My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 56. Jackpot untuk pria mabuk



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Bramasta


Ia merupakan orang yang selama ini menjadi pesaing juga rival di dunia bisnis yang di geluti oleh Deo.


Sakit hati sebab banyak project incarannya, yang membatalkan perjanjiannya kerjasama dengan perusahaan rintisannya, sebab di sinyalir lebih memilih Darmawan Angkasa Group.


Dendam kesumat.


Bram lekas menyelidiki siapa-siapa orang yang berada di dekat Deo, sebab sengaja ingin merongrong dan menghancurkan Deo dari dalam.


Keluarga Deo terkenal akan integritas dan sulit untuk di kalahkan. Dan yang ia tahu, pria itu mudah terkecoh jika berurusan dengan orang-orang terdekatnya.


Tak di nyana, wanita yang ia selidiki beberapa waktu ini, yang ia juga ketahui sebagai kekasih dari Deo itu, merupakan seorang penyanyi juga influencer muda yang cantik dan berbakat.


" Jadi kau sudah mengenal Deo?" Tanya Roro sedikit curiga. Menatap Bram yang terlihat santai tanpa dosa.


" Siapa yang tidak kenal pria itu. Orang itu bahkan kerap berada sampul majalah Aviasi ternama, juga tenar di kalangan anak-anak muda yang terjun ke dunia penerbangan" Ucap Bram lugas. Dan itu benar adanya. Membuat Roro yakin.


" Sory, tapi... sepertinya dia sangat marah kepadamu. Aku tidak tahu jika dia...." Bram tersenyum penuh arti manakala menatap Roro yang terlihat mengerutkan keningnya.


"Kau sendiri yang bilang jika kau tidak..."


" Lupakan!" Sahut Roro yang kini berjalan melintasi Bram yang tersenyum sembari membawa gelas berisikan wisky.


" Aku tidak masalah kehilangan Deo. Karena aku..." Berbalik menatap Bram penuh maksud. " Aku sudah mendapatkan yang lebih baik!" Ucap Roro meraba dada telanjang Bram penuh arti.


Keduanya kini nampak kompak melempar tatapan penuh maksud. Roro tidak tahu arti tatapan dari Bram, begitu juga dengan lelaki itu.


Singkat kata, keduanya sama-sama tidak tahu, dengan siapa sebenarnya mereka berhadapan.


Benar-benar menarik bukan?


...----------------...


Deo


Dalam samar-samar kesadarannya, ia merasa tengah melampiaskan kemarahannya kepada Roro. Kekasihnya yang beberapa jam lalu, sukses memporak-porandakan perasaan dan juga hatinya.


Namun, tak ia sadari, wanita yang berada dalam kungkungannya itu merupakan Arimbi. Istri sekaligus anak buah bandelnya.


" Mmmpppphhhh!" Arimbi terus memukuli dada liat Deo dengan dada gemetaran sebab sangat takut.


Sejurus dengan keterkejutannya , Arimbi makin dibuat resah manakala Deo kini mulai menekan tubuhnya, hingga membuat Arimbi dapat merasakan jalaran panas yang menguasai diri Deo.


" Kau mau mencoba mempermainkan ku, hm?


Terpaan nafas beraroma alkohol itu makin membuat nyali Arimbi ciut. Bagiamana ini? Apa yang harus ia lakukan?


Wanita itu bahkan gagal fokus manakala kejantanan Deo yang mulai mengeras itu, menyentuh bagian perutnya dalam keadaan keduanya yang masih mengenakan pakaian.


Besar dan terlihat membuatnya makin ketakutan.


Arimbi yang benar-benar dirundung kengerian itu, mencoba berontak dan melepaskan diri. Namun, sekuat apapun seorang wanita, tentu saja tak akan bisa dan tak akan mampu mengimbangi tenaga seorang laki-laki segagah Deo.


" Kemari kau!" Deo menarik kembali Arimbi yang hendak melepaskan diri. Membuat wanita itu kini makin ketakutan.


Oh God, please help me!


" Pak Deo!" Ucapnya sedikit keras demi mengingatkan pria itu , jika semua ini salah.


" Pak Deo, sadar Pak! Saya bukan Roro, CK!"


Namun, alih-alih ingin membuat Deo sadar akan apa yang dilakukannya, pria itu justru semakin beringas manakala menekan dua telapak tangan Arimbi seraya menghujani leher Arimbi dengan ciuman dan gigitan kecil.


Membuat jalaran aneh, kini timbul dalam diri Arimbi tanpa ia undang.


