
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Daniel
Ia pun sebenarnya tidak tahu pasti, tentang mengapa Erik memintanya mengajak serta Eva dan Arimbi sewaktu pria itu menelpon dirinya beberapa waktu yang lalu.
" Kenapa enggak senior aja yang berangkat? Mereka aja bahkan belum bisa sistem secara baik!" Ucap Hizkia di sela kegiatan mengeprint weather dari laman BMKG pada layar komputernya.
" Bos udah bertitah. Kacung bisa apa?" Jawab Daniel lesu. Yang sebenarnya senang sekaligus bingung.
Senang karena itu artinya, ia bisa bersama Arimbi. Dan bingung, sebab mengapa dua anak baru itu yang dipilih.
Saat Daniel baru saja menyalakan komputer lain pada meja kerjanya. Ponsel silver miliknya kembali bergetar.
" Halo Mas?" Ucap Daniel begitu benda pipih itu tertempel di daun telinganya.
" Dimana Dan?"
" Di flop Mas!"
" Oke-oke saya kesana setelah ini. Yang dua itu belum datang?"
" Belum mas!"
" Ya wes!"
TUT
Daniel mendecah sebal. " Enggak bos, enggak assistenya, kalau nutup telepon sama aja!"
Hizkia dan rekannya yang lain disana terlihat terkekeh demi mendengar Daniel menggerutu. Ya, itu benar. Bos memang kadang semaunya sendiri.
" Jadi briefing disini? Kenapa enggak di kantor aja sih?" Sahut Panji yang kini juga terlihat sibuk mencharger beberapa HT yang akan mereka gunakan untuk pelayanan nanti.
Daniel menggeleng, " Nggak bisa. Kelamaan nanti katanya mas Erik. Habis ini mereka kan juga mau handle!" Jawab Daniel yang mulai membuka Flightradar24 padah layar komputernya.
Beberapa saat kemudian, datang dua wanita yang beberapa saat lalu mereka panggil lewat HT. Membuat Daniel merasa gelisah mendadak.
Pria itu bahkan tiba-tiba membetulkan letak dasi, serta menyurai rambutnya manakala melihat Arimbi yang sudah berada di depan ruangan mereka. Mempersiapkan diri sebaik mungkin.
" Beda banget bang reaksinya. Naksir ya?" Cibir Luki yang hendak pergi menuju stakeholder lain, demi preparation. Nampak terkekeh-kekeh.
" Ngaco aja kamu! Dah, urus aja itu dokumen. Awas enggak beres!" Jawab Daniel belingsatan dan membuat Hizkia menyipitkan matanya.
.
.
" Permisi!"
Eva mendorong pintu dari kaca berwarna gelap bertuliskan Operation itu, dengan suara lantang namun sopan.
" Ah, kalian sudah datang rupanya. Silahkan duduk dulu!" Ucap Daniel mencoba biasa saja.
Eva dan Arimbi yang pertama kali masuk ke flop, langsung di sambut oleh dinginnya udara AC dari dalam markas para pria back side ( sisi belakang) itu.
Terasa menyegarkan sekaligus memberikan nuansa lain, kala mereka kompak menatap kaum adam yang tengah berjibaku dengan layar komputer mereka masing-masing.
Keren.
Mereka berdua sejurus kemudian melempar bokong mereka pada sofa hijau, yang terdapat di sudut ruangan. Keduanya sama-sama menyapukan pandangannya pada ruangan yang di dominasi cat warna putih itu.
Ruangan itu beraroma wangi, hasil evapurasi dari pengharum ruangan yang otomatis menyemprotkan cairan harum itu.
" Santai dulu aja, kita lagi nunggu Pak Erik!" Seru Daniel masih dari mejanya, yang pura-pura sibuk dengan komputernya sebab ia grogi.
Sudah lama sejak mereka makan di resto tempo hari, ia tak bertemu dengan aeimhi. Daniel tak percaya diri, sebab saat ia menyatakan ingin mendekati Arimbawa, wanita itu bahkan belum jua menjawab.
Arimbi dan Eva mengangguk. Ini kali pertamanya bagi mereka berkunjung ke operation. Ruangan itu benar-benar bising, sebab berhadapan langsung dari jarak beberapa meter, dengan beberapa pesawat yang di handle GH lain yang tengah disembark ( menurunkan penumpang).
Kaca yang dari luar gelap itu, nyatanya bisa menjadi terang manakala mereka berdua berada di dalam.
Membuat mereka dapat menikmati keindahan hamparan apron yang bersisian dengan landasan pacu, yang pagi itu menunjukkan kesibukan para pegawai maskapai lain, yang akan mengurus penerbangan pertama.
Terlihat jantan dan benar-benar keren.
