
...πΏπΏπΏ...
...β’...
...β’...
...β’...
Deo
Ia merasa berada di atas angin kala mengingat jawaban Bu Ningrum atas permintaannya tadi. Sedikit lega karena nyatanya orang tua Arimbi bukanlah jenis orang oton yang ribet.
Agak kaget juga sih sebenarnya. Mengapa beliau tidak marah atas permintaannya yang cukup ngawur tadi. Tapi, cincailah. Toh ia juga tidak tinggal di lingkungan Arimbi.
Hanya saja, ia masih memiliki satu masalah yang cukup mengusik. Adik laki-laki wanita itu sempat mengancamnya tadi. Ancaman yang benar-benar menyiratkan kemarahan.
" Kalau sampai kakakku kenapa-kenapa, biar aku celaka sekalipun elu bakal aku kejar!"
" Biar elu kaya, aku enggak takut!"
Begitu ucap farel sesaat sebelum Deo membuka pintu mobilnya. Harus dia akui. Bocah berparas manis itu memiliki nyali yang tinggi seperti kakaknya.
Deo kini sengaja memutar musik yang kencang demi membunuh situasi tak nyaman, sebab satu mobil bersama Arimbi. Sengaja ingin membuat gadis itu kesal dan tak suka.
Dan saat sekejap, raungan lagi DJ remix ala ala dengan suara memekakkan telinga itu, terdengar berdentum di dalam mobil Deo.
" Rasain Lo. Kalau dia ngomel, bakal makin aku kencengin!" Batin Deo tersenyum penuh kelicikan. Ingin memulai gencatan senjatanya.
Namun, alih-alih membuat Arimbi kesal dan marah , ia kini malah menjadi orang yang justru merasakan hal itu. Damned!
Bagaimana tidak, Arimbi bahkan kini tidur dengan nyenyaknya, saat kepalanya miring ke kaca demi menikmati musik yahud itu.
Sialan!
" Benar-benar sapi nih orang!" Ucap Deo yang kesal, sebab ia gagal membuat gadis itu kesal pada rencana pertamanya.
.
.
Arimbi
Ia sengaja tak membawa baju banyak agar ia bisa beralasan pulang kerumahnya besok. Ia sebenarnya bingung saat ini, Deo tak mengijinkannya membawa motor. Lalu bagaimana besok dia berangkat?"
Arimbi kaget saat membuka matanya beberapa saat kemudian, sebab udaranya mendadak terasa panas. Ia tidak tahu jika dirinya berada di dalam mobil yang telah berhenti, dan tanpa ada seorangpun disana.
" CK, gak bisa di buka lagi. Jahat banget sih tu orang. Bukannya bangunin, malah main ninggal aja!" Arimbi kesal karena Deo menguncinya di dalam mobil.
Arimbi kini diam karena lelah. Ia juga tak tahu soal tombol indikator maupun isi dalam mobil itu. Membuatnya mengumpat berkali-kali.
" Aku enggak boleh kalah. Aku harus bisa survive!" Gumam Arimbi menarik napasnya dalam-dalam.
Group kece badai.
Getaran singkat membuat Arimbi tertarik untuk melihat notifikasi dari dalam ponselnya. Rupanya kawannya tengah ramai di group yang beranggota lima orang baru dalam tubuh GH itu.
Dian : " Woy!!!, jalan yuk. Ada cafe baru buka di dekat BMI ( menyebutkan nama sebuah bank), Mayan biasanya ada gratis gift!"
Eva : " Jangan ngelayap aja lu Yan. Besok sift pagi penumpang penuh. Kebiasaan malam kelayapan pagi waktu duty ngorok di mushola lu! π€"
Dian : " Halah, bilang aja elu galao karena abis putus sama Deni kanπ"
Membuat Arimbi tergelak dan bisa melupakan jika ia tengah terpenjara. Tapi tunggu dulu, ia baru tahu kalau Eva putus.
Arimbi : " Serius? Ya ampun, belum juga aku tahu kayak apa rupanya babang Deni, eh udah main bubar aja π€"
Ia membalas dan ikut nimbrung, demi membunuh rasa bosannya.
Eva : " Yang jelas kayak asu dia! Udahlah berhenti ngomongin dia. Biar aja dia pergi sama itu purel. Besok kita berburu bule Yan. Males gue ama orang lokal! Duit enggak terlalu ada, nyakitin udah pasti!"
Dian : " @Eva, Kita? Elu aja kali. Kan elu yang jablay sekarang π!"
Yohan : " @Eva, Ya jangan pukul rata lah. Tidak semua pria lokal seperti yang kamu tuduhkan. Masih ada pria-pria lokal idaman wanita di muka bumi ini.
