
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Demas
Seperti kebiasaan para pejantan di pagi hari yang harus malas-malasan bangun sebab kelelakian mereka pasti tegang dengan sendirinya, Demas juga merasakan hal yang sama.
Membuatnya menarik selimut lebih kuat lagi. Sebab rasa tak nyaman itu kian mendera lalu menyiksanya. Membuat Eva yang pagi itu sudah mandi dan terlihat segar menggeleng tak percaya.
" Ayo bangun! Hari ini kita kontrol dulu ke dokter. Sekalian mampir kerumah Ibuk ya aku kangen!" Seru Eva sembari menatap suaminya yang bermalas-malasan.
Bukannya menjawab, Demas yang meringis demi berusaha mengerakkan tubuhnya untuk duduk itu, meminta Eva untuk mendekat.
" Awas pelan-pelan!" Tutur Eva sembari membantu suaminya membenarkan posisi duduknya.
Walau Demas selalunya merasa tak enak hati atas ketidakberdayaan yang menimpanya, namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat bersyukur karena Eva benar-benar begitu telaten.
" Baru juga sehari!" Tukas Demas usai merasa bila duduknya telah benar.
" Ya Ibuk kan sendiri!" Timpal Eva sembari meletakkan bantal di belakang punggung suaminya, memastikan jika suaminya tidak kesakitan.
Demas diam sembari menatap Eva yang kini memindahkan posisi duduknya, dan nampak memangku kaki Demas yang mati rasa itu.
Memijatnya perlahan dengan gerakan yang begitu lembut. Berusaha menstimulasi jaringan kaki yang ia harapkan bisa segera pulih walau ia sendiri tidak tahu kapan itu.
" Pak Demas harus semangat. Karena, dorongan dari diri itu bisa mensugesti Pak Demas untuk sembuh!" Ucapnya penuh harap dan masih memberikan pijatan lembut pada kaki Demas.
" Semoga kamu mau sabar akan keadaanku Va!"
Demas nampak meraih sebuah dompet yang ia letakkan diatas nakas. Sengaja meminta Mama Jessika untuk meletakkannya disana karena ia ingin memberikan sesuatu untuk istrinya.
" Ini sekarang kamu yang pegang!"
Eva mendongak demi mendengar suaminya yang kini bersuara. Sebuah kartu berwana hitam yang ia tak paham itu apa, nampak terangkat di hadapannya.
" Rencananya aku mau beli rumah sebenarnya buat kita. Tapi... sekarang kamu tau sendiri kondisi aku seperti apa." Tutur Demas murung.
Eva tertegun. Seumur hidupnya ia bahkan belum pernah melihat kartu sakti itu. Dan tunggu dulu, beli rumah?
" Pakai ini untuk kebutuhan kamu, juga untuk Ibu. Aku tidak ingin kalian menderita lagi!"
" Yang ini, ini gajiku!" Ucap Demas terkekeh. Menunjukkan sebuah kartu yang pasti Eva ketahui.
Dasar!
" Bos dapat gaji juga?" Tanya Eva dengan alis berkerut. Sedikit tak percaya akan apa yang di utarakan oleh suaminya.
" Si Fadli yang gaji aku, tanya aja dia kalau enggak percaya!"
Membuat Demas kian tergelak demi melihat istrinya yang kini mendengus.
Ya, pagi itu, Demas nampak berbicara lebih slow dengan istrinya untuk pertama kalinya. Ternyata, Eva merupakan sosok yang sat set dalam urusan apapun.
" Semoga kamu terus sabar. Aku ingin beli rumah agar kita bisa mandiri seperti kak Deo!"
Eva tertegun kembali. Di satu sisi, ia sebenarnya memiliki rumah bersama Ibunya. Namun, mustahil juga ia membawa Demas kedalam rumah sempitnya.
" Kenapa?" Tanya Demas demi segurat keresahan yang terpancar dari wajah ayu Eva.
" Ibu..."
" Aku sudah memikirkan. Kita ajak Ibu tinggal dengan kita nanti. Lagipula rumah itu kan..."
Eva seketika menubruk tubuh suaminya lalu mendekapnya erat. Memeluknya penuh rasa terimakasih karena rupanya Demas memikirkan Ibunya.
" Aku hari ini mau bikin surat resign. Biar fokus ngerawat kamu!"