Arimbi seketika terdiam manakala bibirnya yang masih terasa kebas, kini di raup kembali oleh Deo. Mata Arimbi membulat, manakala pria itu mulai menggerayangi bagian lain dari tubuh Arimbi.


Oh tidak!


Sialan!


Arimbi yang masih berusaha mempertahankan dirinya, lagi-lagi dibuat putus asa manakala Deo justru menindihnya, lalu merobek pakaian yang di kenakan oleh Arimbi.


Benar-benar kuat dan beringas.


Dalam kesadaran yang agak di ragukan, Deo merasa dibuat bingung, manakala halusinasinya menyuguhi wajah Arimbi dan wajah Roro dalam waktu bersamaan.


Damned! Deo seketika menjadi bingung.


Tapi emosi yang membuncah itu, nyatanya membuat Deo tak bisa lagi menahan sulutan panas dari dalam tubuhnya. Memaksa serta mendesak dirinya, untuk segera mengantarkan mahluk tak bertulang yang kini telah mengeras itu, untuk menemukan sarangnya.


Dalam tangis dan tubuh yang ketakutan hebat, Arimbi kini menahan sakit dan pedih, manakala sesuatu yang panjang, besar dan teramat menyesakkan itu, menghujam miliknya yang lembab.


Oh sial. Walau dirinya secara nyata menolak, namun bagian tubuh bawahnya itu, nyatanya terang-terangan menerima kelelakian Deo yang tidak perlu di ragukan lagi ukuran serta keagresifannya itu.


Oh ya ampun. Bagaimana ini?


Reaksi alami yang timbul akibat sentuhan Deo, yang nyatanya mampu membangkitkan gairah yang mati-matian di tahan oleh Arimbi.


Membuat wanita itu harus merelakan diri, jika suaminya telah memasuki dirinya dengan cara yang tak ia sangka.


" Ah!"


Deo mendesaah manakala ia yang kebingungan, sebab mengapa lubang yang biasanya bebas hambatan itu, kini menjadi begitu sempit kala di tembus.


Tubuh pria itu keras dan besar. Tak di ragukan lagi, keperkasaan seorang Deo, yang nyatanya mampu meluluhlantakkan pertahanan Arimbi.


" Kau! Kau telah merenggut semuanya Pak Deo!" Lirihnya dalam batin yang nelangsa sembari menangis tak kuasa.


Keperawanannya, telah di renggut oleh sang suami, yang mengiranya jika dirinya merupakan kekasih dari pria bertubuh atletis itu, pada malam yang naas.


.


.


Pukul Empat dini hari


Arimbi yang kelelahan sebab kaget dengan gelora Deo yang membuat lututnya bagai tak bertulang itu, tak terasa memejamkan matanya di sela tangis saat ia tak sanggup bahkan untuk sekedar menggeser tubuhnya.


Deo benar-benar gila.


Rasa dingin yang terasa mengusik dan menusuk kulit, membuat Deo terbangun dengan rasa kepala yang begitu berat dan pusing.


DEG


Dadanya seolah akan meledak saat itu juga, demi melihat Arimbi yang tertidur tepat berada di sampingnya.


" Astaga, apa yang aku lakukan?" Deo termenung seraya bergumam dalam hati.


Lebih terkejut lagi, Deo yang baru menyadari jika ia dan wanita situ sama- sama tak mengenakan pakaian, saat ia hendak bangkit dari tempat pembaringan yang telah kusut itu.


" Oh tidak, jangan-jangan!"


Mata Deo makin melebar kala ia melihat noda pada selimut juga seprei di dekatnya. Noda kering yang warnanya jelas mengindikasikan jika wanita itu telah ia cabik- cabik dengan tidak sadarnya semalam.


Deo menelan ludahnya. Menatap sesal ke arah Arimbi yang nampak tertidur di dekatnya.


Deo seketika beranjak, meneruskan niatnya yang sempat terjeda akibat keterkejutan.


Ia kembali tertegun demi melihat sebuah mangkuk tranparan besar, yang berisikan air juga lap. Sepasang sepatu yang teronggok di samping tempat tidur itu, juga pakaian yang telah berserak di sembarang arah.


" Apa dia?" Deo bergumam dalam hati dan mulai menyusun kepingan puzzle kejadian yang mungkin saja benar itu.


Ia ingat saat terkahir kali Erik mendatanginya dan memintanya pulang namun ia malah berang. Sejak saat itu, ia tak tahu lagi apa yang tejadi.


Ia hanya merasa, Roro menemuinya saat semalam. Tapi, mengapa Arimbi yang....


" Astaga aku telah....!" Deo seketika membasuh wajahnya kasar dengan perasaan tidak karu-karuan.


.


.


.