My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 09. Gangguan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Erik


Ia baru saja selesai membereskan berkas-berkas dan sejurus kemudian ia melangkahkan kakinya menuju ke lantai dasar. Namun, sesuatu yang tak ia sangka nampak membuatnya tak habis pikir dan sukses membuat langkahnya terhenti.


" What?"


Gadis manis yang berulang kali membuatnya kesal karena kerap memanggil dirinya dengan sebutan' Pak ' itu, terlihat memaki ke arah bosnya dan juga Roro, wanita yang sebenarnya kurang ia suka.


Ia melirik wajah geram Roro yang kini di cekal oleh Deo.


" Ada apa lagi ini?"


Beberapa detik kemudian, pandangannya terus beralih pada punggung gadis yang kini mulai menghilang di balik tembok. Membuatnya kini terkesiap dan kembali menapaki anak tangga itu.


" Ada apa bos? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Erik demi memuaskan rasa ingin tahunya. Ia juga penasaran kenapa Roro begitu terlihat memerah.


Deo terlihat menggeleng demi menggugurkan rasa syok. " Tidak ada, don't worry!" Ucap Deo cepat.


" Oh ya, Rik aku sama Roro mau keluar dulu. Kamu tolong minta anak-anak GH buat ngantar mobil Roro ke rumahku yang baru nanti ya, terserah siapa aja, yang penting jangan lupa nanti malam setelah last flight kamu ke rumah, siapa yang mau makan nasi yang dimasak mama nanti!"


Erik mengangguk paham. Astaga ia bahkan lupa jika hari ini bosnya itu akan menempati rumah barunya.


.


.


Arimbi


Ia sudah tak mau bersusah-susah untuk berpikir, di terima atau tidak ia nanti setelah berani melawan wanita bersusu jumbo tadi. Ia hanya ingin meluapkan ganjalan yang bersarang di hatinya. Persetan dengan lamaran pekerjaannya.


" Masuk karepmu ora karepmu !" Ucapnya kesal seraya menstater motornya dengan buru-buru. Ia sudah bodo amat akan nasibnya. It's so fu*cking about this work!


Usai membayar sejumlah uang pada petugas penjaga pintu keluar, ia melajukan kembali kendaraan miliknya dengan wajah keruh.


Sebuah motor matic hasil dari kredit selama ia bekerja di Tirta Dewata, selama ini menemani kemana saja ia pergi. Sebuah kebanggaan memang, bisa memiliki kendaraan dari hasil lelahnya yang halal.


Namun, belum tuntas kekesalan di hatinya, hal lain yang lebih mengejutkan lagi-lagi membuatnya misuh-misuh dijalan. Ia makin resah saat melihat Wira yang mencegatnya di ujung jalan masuk bandara.


Entah tahu dari mana pria itu jika dirinya berada di bandara.


" Ar! Arimbi!" Wira yang awalnya berdiri di samping mobilnya kini berlari menuju ke arahnya. Oh tidak!


Sial, ia tak bisa berputar balik sebab jalan itu merupakan jalan satu arah. Belum juga muncul ide soal bagiamana ia bisa lari, kini pria bertubuh jangkung itu telah berhasil berada di depan motornya. Membuatnya langkahnya terkunci.


" Ar, please dengerin gue ngomong dulu!" Wira memasang wajah memohon. Pria asli pulau seberang itu terlihat lelah. Mungkin sejak subuh pria itu tiba di sini.


Tapi tunggu dulu, untuk apa dia kasihan? Bukankah pria di depannya itu pria brengsek?


" Udahlah Wir, aku udah enggak mau denger apa-apa lagi, kita udah selesai!" Ia jijik dengan pria yang selama dua tahun ini merajut tali asmara bersamanya itu. Apalagi saat kilasan ingatannya kembali pada posisi Wira yang nangkring diatas tubuh Ariska beberapa bulan yang lalu.


" Ar, gue di jebak. Percaya sama gue!" Ucap Wira memohon. Membuat Arimbi murka.


" Di jebak kamu bilang? Mana ada orang gancet masang wajah enak begitu bilang dijebak. Gini ya Wir, intinya aku udah enggak mau sama kamu , udah!"


