My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 117. I love you my Boss My Enemy My Husband



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


Ia benar-benar merasa malu saat Demas justru mengerlingkan matanya sesaat setelah melayangkan sebuah ciuman mendadak itu.


Benar-benar definisi dari pria susah di tebak. Sebentar cuek, sebentar bersikap manis, dan sebentar konyol begitu. Astaga, apa sih maunya?


" Pak!" Pekiknya tertahan dengan segumpal rasa malu sebab ada Claire diantara mereka. Membuat wanita itu benar-benar sebal terhadap Demas yang nampak tak berdosa.


" Lanjutkan kegiatan mengobrol kalian. Sebaiknya segeralah akrab. Makin cepat makin baik!" Seru Demas dengan wajah yang tiada terbebani.


Pria itu sejurus kemudian pergi dan tak memperdulikan dua wanita yang masih larut dalam keterkejutannya itu.


"Bagaimana bisa dia bersikap santai dan tidak malu? Astaga!" Batin Eva mendecak tak percaya, sembari menatap punggung lebar Demas yang semakin menjauh dari pandangannya.


" Astaga, Eva! Sepertinya kau ini dilahirkan memang untuk jadi pawangnya si Demas!" Ucap anak sulung Leo itu dengan wajah berbinar.


" Kak Claire!" Sahut Eva murung. Menatap ke arah saudara sepupu Demas yang kini tergelak mencibirnya.


Sialan!


.


.


Diruang keluarga.


" Kamu kenapa Dem, senyam-senyum sendiri begitu?" Bella yang tengah duduk diantara ke-lima orang tua yang tengah berbicara serius dengan Deo dan Arimbi itu, nampak terheran-heran dengan Demas yang aneh.


Tidak biasa dan benar-benar nampak berbeda.


" Enggak ada apa-apa. Gimana, jadi hari apa acaranya?" Jawab Demas melempar tubuhnya ke sofa seraya menyuguhkan wajah yang mengundang rasa penasaran keluarganya.


Demas kesambet?


Laki - laki itu nampak memiliki rona wajah cerah dan begitu segar. Sangat berbeda seperti pada hari-hari biasanya. Membuat dinasti Darmawan itu seketika keheranan.


Ya, mereka tidak tahu jika Demas baru saja mendapatkan paket combo kebahagian. Bisa mencium Eva, sekaligus bisa mengerjakan wanita cerewet itu.


" Dua Minggu lagi. Aku minta kamu bantu persiapannya juga. Kamu dan Eva sepertinya cocok jadi Bridesmaids!" Seru Jessika dengan wajah yang nampak bahagia.


" Kok Eva?" Jawabnya resah seraya membetulkan posisi dudukku.


" Lah, memangnya siapa lagi?" Sergah Jessika bingung.


" Ya kan Bridesmaids itu enggak cuma satu!"


" Ya kamu atur aja siapa-siapa yang jadi, teman-temannya Arimbi kan bisa, Erik juga boleh! Atau si Dian!" Seru Jessika dengan kalimat yang begitu solutif.


Membuat Demas menarik senyuman licik.


.


.


Arimbi


Waktu yang berlari dengan aroma penuh kebahagiaan itu membawa serta rasa tak sabar bagi keduanya. Deo sore ini menuruti permintaan sang istri untuk menginap di rumah Bu Ning, sebelum mereka melangsungkan acara pernikahan yang akan berlangsung beberapa hari lagi.


Ya, Arimbi seperti merindukan kebersamaan dengan keluarga sederhana mereka.


Jessika yang mengetahui bila antara Demas dan Eva agaknya memiliki hubungan khusus itu, nampak merasa senang. Ia yang dulu juga pernah merasa hidupnya bagai kisah sinderela itu sepertinya tak mau ribet soal jodoh anak-anaknya.


Dia yakin, wanita dari kalangan sederhana dan bersahaja, bisa menjadi pribadi yang lebih sabar tidak neko-neko kala menghadapi bahtera. Sebab, ia juga merupakan satu diantaranya.


" Aku lihat sendiri Budhe, Demas nyosor si Eva. Udah kayak soang aja tuh orang! Asli, aku setuju kalau si Demas sama Eva Budhe. Pasti rame tuh!"


Begitu ucap Claire beberapa waktu lalu kepada Jessika. Membuatnya yakin jika gadis periang bernama Eva pasti mampu mengimbangi sifat Demas yang kaku dan dingin.


Dan kini, Deo yang baru memarkirkan mobilnya ke depan pintu rumah sederhana keluarga Arimbi itu, nampak merasakan kebahagiaan yang tiada terkira.


" Kayaknya aku harus minta si Erik buat cari orang untuk bikinkan garasi mobil disini!" Gumamnya dengan kepala yang celingak-celinguk.


" Untuk apa, enggak punya mobil kok buat garasi!" Sahut Arimbi seraya melepaskan sabuk pengamannya. Menanggapi ocehan Deo yang dinilai agak tak masuk akal.


" Siapa bilang enggak punya, tuh!"


TIN TIN


Suara klakson dari deru mobil yang melaju di belakang mobil mereka itu, sontak membuat Arimbi menoleh. Dan, betapa terkejutnya dia demi melihat sebuah mobil hitam mengkilat dengan keadaan baru yang dikemudikan oleh adiknya, Farel.


