My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 50. Gengsi amat Pak!



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Wiwit


Ia telah lama tak bertemu dengan adik sepupunya itu. Sudah sangat lama sejak Arimbi membantunya terakhir kali di warung miliknya beberapa waktu yang lalu ,saat rombongan Erik makan di tempat makannya.


Wiwit sebenarnya telah berkunjung ke kediaman ibu Arimbi pagi itu, namun tak mendapati siapapun kecuali pintu rumah yang tertutup rapat.


Membuatnya memutuskan untuk memberanikan diri mengunjungi kantor besar di tepi jalan yang dekat dengan bandara itu.


Siapa tahu, ia bisa bertemu Arimbi. Sebab jika harus masuk ke bandara, rasanya selain tak mungkin, agaknya hal itu juga mustahil ia lakukan. Sebab, ia tahu kerumitan kala ingin menemui karyawan yang tengah bekerja di dalam area terbatas itu.


Satpam yang bertugas menjaga kantor itu, berkata kepada dirinya untuk masuk saja dan menanyakan langsung terhadap penghuni kantor. Sebab satpam itu kurang paham dengan yang di tanyakan oleh Wiwit, perihal Arimbi yang notabene masih terhitung karyawan baru.


" Masuk aja mbak, tanya mbak-mbak yang ada di dalam saja!"


Begitu kata satpam tersebut.


Usai mengucapkan terimakasih, ia menyeret langkahnya menuju gedung putih besar bertuliskan Darmawan Angkasa Ground Handling Support.


Namun, saat ia hendak membuka pintu besar yang terbuat dari kaca tebal itu, seseorang yang ia kenali tiba-tiba muncul dari dalam.


Pas sekali.


Membuatnya merasa beruntung.


" Maaf Pak, apa Arimbi ada? Saya cuman mau nitipin makanan ini. Saya telpon dia enggak bisa, apa boleh saya titip ke Bapak?" Ucapnya langsung tanpa basa-basi, demi mengenali seraut tampan yang membuatnya sungkan.


Namun bukannya menjawab, pria itu justru menatapnya tak berkedip, hingga membuatnya insecure.


" Apa orang ini waras?" Ia membatin dalam hati, sembari merasa rikuh dan tak nyaman.


Takut kalau-kalau dirinya berpenampilan buruk, atau ada hal nyeleneh di wajahnya.


" Pak!" Ucapnya kepada Erik.


" Pak!" Suara yang sengaja ia keraskan itu membuat Erik terkesiap.


Sialan!


" Ehh maaf-maaf, anda ini kakaknya Arimbi kan?" Tanya Erik dengan hati belingsatan. Entah mengapa, wanita sederhana di depannya itu membuat perasaannya bergejolak.


Wiwit mengangguk kikuk, " Jadi apa bisa saya titip ini disini? Atau..."


Erik tertegun, ia lupa jika Arimbi sebenarnya tengah terlibat skandal dengan Deo. Dan Erik menduga, Wiwit pasti belum mengetahui soal itu. Tapi, mustahil bagi Erik untuk menjelaskannya.


" Pak?'' Wiwit mendesaah kesal, sebab pria itu lagi-lagi melamun.


Damned!


" Begini saja, saya minta nomer kamu aja ya, biar nanti gampang ngasih tau kalau Arimbi enggak ada. Soalnya, akhir-akhir ini dia sibuk ikut training sama anak-anak baru!"


Erik bahkan merutuki dirinya sendiri demi kebohongan yang lancar ia ucapkan. Hah, mau bagiamana lagi. Sambil menyelam minum air dong. Erik tentu saja tidak mau rugi.


Dasar Erik!


.


.


Deo


Ia sebenarnya sehat walafiat. Bugar dan tak kekurangan satu apapun kala mengirim pesan kepada Erik. Ia berdalih sakit sebab ia sama sekali tak mood untuk bekerja, setelah ia dan Arimbi bertengkar besar kemarin sore.


Bahkan, pria itu melupakan janjinya kepada Roro, untuk menemui wanita itu. Semuanya menjadi kacau, manakala dirinya benar-benar merasa galau tanpa sebab.


Haish!


Demas pagi itu terlihat datang seorang diri ke kediaman kakaknya. Ia diminta Jessika untuk mengantarkan makanan untuk Deo dan Arimbi. Definisi dari kasih ibu sepanjang masa.


Demas yang berpapasan dengan Arimbi, terkejut manakala melihat mata wanita itu yang sembab dengan wajah yang pucat pagi itu.


Ia mengiringi kepergian Arimbi yang terlihat menuju ke arah dapur itu, dengan keingintahuan yang besar.


" Apa semua baik-baik saja?" Batinnya bertanya kepada diri sendiri.


Deo masih berkutat di dengan ponselnya saat adiknya datang itu, sedikit terkejut manakala Demas meletakkan makanan ke atas meja kerja Deo. Ia sengaja tak memberikan makanan itu kepada Arimbi sebab tak sempat menegurnya, demi rasa terkejut akan tampilan Arimbi.


" Apa yang terjadi?" Tanya Demas sesaat setelah melempar punggungnya ke sandaran sofa kakaknya.


" Apa maksudmu?" Tanya Deo dengan alis berkerut. Menghentikan sejenak kegiatan berbalas pesan bersama Roro.


" Soal Arimbi!"


Deo menatap adiknya yang wajahnya selalu nampak datar itu. Sedikit heran karena menanyakan soal wanita pembuat onar itu.


" Kalau kau berani menyakitinya, aku akan merebutnya darimu!" Ujar Demas menatap serius wajah kakaknya.


DEG


Membuat Deo seketika tercenung.


