My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 61. Rasa di hati



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


.


.


Deo


Ia tekun mempelajari laporan demi yang diberikan oleh Erik, soal penyelidikannya terkait Bramasta Widhikara, yang tak lain merupakan anak dari pesaing keluarga Darmawan, sejak dulu kala.


Benar-benar tak habis pikir dengan kisah yang tercipta.


Ya, pasca terbongkarnya perselingkuhan yang dilakukan oleh Roro, Deo mau meningkatkan kapasitasnya sebagai pemilik Ground Handling terbesar di kota itu dengan tak ingin terpengaruh oleh niat tak baik yang telah di endus oleh anak buah Erik.


" Jangan kau pikir aku akan stres saat kau ambil wanita itu darimu!" Deo tersenyum sumbang, "Aku malah harus berterimakasih padamu brengsek. Ambil saja wanita itu, aku tidak akan peduli!" Gumam Deo seraya melempar beberapa foto Roro yang terciduk tengah bersama pria lain , yang ia ketahui sebagai manager dari mantan kekasihnya itu.


Wanita kotor!


Deo merasa perselingkuhan merupakan kejahatan paling keji yang pernah ada. Kejahatan yang tak dapat ia tolerir, yang sudah pasti dilakukan dengan kesadaran yang penuh.


Mendadak merasa bersalah manakala mengingat dirinya yang sempat bersitegang bersama Demas kemarin, hanya karena dirinya belum mengetahui fakta-fakta yang sebenarnya. Damned!


"Hah! Hidup benar-benar memusingkan!" Pria itu terlihat gusar dan nampak membasuh wajahnya dengan kasar. Benar-benar lelah dengan apa yang ia alami.


Deo yang ponselnya bergetar sebab sebuah pesan terlihat masuk , mengalihkan atensinya ke benda pipih berlogo apel cuil itu.


Nampak sangat penasaran.


" Aman, mereka udah mau bos!"


" Laporan selesai!"


Deo tersenyum manakala membaca pesan dari Erik yang turut mengirimkan sebuah foto, yang berisikan gambar Arimbi dan Eva yang tengah duduk dengan keadaan yang tak kedua wanita itu sadari.


Ia sengaja tak mau memberitahukan Arimbi sebab ia merasa Bramasta tak akan tinggal diam setelah ini. Akan sangat bagus jika Arimbi lebih baik tidak tahu, apa niat dan tujuannya.


Lagipula, Deo tentu saja masih gengsi. Pria perfeksionis itu mana mau mengakui, jika dia sebenarnya telah masuk dalam pusaran rasa jatuh cinta, kepada Arimbi.


Sebab ketidaktahuan itu, seringkali lebih menenangkan.


Deo terlihat mengusap wajah Arimbi di layar ponselnya seraya tersenyum. Entahlah, ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat ini. Oh astaga, pria itu bahkan mendadak teringat dengan rasa sempit yang menggigit benda pentingnya itu.


" Kau tidak boleh diketahui orang lain dulu. Aku tidak ingin kehilanganmu!'' Ucap Deo bermonolog. Merasa jika dirinya benar-benar terikat setelah ia memasuki tubuh perawan itu. Benar-benar rasa yang berbeda.


" Aku yang pertama untukmu. Dan kupastikan aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu!"


...----------------...


Kebungkaman Resita belakangan ini, membuat Arimbi tak dapat lagi menunda niatnya untuk bertanya.


Ia hanya takut, praduganya justru membuat hal yang ia takutkan itu terjadi, hanya karena terlambat mencari tahu.


" Res!" Ucap Arimbi yang sengaja menunggu rekannya itu keluar dari toilet yang ada di ruang tunggu.


" Ar, kamu disini?" Jawab Resita agak terkejut. Menyapa Arimbi yang tersenyum.


Arimbi mengangguk. " Aku mau bicara sama kamu. Boleh?"


Resita tertegun. Menatap Arimbi penuh tanda tanya. " Sekarang? Ada apa sih? Ngeri aku jadinya!" Jawab Resita terkekeh menutupinya kegugupannya.


Arimbi mengangguk kembali, " Sebentar aja!"


" Ya udah kalau gitu disini aja!" Sergah Resita makin penasaran.


