
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Roro meminta bertemu dengan dirinya, saat dirinya hendak menemui Jessika siang itu. Usai berbicara dengan Arimbi tadi agaknya ia kini mulai menyusun rencananya. Mana mungkin dia bersama wanita tidak jelas itu. Begitu pikir Deo.
" Sayang, aku kangen nih. Ketemu di tempat biasa ya?" Ucap Roro melalui WhatsApp.
" Nanti malam saja. Aku ada urusan sebentar!"
Begitulah isi pesan yang baru saja dikirim oleh pria berahang tegas itu , kepada Roro. Kini, ia terlihat meninggalkan kantor dan menuju kerumah Jessika seorang diri.
Ia berniat membuat Arimbi tidak betah dan ingin membuat mamanya tahu jika mereka tak cocok sama sekali secara alami. Sebab jika ia membantah, ia takut dengan resiko mengerikan yang akan dia terima.
" Baguslah kalau kamu sudah menyetujui mau Mama De. Mama cuma kepingin keluarga kita ini baik-baik aja. Udah itu!"
"Mama harap kamu bisa suka sama Arimbi seiring berjalannya waktu De. Maafin mama jika harus kasar gini sama kamu. Ini semua demi kebaikan kamu dan keluarga kita!" Batin Jessika yang sebenarnya ingin memeluk Deo sebab kasihan dengan putranya yang termakan cinta buta tidak sehat.
Deo hanya diam dengan seribu satu rasa dalam hatinya. Yang jelas, ia tak berniat mendebat mamanya sama sekali. No way!
" Deo langsung pergi ma! Keburu sore. Lagian, Deo capek banget!"
" Ingat, jemput Arimbi mula sore ini! Ingat, dia itu istri kamu!"
" Apa?" Deo menatap tak percaya ke arah Jessika. Terlihat hendak protes.
" Mama enggak mau tau, pokoknya kamu jemput dia nanti kerumahnya. Kamu pamit baik-baik sama ibunya!"
Membuat Deo terlihat frustasi.
" Ingat Deo, mama mau kamu harus perlakukan istri kamu dengan baik!"
.
.
Bu Ningrum
Ia sampai tidak memiliki semangat untuk berdagang, usai mengetahui kenyataan jika anaknya tersandung kasus seperti itu. Cemas tiada tara demi menunggu kepulangan Arimbi.
Resah, gundah. Takut kalau-kalau keluarga mereka akan mendapatkan malu.
Dan di menit ke sebelas lepas dari jam dua siang itu, motor anak sulungnya terdengar memasuki garasi sederhana rumahnya itu.
CEKLEK
Arimbi tak mengetahui jika Ibunya barusaja di datangi oleh Jessika. Membuat wanita itu merasa santai seolah tidak terjadi sesuatu.
" Rel!" Ucap Arimbi seperti biasanya. Hari Minggu ini adiknya pasti sudah dirumah jam siang begini.
Namun, tubuhnya mendadak membatu kala melihat ibunya yang kini menatapnya dengan tatapan murung lalu menangis.
" Ibuk kenapa?"
" Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu enggak ada bilang sama Ibuk kalau kamu semalam dinikahkan oleh masa yang menggrebek kamu Ar?" Ujar Bu Ningrum menatap putrinya yang baru saja menutup pintu.
DEG
Arimbi hanya bisa mematung saat ibunya memeluknya dengan erat sembari menangis.
Membuat Arimbi tertegun dengan hati sesak.
" Apa? Jadi, ibu sudah tahu? Tapi, dari siapa?"
Udara yang tersedia disana bahkan seolah tak mampu memenuhi kebutuhan oksigennya , saat tubuh ibunya kian bergetar bersamaan dengan Isak tangis yang terdengar makin keras.
Padahal, Arimbi berniat menceritakan hal itu malam nanti. Akan sangat tidak baik pikirnya, jika ibunya mengetahui hal itu dari mulut orang lain.
" Kenapa bisa jadi begini Ar. Kenapa?" Bu Ning makin terisak. Membuat Arimbi makin merasa bersalah.
"Maafin Arimbi Buk! Arimbi udah buat ibuk malu!"
Arimbi menjawab dengan air mata yang meluncur begitu saja. Membuat Farel yang ada di sana turut menitikan air mata.
"Kenapa mbak Arimbi enggak cerita sama Farel mbak?" Farel bersedih manakala mengetahui kenyataan yang begitu memilukan itu.
Sungguh, Arimbi lelah.
"Yang paling penting mbak sekarang masih bisa bebas kerja. Bisa bantu kalian. Hal ini, biar mbak jalani sebisanya Rel. Yang
penting kamu bisa sekolah, terus mbak bisa bantu ibuk ngelunasin hutang bapak!"
Kehidupan yang pas-pasan, nyatanya kerap membuat orang tersebut tak bisa berbuat banyak, bahkan hanya sekedar untuk membela diri.
