
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Hera
Jantung yang tengah tremor itu berkolaborasi dengan wajah tegang, serta keringat yang terasa dingin. Membuat ludahnya pun, terasa seret manakala ia telan.
" Udah boarding mbak?" Tanya pria itu seraya melepas kacamata hitamnya. Nampak santai dan seolah tidak terjadi sesuatu.
Membuat Hera kesulitan bernapas dan otaknya mendadak terasa buntu.
" Dengan Pak Bramasta?" Ucap Hera mencoba menguasai keadaan walaupun kegugupan kian menyerang. Menggerus keberaniannya demi melihat sesosok pria yang terlihat bukan dari kalangan biasa.
" Iya, saya Bramasta! Lewat pintu berapa ini?"
" Mohon maaf Pak, tadi kami announced nama Bapak lebih dari dua kali namun tidak juga muncul. Pesawat sudah pushback Pak!" Jawab Hera mengerahkan segenap keberaniannya, dengan sedikit tertunduk lesu.
" Apa?"
DEG
Suara menggelegar itu sukses membuat Hera bak di telan secara utuh.
"Jangan gila kamu, saya ada pertemuan penting. Gila aja kalian!"
Hera seketika memebulatkan matanya manakala melihat pria itu justru lari menuju ke ruang tunggu dengan wajah penuh kemarahan. Benar-benar seperti dugaannya.
" Gate gate monitor gate!"
" Gate monitor!"
" Gohet mbak!" Jawab Yohan yang nampaknya juga sibuk.
"Satu pax yang terlambat sepertinya marah itu, dia meluncur kesana itu. Tolong Avsec satu orang dong merapat ke gate, aku takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!" Ucap Hera sembari berlari mengejar pria yang nampak akan membuat kerusuhan itu.
.
.
Diruang tunggu
" Kalian jangan seenaknya begitu dong. Kalian itu udah telat tadi. Udah ceck in lama, antrian panjang, ini kenapa jadi main ninggal begini. Saya bisa tuntut kalian!"
Suara menggelegar milik pria tinggi itu sukses membungkam semua mulut penghuni ruang tunggu berdinding kaca transparan itu. Membuat keadaan yang ada seketika berubah menjadi tegang setegang- tegangnya.
Para aviation security dari pihak Nawangsa Pura nampak berdiri menyaksikan ketegangan yang tengah terjadi di sana. Bersiap mengamankan tugas dengan membaca pergerakan pria yang nampak si selimuti kemarahan itu.
Membuat Hera sedikit merasa aman.
Para penumpang maskapai lain yang melihat kejadian itu bahkan sempat memvideokan aksi penumpang yang marah-marah itu, sembari berbisik-bisik.
" Udah jelas-jelas kalian tadi telat kan, karena banyak antrian. Kenapa saya malah di tinggal? Otak kalian itu dimana?" Bentak Bramasta yang membuat beberapa karyawan disana ketakutan.
" Bener- bener nggak profesional kalian. Panggil bos kalian kemari!" Ucap Bram masih meluap-luap dan makin membuat situasi semakin genting.
" Mohon maaf Pak, kami memang delay schedule pagi ini. Tapi kami sudah melakukan prosedur, yakni pemanggilan nama sebanyak tiga kali!" Jelas Hera yang ambil bahagian sebab dia merupakan senior disana.
" Alah alasan aja. Saya nggak dengar nama saya di panggil, kalian itu pasti bohong. Memang kurang ajar kalian ini. Saya akan tuntut kalian!"
" Ada apa ini?"
Saat semua orang masih larut dalam ketegangan, suara berat seseorang menginterupsi gerumbulan manusia yang tengah saling melempar tatapan sengit itu.
DEG
Bramasta nampak membulatkan matanya demi melihat kehadiran David di ruangan luas itu. Membuat pria itu seketika enyah dengan tanpa menjawab.
" Awas kalian!" Ancam Bramasta menunjuk Hera dan juga Yohan dengan tatapan bengis. Melirik David dengan wajah kesal sembari nampak ngeloyor keluar melewati barisan aviation security perempuan yang berjaga.
" Pak!" Hera yang mengetahui siapa pria beruban yang masih nampak gagah itu, terlihat mengangguk dengan sungkan.
Membuat Yohan dan beberapa pegawai yang lain turut melakukan hal yang sama.
