
...πΏπΏπΏ...
...β’...
...β’...
...β’...
Deo
Setibanya mereka dirumah sakit, Deo tak hentinya mengiringi Arimbi menuju ruang tindakan. Kaki dan tangan milik istrinya itu rupanya terkoyak cukup parah.
Tempat kotor serta berjibaku dalam keadaaan menegangkan tadi, diduga menjadi pemicu infeksi yang lumayan. Membuat Arimbi memerlukan penanganan intensif.
Oleh dokter, Deo diizinkan masuk selama Arimbi menerima pengobatan. Pria itu bahkan ikut meringis nyeri kala melihat luka menganga itu di susut oleh kapas beralkohol.
Membuat sekujur tubuhnya turut merinding.
" Semua akan baik-baik saja." Ucap Deo tersenyum, sembari melihat Arimbi yang menatapnya muram. Mencoba memangkas keresahan yang melanda istrinya.
" Tolong kabari Ibu sama Farel mas. Aku...tidak ingin mereka tahu dari orang lain dan merasa kita tidak menganggap keberadaan mereka!" Seru Arimbi di sela-sela ringisannya saat merasakan obat yang mencumbu kulitnya yang terluka.
" Oke, apapun untukmu!"
CUP
Salah seorang perawat erawat yang tengah menggunting perban di samping mereka itu, sampai tersipu malu demi melihat Deo yang mencium puncak kepala istrinya.
Benar-benar membuat baper.
" Titip istriku ya sus!"
.
.
Sementara itu, dilain tempat di jam yang sama, pria bernama Zakaria tengah bermandikan keringat dingin, demi membaca email soal pencopotan dirinya atas dugaan kasus ilegal logging bersama pengusaha muda bernama Bramasta.
" Bagiamana bisa dia turut menyeretku ke kasus ini sialan!" Maki Zakaria yang tidak terima dengan apa yang ia baca.
BRAK!
Belum juga kekesalan yang mendera petinggi Andanu Air itu lega, Daniel yang terlihat datang bersama Hizkia menjeblak pintu ruangan yang di huni oleh pria itu, dengan tatapan dingin.
" Itu dia!" Seru Daniel seraya menunjuk ke arah Zakaria tanpa hormat.
Daniel rupanya menjadi penunjuk lokasi aparat penegak hukum, yang berkolaborasi dengan Avsec, demi mencari Zakaria yang sengaja bersembunyi di kantornya pada jam semalam itu.
" Selamat malam Pak Zakaria. Mohon ikut kami sekarang juga ke kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait kasus saudara Bramasta!" Tukas seorang polisi menunjuk surat tugas resmi.
Membuat pria itu menatap tajam Daniel yang turut mendakwa sinis ke arahnya. Brengsek!
.
.
Rumah sakit swasta kota B
Pukul 12. 35
Di bawah sepinya area rumah sakit yang kini sepi dari lalu lalang itu, Bu Ning bersama Farel nampak tergopoh-gopoh manakala berjalan menuju koridor rumah sakit besar itu.
Deo tadi menelpon Farel dan sedikit merasa kasihan kala suara terkantuk-kantuk itu, nampak menjawab panggilan darinya di jam selarut ini
" Arimbi!" Panggil Bu Ning muram kala perempuan itu telah tiba di ruangan yang kini menampung Arimbi usai menjalani serangkaian pengobatan.
Jam besuk memang sudah tidak berlaku, tapi ada nama Darmawan yang berkontribusi disana. So, di sela peraturan tentu ada kebijakan bukan?
" Ibuk!" Sahut Arimbi yang matanya langsung berkaca-kaca demi melihat sosok yang amat sangat ia rindukan.
Kini, keduanya saling memeluk. Melebur perasaan saling membutuhkan dalam waktu bersamaan.
Arimbi menangis di pelukan ibunya dengan tubuh bergetar. Membuat Deo tertunduk layu dan merasa bersalah.
" Semua salah Deo Buk. Deo tidak becus jadi suami yang baik!" Tutur Deo dengan luapan penyesalan sebab teringat akan perbuatan tak baiknya dulu kepada Arimbi dan keluarganya. Membuat Bu Ning seketika melepaskan pelukannya lalu beralih menatap Deo yang wajahnya kuyu.
" Semua sudah terjadi. Bagi ibuk, yang terpenting kalian berdua selamat! Sisanya mari kita perbaiki bersama-sama!" Jawab Bu Ning dengan keadaan yang memang tak bisa berbuat banyak. Membuat Deo menggigit bibirnya demi melihat kelapangan hati ibu mertuanya.
" Rel!" Arimbi memanggil adiknya lalu meminta adiknya itu untuk mendekatkan diri.
Kini, ia dengan tangis yang masih berlanjut, nampak merengkuh adik laki-laki yang kini tingginya bahkan telah melebihi dirinya itu, dengan pelukan penuh kerinduan.
Membuat Farel turut menitikan air mata. Ia tidak tahu apa yang tejadi dengan kakaknya. Tapi melihat saudara sedarahnya itu nampak terluka dan tak berdaya, membuat hatinya nyeri.
" Ehem!" Deo berdehem demi merasa dibiarkan sendiri.
Membuat Farel seketika terkekeh demi melihat Deo yang garuk-garuk kepala seorang diri dengan wajah keki.
