My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 22. Benar-benar musuh



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Ia mengekor di belakang Daniel menuju ke sebuah ruangan terbuka yang lega, tepat di samping sebuah papan elektronik besar yang memuat update prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi ,Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) wilayah setempat.


" Ar, saya enggak punya cukup waktu buat nemuin kamu setelah ini. Karena kita bakal sama-sama sibuk. Tapi, saya cuma mau bilang sama kamu, tolong kamu lebih bisa jaga diri kamu buat hati-hati sama Pak Deo. Saya tahu tadi kamu pasti kena marah. Saya enggak maksa kamu mau cerita ke saya juga, tapi yang jelas kamu harus bisa bersikap baik sama beliau!"


" Ingat, beliaulah yang menjadi alasan kita bekerja disini!"


Arimbi tak mengerti mengapa Daniel terlihat begitu serius manakala berucap soal Deo. Namun yang jelas, satu kata yang perlu di garis bawahi, adalah suatu kenyataan dan kebenaran, bahwa semesum apapun Deo, pria itu tetaplah pemilik GH tempat dimana dia bekerja saat ini.


" Mengerti Pak!" Ucapnya cepat , sebab sebenarnya ia sangat malas membicarakan Deo. Pria yang menurutnya jahat.


Tanpa mereka ketahui, Resita sedikit resah kala melihat dua manusia yang berbicara dengan posisi sangat dekat itu.


Lebih tepatnya cemburu.


.


.


Flight pertama hari itu telah usai. Sesuai anjuran kepala operation , mereka wajib standby dua puluh menit, setelah pesawat take off atau lepas landas.


Sebab di takutkan, terjadi sesuatu yang mungkin saja membuat pesawat itu RTB ( Return to Base).


" Charlie monitor!" Suara HT ( Handy Talky) bertuliskan Hawai itu berbunyi. Dari gelombang yang terdengar, Arimbi bisa menebak jika itu merupakan suara Daniel.


Ya, Charlie / C merupakan callsign untuk memanggil bagian staff check in yang memonitor laju penumpang, mulai awal hingga akhir.


" Gohet! Gohet! ( go ahead / lanjut)!" Sahut perempuan cantik berseragam biru yang menjadi senior disana. Perempuan itu mengenakan pas yang tergantung diatas dadanya, memperlihatkan foto cantik dengan nama Kenanga.


" Info ke semua front len kumpul di lantai dua ya, kita briefing sebentar!"


Kenanga menatap kelima anak baru itu dengan wajah datar.


" Yok!" Jawab Kenanga dengan wajah malas. Sebab jatah waktu sarapan mereka, jelas akan terpangkas.


" Guys, briefing bentar dulu, jangan ada yang sarapan!" Kenanga berteriak diantara rekan-rekannya yang saat ini merekonsiliasi dokumen usai penerbangan itu berakhir.


" Psttt, heh guys, itu senior yang baju biru galak banget kelihatannya!" Bisik Dian seraya memanyunkan bibirnya demi melihat sikap acuh Kenanga.


" Sstt, mulut lo Yan. Entar dia denger!" Sahut Resita yang sebenarnya mengiyakan ucapan teman wandunya itu.


" Kalian anak baru kan? Bantuin dong jangan diem aja! Tanya dong, mbak bisa di bantu? Jangan nunggu di perintah!"


Ucap salah seorang lain bernama Cassandra. Wanita itu mengenakan make up yang sebelas dua belas tebalnya seperti Eva. Terlihat berpenampilan seperti ibu Berta, salah satu juri di acara dangdut.


" Astaga Tuhan!" Yohan sampai berjingkat manakala suara menggelegar itu terdengar.


Arimbi bersikap biasa saja sementara Resita terlihat gugup. Dian mendengus, sementara Yohan dan Eva terlihat lebih bisa menguasai keadaan.


" Itu beresin meja check ini nya, kan bisa nanya, dari pada berdiri aja. Disini itu tempatnya orang sibuk, dan inget, jangan nunggu di perintah!"


Arimbi dan Resita saling menatap. Mereka akan orang baru, tentu saja menuggu di perintah. Astaga, sepertinya kisah sesungguhnya baru akan dimulai.


.


.


Beberapa saat kemudian, sekitar lima puluh orang yang hadir di ruang terbuka lantai dua itu, kini duduk berhimpitan di kursi panjang yang biasa di jadikan anjungan oleh pengunjung.


Tidak semua bisa hadir, sebab ada beberapa orang yang musti standby sebab jam 09.45 nanti akan ada Andanu Air tujuan kota S, yang musti buka check in.


" Saya mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekan semua yang hadir. Tentu kalian sudah tahu, kenapa saya kumpulkan kalian semua disini!"


Arimbi tekun menyimak Daniel yang kini duduk di depan bersama tiga wanita cantik, dan dua orang tampan berseragam senada. Resita nampak lekat menatap Daniel tak jemu. Menurut Resita, Daniel terlihat keren manakala ia serius bekerja.


" All team, saya ingin memperkenalkan team kita yang baru. Di sebelah sana namanya Yohanes!"


Yohan berdiri sambil mengatupkan kedua tangannya lalu membungkuk hormat.


" Selanjutnya ada Eva!"


Wanita berwajah judas itu berdiri sambil membungkuk sopan.


" Dian!"


" Halo kak!" Dian berdiri seraya tersenyum dan membuat suasana seketika gaduh, sebab laki-laki sangat bersinar dengan bibir mengkilap yang tak pernah pudar.


" Resita!"


Resita yang namanya di panggil seketika bangkit dan tersenyum. Ia sedikit malu.


" Yang terkahir Arimbi!"


Arimbi melakukan gerakan yang persis di lakukan oleh Yohan. Namun kali ini, ia tersenyum ramah.


" Saya harap masing-masing PIC untuk bisa mengajarkan ilmu yang kalian miliki kepada anak-anak baru. Deadline kita, bulan depan anak-anak ini musti bisa dilepas!"


" Dan unt...."


" Daniel!"


Daniel Mengehentikan ucapannya manakala melihat sosok orang nomer satu di tubuh Ground Handling tempatnya bekerja. Membuat kesemua yang ada disana seketika menunduk hormat kecuali Arimbi yang malah melengos.


" Males banget lihat tuh orang!"


" Pak Deo, anda kemari?" Daniel menyongsong kedatangan Deo yang mendadak itu.


" Tolong bagi mereka masing-masing satu PIC satu anak baru. Dan tolong kalian yang menjadi PIC, tempa mereka secepat mungkin, tak peduli cara kalian bagaimana. Saya mau, bulan depan kalian harus siap duduk di meja check in secara mandiri!"


Deo mengucap hal ini itu penuh penekanan, dengan wajah yang kini menatap tajam ke arah Arimbi yang juga menatapnya sengit.


.


.