
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
" Cepat cari Arimbi Deo!" Jessika nampak gusar, panik dan kecewa terhadap anak laki-laki sulungnya itu.
" Ma tenang ma, Deo juga sama syok nya dengan kita!" Ucap David menenangkan istrinya yang nampak kalap. Menatap penuh keresahan istri yang terlihat benar-benar khawatir.
" Mas, aku yakin mereka pasti bawa Arimbi jauh. Mas ingat kasus mas sama Tomy dulu? Keluarga Mas, keluarga kita selalu jadi buruan orang-orang dengki mas. Aku bahkan masih ingat betul saat-saat Sherly bawa aku ke hutan, aku enggak mau itu semua tejadi sama Arimbi mas, kasihan anak itu, dia anak baik mas, dia gak tua apa-apa soal keluarga kita!"
" Mama takut kalau mereka bawa Arimbi kehutan, atau ke pantai, atau ke..."
" Ssttt, Mama tenang dulu, jangan bikin kita panik!" David langsung merengkuh tubuh istrinya lalu memeluknya. Pria itu paham bila Jessika pasti sedang dirundung kekalutan sebab merasa bersalah dengan keluarga Arimbi.
Jessika menangis dalam dekapan David. Ia sadar betul, apa yang tejadi dalam perusahaan Deo sudah pasti imbas dari carut marut rasa iri orang-orang terhadap keberhasilan keluarganya.
Demas yang terkejut demi melihat kemarahan sang Mama nampak menelan ludah sebab belum pernah sebelumnya Mamanya bertindak seperti itu. Dan satu lagi, ia baru tahu cerita soal flashback kedua orangtuanya yang jujur ingin ia ketahui lebih dalam itu.
Deo menatap muram wajah Jessika yang kini nampak murung. Rasa sakit di pipinya jelas tak sebanding dengan rasa sakit yang timbul akibat kekhawatiran seorang ibu.
Deo menitikkan air matanya.
Sejurus kemudian Deo segera melesat pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada keluarganya. Dadanya bergemuruh, persetan dengan dunia, mungkin sudah saatnya mengakui jika ia merupakan manusia yang memang takut kehilangan Arimbi.
Deo tengah berada di titik dasar dalam hidupnya.
" Kak Deo!" Panggil Demas dengan wajah murung, begitu menyadari Deo yang seketika enyah dari hadapannya.
" Kak Deo!" Panggilnya lagi demi melihat punggung kokoh yang kian menjauh dari pandangannya itu.
" Biarkan dia pergi Dem. Dia harus bertanggung jawab!" Seru Jessika turut menatap Deo dengan mata basahnya.
" Mama ingin melihat sejauh apa kakakmu menganggap Arimbi!"
Batin Jessika nyeri. Sedikit menyesalkan tindakan anaknya yang dinilai lamban. Padahal, istri David itu tidak tahu jika keduanya sudah saling mencintai dan mulai tergantung satu sama lain.
Demas menatap muram mamanya. Merasa sedih dengan kekacauan yang tercipta.
Deo nampak bermanuver kasar. Pria itu menghubungi Erik sejurus kemudian. Tak mau lagi menunda. Ia bahkan mengabaikannya panggilan dari orang Jatayu. Benar-benar tak mempedulikan apa yang ada disana. Baginya saat ini, Arimbi jauh lebih penting dari segala hal yang ada disana.
" Bagiamana?" Tanya Deo dengan wajah tak sabar manakala sambungan telepon itu telah terjalin. Berharap Erik membawakan segumpal harapan atas keresahan yang semakin menyiksanya itu.
" Plat itu merupakan plat fiktif Pak. Mereka menggunakan plat palsu!" Ucap Erik dari ujung telepon.
" Tapi tenang saja, saya dan Fadli sudah menyiapkan orang-orang kita. Tinggal menunggu perintah dari Pak Deo saja!"
Deo memejamkan matanya. Berusaha berpikir dalam waktu yang teramat limit. Mengapa bajingan itu seolah-olah telah mengorganisir semua ini
" Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku, aku akan meledakkan kepalamu dengan tanganku sendiri Bramasta!" Batin Deo dengan kebencian yang teramat.
Ya, Deo mengenali siapa pria yang berada di dalam kemudi mobil yang terekam CCTV itu. Walau, plat nomor yang mereka gunakan merupakan plat nomor fiktif.
" Erik, cari lokasi Bram saat ini berada, aku tidak mau tahu, kau bisa cek melakukan ponsel, atau apapun, kepalaku benar-benar terasa pecah!"
.
.
Erik
Ia masih berada di bandara saat Deo tiba-tiba menelponnya dengan nada suara penuh kegusaran. Sungguh, ini pertama kalinya ia mendengar Deo nampak marah dengan level yang berbeda.