" Apa semua terkendali?" Tanya David nampak cemas. Ia terlambat datang sebab menemui general manager Andanu yang nampak naik pitam.
" Gate monitor! Tolong semua kumpul ke kantor sekarang juga!" Perintah Erik sukses membuat ucapan Hera terjeda. Membuat para karyawan disana benar-benar dirundung ketakutan.
...----------------...
Arimbi
Info ramai di jagad maya group Ground Handling itu sampai juga ke telinga Novi dan juga Daniel. Membuat mereka yang baru selesai meng-handle pesawat itu kini berduyun-duyun memenuhi meja check ini untuk bergunjing.
" Udah tau kabar?" Tanya Daniel dengan wajah muram.
Arimbi mengangguk, " Anak-anak aku telpon gak ada yang ngangkat!"
"Mereka pasti lagi briefing. Gila, yang masuk cuma beberapa orang aja. Pak Zakaria ngamuk!" Ucap Daniel dengan wajah resah, dan jarinya nampak sibuk berbalas pesan.
Novi menatap muram seluruh rekan yang berasal dari kota B itu. Benar-benar turut merasa tidak tenang.
Dari tempatnya duduk, Arimbi menangkap kilatan kemarahan dari wajah Deo yang kini berjalan tekun bersama Dona dan juga satu orang yang tidak ia kenali. Terlihat terburu-buru manakala berjalan keluar.
" Sepertinya masalahnya berat banget. Dia sampai enggak noleh kesini!" Arimbi menatap kasihan ke arah suaminya yang nampak serius itu.
Daniel yang rupanya mengikuti arah pandang Arimbi, menjadi mengerutkan keningnya manakala menyadari tatapan penuh keresahan, yang terpancar kala sorot mata itu bertumbuk pada sosok yang nampak melintas di sisi kanan mereka.
" Kenapa Arimbi natapnya gitu?"
.
.
Deo
Kepalanya bagai terhantam bongkahan batu besar, yang tepat mengenai otaknya. Hancur luluh lantak tak bersisa. Membuat daya pikirnya seolah-olah buntu.
Ini merupakan kejadian pertama yang sukses menyulut emosinya selama beberapa tahun terkahir. Belum pernah sebelumnya ada kejadian seperti ini.
Kini, selain ia harus bertanggungjawab akan kerugian yang wajib di bayarkan kepada maskapai sebab ada banyak penumpang yang memiliki penerbang lanjutan, dan karena keterlambatan itu membuat mereka kehilangan tiket. Agaknya Deo harus menghadap resiko yang lebih besar.
Pemutusan kerjasama.
Membuat perusahaan Deo mau tidak mau harus menggelontorkan dana guna mengganti semua biaya operasional sebab mereka-lah yang menyebabkan delay itu terjadi.
Belum lagi ancaman bernada serius dari maskapai bonafit itu makin membuatnya sakit kepala.
" Don, saya harus balik besok. Saya akan tinggalkan kalian disini. Kondisi di pusat sedang tidak bisa di tinggal. Saya harap kamu bisa backup semua!" Ucap Deo sembari berjalan menuju luar. Napak tak bisa menyembunyikan kekalutan yang tengah dia alami.
" Siap Pak. Saya akan pastikan Flight kita aman!" Jawab Romadona yang nampak kasihan melihat raut Deo yang benar-benar penuh beban.
Deo mengangguk menepuk pundak Dona penuh kebanggaan, " Jangan kecewakan saya seperti anak buah saya disana Don!"
Dona menatap muram Deo dengan raut kasihan. Masalah ini bukan main-main. Apalagi, di jaman medsos seperti saat ini, fitnah tidak benar acapkali memantik kesalahpahaman karena menutupi fakta sebenarnya.
" Kak Deo!"
Deo menoleh manakala sebuah suara yang nampak tergesa-gesa itu terdengar disana.
Ya, rupanya adiknya lah yang memanggilnya.
" Dem?"
" Kakak sudah tahu kabar kan?" Tanya Demas sedikit tenang walau wajahnya menunjukkan keresahan.
Deo mengangguk sembari mencoba bersikap tenang.
" Fadli barusaja mengirimkan kabar jika ada orang kita yang sepertinya terlibat dengan orang yang sengaja memprovokasi para karyawan untuk mogok!"
Deo tertegun. Sepertinya ia tak bisa menunda lagi untuk pulang.
.
.
.
.
.
.