My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 73. Menyambut



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Cinta dalam sorot mata yang di tunjukkan oleh Deo, menyulut rasa mendalam diantara keduanya. Pria yang baru saja menanyainya sebuah pertanyaan yang bahkan belum sempat ia jawab itu, terlihat menundukkan wajahnya perlahan.


Hangat segar aroma nafas itu, mengalir mengisi laju darah yang semakin kencang.


Membuat Arimbi hanyut, larut, serta tenggelam kedalam tawaran yang membuat pusat syarafnya mendadak tak fokus.


Kecupan dalam yang begitu penuh kasih, berkumpul bersama lidah yang saling membelit. Tubuh tak berkaos itu, seketika terasa berubah suhu manakala tangan yang semula menganggur itu, kini reflek menyentuhnya. Menelusuri tiap jengkal otot liat yang makin membuat Arimbi berada di ambang rasa bahagia.


Seakan tak cukup sampai di situ, Deo yang hendak membaringkan Arimbi, berguling dengan sangat lembut saat bibir itu masih saling berpagut, menyentuh bagian lain dari tubuh istrinya.


Arimbi tak bisa melarikan diri dari laki-laki perkasa itu lagi. Jelas Deo akan mencabik-cabiknya saat ini juga.


" Ar!" Suara parau yang begitu mendayu itu, mampu membius Arimbi yang sejatinya telah memiliki perasaan terhadap pria itu.


Jelas, pikiran mereka saat ini sama. Sama-sama ingin memenuhi kebutuhan yang begitu mendesak itu, dengan cepat.


Arimbi merapatkan tubuhnya, mengalungkan kedua tangannya dan mencengkeram punggung kekar yang semakin tegang itu. Tak dapat lagi menolak tawaran cinta, yang menyulut cinta kasih untuk menyelami lautan kenikmatan bersama-sama.


Deo yang telah kehilangan logikanya, seketika melucuti sandangan yang masih di kenakan oleh wanita yang akan ia santap itu. Cepat dan beringas.


Bibir basah itu kembali Deo Raup. Penuh cinta, penuh selera. Membuat tubuh keduanya menempel begitu erat. Bergesekan dengan hawa dibawah gempuran suhu yang kian memudar.


Sedetik kemudian, Deo yang berada di ujung rasanya, nampak melucuti satu-satunya pakaian yang masih mereka kenakan. Menatap Arimbi dengan tatapan sendu dan begitu menuntut.


Sejurus kemudian, kuncup yang nampak menantang dan mengeras itu, tak luput dari serbuan Deo yang terlihat menggelora.


Mulutnya tanpa sadar mengeluarkan lenguhaan, manakala kuncup dadanya tersambar oleh bibir Deo yang lembab. Sedikit geli sebab pria itu sepertinya lupa memangkas kumis yang kini terasa nyeri kala menusuk kulitnya yang lembut.


Deo mengangkat salah satu kaki Arimbi, dan melingkarkannya ke punggungnya yang kekar. Sembari mengatur posisi, ia sibuk menikmati puncak lezat yang kian mengeras itu.


Deo yang mulai memposisikan aset berharganya diantara paha istrinya, terlihat menggesek dadanya ke atas tubuh Arimbi yang tak kalah panasnya.


Praktis, keduanya bagai terbakar api gelora cinta yang begitu membuncah.


Membuat Arimbi tak bisa bernapas manakala bagian penting dari suaminya itu, telah menembus celah sempit milik Arimbi, menyesakkan dan menghujam bagian bawah itu dengan kuatnya. Dan aktivitas penyatuan itu, semakin membuat Arimbi merasa nyeri diantara pangkal pahanya.


Dengan memejamkan mata dan tubuh yang bergetar kala menerima hentakan dari pria perkasa itu, Arimbi menyusuri otot lengan Deo yang bertumpu kuat manakala menjebol pertahanannya.


Terlihat begitu perkasa.


Mendorong dan menekan bagian lembab itu dengan stamina yang jelas tak bisa diragukan lagi. Membuatnya memekik sekaligus menahan rasa sakit, nyeri yang bercampur rasa nikmat yang luar biasa, manakala hujaman itu kian cepat di layangkan.


