My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 139. Ayo kita menikah!



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


Dengan air mata yang seolah di tumpahkan dari dua netra jernihnya, wanita itu pergi dengan langkah tersuruk-suruk demi menahan rasa sedihnya saat Demas meminta semua anggota keluarganya untuk pergi.


Tak kuasa lagi berada di ruangan itu, manakala manik matanya menangkap sorot penuh kekecewaan dari Deo.


Kenapa? Kenapa ini terjadi?


Kenapa roda nasib begitu cepat berputar?


" Eva!" Panggil Arimbi kepadanya.


Ya, usai berdiplomasi dengan suaminya, Arimbi meminta izin untuk berbicara dengan Eva dari hati ke hati. Ia tahu betul, tak mudah berada dalam posisi Demas.


" Jangan kamu ambil hati ucapan Demas barusaja!" Tutur Arimbi dengan suara penuh bahasa kasih.


Hening.


Baik Eva maupun Arimbi kini sama-sama terdiam. Hanya terdengar isak tangis yang semakin gencar menjadi original soundtrack suasana itu.


David yang melihat Arimbi menemui Eva, memberikan kode bagi istri dan anaknya serta ibu Eva untuk membiarkan semua itu. Mereka paham, ada sesuatu yang sulit di jelaskan manakala pencobaan mendadak hadir dalam sebuah hubungan dewasa yang serius.


" Apa semua yang berada di dekatku harus sial Ar?" Tanya Eva muram menatap lekat Arimbi dengan mata basahnya.


" Apa yang kau bicarakan?" Balas Arimbi dengan kening berkerut.


Eva tersenyum kecut, mengalihkan pandangannya ke hamparan perkotaan yang berkerlip bagai lampu pohon Natal dengan tatapan menerawang jauh.


" Ibuku di tinggalkan Bapakku karena memiliki anak aku. Sekarang...."


" Atas dasar apa kamu memvonis dirimu sendiri seperti itu?"


Kembali hening. Keduanya nampak sibuk menelan saliva.


" Va, setiap orang punya titik lemahnya masing-masing. Apa yang di ucapkan Demas tadi, aku yakin karena dia sedang syok atas apa yang tejadi. Aku tahu kalian saling mencinta kan?" Seru Arimbi dengan dada yang turut sesak. Membuat Eva kembali menangis haru.


" Pak Demas baru saja melamar ku beberapa jam lalu Ar. Dan sekarang...."


Eva tak lagi bisa menahan diri untuk tak memeluk Arimbi manakala mengatakan hal itu. Membuat istri dari Deo Alfa itu seketika melebarkan matanya.


.


.


Demas


Usai mengusir seluruh anggota keluarganya di jama malam itu, ia yang kini seorang diri diatas ranjang berusaha mengangkat kaki sekuat tenaganya namun usahanya nihil.


Kedua kakinya benar-benar tak bisa menjalankan perintah otaknya. Kini, ketidakpercayaan diri semakin nyata menyerang pria tampan itu.


" Argghh!" Ia berteriak frustasi sembari melempar bantal yang ada di sampingnya. Meluapkan kekecewaan serta ketidakberdayaan yang kini menyerangnya.


Kenapa semua ini harus terjadi Tuhan?


CEKLEK


Pintu yang terayun terbuka itu, kini menampilkan sesosok teduh. Ibu Eva.


Membuat Demas yang sebenarnya sangat terkejut itu, seketika melempar pandangan ke arah lain sembari mengatur napasnya yang masih terdengar memburu.


Bunyi tapak kaki yang semakin mendekat itu membuat Demas kian tertunduk. Ia merasa tak berdaya, tak berguna, lemah dan malu.


" Boleh Ibuk bicara nak?" Ucap Ibu Eva dengan suaranya yang lembut.


Demas masih tergugu dengan rasa dada yang semakin berdebar-debar. Entah mengapa ia tak bisa menolak wanita itu.


" Ibuk mau minta maaf sekaligus berterimakasih!" Ucap Ibu Eva kala laki-laki di depannya itu nampak membisu dan terlihat malu.


Membuat Demas seketika mendongak lalu menatap seraut teduh milik Ibu Eva.


" Minta maaf karena telah menyebabkan nak Demas menja...."


" Bukan salah Ibuk!" Sahut Demas singkat. Sedikit ketus cenderung tak berani menatap. Membuat Ibu Eva menarik seulas senyum.


" Kalau begini sifatmu benar-benar sama dengan Eva!"


" Jika Demas menyadari ini bukan salah Ibuk, berarti ini juga buka salah siapapun!" Terang Ibu Eva sembari tersenyum.


Hening. Keduanya terdiam. Sama sama sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Hingga beberapa detik kemudian.