" Aku pergi!" Ucap Demas lebih serius dan langsung beranjak dari sofa yang baru saja ia duduki. Sama sekali tak berminat basa-basi kepada kakaknya itu.


" Merebutnya?"


.


.


Arimbi


Ia sudah memantapkan hati, untuk menjalankan misi ini hingga Deo putus dengan Roro.


Bukankah itu yang diminta Ibu Jessika?


Ya, sejak istri dari David Darmawan itu telah membayar semua hutang Farel, Arimbi benar-benar seolah makin terikat dengan keluarga mereka.


Terjerat perjanjian secara tak langsung soal hutang piutang, selepas ia menikah karena grebekan itu, rupanya membuat Arimbi makin putus asa.


Tadinya ia pikir, ia akan mudah melakukannya. Namun tak di sangka, Deo benar-benar membuatnya takut dengan sikap yang baru ia ketahui itu.


Ia takut jika Deo akan berbuat hal yang tidak-tidak. Sepertinya memperkosanya mungkin. Ah tidak, mana ada suami yang memperkosa istrinya sendiri. Oh ya ampun, lihatlah dia. Bagiamana bisa hidupnya begitu rumit saat ini.


Ia menyibukkan dirinya dengan kegiatan bersih-bersih pagi itu. Sebenarnya badannya terasa tidak enak dan meriang. Mungkin karena kelamaan berdiam diri di kamar mandi seraya mengguyur tubuhnya dengan air.


" Kau sakit dan masih saja bekerja!"


Demas yang datang tanpa ia ketahui itu, tiba-tiba menyaut spons yang sudah berbusa dari tangannya.


Membuat wanita itu tergeragap.


Pria itu kini terlihat mengkudeta pekerjaan Arimbi secara sepihak. Oh lihatlah, kenapa semua anak dari keluarga David Darmawan suka main serobot sih?


" Demas! Kenapa kau..."


" Duduklah, basuh tanganmu sebelah sini!" Tanpa banyak bicara, Demas seketika menarik tangan Arimbi lalu membasuhkannya ke kucuran air yang tengah menyala.


Arimbi bahkan bisa melihat wajah yang mirip dengan Deo, namun versi lebih misterius itu dari dekat. Demas memiliki rambut lurus yang selalu tersisir rapih.


Sialnya, interaksi mereka berdua dilihat oleh Deo, tanpa sepengetahuan keduanya. Membuat Deo merasakan adrenalinnya seketika fluktuatif.


" Kau pucat, kau pasti sakit, kenapa tidak istirahat saja. Aku akan bilang sama mama untuk mencarikan pembantu nanti!" Ucap Demas tanpa menatap Arimbi, saat laki-laki itu sibuk mengelap tangan Arimbi dengan sebuah lap khusus.


" Duduklah, biar aku yang selesaikan!"


Arimbi mendelik saat melihat pria ganteng itu kini mencuci gelas bekas pakai itu dengan cepat. Benar-benar tak mengira jika anak bungsu dari Ibu Jessika itu mau melakukan pekerjaan yang umum di lakukan oleh wanita.


" Tapi...."


" Duduk!" Sergah Demas.


Arimbi duduk dengan hati resah manakala ia melihat Deo yang berdiri di balik dinding, dan terlihat marah kepadanya. Jangan-jangan pria itu salah paham dan mengira dia genit menggoda Demas lagi. Huh!


" Sudah selesai. Aku antar kau ke dokter. Kau sangat pucat Ar!" Ucap Demas yang kini menatap Arimbi yang nampak terduduk lesu sebab memikirkan Deo.


" Tidak perlu. Aku akan istirahat saja setelah ini. Tolong jangan bilang ke Ibu Jessika. Aku akan istirahat saja Demas. Tapi kumohon tidak usah bilang ke beliau. Aku..."


" Apa kau selalu seperti ini? Terlalu mementingkan hidup orang lain sehingga hidupmu sendiri tak terurus?"


Arimbi menatap lekat Demas yang kini memegangi kedua lengan atasnya. Menatapnya dengan wajah muram.


" Kenapa kau begitu baik kepadaku?"


.


.


Deo


Ia kini memilih masuk kembali ke kamarnya sendiri dan terlihat sengaja menunggu Arimbi disana, sebab entah mengapa hatinya begitu ngilu manakala menyaksikan wanita itu di dekati oleh adiknya sendiri.


" Sialan, kenapa aku mikir di terus brengsek!" Ia bahkan melempar buku yang ia baca ke atas kasurnya. Benar-benar terlihat kesal.


CEKLEK


Ia yang seketika kaget sebab pintu itu mendadak terbuka, kini meraup kembali buku yang baru saja ia lempar dengan gerakan cepat lalu pura-pura membacanya.


Sok mengacuhkan Arimbi yang kini mulai menutup pintu itu kembali. Ia yang menyadari Arimbi menatapnya lekat seketika mendongak.


" Kenapa? Enggak pernah lihat orang baca buku?" Sinis Deo yang sebenarnya kesal demi melihat Arimbi yang dekat dengan Demas. Lebih tepatnya, cemburu.


Membuat Arimbi melengos demi mendengar kalimat bernada sinis dari suaminya itu. Hah, yang benar saja!


"Saya cuman kagum sama Pak Deo!" Sahut Arimbi seraya melipat kedua tangannya.


Membuat Deo mengerutkan keningnya. Apa maksudnya coba!


" Karena selain pintar dalam bidang Aviasi, Pak Deo rupanya memiliki kemampuan khusus, yakni membaca dengan keadaan terbalik!" Ucap Arimbi menaikan sebelah alisnya.


Membuat Deo seketika membulatkan matanya, demi menyadari kebodohan yang ia buat.


Oh sial!


.


.


.


.