
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Eva
Ia menatap khawatir Demas yang wajahnya memerah, sebab mendadak tersedak air itu. Membuat David seketika menggelengkan kepalanya demi merasai ulah istrinya yang kelewatan kala bercanda.
" Kamu kenapa sampai batuk-batuk gitu Dem? Mama hanya bercanda padahal!" Ucap Jessika sejurus kemudian. Membuat Eva berlaga hati. Dia takut jika Jessika tahu soal Demas yang menciumnya kemarin.
Demas menatap kesal ke arah mamanya yang kini malah tergelak.
" Tau nih Pak Demas, minumnya masih besok, maboknya sekarang!" Cibir Dian dari ujung sofa. Membuat Demas seketika menatap sengit Dian yang kini keranjingan. Ngajak ribut?
" Hehe, pis Pak!" Seru Dian dengan wajah meringis.
" Ya sudah kalau begitu, kita pulang saja setelah ini. Biar kita semua bisa beristirahat. Oh ya Yan, kamu di cari Tante Eka tuh!"
" Ngapain Mama cari Dian?" Sergah Erik yang melirik Dian penuh kecurigaan.
" Tau tuh, tanya aja sama Dian. Mungkin mau jadiin Dian mantunya!" Jawab Jessika asal seraya terkekeh-kekeh.
" Tante!!" Teriak Erik mendengus kesal, yang membuat Jessika makin tergelak kencang.
Hah, sepertinya Jessika terlampau senang karena melihat anak-anaknya bahagia.
.
.
David, Jessika, Deo serta Arimbi nampak pulang terlebih dahulu menuju ke kediaman mereka. Dan sesuai janji, Demas terlihat mengantar Eva di jam jelang siang itu sebab diagnosa dokter menunjukkan, jika Eva bisa menjalani pemulihan dirumah.
Good news kan?
Praktis, Wiwit mau tak mau membersamai Erik menggunakan motor yang ia bawa seorang diri pada mulanya, sebab pria yang pandai bersilat lidah itu berdalih jika harus segera ke bandara sebab ada kepentingan urgent yang musti diurus sebelum ia ke kantor polisi. Begitu Erik meyakinkan.
" Mas bisa bawa motor memangnya?" Tanya Wiwit memastikan seraya mengenakan helm.
" Kamu kira aku Dian? Bisanya nyanyi katak yang lucu? Yoklah naik!" Jawab Erik dengan hati gembira ria sebab bayangan benda indah itu pasti akan menempel di punggungnya, kala rencana busuknya nanti berhasil.
Dasar cabul!
Ya, Erik berniat mencari jalan berlubang demi kelancaran siasat liciknya. Pria itu sudah lama menyukai janda itu sejak awal perjumpaan. Jangan salahkan cinta, karena ia kerap singgah semau dan sesukanya.
" Kenapa lewat sini? Lewat sini jalannya rusak Mas!" Protes Wiwit demi melihat Erik yang membelokkan motornya menuju jalan alternatif ke pantai.
" Aku barusan di info sama temanku, disana ada razia.Tahu sendiri aku enggak pakai helm. Aku juga nggak ada SIM C!"
" Hah, kok bisa punya SIM A gak punya SIM C?" Balas Wiwit yang mencibir.
" Bisa lah. Udahlah, yang penting aman aja!".
Namun, saat asik saling bersahutan, tiba-tiba motor itu masuk ke lubang di tengah jalan yang sepertinya di sengaja oleh Erik. Yes, i won!
JEGLUK!
" Aduh!"
Wiwit mengaduh kaget seraya spontan menabrak punggung Erik. Membuat Erik tersenyum menikmati hal indah nan menyenangkan itu.
Oh God!
" Beneran mantep nih. Udah cantik, masakannya enak, sparepartnya juara!" Ia terkikik-kikik demi pikiran yang sangat jauh dari tempatnya berada.
" Mas Erik nih sengaja ya?"
" Sengaja gimana? Makanya kalau bonceng itu gini!" Ucap Erik seraya menarik tangan Wiwit lalu melingkarkannya ke perutnya yang six pack. Membuat Wiwit melebarkan dua mata jernihnya.
.
.
Meninggalkan drama pria bujangan cap kadal gurun yang sepertinya tengah memasuki masa perjuangannya itu, kita kembali kepada keluarga yang tengah berbahagia.
Keluarga yang saat ini jelas akan membuat sebuah perencanaan spektakuler.
" Papa udah nunjuk team pengacara De. Mereka banding karena kalian belum bayar duit pinalti keterlambatan pesawat kapan hari!" Tutur David dari samping anaknya yang tekun mengemudi.
" Ya nggak bisa gitu juga De. Sebaiknya kamu bayar. Semuanya kamu bayar. Setelah ini, rombak semua struktur kerja kamu. Karena, anak buahmu yang bernama Resita memergoki Bu Fransiska selama ini menjual informasi kepada pihak musuh!"
" Apa?" Balas Deo seketika menoleh dengan tatapan tak percaya.