Dian : " Sama Yohan aja Va, tuh dia baik dan enggak doyan sama pure, idaman wanita lagi π€£."
Eva : " Diancok! Yohan itu masih sodara gue ternyata anying!"
Dian : " What? π±π±"
Resita : " Udah stay at home aja, diluar hujan enggak usah jalan gaes!"
Yohan : " Hujan masih air π€!"
Arimbi terkikik-kikik sampai tidak menyadari jika kaca mobil itu telah di ketuk oleh seseorang sejak beberapa detik yang lalu.
CEKLEK
" Enggak pernah naik mobil bagus ya? Ketawa-ketawa sendiri di mobil? Masuk lu!"
Seru Deo dengan raut datar cendet kesal, yang rupanya sudah mandi dan terlihat lebih segar saat itu.
Menatap Arimbi dengan wajah keruh sebab ia mengetuk pintu sedari tadi dan di acuhkan.
Arimbi yang sore itu belum mandi dan masih mengenakan seragam kerjanya , kini menatap kesal ke arah Deo. Bagaimana bisa pria itu sama sekali tak merasa bersalah.
" Kamu sengaja mau bikin aku mati disini?" Ucap Arimbi sembari menjejalkan ponselnya kedalam tasnya. Sama sekali tak bisa menahan dirinya untuk tidak marah.
" Buktinya mati apa enggak?" Jawab Deo enteng seraya berkacak pinggang, menatap songong ke arah Arimbi.
" Kok ada manusia kayak kamu!"
BRUK
Arimbi menabrak pundak Deo sebab merasa geram. Bagaimana bisa pria itu benar-benar menyakitinya.
" Wanita gak jelas!"
Rumah yang semalam menjadi saksi pernikahan dadakannya itu, kini terasa aneh untuknya. Rumah itu besar dan sepi.
Deo mengikuti Arimbi yang kini mulai berjalan pelan sebab bingung akan kemana. Oh Shiit!
" Elu tidur di sofa. Sebenarnya aku mau kita pisah, tapi...kalau kamu tidur di kamar sebelah, kamu tau sendiri resikonya. Ingat, kita enggak boleh ganggu privasi satu sama lain! Bikin susah hidup aku aja lu!"
Arimbi berbalik lalu menatap wajah Deo seraya menggerakkan giginya. Pria itu makin terlihat sombong, dan kini berjalan acuh saat melewatinya menuju ke arah dapur.
" Pria itu benar-benar!" Geram Arimbi menahan dirinya.
Ia lelah dan ingin membersihkan dirinya saja. Di diletakkannya sebuah koper kecil ke sudut kamar besar Deo, dan berniat mengambil beberapa pakaian ganti.
Kamar yang luasnya hampir sama dengan ruang tamu rumahnya itu, benar-benar terasa mencekam walau mewah. Ia sejenak merasa tak nyaman. Bagaimana bisa ia berada di dalam kamar bos, yang menjadi rival sekaligus suaminya.
Yes, you are my Bos, my Enemy and my fu*ck husband!
CEKLEK!
" Astaga!" Ia terlonjak saat Deo masuk dengan mata mendelik, demi melihat Arimbi yang baru saja melepas seragamnya.
" Apa kau tidak bisa mengetuk pintu!" Ucap Arimbi dengan wajah merah, sebab kesal bercampur malu.
Deo meneguk ludahnya, saat melihat Arimbi yang kini menutupi bagian dadanya menggunakan seragam yang baru ia lepas.
" Kau yang ceroboh. Kenapa kau tidak mengunci pintu dulu. Selain kurang ajar kau ini benar-benar bodoh!"
BRAK!
" Hiihhh!" Arimbi meninju udara di depannya. Kesal dengan sikap pria menyebalkan itu.
.
.
Deo
Ia membasuh wajahnya kasar demi menghilangkan pikiran kotornya.
" Apa gadis itu mau menggodaku? Yang benar saja. Dia bahkan sama sekali bukan tipeku!" Ia bergumam dengan rasa aneh yang mulai menjalar.
Deo kembali ke kamarnya dan mendapati Arimbi telah berada di kamar mandi. Belum-belum ia sudah dibuat ribet dengan kehadiran gadis itu. Kini, usai berhasil menyambar ponselnya, Deo berjalan menuju ruangan lain dalam rumahnya.
" Halo Rik, bawakan aku makanan. Iya...yang seperti biasanya. Ingat, jangan ngajak siapapun. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Yok ...!"
Deo melempar tubuhnya ke ranjang kamar tamu yang berada di dekat dapur, usai memungkasi panggilannya bersama Erik. Menatap nyalang langit-langit kamarnya dengan perasaan hampa.
" Bagiamana aku menjelaskan hal ini kepada Roro?"
.
.
.
.