" Selama kita ini hidup di dunia ini, yang namanya ujian pasti akan datang silih berganti. Tidak nak Demas, tidak juga Ibuk!"


" Benar!" Sahut Papa David yang tiba-tiba muncul bersama Jessika. Membuat Demas seketika menggigit giginya guna menahan kesedihan.


" Kami semua menyayangimu nak. Tolong kamu jangan seperti ini! Mama enggak bisa lihat kamu putus asa seperti ini!" Timpal Mama Jessika yang kini mengusap lembut lengan kokoh anaknya.


Membuat suasana kembali mengharu biru.


" Tapi Demas cacat Pa, Ma! Demas enggak berguna lagi, Demas bakal jadi ngerepotin semua orang!"


" Kita berjuang sama-sama buat sembuhkan kamu!"


.


.


Di jam yang terbilang telah larut itu, Jessika memaksa Arimbi untuk pulang sebab dalam rahim wanita itu telah bersemayam calon cucunya. Alhasil, Deo juga tak mau berkompromi soal kesehatan anaknya. Laki-laki berparas tampan itu memaksa istrinya untuk pulang dan beristirahat.


David dan Jessika mengantar ibu Eva untuk pulang dulu sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah sakit guna menjaga Demas.


Selama itu pula, Eva yang sudah menceritakan soal Demas yang telah melamarnya beberapa waktu lalu kepada Jessika dan David, meminta izin untuk berada di kamar Demas untuk menjaga.


CEKLEK


Tatapan terkejut dari sorot mata Demas bisa ia tangkap dengan begitu jelas. Ya, pria itu sepertinya tak tahu jika Eva masih berada di rumah sakit di jam semalam itu.


Eva tak langsung mendekat dan lebih memilih duduk di sofa usai meletakkan beberapa makanan.


" Pak Demas lapar?"


Hening. Tak ada jawaban.


" Kalau enggak lapar aku akan tidur dulu!" Ucap Eva sengaja memancing reaksi Demas.


Namun, laki-laki itu hanya diam. Masih sibuk memetakan kecanggungan yang mendadak menyeruak. Dan kondisinya, sama persis saat mereka berdua baru bertemu. Padahal, mereka berdua baru saja saling berciuman beberapa waktu yang lalu.


" Kenapa kau tidak pulang?" Tanya Demas akhirnya.


" Apa? Kau?"


" CK!"


lihatlah, dia bahkan kembali menggunakan sebutan yang benar-benar tidak ramah. Begitu batin Eva yang berdecak.


" Bukankah beberapa jam yang lalu Pak Demas memintaku menjadi istrimu? Sekarang, anggap saja kita training!"


DEG


Demas tak mengira, jika Eva tak meninggalkan dirinya seperti dugaannya.


" Apa yang kau lakukan?" Tanya Demas panik demi melihat Eva yang hendak membuka kancing kemejanya.


" Tidakkah Pak Demas lihat kalau baju Pak Demas kotor? Biar aku gantikan!" Jawab Eva turut kembali ke mode awal.


Oh sial, andai saja dia tidak mengalami kesulitan dalam bergerak, sudah pasti ceritanya akan lain.


" Biarkan aku sendiri!" Ucap Demas yang tak tahan kala jari jemari Eva menyentuh punggungnya dan menimbulkan sengatan serta getaran yang tak baik untuk si ucok.


Damned!


Eva menyadari, sikap Demas yang kembali ketus ialah hanya bentuk dari manifestasi ketidakpercayaan diri.


Eva hanya diam sembari menatap Demas yang berusaha membetulkan kaos yang kini tengah ia kenakan. Walau bagiamanapun, Demas telah memikat hati Eva, dan sebagai wanita yang telah tertambat hatinya, mustahil bagi Eva untuk meninggalkan Demas.


" Kau harusnya pulang, kenapa malah disini. Mama nanti yang akan ada disini!" Ketus Demas yang sebenarnya kasihan melihat Eva yang nampak begitu lelah dengan beberapa goresan luka yang menghiasi wajah, juga lengan mulus wanita itu.


" Kenapa aku tidak boleh disini. Bukankah aku calon istrimu?"


DEG


Eva pasti sudah gila, ia bahkan menepikan egonya demi rasa kasihan dan rasa bersalahnya.


Membuat Demas tercenung.


" Tapi sekarang kondisinya sudah beda Va. Aku bahkan tidak bisa untuk sekedar berdiri!"


"Aku cacat, jangan membicarakan soal istri. Karena tidak ada wanita yang mau menikah dengan orang lumpuh!" Ketus Demas seraya menatap tajam Eva.


Membuat Eva yang hendak melangkahkan kakinya untuk meletakkan baju kotor Demas, seketika membalikkan badannya kembali.


" Kalau begitu ayo kita menikah sekarang!"


" Apa?"


.


.


.