My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 28. Sebuah bahaya



...🌿🌿🌿...


...β€’...


...β€’...


...β€’...


Arimbi


Group KB ( KeceBadai)


Ia membuat huru - hara dalam group yang beranggotakan lima manusia baru di tubuh Ground Handling besar itu. Sengaja merusuhi teman - temannya agar mau mengasihani dirinya.


Arimbi :" Beneran enggak ada yang mau ikut ini? πŸ˜”"


Arimbi sedikit ragu malam itu. Seorang diri dengan menyandang predikat sebagai anak baru jelas akan sedikit menyulitkannya.


Dian :" Ogah! Entar dikira minta makan gratis. Kita kan enggak diundang kalau tiba-tiba datang, b'rasa jadi maling coy!"


Eva : "Bener banget. Kamu ikutan aja sana Ar, entar kena masalah lagi sama tuh senior."


Arimbi resah menatap layar ponsel yang berisikan jawaban penolakan dari teman-temannya. Sungguh makin membuatnya gundah.


Arimbi : " Males sama si Deodoran! πŸ˜’


Yohan " Who is Deodoran?"


Dian :πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Resita : " Awas jatuh cinta elu Ar. Ngatain Pak Deo jadi Deodoran 🀣🀣"


Entah mengapa, Arimbi kini cekikan seorang diri demi membaca lawakan dalam groupnya itu.


Eva : " Wah parah ni anak, ganteng begitu dibilang Deodoran 🀣🀣🀣"


Yohan : " Semangat Ar! Kalau urusan sama petinggi kerajaan, kita mah enggak mau jadi runyam! 😁😁😁✌️✌️"


Well, mau tidak mau ia akhirnya memutuskan untuk datang. Ia takut terkena masalah mengingat makan malam nanti akan di hadiri oleh beberapa orang penting dalam tubuh Andanu Air.


Ia kini menatap isi lemari pakaiannya. menggaruk dagunya demi memikirkan pakaian mana yang cocok ia kenakan saat ini.


" Serius amat!" Farel yang datang dengan membawa jajanan berbumbu micin itu, kini melipir ke kamar kakaknya. Menatap Arimbi sembari sibuk mengunyah.


" Bingung enggak punya baju!" Sahut Arimbi masih berdiri.


Farel mendelik lalu menatap isi lemari dengan wajah kakaknya itu secara bergantian. What?


" Eh paijah, yang di dalam itu memangnya apa? Gombal gambul? " Menatap heran ke arah kakaknya. " Cewek itu emang ya... dalam lemari isi pakaian udah segunung Gamalama, tapi bilangnya enggak punya baju!"


Farel seketika pergi demi mendengar ucapan mengesalkan kakaknya. " Pakai bikini aja sana!"


" Ya emang enggak punya, enggak punya yang baru!"


.


.


Tropis cafe & Resto


Sebuah tempat dengan desain minimalis industrial yang menggabungkan hal baru dan hal usang itu, menjadi pilihan Erik selaku koordinator acara malam itu.


Acara yang tidak resmi - resmi amat itu sengaja diadakan, sebagi bentuk rasa syukur karena pagi tadi mereka bisa melewati hari pertama mereka dengan lancar. Sedikit memberikan anak buah rasa berselebrasi itu tidak ada ruginya kok.



" Pak, apa anda mengajak Rara datang kemari?" Tanya Erik saat ia berjalan mensejajari langkah Deo saat baru turun dari mobil mereka masing-masing.


" Enggaklah, ngapain? Roro kalau acara kantor males tau!" Jawab Deo biasa. Ia saja saat ini tengah gundah karena menunggu balasan dari kekasihnya itu.


Malam itu, Deo terlihat berpenampilan lebih santai dan membuat pria gagah itu menjadi sorotan banyak khalayak.


Deo tampan.


" Hay!" Erik justru terlihat tebar pesona di sana sini. Memanfaatkan kesempatan rilex yang jarang ia dapatkan, kepada pengunjung lain saat ia hendak naik ke lantai dua.


" Dasar garangan!" Cibir Deo kepada pria yang gemar mengenakan kemeja itu.


Mereka masuk dan menempati tempat yang sudah mereka pesan secara khusus itu. Terlihat banyak staf yang saling tebar pesona kepada Deo. Namun, pria itu sama sekali tak menggubris ikhtiar rusuh para betina genit itu.


" Udah datang semua Dan?" Tanya Erik kepada Daniel yang kini terlihat menyongsong kedatangan mereka.


" Tadi belum Pak, sekarang sudah!" Jawab Daniel yang tersenyum menatap ke arah luar, yang memperlihatkan sosok cantik yang terlihat kebingungan.


Membuat dua pejantan itu menoleh demi mengikuti arah pandang Daniel.


