalahnya?"
Erik membuka bantal yang menutupi wajahnya. Kini, pandangannya nyalang menatap langit-langit.
" Dia susah banget di dekati bos. Masa iya saya harus nyerah!" Jawab Erik lesu demi mengingat jawaban bernada penolakan yang telah di lontarkan oleh Wiwit.
Membuat Deo lagi-lagi menghela napas panjang. Pria lemah!
Deo nampak memutar kursi kebesaran, lalu meraih sebuah buku bersampul coklat, yang nampak seperti jilidan formulir.
BRUK!
" Apa ini?" Tanya Erik setengah terkejut kala seonggok buku terlempar ke arahnya.
" Baca!" Seru Deo datar.
" Form cuti?" Gumam Erik sembari membaca deretan kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat, dengan kening berkerut.
" Ambil cuti dan bereskan semuanya. Setidaknya, sebagai laki-laki, kita harus usaha dulu. Kata Bang Iwan Fals ' Tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya'!"
Kini, Erik terbengong-bengong demi melihat Deo yang sangat serius.
" Apa Pak Deo kesambet?" Batin Erik.
" Saya tidak kesambet!"
" What? Bagiamana dia bisa tahu?" Gumam Erik dalam hati yang terheran-heran, mengapa Deo bisa tahu apa yang ada di dalam hatinya.
" Ingat, saya tidak suka mengulangi perkataan. Cepat atau kamu saya..."
" Siap Pak, lima menit lagi saya akan serahkan dokumen ini. Permisi!" Sahut Erik melompat cepat dan sukses membuat Deo tekrikik-kikik.
Begitu dong!
.
.
Deo
Matahari sudah bergeser ke sisi barat kala ia telah tiba di kediamannya. Sedikit mengerutkan kening lantaran gerbang rumahnya mendadak ada yang membukakan.
" Siapa dia?" Batin Deo menatap pria yang kini tergopoh-gopoh menyambutnya.
Pria kurus berkulit gelap, yang mengenakan kaos kuning cerah dengan celana gombrong yang membuat tampilan pria itu benar-benar kontras.
" Selamat siang Pak Deo!" Sapa pria itu memamerkan giginya yang tidak rata. Membuat Deo spontan tersenyum walau kaku.
Sejurus kemudian, ia hanya diam sembari nampak gencar berpikir. Apa Arimbi memesan pegawai ke penyaluran pekerja?
Tapi, kenapa istrinya itu tidak konfirmasi dulu? Minimal, dia bisa memilih kriteria yang lebih milenial.
" Mas!"
Deo tersenyum saat melihat Arimbi yang menyongsong kedatangannya. Istrinya itu nampak cantik dalam balutan daster rumahan.
" Tumben enggak ngabarin kalau udah pulang?" Tanya Arimbi sembari menerima ciuman kening dari Deo.
" Kan kamu mau ke tempatnya mbak Wiwit, ya akhirnya aku cepetin kerjaan aku tadi, sampai lupa ngabarin!"
" Itu siapa?" Tanya Deo menunjuk pria berkaos kuning yang terlihat menutup pintu gerbang dengan susah payah.
" Itu Pak..."
Belum juga Deo mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, kini ia dikagetkan dengan kemunculan sang Mama.
" Mama jadi kesini? Kok enggak ada bilang sih?" Tanya Deo meraih tangan Namanya lalu menciumnya takzim.
" Ngapain bilang, orang kamu sendiri yang minta mama kesini karena Arimbi sakit!" Jawab Jessika ketus.
Membuat Deo meringis kala di tatap sengit oleh istrinya yang jelas marah karena sudah melanggar janji untuk tidak merepotkan keluarganya.
" Papa yang datangkan dua orang ART itu. Satu biar bantu ngerawat rumah, satu orang biar masak. Mereka suami istri, tadi kebetulan pas kita telpon yayasan mereka udah ready. Ya udah, langsung aja!" Terang Mama Jessika
Deo mengangguk senang sekaligus setuju. Jika Mamanya yang bertitah, ia yakin, Arimbi pasti tidak akan berani menolak.
.
.
" Kamu kenapa?" Deo yang baru keluar dari kamar mandi itu, nampak mengerutkan keningnya kala melihat Arimbi yang menutup hidungnya dengan wajah mual.
" Mas, kamu jangan taruh baju kotor di sini dong. Baunya enggak enak! Huek!"
DEG
Deo mendelik kala Arimbi mual mual sewaktu mencubit ujung kemeja yang beberapa menit lalu ia kenakan saat bekerja.
" Lah, kan biasanya aku juga naruh baju bekas pakai disini juga?" Elak Deo demi mengingat jika hal itu bukanlah hal baru.
"Huek! Huek!"
" Enggak enak mas!" Sergah Arimbi yang semakin mual.
" Huek! Huek!"
Kini, Deo sampai kebingungan kala melihat Arimbi yang sedetik kemudian nampak berlari menuju kamar mandi, dan terlihat mengeluarkan sedikit isi perutnya.
Membuat Deo semakin panik dan cemas.
" Sayang kamu sakit ini, kita harus segera ke dokter, ayo!" Ucapnya resah dengan wajah khawatir yang begitu kentara.
.
.
TUK TUK TUK
Tapak sepatu yang mengetuk secara masiv diatas lantai mengkilat itu, menjadi penegas bila kegundahan dan keresahan tengah menyerang Deo.
Istrinya muntah dan mual secara terus-menerus, dan ia tak bisa mentolerir untuk urusan sakit seperti itu. Meski sempat ada penolakan, namun ia keukeuh membawa Arimbi kerumah sakit untuk menjalaninya pemeriksaan.
" Maaf Bu, boleh saya tahu libur terakhir?" Tanya dokter wanita yang sangat ramah itu kepada Arimbi yang masih berbaring.
" Astaga, sekarang tanggal berapa ya dok? Iya ya, kok saya lupa kalau bukan ini saya Belum libur ya dok?" Jawab Arimbi muram.
Deo yang tak mengerti inti dari percakapan dua manusia dari kaum Hawa itu hanya bisa menatap istri dan dokter itu secara bergantian.
" Ngomongin apaan sih? Libur? Istriku enggak kerja kok?"
" Sebaiknya ibu masuk dulu untuk cek . Silahkan!" Ucap dokter itu tersenyum ramah, sembari memberikan alat penguji urine berwarna merah jambu kepada Arimbi.
Membuat Deo semakin bertanya-tanya dalam hatinya.
" Mau apa dia?"
" Tapi dok, setahu saya, kalau begini kan harus pagi dan set...."
" Jika memang iya, maka two line itu akan tetap muncul Bu!" Sergah dokter itu dengan pasti. Membuat Deo semakin tidak tahu apa yang dua betina itu bicarakan.
Arimbi mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi yang berasa di dalam ruangan itu. Meninggalkan Deo yang terbengong-bengong.
" Maaf Dok, sebenarnya istri saya sakit apa ya? Kenapa dia..." Deo yang tak tahan dengan rasa penasaran yang menyiksa itu, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Membuat dokter itu tersenyum.
" Maaf Pak, jika dugaan saya benar, seperti Bu Arimbi tengah mengandung. Sebab gejala-gejala yang di keluhkan sangat mirip dengan gejala trimester awal kehamilan. Kita tunggu dulu hasilnya ya Pak?"
DEG
" Hamil?" Deo membatin dengan rasa hati yang nano- nano. Senang, bahagia, terharu, kasihan, bangga. Semuanya.
Entah mengapa juga, pria itu seketika merinding demi mendengar kata hamil.
Apakah aku akan menjadi seroang papa?
Cihaaa!!!
.
.
.