" Jangan terlalu dipikirin Ar. Mama juga tidak terlalu tahu mekanisme soal bisnis papamu. Tapi satu hal yang wajib kamu pikirkan. Setelah ini kalian harus menikah. Mama ingin buat pesta meriah. Besok Opa Edy datang. Kita bicarakan hal ini sama-sama ya!" Seru Jessika yang ingin mengurai ketegangan.
Arimbi mengangguk mengiyakan. Tak hentinya bersyukur. Pelangi sehabis hujan yang di janjikan oleh Tuhan, kini nyata ia lihat bersinar indah dalam hidupnya.
" Benar. Papa juga udah pingin pamer cucu ke teman-teman Papa. Uban udah banyak juga nih!"
Kini, hanya ada kebahagiaan yang menyelimuti hati Deo dan Arimbi. Sungguh, dari sorot mata yang ada, kini keduanya nampak semakin yakin satu sama lain.
.
.
Beralih dari kisah bahagia si sulung, kita menuju kepada si bungsu yang nampak datar dalam fokus kemudinya. Walau, hatinya jelas merasakan hal yang tak sama.
Terasa bahagia saat jumpa, dengan dirinya. Begitulah sepenggal lirik lagu yang mewakili hati Demas.
" Loh Pak, kok kita kesini?" Tanya Dian bingung kala melihat Demas membelokkannya mobilnya menuju ke sebuah mall besar. Memarkirkannya di sebuah tempat parkir khusus di sisi kanan.
" Tunggu disini sebentar. Ada hal penting yang mau saya ambil!" Ucapnya seraya membuka seat belt dengan wajah tak terbaca.
Entah apa yang akan di ambil Demas. Pria itu nampak berjalan dengan gagahnya, dan kini nampak berbicara serius dengan seorang seorang pria berpenampilan parlente.
Tanpa Dian dan Ibu ketahui, Eva menarik seulas senyuman demi melihat pria yang tengah mengenakan kemejanya hitam dengan lengan digulung sebatas siku itu dari kejauhan. Pria itu nampak begitu di hormati oleh anak buahnya.
Pria yang pernah menggendongnya itu, pria yang pernah ia cium secara impulsif, dan pria yang juga telah menciumnya semalam itu nampak begitu membuat hatinya bahagia.
Demas keren, ganteng dan berwibawa.
Namun, saat ia tengah menikmati keindahan Demas dari jarak yang jauh itu, matanya terbelalak demi melihat seorang wanita cantik yang tiba-tiba memeluk Demas dengan begitu akrabnya.
DEG!
Membuat senyum yang awalnya terbit dengan indah, kini terbenam dengan suram dalam waktu yang begitu singkat.
" Kamu kenapa Va?" Tanya ibu resah demi melihat Eva yang mendadak melempar punggungnya ke jok belakang itu dengan kerasnya. Membuat dia seketika meringis lantaran bekas jahitan di perutnya terasa ngilu.
" Lah, itu siapa Va? Pacarnya pak Demas?" Gumam Dian demi menajamkan pandangannya akan objek yang kini tertangkap indera penglihatannya.
Eva mendecak kesal. Dian tidak salah juga sebenernya, lagipula pria hompimpa itu tidak tahu jika dia dan Demas berulang kali mengalami kejadian mengejutkan.
Namun, entah mengapa mendengar Dian menyebut wanita cantik itu pacar Demas, seketika membuat hati Eva kerdil.
" Wanita itu cantik dan berkelas. Apa yang kau pikirkan Va? Hanya karena Demas menciummu, lalu kau merasa di atas angin? Sikapnya saja bahkan sudah berubah seperti awal sejak tadi!" Eva membatin dengan mata yang kini kembali menatap ke arah jam 12 itu dengan wajah murung.
Ia mengalihkan pandangannya demi rasa tak tahan yang entah mengapa menjadi menyiksa batinnya.
Dan, betapa terkejutnya dia kala objek yang meresahkan itu, sudah raib dari pandangannya, saat ia hendak melihat kembali.
Semenit, dua menit, tiga menit.
Banyak menit telah mereka lalui, namun Demas belum juga menampakkan batang hidungnya hingga menjelang tiga puluh menit. Membuat Eva benar-benar kesal.
" Yan, cari taksi gih! Kita pulang aja. Sepertinya orang itu lagi asik sama pacarnya!" Tukasnya dengan wajah bersungut-sungut.
" Tapi nak, nanti kalau nak Demas nyari kita gimana?"
" Gak bakal, yoklah kita pergi!" Jawabnya demi rasa gondok di hatinya.
Dian yang sebenarnya tidak setuju dengan ide Eva, terpaksa turut membuka pintu mobil Demas, demi melihat raut wajah Eva yang keruh.
" Pria memang dimana saja sama!" Gumam Eva sedikit keras yang membuat Dian dan ibunya saling bersitatap.
Wait..wait! Why you so Jealous?
.
.
.
.
.
Bagiamana sejauh ini gaes? Part udah menginjak 111 nih.😁