Wira menarik tangan Arimbi dan membuat wanita itu meronta-ronta. " Lepas Wir, aku bakal tereak ni!" Ancam Arimbi kala ia merasa Wira nekat.


" Teriak aja, biar aja aku digebukin orang, asal kamu mau maafin aku!" Jawab Wira dengan suara meradang.


Arimbi mendelik. Udah enggak waras si Wira.


" Wir! Lepas sialan!" Arimbi bahkan sampai kesakitan manakala tangannya ia tarik.


Oh sial!


.


.


Deo


Ia awalnya mengendarai mobil itu santai. Rencananya ia akan check in ke hotel dulu demi merayakan cinta bersama Roro. Oh God! Ia sudah seminggu lebih bertengkar dengan kekasihnya itu, rasa rindu untuk berselancar di lautan kenikmatan kian membuncah.


Terlebih, aksi enak-enaknya di ruangannya tadi sempat terinterupsi oleh gadis kurang ajar itu.


" Ada apa tuh?" Tukas Roro yang melihat sesuatu yang agak tak lazim di depan sana.


Deo yang melihat lurus kedepan seketika kaget manakala melihat jika tangan Arimbi di cekal oleh seorang pemuda dengan rambut yang diikat seperti kenji, dengan wajah yang lumayan oke.


" Itu kan wanita tadi, benar-benar gadis gak jelas. Lihat aja tuh!" Cibir Roro seraya melirik Arimbi yang masih kesusahan melepas cengkraman tangan seorang pria muda, dari dalam mobil bersama Deo.


Entah mengapa Deo menjadi ingin tahu. Rasa kasihan mendadak menyelinap ke relung hatinya. Apalagi, ia bisa melihat jika Arimbi tengah ngotot untuk melepaskan dirinya.


" Mau ngapain kamu, enggak usah ikut campur. Biarin aja, perempuan enggak jelas dia itu memang!" Ucap Roro demi melihat Deo yang memperlambat laju kendaraannya.


Deo berada di ujung kebimbangan. Ia sebenernya ingin melerai karena ia tahu, pria bukanlah lawan yang sepadan bagi wanita soal gelud seperti itu. Tapi, melihat sikap Roro yang tak setuju, membuat niatnya urung. Deo tentu tak mau membuat kekasihnya itu badmood lagi, ia baru saja baikan dan dia ingin menyalurkan hasratnya bersama wanita di sampingnya itu.


Deo akhirnya menginjak pedal gasnya tanpa berhenti dengan perasaan yang mendadak gundah. Ah sudahlah! Lagipula, Arimbi kan wanita judas, mustahil dia tak bisa menyelesaikan masalahnya.


Selain itu, bisa saja pemuda itu merupakan pacarnya.


Cih, kenapa dia peduli.


.


.


Arimbi


Ia sebenarnya lega begitu mobil pria sombong itu melesat pergi, namun kini ia kembali bingung karena tenaga Wira yang mencekalnya terlalu kuat untuk ia lawan.


" Wir, kamu budeg ya? Lepas!" Hardik Arimbi kepada pria yang masih tekun menyeretnya untuk masuk ke mobil.


" Enggak, sebelum kamu mau ikut aku untuk bicara!" Sergah Wira masih bersikukuh.


" Anjing kamu Wira!"


SLURK!!


Akhirnya cekalan tangan Wira terlepas detik itu juga , kala ia menarik tangannya dengan sangat kuat dan keras. Membuat Wira terkejut.


" Ar, gue mohon tolong dengerin gue. Gue sayang banget sama elu Ar!"


" Cuih!"


Arimbi membuang ludahnya ke rumput yang ada di bahu aspal itu, demi rasa muak yang membuncah. Sama sekali tidak percaya dengan ucapan pria di depannya itu.


Merasa di sepelekan, Wira geram dan seketika menyeret Arimbi kembali lebih kasar. Membuat Arimbi meronta-ronta minta dilepaskan.


" Woy! Lepasin tuh cewek!"


Ucap seseorang yang membuat kedua manusia yang terlibat pertarungan sengit itu terperanjat.


.


.


.


.