My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 106. Pungkas sebuah ketegangan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Peluru berkaliber 9 mm itu telah berhasil di evakuasi dari lengan kekarnya hanya dalam waktu beberapa menit saja.


Dua orang tenaga medis yang berjibaku dibawa gempuran lampu berwatt tinggi itu nampak saling mengangguk manakala tahapan demi tahapan telah selesai dilalui.


Dengan cekatan dan sikap yang sigap, dua orang tenaga medis itu nampak dengan telaten menjahit bekas lubang yang menganga diantara daging Demas.


Beberapa waktu selanjutnya, Demas terlihat duduk sembari melihat tangannya yang melalui tahapan di perban. Namun anehnya, lagi dan lagi pria itu justru malah kepikiran dengan Eva.


Bagiamana keadaan wanita yang telah merelakan diri untuk terluka demi menolongnya itu.


Apa Eva baik-baik saja?


Kenapa perasaan yang sulit dijelaskan itu kini gencar menyerangnya?


" Semoga dia baik-baik saja!" Ia bergumam sendiri tanpa mempedulikan dua orang , yang kini saling menatap demi rasa kebingungan terhadapnya itu.


Sejurus kemudian, ia yang telah selesai dengan serangkaian prosedur medis itu, nampak kaget kala melihat Mamanya yang berdiri diantara Fadli juga Tante Eka sesaat setelah ia membuka pintu.


" Mama?" Ucapnya spontan dan membuat para manusia yang semula duduk itu, kini kompak berdiri secara berbarengan.


" Demas!"


" Oh astaga, kamu baik-baik saja nak?"


Ia membeku seraya tersenyum kala pelukan hangat seorang ibu itu kini melingkupinya. Membuat hatinya merasakan kehangatan yang tak biasa.


Demas begitu menyayangi Jessika, pun dengan wanita murah hati itu. Bagi Jessika, keluarganya lah yang menjadi harta paling berharga dalam arti sesungguhnya.


Sudah lama sekali sejak ia dewasa ini, Demas tak mendapat perlakuan seperti itu. Ia adalah pria dewasa saat ini. Dan bagi Demas, hal seperti ini sangat benar-benar ia rindukan.


" Mana Papa sama kakak kamu, kenapa semua bisa seperti ini?" Tanya Jessika kala menatap anaknya lekat, sesaat setelah pelukan itu telah terlepas.


" Katakan sama Mama kalau Papa dan Kakakmu, serta kakak iparmu baik-baik saja Demas!" Jessika mencecar pertanyaan yang beranekaragam, dan tak membiarkan Demas memiliki kesempatan untuk menjawab.


Membuat Demas tersenyum simpul.


" Doa Mama itu besar kuasanya. Manjur dan mustajab. Selama aku, Papa dan Kak Deo, Arimbi ada didalam doa Mama, niscaya kami akan selamat. Karena Mama, adalah malaikat tak bersayap kami!" Jawab Demas dengan mata yang berkaca-kaca demi kelegaan hati atas semua yang baru saja ia alami.


Benar apa yang dikatakan oleh Kakek Edi. Selama mereka ada, persoalan dari rival bisnis itu akan terus ada. Beranekaragam dan kaya motif.


Dengan rasa mengharu biru Jesika kembali memeluk anaknya yang kini bahkan membuatnya harus mendongak kala menatapnya.


Benar-benar bersyukur sebab darah dagingnya itu masih diberikan keselamatan.


" Dem, yang kamu maksud Eva tadi mana? Anak itu pacar kamu?"


DEG


Demas yang di tanyai oleh Tante Eva seketika menjadi keki demi rasa bingung yang.mendadak menderanya.


Benarkah jika Demas menyukai gadis cerewet itu?


Membuat Fadli berdehem.


" Ehem! Maaf Pak, perawat yang tadi saya mintai nomor, barusan bilang jika Eva sudah di pindahkan ke ruang perawatan!"


" Apa?"


" Kenapa tidak ngomong dari tadi. Ma, ayo kita kesana Ma!"


Kini, bukan hanya Eka yang terkejut. Jessika dengan segumpal pertanyaan yang mendadak timbul itu, menjadi mematung kala melihat anaknya yang nampak terburu-buru pergi, guna menemui Eva.


" Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali tepuk, dua nyamuk mati. Sekali cari, dua anak langsung kena jodohisasi!"


" Hah, aku kapan dapat giliran punya calon mantu kayak kamu ya Jes? Kayaknya seru kalau kita rempong main sama cucu! " Ucap Eka tanpa dosa, yang terlihat bicara ngawur bak orator ulung dadakan.