" Tapi, siapa yang ngasih tau ibuk soal ini?"
Arimbi menghapus sisa air matanya, sambil mencoba menetralkan dirinya.
" Tadi Bu Jessika datang kesini!" Ucap Bu Ning sesaat setelah melepaskan pelukannya.
" Apa? Jadi Bu Jessika sendiri yang ngasih tahu Ibuk?" Tanya Arimbi dengan wajah pias.
Bu Ning mengangguk, "Beliau juga bilang kalau hari ini kamu akan di jemput oleh suami kamu!"
" Hah?" Jawab Arimbi makin resah.
"Ibuk sebenarnya bingung Ar. Kok bisa kamu begini. Tapi kalau begini jadinya ibuk yang dosa kalau enggak ngijinin kamu tinggal sama suami kamu!"
" Mau bagiamana pun, laki-laki bernama Deo itu suami kamu sekarang. Orang ngucapin ijab kabul itu tanggung jawabnya gede Ar!"
Arimbi menatap murung Ibunya. Pun dengan Farel. Sama-sama awam soal urusan seperti itu.
" Buk, kalau laki-laki itu jahat bagaimana? Kita aja belum kenal." Sergah Farel yang tak rela kakaknya akan pergi.
Ningrum sebenarnya juga merasa takut. Mereka bahkan belum pernah tahu bagiamana rupa pria yang menikahi anaknya itu.
Arimbi tak mau keluarganya cemas. Ia tak suka akan hal itu. Baginya, ibunya sudah cukup susah selama ini, ia tidak boleh menunjukkan sikap rapuh kepada wanita yang melahirkannya itu.
" Ibuk tenang aja. Keluarga Bu Jessika itu baik. Dia kemari pasti karena enggak lebih dari ingin menunjukkan sikap tanggungjawab nya kepada Arimbi buk!"
Bu Ning mengangguk. Apa mau dikata. Semua sudah terjadi. Kini, wanita itu hanya pasrah saja terhadap yang menjalani.
TOK TOK TOK!
Ketiga manusia yang masih saling mengusap sisa air matanya itu, kini saling menatap heran. Siapa tamu yang datang di jam siang jelang sore itu?
.
.
Arimbi
Ia mengumpat tak percaya dalam hatinya, manakala melihat pria yang kerap terlibat adu mulut dengannya itu kini duduk di kursi rumahnya. Terlihat menyuguhkan wajah datar dan sombong.
Ya, tamu yang baru saja mengetuk pintu rumahnya tadi tak lain adalah Deo. Pria mengesalkan yang kini menjadi suaminya.
" Saya mau jemput Arimbi. Ibuk pasti sudah di hubungi oleh mama saya kan?" Ucap Deo dengan wajah bisa namun terlihat sopan kepada orang tua itu. Berbeda saat melirik Arimbi.
Farel yang berada disana, menatap tajam ke arah Deo. Pria itu sangat tampan meski nada bicaranya sedikit sombong.
" Ar, cepat kamu siap-siap! Keburu sore!" Titah Bu Ning dengan suara lembut.
Sepeninggal Arimbi, Deo terlihat menatap serius ke arah Bu Ningrum. Tak mau berbasa-basi lagi.
" Ibuk tahu kalau saya dan anak ibuk menikah karena salah paham?"
Bu Ningrum mengangguk, " Ibunya nak Deo sudah bercerita!"
Deo pun mengangguk, " Saya mau bawa Arimbi Buk. Tapi saya minta satu hal."
" Apa itu?"
" Jangan pernah katakan kepada siapapun jika saya dan Arimbi sudah menikah. Dan jangan pernah bilang ke mama saya kalau saya meminta anda untuk menyembunyikan hal ini. Mengerti?"
" Apa-apaan ini?" Farel terlihat tersulut emosi, demi mendengar permintaan ngawur pria bertubuh wangi itu. Bagiamana bisa pria itu bersikap kurang ajar kepada Ibunya.
" Farel!" Bu Ning menatap putranya mengisyaratkan untuk diam sebab ia teringat akan sesuatu.
" Jika Deo mengucapkan sesuatu atau permintaan apapun, ibu setujui saja. Yang penting, urusannya nanti sama saya. Anak saya memang sedikit keras kepala dan sulit diatur. Tapi percayalah dia itu sebenarnya baik!"
Ucapan Jessika beberapa saat lalu mendadak terputar kembali dalam memori Ningrum. Membuat ibu dari Arimbi itu ingin tertawa.
" Benar juga apa yang dikatakan oleh Bu Jessika." Ningrum tekrikik-kikik dalam hati.
.
.
.
.
.
Thor, emang ada orang pas di grebek terus di nikahkan?
Jangan salah. Kasus seperti ini sudah bukan rahasia lagi😁🤟