" Mas?" Tanya Arimbi tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Deo tersenyum kala melihat Arimbi yang nampak terkejut. " Aku sengaja beliin Farel biar dia mau dan semangat kuliah!"


DEG


Arimbi seketika tertegun, demi mendengar jawaban Deo. Tiada mengira jika suaminya benar-benar memperhatikan adik satu-satunya itu.


" Maaf karena aku masih belum bisa memastikan semua kebahagiaanmu. Tapi, izinkan aku mulai hari ini untuk menjalankan tugasku sebagi seorang kakak laki-laki terhadap adiknya!"


" Makasih Mas!" Ucap Arimbi dengan mata yang berkaca-kaca. Tiada lagi bisa menahan kebahagiaan itu .


Deo mengangguk seraya menghapus air mata istrinya yang meluncur begitu saja tanpa seizinnya itu, menggunakan dua ibu jarinya


" I Love you!" Bisik Deo dengan menatap lekat wajah Arimbi yang sendu.


" I love you! I love you my Boss, My Enemy, My Husband ( Aku mencintaimu bosku, musuhku, suamiku)"


Keduanya saling tersenyum penuh keharuan di sela tangis yang mendadak tak mau berhenti.


Deo turut merasakan getaran kala bibir Arimbi mengucapkan kalimat mendayu itu. Membuat wanita itu seketika mengarahkan ciuman penuh cinta kearah bibir Deo.


CUP


Sontak, pria yang jauh lebih lihai dalam urusan berciuman itu, kini menyambut ciuman mesra yang benar-benar telah menjadi candu buatnya itu.


Dalam rasa cinta yang kian membara, Arimbi meremas lengan kekar Deo demi menunjukkan bahwa dia juga benar-benar membutuhkan Deo.


Lidah yang asik berbelit itu bahkan angkuh tak mempedulikan posisi keduanya yang sebenarnya belum aman itu.


Hingga saat,


TOK TOK TOK


Ketukan kaca yang ia yakini berasal dari tangan adiknya itu, seketika membuat ciuman yang memanas itu mendadak terlepas.


Membuat kedua sejoli itu seketika tertawa demi rasa malu.


" Kita lanjut di dalam nanti! Aku mau lebih!" Ucap Deo seraya mengedipkan sebelah matanya.


Membuat Arimbi tersipu.


.


.


" Apa semua ini tidak berlebihan nak?" Tanya Bu Ning sungkan demi mengetahui jika Deo telah membelikan sekaligus memberikan satu unit mobil keluarga terbaru itu untuk Farel.


Pun dengan Arimbi. Wanita yang benar-benar tak menyangka akan hal itu, hanya bisa terpekur menatap asbak kristal yang menarik perhatiannya.


" Tidak, tidak sama sekali Bu. Saya justru senang bisa ambil bagian dalam pencarian jati diri adik saya. Farel itu adik istri saya, dan itu artinya dia juga akan menjadi tanggungjawab saya Bu!"


Membuat hati Bu Ning menghangat.


" Terimakasih banyak Mas Deo udah kasih kejutan buat saya. Sebenarnya saya juga kaget mbak waktu mas Deo ngajak saya ke showroom beberapa waktu yang lalu." Tutur Farel.


...Flashback...


Deo yang baru selesai mandi itu kebingungan kala mencari dimana istrinya berada.


" Mbak menyerahkan semuanya sama kamu Rel. Mbak belum bisa bantu lagi karena mbak udah gak kerja. Terus terang, mbak enggak enak kalau harus bilang sama mas De..."


Deo seketika menghentikan langkahnya lalu mendadak tertegun, demi mengetahui jika istrinya itu sepertinya sedang melakukan panggilan dengan adiknya.


Membuat hati Deo seketika nyeri.


Ia memang pernah memasrahkan sebuah kartu sakti kepada arimbi. Sama sekali tak mengira jika Arimbi merupakan wanita yang tak silau harta.


Keesokan harinya, Deo sengaja menghubungi Farel dan mengajak pria yang gemar mengenakan jam tangan di pergelangan tangan kirinya itu, untuk bertemu di cafe.


" Mbak Arimbi cuman bilang kalau aku mau ikut anak-anak nge band enggak masalah Mas. Soalnya kalau untuk bantu aku kuliah..." Farel tertunduk. Terlihat ragu untuk meneruskan ucapannya.


" Takut sama mas Deo, soalnya mas Deo baru aja ..."


Membuat Deo menghela napas. Istrinya meragukan kemampuannya rupanya.


" Maafkan aku. Ini semua salahku yang belum pernah membicarakan hal ini dengan Arimbi!"


Membuat Farel mendongak.


"Dengar, Arimbi adalah istriku. Dan kau adalah adiknya. Jadi secara otomatis, kau juga adalah adikku!"


" Kau harus kuliah. Aku yang akan mengurus semua. Tapi, bisakah kita buat kerjasama?"


" Apa?"


" Jangan cerita dulu ke Kakakmu soal ini. Kau bisa menyetir?"


" Sedikit, tapi belum lihai!"


" Kau harus lihai setelah ini. Katakan bagus yang mana, kita akan mengambilnya besok!"


Membuat jakun Farel seketika naik turun demi mendengar kalimat yang benar-benar spektakuler itu.


Ihuy!


...Flashback end...


.


.


.


.