" Ngawur aja! Elu itu ya, bener- bener cocok jadi saudaranya Dian!" Elak Arimbi mengendikkan bahunya seraya mendengus. Sama sekali tak nyaman dengan celetukan rekannya yang lebih bar-bar dari dirinya itu.
" Mana mungkin Va, andai kau tahu kalau aku ini bahkan sudah jadi istri orang." Batin Arimbi yang kini mengulum bibirnya.
"Sory - sory, maaf lambat. Dan, kita ke belakang aja!"
Mereka semua terkejut demi melihat Erik yang datang dengan napas ngos-ngosan, saat kesemua manusia tak menaruh atensi ke arah luar.
Sibuk bergunjing dalam mengamati cowok-cowok ganteng, rupanya membuat dua kaum hawa itu, tak menyadari kedatangan Erik.
.
.
Di ruang belakang.
" Kok saya Pak?" Eva memanyunkan bibirnya, usai mendengar penjelasan tentang mengapa mereka di undang hadirkan ke flop.
Sedikit syok dan juga agak kurang mau. Sebab itu artinya, ia akan meninggalkan ibunya seorang diri selama beberapa waktu, kalau ia diikutsertakan menuju TGR.
" Cewek disana kala make up enggak ada yang becus. Ini demi efisiensi. Kalau ada karyawan kita yang berkompeten, Pak Deo minta pakai dari intern kita. Tenang, dapat bonus dari beliau kamu nanti!" Jelas Erik dengan wajah yang begitu meyakinkan.
" Ya bukan begitu Pak, masalah. Ah ya udah deh. Toh Arimbi ikut kan?" Cetus Eva yang akhirnya pasrah dan enggan mendebat pria yang pandai bersiasat itu.
Erik mengangguk mantap, " Iya lah. Kita bawa dia biar yang lain bisa belajar bahasa Inggris walau cuma beberapa hari!"
" Kita ini ngajak orang kalau enggak ada alasannya ngapain. Kita ini mau melebarkan sayap perusahaan, bukan mau jalan-jalan doang!"
Erik tak bohong soal Eva yang terlihat paling cepat membahana dalam urusan make up, dan membuatnya menginisiasi untuk menggunakan anak buahnya itu, demi doktrin efisensi yang tersemat dalam aturan perusahaannya.
Arimbi hanya diam selama Erik menjelaskan hal itu kepada Eva. Ia tercenung dan pikirannya justru berkelana ke arah lain.
" Kenapa Deodorant enggak ngomong langsung ke aku sih?" Bertanya dalam hati. Ia pikir setelah apa yang terjadi antara mereka berdua, pria itu akan berubah sikap kepadanya.
Nyatanya...
" Jadi, saya minta kalian siapkan apa-apa yang musti di bawa. Yang paling penting, jaga kesehatan kalian jelang keberangkatan. Jangan sampai pak Deo marah!"
Eva yang sibuk berpikir bagaimana caranya meyakinkan ibunya jika dia ditugaskan ke luar kota, dan Arimbi yang gencar berpikir mengapa ia tak diajak ngobrol secara langsung.
.
.
" Wiihh, keren banget kalian. Duh, aku iri deh!" Dian yang bergelayut manja di lengan Eva terlihat manyun. Membaut Eva mendecak dengan alis berkerut.
" Sana aja gantiin kalau mau. Aku juga heran, kenapa juga perusahaan bonafit enggak mau ngambil MUA berkelas kalau cuman buat ngajarin anak make up!" Ucap Eva seba.
Resita terlihat menatap Arimbi degan raut lesu.
" Beruntungnya kamu Ar. Di tiap kesempatan, kamu bisa bareng kak Daniel!"
Semenjak Arimbi yang kerap berkesempatan berdua dengan Daniel walau tanpa kesengajaan itu, kini Resita menjadi pribadi yang lebih pendiam.
" Kau kenapa Res? Sakit kau?" Yohan yang baru selesai menandaskan bekalnya berupa bening kelor juga pepes ikan pagi itu, nampak menangkap raut murung dari wajah rekannya yang cantik itu.
Membuat Arimbi, Dian, juga Eva menoleh ke arah Resita.
" Oh, enggak. Enggak ada. Aku akhir-akhir ini suka mikir, kenapa semenjak dibuat jadwal duty, kita jarang punya waktu bareng!" Resita tersenyum. Mencoba mencari alibi yang relevan.
Mereka semua mengangguk. Semenjak mendapat jatah jobdesc, mereka memang berpencar- pencar saat ini. Yohan dan Resita yang seringnya di ruang tunggu, Eva yang kerap di Check in, Arimbi yang wara-wiri domestik Inter, serta Dian yang kadang menggerutu sebab bermandikan matahari di apron.
Namun, dari kesemuanya. Arimbi melirik Resita secara diam-diam.
" Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu Res!"
.
.
.
.