Gerakan masuk dan menusuk itu, membuat Arimbi menghela napasnya dalam-dalam. Jika sudah begini, bagiamana ia tidak jatuh cinta dengan pria tampan yang masih kadang sulit ia pahami itu?


Ia dan Deo telah benar-benar bercumbu sekarang. Sangat menggairahkan, tertimbun gelombang paling melenakan yang pernah ada.


Sungguh, nikmat mana yang bisa kau dustakan jika begini adanya?


...----------------...


Eva


Di balik kisah dua anak manusia yang tengah asoy geboy, ada seorang wanita nestapa yang lagi-lagi dibuat kesal oleh pria kaku.


" Bener- bener nih orang. Aku bahkan belum makan udah disuruh berdiri ini itu. Kurang ajar banget dia!"


" Duh, laper banget lagi!" Ia menggerutu manakala melihat Demas yang justru berjabat tangan, sembari eksis di depan jilatan kamera, usia launching produknya usai. Kesal sebab mengapa ia tak di perhatikan.


Dari pengamatannya, sepertinya itu pria itu cukup terkenal di kalangan pengusaha muda, sebab banyak sekali media masa lokal yang mewawancarai Demas.


Bersamaan dengan itu, hari ini merupakan hari dimana mall besar yang dikepalai oleh Deo itu telah resmi dibuka. Well, lengkaplah penderitaannya saat ini.


Ia bahkan melihat beberapa orang memberikan selamat kepada Demas dengan wajah sumringah. Lihatlah, semua orang senang dan bahagia, hanya dirinya saja yang menderita dibawah siksaan perut yang terus berbunyi, sebab lapar yang kian mendera.


Eva terlihat cantik dan menarik banyak perhatian. Berdiri diantara beberapa karyawan lain yang kini sibuk melayani customer yang kepincut dengan review si produk.


" Untuk pemesanan silahkan ke meja sebelah ya Pak!" Ia masih tetap harus bersandiwara serta bermanis- manis manja, manakala beberapa orang mengerubunginya, walau hatinya mendesaah dengan hati dongkol.


Sedikit lelah sebab ia masih harus akting untuk bersikap lembut, saat dirinya telah lelah dan lapar.


Namun, beberapa saat kemudian, ia yang melihat ada pasangan yang hendak menyatroni tempatnya berdiri, kini terlihat bersiap menyambut seorang pelanggan yang terasa tak asing.


" Dari cara jalannya, kok kayak kenal aku. Siapa ya?" Batin Eva yang mulai mempersiapkan diri untuk bersandiwara di hadapan calon pelanggan.


Apa boleh buat, bayaran ponsel mahal sepertinya sudah sangat sesuai dengan siksaan yang ia rasakan saat ini. Damned!


Tunggu dulu, apa itu mantan kekasihnya?


DEG


" Eva!! Kamu....kerja disini?" Sang mantan kekasih yang beberapa waktu lalu meninggalkan dirinya nampak bergandengan mesra dengan wanita mungil yang menatap sinis Eva dengan tatapan menghina.


Benar-benar terlihat sombong.


" Kok mereka bisa ada di sini sih? Sialan!"


Dan bersamaan dengan kejadian naas itu, Demas yang begitu tampan nampak berjalan datar ke arah Eva sebab kegiatannya telah usai.


Membuat lampu pijar Thomas Alva Edison mendadak muncul di atas kepala Eva.


" Aku? Kerja disini?" Eva mengangkat satu alisnya manakala menatap pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.


"Sory aja, gue yang punya tempat ini!" Ucapnya dengan wajah mendelik tepat ke muka dia sejoli yang kini melongo itu.


" Sayang kau sudah selesai"


CUP


Demas yang baru saja datang dan tak mengerti apa-apa itu, seketika membulatkan matanya kala bibirnya di kecup mesra oleh Eva.


What the hell?


Membuat mantan kekasih Eva beserta pacar barunya itu mendelik dalam waktu bersamaan, demi mengetahui siapa pria yang barusaja di kecup oleh Eva.


Oh man!!!


.


.


.


.


.