" Hah, itu Arimbi?" Erik sampai melongo kala melihat perempuan yang mengenakan jeans kulot yang di padu padankan dengan blouse tak berlengan warna Navy, terlihat santai namun cantik.


Membuat Deo seketika menelan ludahnya.


.


.


Arimbi


Makan dengan di hujani di tatapan, apalagi yang melakukan adalah oleh orang yang tidak disukai, jelas membuat hidupnya bagai berada diantara duri tajam. Meresahkan dan tak nyaman.


Deo sedari tadi melirik Arimbi yang bisa-bisanya mengabaikan dirinya, dan cenderung akrab bersama Zakaria bersama team.


" Kamu kemarin ya yang dapat compliment dari Bule itu? Berita ini sampai ke direksi loh!" Seru Zakaria sambil sibuk makan bersama puluhan anak buah Deo lainnya.


Sebuah keberuntungan bagi para pegawai, bisa makan langsung bersama para petinggi kerajaan itu.


" Arimbi memang berkompeten Pak. Untuk itulah Pak Deo memilih dia langsung di inter. Malah knowledge Aviasi bisa sambil jalan.Yang penting modal language dia dulu udah dapet!" Ucap Daniel sesaat sebelum meminum minuman yang ia pesan.


Zakaria mengangguk, " Nanti kamu akan dapat reward. Tunggu aja ya?" Ucap Zakaria genit dan membuat Deo menatap tajam Arimbi.


Usia santap malam, mereka saling mengobrol santai di ruangan yang telah di lengkapi live music itu. Arimbi risih dengan tatapan penuh intimidasi dari Deo. Membuatnya resah dan tak jenak.


" Pak Zakaria, Pak Deo, saya sangat berterimakasih atas undangan makan malam ini. Tapi, maaf saya mau pamit dulu, karena ada acara lain. Saya permisi dulu!"


" Mau kemana Ar?" Daniel sontak bertanya saat gadis berkulit kuning itu kini berdiri.


" Ada acara kak Daniel. Duluan ya" Arimbi tersenyum meringis dan membuat Kenanga juga Casandra berbisik tak suka.


" Caper banget sama si Daniel tuh anak!" Bisik Bianca kepada Cassandra. Membuat mereka makin tak suka kepada Arimbi.


" Tenang aja, orang belagu kayak dia enggak bakal kerasan. Kalian lihat aja besok!" Ucap Kenanga dengan senyum mengerikan. Entah apa yang sudah direncanakan oleh wanita itu.


Erik menatap Deo yang tekun mengiringi kepergian Arimbi. " Aneh sekali si bos. Selalunya seperti musuh saat bertemu, eh pas Arimbi pergi kayak enggak rela!"


Malam yang semakin larut membuat suasana disana semakin bebas saja. Deo yang merasa kesal sebab tak satupun pesan darinya yang dibalas oleh Roro, memutuskan untuk pergi seorang diri ke suatu tempat.


" Aku cabut dulu Rik. Urgent!" Ucap Deo yang benar-benar kehilangan moodnya kala merasa Roro akhir-akhir ini makin sering tak membalas pesannya.


Zakaria bersama Daniel yang kini asik berkaraoke disana agaknya tak tahu jika big bos-nya hendak pergi.


" Aman, bill nya sama Zakaria nanti. Dia yang bayar!" Ucap Deo menepuk pundak Erik yang melongo.


Deo langsung pergi bahkan tanpa menyapa segerombolan geng yang di gawangi oleh Kenanga itu. Mereka semua asik berbincang-bincang di meja yang tak jauh dari stage Daniel bernyanyi.


.


.


Deo melajukan mobilnya seorang diri. Membelah jalanan yang agak lengang malam itu , dengan perasaan gundah gulana. " Kayaknya gua harus cari tahu sendiri dimana Roro!" Gumamnya seraya meningkatkan kecepatan laju kendaraannya.


Hubungan yang terjalin antara dirinya dan Roro bukanlah seumur jagung. Bagiamanapun juga, ia telah berjalan terlalu dalam bersama wanita itu. Cinta, kehidupan dan se*ks, merupakan tiga hal yang berkaitan. Dan sebagai pria dewasa, Deo selalu membutuhkan hal itu.


Bukan sembarangan, Deo hanya mau melakukannya bersama Roro, yang notabene merupakan kekasihnya. Ya, walau saat ia memasuki wanita itu pun, keadaannya sudah tak bersegel.


Namun, tanpa di duga saat ia melintas di jalan yang sepi. Ia melihat sosok wanita yang ia kenal tengah di keroyok oleh sekumpulan wanita berandal di bahu jalan.


" Arimbi?"


.


.


.


.