Membuat Fadli ingin tertawa demi mengingat Erik yang suka curhat soal pesona janda pemilik warung lesehan, yang sangat susah di taklukan.


.


.


Ia kini tengah bersama dengan Papa, Erik, Arimbi dan komandan polisi di tepi mobil saat di jam yang menuju tengah malam itu telah tiba diatas.


Ya, mereka berduyun-duyun naik keatas bersama-sama. Komplotan bajingan itu telah berhasil diringkus untuk selanjutnya di data sebab besok akan menjalani serangkaian prosedur gelar perkara.


Terkena pasal berlapis soal penculikan, pencemaran nama baik, dan rencana pembunuh, jelas membuat Bram dan para anteknya tidak akan tidur nyenyak mulai malam ini.


Ia sempat beradu pandang dengan Anthoni yang wajahnya babak belur akibat dia hujani dengan bogem mentah tadi.


Keduanya tak sengaja saling melempar tatapan sengit, saat pria itu terlihat melintas di hadapannya bersama para anggota kepolisian yang menggiring mereka.


" Sebaiknya kita segera pergi. Istrimu demam. Demas tadi tertembak dan Eva tertusuk!" Terang David demi teringat akan kejadian yang tak kalah penting sebelum dia dan Tomy serta Erik turut menyerbu antibiotik.


" Apa, Eva? Demas?" Arimbi yang semula memejamkan matanya sembari menyenderkan kepalanya ke jok mobil yang telah sedikit direbahkan itu, seketika tersentak demi mendengar fakta mengejutkan itu.


Membuatnya tak tenang dalam waktu sekejap.


Kini, David, Deo, Tomy dan juga Erik yang akan berpamitan dengan komandan itu nampak terkejut demi mendengar suara Arimbi dari dalam mobil.


" Sayang, tenanglah dulu!" Ucap Deo berusaha menenangkan istrinya dari luar. Menatap muram istrinya yang mendadak cemas.


" Kamu tenang saja nak. Fadli dan Dian sudah membawa mereka ke rumah sakit!" Timpal Deo menatap menantunya sesuai tersenyum.


" Dian?" Gumam Arimbi demi teringat akan rekannya yang limited edition itu.


David mengangguk. Membuat Arimbi sedikit berlega hati. Tiada mengira jika mereka bahkan merelakan diri untuk turut mencarinya. Membuatnya dalam hati untuk berhaji akan terus membuat persahabatan mereka abadi.


" Ceritanya panjang. Tapi kalian tenang saja, Hosea sudah berhasil membekuk Bram. Pria itu sekarang sedang dibawa menuju kantor polisi!"


"Terimakasih sekali lagi atas kerjasamanya. Kami tidak menyangka jika pria itu ternyata juga berurusan dengan anda dalam kasus lain. Kami masih memerlukan keterangan anda sekalian setelah ini! Termasuk soal kasus yang menyeret pentinggi Andanu Air!" Terang sang komandan menatap keempat laki-laki tampan pada masanya itu dengan penuh kebanggaan.


" Hukum dia seberat-beratnya Pak!"


Arimbi yang berbicara dengan tatapan kosong kedepan itu membuat Kesemuanya mengerutkan kening.


Sejurus kemudian, wanita itu menatap ke arah para pria yang menatapnya heran dengan raut muram.


" Ada apa Ar?" Tanya Erik penasaran, demi sikap Arimbi yang aneh.


" Dia hampir memperkosaku!"


DEG


" Apa?" Tanya Deo dengan dada yang seketika bergemuruh. Arimbi bahkan belum sempat menceritakan hal itu kepadanya sewaktu digubuk tadi.


" Zakaria telah bersekongkol dengan Bram. Bram sengaja menculik ku sebab dia ingin menguasai pasar GH. Pria itu berniat menjualku!"


" Bajingan!" Tangan Deo seketika terkepal demi mendengar kenyataan menyakitkan yang baru terlontar dari bibir istrinya.


" Sabar, yang penting Arimbi sekarang selamat dan aman. Jangan kotori tanganmu Deo. Percayakan semua ini kepada pihak berwenang untuk memprosesnya!" David mengusap punggung kekar anaknya yang nampak begitu emosi penuh kasih sayang.


" Terimakasih banyak komandan! Kami pamit dulu!" Ucap David memungkasi ketegangan yang benar-benar membuat daya mereka semua terforsir.


" Tunggu dulu!" Sergah Deo yang membuat kesemuanya menoleh.


" Komandan, bisakah anda memastikan satu wanita bernama Roro di vila Bram telah selamat?"


Arimbi yang mendengar suaminya menyebut nama Roro seketika melirik tajam.


"Roro?"


.


.


.


.


.