Membuat Arimbi menatap rekannya itu lalu sejurus kemudian menghela nafasnya dalam-dalam.


DEG


Ucapan Arimbi yang menatap muram Resita, sukses membuat anak orang kaya itu terkejut bukan main. Apa sikap cemburunya begitu terlihat? Atau ia yang tak becus menerima kenyataan?


" Ma- marah? Kenapa kamu tanya gitu Ar. Ya jelas enggak lah. Marah buat apa. Kita ini..."


" Soal Kak Daniel!"


DEG


Gadis dengan rambut tersanggul rapih itu seketika terdiam dengan jantung yang berdegup kencang. Jelas Arimbi mengetahuinya isi hatinya. Tapi, bagaimana bisa?


Dan kebisuan Resita secara mendadak itu membuat Arimbi makin penasaran.


" Aku tahu kita kenal belum genap setahun Res!" Tutur Arimbi memegangi kedua orang atas Resita yang mematung.


"Tapi aku, kamu, bahkan Eva yang awalnya aku kira judes, Dian, dan juga Yohan. Kita semua ini rekan seperjuangan. Aku enggak mau apa yang sudah kita jalani terganggu sama hal-hal kurang penting!"


Membuat Resita mendongak demi mendengar suara Arimbi yang bergetar. Nampak seperti mau menangis.


" Aku harap kamu tahu maksud aku Res. Aku...dan kak Daniel, enggak ada apa-apa!"


Resita tercenung manakala Arimbi kini pergi usai tersenyum seraya menepuk pipinya pelan.


" Itu mungkin enggak penting buat kamu Ar. Tapi bagi orang yang jatuh cinta kayak aku, itu enggak gampang!" Lirih Resita yang menatap punggung Arimbi seraya menitikkan air mata yang lolos begitu saja.


Resita menghirup napasnya dalam-dalam. Mencoba menghilangkan rasa sesak dalam hati. Bahwa mencintai dalam diam itu, tidaklah mudah.


.


.


" Mana sih Arimbi. Kerjaannya ngilang mulu! Baru juga muncul dari antah berantah!" Dian mendengus manakala merasa Arimbi terlalu lama pamit ke toilet.


" CK, ngerocos teros ajak itu bibir. Gak capek apa!" Tukas Eva yang baru saja selesai memasang kertas boarding pass yang habis.


" Aku kan pingin beli minum. Kalau meja ini kosong, entar kena tegur supervisor lagi!" Jawab Dian berengut.


Deretan meja check ini siang itu memanglah harus terisi semua. Sama sekali tidak di benarkan jika ada meja yang kosong.


" Enak banget anak baru udah bisa diajak pergi kesana sini. Masuk pakai nyogok ya?" Casandra yang duduk terpaut satu meja terlihat mencibir ke arah Eva dan Dian.


" Perusahaan ini dari dulu emang enggak fair. Udah kadang gak bener nempatin struktur kepegawaian, gak bisa lihat mana yang berkompeten mana yang..."


" Eh, elu kalau enggak suka aturan perusahaan ini, mending resign aja. Jangan banyak bacot!" Eva yang melihat keadaan tengah sepi kini berani menjawab ucapan Kenanga yang turut menimpali dengan seenaknya itu.


Membuat atmosfer di sana seketika memanas.


" Jangan sampai elu meludah ke dalam sumur, yang airnya sendiri masih elu gunakan buat minum!" Ucap Eva penuh penekanan, seraya menatap sengit ke dua wanita yang selama ini tak pernah ramah kepada mereka.


Membuat Dian mengusap punggung rekannya. " Aduh Va, kok elu ladenin sih itu lampir. Harusnya elu biarin aja. Jangan sampai kejadiannya di Arimbi nyangkut juga ke elu!" Ucap Dian resah demi merasakan kondisi yang tak kondusif.


" Biarin aku nggak takut. Sama-sama makan nasi! Apa lihat-lihat!"


Membuat Kenanga dan Cassandra seketika membuang muka sebab tertampar oleh ucapan Eva yang benar-benar sukses membuat keduanya kalah telak.


" Cari penyakit tuh anak!" Batin Cassandra seraya menggertakan giginya. Sama sekali tak terima manakala ia dibuat bungkam seperti itu.


.


.


.


.


.