" Aku harus pergi, Arimbi seperti di culik."
" Apa?" Koor Eva, Dian, Resita dan juga Novi. Benar-benar terkejut dengan kalimat bernada informatif yang tak biasa itu.
" Astaga, kenapa aku malah mengatakan hal itu kepada mereka?" Gumam Erik merutuki kebodohannya.
Erik bahkan seketika merasa menyesal demi memproklamirkan kejadian itu. Dasar mulut!
"Ingat, jangan beritahu hal ini kepada siapapun, terlebih GH sebelah. Kalian harus tetap melayani dengan baik!" Ia terpaksa harus mengultimatum para manusia yang nampak terbengong-bengong itu.
.
.
Eva
"Apa? Elu jangan gila Va!" Sergah Dian nampak tak setuju dengan ide Eva yang ingin menyusul Erik secara diam-diam.
" Baru nyadar kalau aku emang gila? Kalau elu enggak berani disini aja lu. Aku gak bisa cuman diem begini!" Eva mendengus demi melihat Dian yang nampak takut.
Ia merasa tak tenang. Entah mengapa, ia yang diawal perjumpaan dulu nampak ketus, kini merasa jika Arimbi adalah sahabat yang begitu baik.
" Pakai mobilku aja Va!" Seru Resita tiba-tiba yang membuat mereka semua terperanjat.
Kini, Dian, Novi dan Eva saling mendelik manakala Resita berani angkat bicara.
" Aku disini bantu hal lain. Kasihan mbak Novi, Kak Daniel juga yang lain!" Resita memegang tangan Eva dengan wajah tersenyum. " Aku tahu kau wanita kuat Va! Mari kita sama-sama menolong Pak Deo!"
Ketiga orang itu nampak muram dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, mereka semua kini larut dalam kesedihan.
Mereka menyadari, walau Deo merupakan orang tegas yang kadang menyakitkan hati, namun ia tahu jika Direktur mereka itu merupak orang yang bertanggungjawab.
" Resita benar. Kita semua bisa membantu Pak Deo dengan cara kita, dan versi kita masing-masing. Pelayanan tetap harus berjalan, kita semua tahu kondisi GH sedang down. Pak Deo orang baik, hanya ini yang bisa kita lakukan. Perkara hasil, kita percaya jika Tuhan selalu bersama orang benar!" Ucap Novi begitu bijak.
Kesemua orang itu saling merangkul. Menangis demi keadaan rumit yang mendadak mendera mereka semua. Membuat beberapa penumpang lain nampak menatap heran ke arah mereka.
"Kalau gitu...aku ikut kamu Va!"
"Hah?"
Mereka semua membulatkan mata kala Dian mengutarakan hal mengejutkan itu.
.
.
Tomy
Ia sudah mendapatkan telepon dari mantan bosnya mengenai kejadian ini. Bertepatan saat David barusaja memungkasi panggilannya, anak sulungnya nampak datang dengan sedikit tergopoh-gopoh.
" Pa? Papa udah tahu kabar soal..." Erik bahkan mengabaikan Eka yang membawakan secangkir teh diatas nampan untuk suaminya.
" Ada apa Rik? Kenapa wajahmu pucat?" Sahut Eka, membuat ucapan anaknya memudar.
Dua laki-laki yang sepertinya sadar belum mengabari hal penting kepada ratu di keluarganya itu, nampak saling menatap.
" Maaf sayang, aku baru saja mendapat info. Istri Deo diculik orang!" Sahut Tomy cepat sebelum petaka akan terjadi.
" Apa? Kenapa baru ngasih tahu sih?" CK, terus gimana?"
Erik memutar bola matanya malas. " Padahal papa udah bilang kalau baru dapat info. Kenapa sih ibu-ibu selalu mau menang sendiri?" Gumam Erik dengan suara tak terdengar.
" Jessika marah besar, dan Tuan David meminta aku unt..."
" CK, kita harus kerumah Jessika sekarang. Mama mau lihat kondisi dia. Aduh suami sama anak sama-sama lelet kalau urusan begini. Pokoknya Papa harus bantu mereka, udah cepat - cepat. Aduh, kalau situasi gini jadi ingat kita masih muda dulu ya pah?"
Membuat Tomy dan Erik saling menatap dengan isi kepala yang sudah pasti sama.
Terus terang, Erik yang tadinya tegang kini mendadak ingin tertawa manakala melihat Mamanya menempel erat di lengan papanya yang berwajah datar itu.
Astaga!
.
.
.
.
.
Buat yang ingin tahu kisah Tomy sama Eka waktu masih muda, baca kisa Nada Cinta Jessika ya.
😘