.
.
Eva
Dari tempatnya berbaring, matanya membulat demi melihat sebiji kepala yang tertidur di dekat tangannya.
DEG
" Pak Demas?" Ia yang terkejut spontan melontarkan perkataan yang semula bersarang di otaknya.
Membuat pria di dekatnya itu seketika terbangun.
" Kau sudah sadar?" Tanya Demas dengan wajah mengantuk dan suara parau.
" Bapak disini? Yang lain kemana?" Tanya Eva bingung sebab mengapa ia hanya berdua saja dengan pria itu.
Kini, Demas membetulkan letak duduknya. Ia tadi sebenarnya berniat ingin terjaga hingga Eva sadar saat kedua orangtuanya pamit keluar. Namun lelah dan penat nampaknya benar-benar berhasil membuatnya terserang rasa kantuk.
" Dian sama ibunya Erik sedang maka. Papa sama Mama sedang menemui dokter dan mau menemui kak Deo bersama istrinya, om Tomy, Erik dan Fadli ada di depan!"
Entah mengapa, Demas kali ini tak mau menyebut nama Arimbi dengan nama kosong. Anehnya, pria itu kini bahkan tak merasakan apapun saat menyebutkan nama wanita itu.
" Arimbi?" Gumam Eva demi teringat jika sahabatnya itu pasti telah kembali.
" Pak kalau begitu antarkan saya.... Auwhhh!" Suara yang penuh semangat diawal itu, kini berubah menjadi sebuah ringisan kala Eva merasakan perutnya nyeri.
SREK
Bunyi kursi yang tertendang oleh tubuh tinggi Demas, menjadi saksi betapa terkejutnya pria itu akan reaksi Eva.
Demas yang seketika panik demi melihat Eva yang meringis kesakitan karena mencoba memaksa bangun, kini nampak berdiri sigap.
" Apa kau selalu begini, tak pernah berpikir panjang setiap mau melakukan apapun?"
DEG
Kini, Eva nampak terkejut demi melihat Demas yang memarahinya dengan guratan penuh kekhawatiran yang terpancar nyata.
Dalam keheningan, dan dalam ketidakmengertian itu, keduanya tak sengaja saling bertukar pandang dengan sorot mata yang tiba-tiba tak bisa dijelaskan.
Membuat Demas mengatur napasnya demi sejumput rasa marah yang bercampur rasa khawatir.
"Maafkan saya Pak, saya hanya ingin melihat keadaan Ar...."
CUP
Mata Eva melebar sempurna kala bibirnya kini dikecup secara mendadak oleh pria yang kerap memarahinya itu. Oh man!
Apakah dia bermimpi? Atau, apakah ini hanya sekadar halusinasi semata?
Ia sempat terlena dengan memejamkan matanya, kala Demas sedikit memainkan lidahnya demi ciuman yang ia tekan semakin dalam.
Sungguh, wangi tubuh Demas di jam selarut itu benar-benar mengusik pikiran Eva. Demas melepaskan ciumannya kala ia sendiri baru menyadari jika keduanya sama-sama bingung saat ini.
Kini, Eva menundukkan kepalanya dengan dada yang serasa akan meledak detik itu juga, demi serangan tak terduga yang barusaja ia terima.
" Jangan kemana-mana, aku akan kembali setelah ini!" Ucap Demas tak berani menatap wajah Eva, dan kini nampak membuka pintu dan entah akan kemana.
Eva tak menjawab dan hanya bergeming dengan tatapan nanar menatap ujung brankar tempatnya berbaring, saat suara pintu itu telah tertutup sempurna.
" Pria itu... pria itu menciumiku?"
" Aaaaa!" Batin Eva yang belingsatan demi segumpal rasa tak percaya itu.
Sementara itu, diluar ruangan, Demas yang nampak menetralisir rasa deg-degan itu nampak berdiri menyandarkan tubuhnya di depan dinding, seraya merutuki dirinya yang tiada bisa lagi menahan sejumput perasaan yang ia sendiri tidak tahu itu apa.
Oh common man, are you crazy?
"Sial? Bagiamana aku sekarang mengahadapi dia?" Gumamnya membasuh wajahnya kasar dengan penuh keresahan. Sama sekali tak memikirkan efek domino yang akan timbul akan aksi enaknya barusan.
Namun, sejurus kemudian, adik kandung Deo itu nampak senyam-senyum sendiri sembari menyentuh bibirnya sendiri dengan ledakan perasaan yang terasa bahagia, demi mengingat wajah Eva yang sempat memejamkan matanya kala ia cium. Ihiir!
Membuat Dian yang terlihat baru pulang dari aksi santap malamnya, yang kini terlihat berjalan ke arah koridor bersama Eka , seketika saling beradu pandang demi melihat laki-laki tampan yang senyam-senyum sendiri.
" Apa Pak Demas tadi kena sawan dari hutan ya Bu? Tuh lihat, kenapa orang itu senyam-senyum sendiri begitu sih? Aku kok jadi takut Bu! " Ucap Dian dengan wajah resah seraya menangkap lengan Eka, yang membuat istri Tomy itu seketika merinding.
.
.
.
.
.
Yang pingin tahu kisah Eka dan Tomy, baca Baca Nada Cinta Jessika ya. ππ€