" Kamu bilang ke Pak Deo ya biar cepat di ACC!"
Demas mengangguk, laki-laki itu sejurus kemudian nampak turut menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya. Mencium puncak kepala Eva dengan wangi sampo yang menyegarkan hidungnya.
" Harus bilang berapa kali sih? Jangan pernah bilang gitu. Ayo aku bantuin bersihkan diri!"
.
.
Di meja makan
" Gimana Mel, yang kemarin udah beres?"
Melody yang ditanya Leo saat mereka makan pagi itu hanya mengangguk dengan mulut yang tekun memamahbiak.
" Bereslah, orang Dian yang bantu backup!" Sergah Demas yang kini datang dan nampak di dorong oleh Eva menuju meja makan.
Membuat Melody melirik kakak sepupunya itu dengan tatapan ingin mencekik. Membikin Mama Bella menggeleng.
" Dian?" Tanya David yang tak paham obrolan anak-anaknya. Sedikit ingin tahu sebab sepertinya ia ingat dengan nama itu.
" Mereka datang telat karena Melody ngelawan arus dan nyaris kena tilang. Akhirnya, saat datang bukannya langsung ngobrol sama relasi, eh dia malah grogi karena relasinya wanita cantik. Si Dian yang akhirnya ngomong, dia tinggal TTD doang!"
Membuat Mama Jessika membekap mulutnya karena menahan tawa. Ternyata keponakannya yang luar biasa itu bisa grogi juga.
" Gak usah bongkar rahasia kale!" Ucap Melody dengan wajah sebal.
" Sudah-sudah, jangan ribut di depan meja makan. Oh ya Va, hari ini jadi ketemu dokter yang Tante rekomendasikan?" Sergah Mama Bella yang lebih tertarik soal agenda keponakannya hari itu.
" Jadi Tante. Makanya, setelah ini kami izin pergi dulu!"
" Bagus kalau begitu. Kalian berdua semangat ya. Pokoknya kalau ada apa-apa, jangan sungkan telpon Tante!" Ucap Bella tersenyum senang.
Mereka semua makan dalam tekun dan nampak menikmati. Eva terlihat begitu telaten menyuapi Demas yang selalu terlihat tampan dari berbagai sisi itu.
Oh my gosh!
Membuat hati Mama Jessika seketika menghangat demi melihat Eva yang begitu telaten.
" Papa ada hadiah buat kamu!"
David yang telah memungkasi kegiatan sarapannya nampak mengawali membuka suara. Membuat atensi seluruh penghuni rumah itu berpusat kepadanya.
" Ini kunci rumah. Untuk kalian!"
Hah? Kunci?
Membuat Demas mengerutkan keningnya. Pun dengan Eva.
" Jangan salah paham dulu!" Ucap Opa Edy demi melihat Demas yang nampak kusut dan terlihat suudzon. Apa dia di usir? Begitu pikir Demas.
" Benar. Papa dan Mama hanya ingin membuat kamu juga Deo sama!"
" Sama-sama Papa belikan rumah meski Papa yakin jika kalian bisa beli sendiri!"
Demas nampak menghela napas. Sama sekali tak mengira jika kedua orangtuanya benar-benar memiliki porsi kasih sayang yang sama untuk dia juga kakaknya.
" Ini sudah menjadi tugas Papa sama Mama, membekali anak-anak Papa sama Mama dalam membina rumah tangga!"
" Selain itu, Papa sama Mama juga ingin kamu semakin semangat untuk bisa sembuh, biar bisa cepat menempati rumah baru kalian!" Terbang David dengan senyuman terbaik.
Jujur, Eva sebenarnya tidak memikirkan hal itu. Sebab baginya, menikah dengan Demas merupakan wujud rasa sayangnya terhadap pria yang berhasil merebut hatinya melalui sikap juga perbuatan baiknya itu.
" Yap! Semangat sembuh Kak Dem. Pakde tiap malam ngigo terus tuh. Dia cekikikan karena dalam mimpinya di tunggangi sama cucunya yang nakal-nakal tuh. Cepat sembuh Kak Dem biar produksi lancar!"
Ucap Melody lantang dengan wajah tak berdosa, yang sukses membuat semuanya mendelik dan Eva tersedak.
Melo!!!!!!
.
.
.
.