My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 35. Deep talk



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Daniel


Ia tertawa keras begitu melihat ekspresi pias Arimbi yang begitu lucu. Untung saja, sedang tidak ada antrian penumpang saat itu.


" Just kidd Ar, kenapa pucet begitu kamu!" Tawa Daniel kian renyah.


Arimbi benar-benar belum terbiasa. Inilah definisi berani karena benar dan takut karena salah.


" Iya nih, B aja kali Ar. Lagian kenapa sih, dari awal kalian itu udah kayak Batman ama Joker. Enggak ada rukunnya!" Timpal Dian dari meja seberang.


" Elu Jokernya!" Sahut Eva menjitak kepala Dian.


" Eh...dasar si sundel nih, rusak rambut aku oon! Mana hairspray harganya naik lagi!" Gerutu Dian membenahi struktur rambutnya yang kacau akibat serangan Eva.


" Kamu pakai hairspray?" Tanya Daniel ke arah Dian yang sibuk berbenah.


Dian mengangguk nyengir, " Lebih paten kak. Lebih wangi juga!"


" Mahkluk edisi terbatas ya gini ini kak, kalau cowok lain pakai Pomade, ehh dia malah pakai semprotan buat temen pasang konde emak-emak. Emang bahlul!" Sahut Eva menyenggol lengan Dian.


" Yee, enak aja. Siapa bilang aku laki!" Dengus Dian sewot.


" Terus apa? Inget itu konyol ( nama plesetan) dibawah sabuk elu itu apa!" Ucap Eva ngawur namun benar.


Dian seketika mengrawus mulut Eva saking kerasnya perempuan itu kala bicara.


Membuat Daniel, Novi dan Arimbi tergelak bersamaan demi melihat dua manusia yang selalu membaut onar itu. Dan saat Arimbi tertawa lalu menduduk, entah mengapa Daniel merasakan sesuatu yang makin menghangat di dalam hatinya.


Daniel menyukai Arimbi.


" Minggu depan kamu ikut training sistem Ar, nanti yang ngajarin orang-orang Airlines sendiri. Kalau di inter musti lebih detail soalnya!"


" Hah!" Jawab Arimbi kaget sebab tak fokus.


Daniel menangkap raut resah dari wajah Arimbi, " Kenapa dia? Apa karena aku mencandainya tadi ya, Arimbi sama pak Deo kan kayak musuh selama ini!" Batin Daniel sambil terus menatap Arimbi yang kini menunduk.


" Nanti aku yang bakal dampingi kamu!"


.


.


Jessika


Kali ini, ia bersama David mengajak serta Tomy karena pria itu sangat bisa di andalkan untuk urusan cari mencari kediaman seseorang. Sejak dulu kala bahkan.


Mantan tangan kanan David itu berhasil mengetahui siapa Bu Ningrum. Intelegensi yang masih melekat dalam jiwa mangan petarung badas itu, nyatanya masih berfungsi dengan baik.


" Beliau janda, dan kesehariannya buka toko kelontong di pasar!" Ucap Tomy dengan gayanya yang selalu datar. Untung saja Erik sedikit menurun Eka. Membuat pria itu lebih bisa dikatakan sebagai manusia.


" Punya lapak sendiri Tom?" Tanya David dari belakang.


Papa dari Erik itu mengangguk, " Nyewa dan rutin bayar retribusi! Arimbi memiliki adik laki-laki yang masih bersekolah!"


Jessika tersenyum, pria itu bahkan sampai tahu hingga ke hilirnya. Benar-benar mantan sekretaris terbaik.


" Loh Tom, kok kita ke arah jalan rumahnya Arimbi?" Tanya Jessika yang kaget kala Tomy malah membelokkan mobilnya ke gang yang semalam ia lewati.


" Beliau kalau hari Minggu jam segini masih dirumah bos. Kita bisa bicara sekarang saja! Lebih cepat lebih baik.


David mengangguk setuju, Tomy benar-benar bisa diandalkan walau mereka kini sudah purna tugas dalam menangani hal berat.


Ia merasa gugup. Entah mengapa rasanya keberaniannya mulai menciut , kala Tomy telah berhasil memberhentikan mobilnya ke depan rumah yang kemarin malam ia datangi, saat mengantar Arimbi.


Kini, keduanya turun dan melangkahkan kaki mereka dengan pasti menuju rumah sederhana itu.


Dengan yakin, David kini mulai mengetuk pintu bercat coklat itu. Tomy menunggu di dalam mobil, pria itu agaknya tahu bila mereka berdua memeluk privasi. Sebagai mantan abdi dalem yang warbiasak, Tomy sudah sangat paham dengan hal-hal macam itu.


TOK TOK TOK


Uang David untuk yang kedua kalinya. Membuat tangan Jessika berkeringat karena grogi.


" Sebentar!"


CEKLEK


Ia tersenyum saat pintu itu terayun dan memperlihatkan wajah seorang wanita yang nampak bingung.


.


.


Ningrum


" Gimana to Bu? Kok bisa begini ini, ini gimana? Anak saya enggak mungkin berani begitu!" Ningrum resah demi mendengar penuturan mengejutkan yang nyaris membuatnya pingsan.


Bagaimana tidak pingsan, lawong anaknya menikah tanpa ia ketahui. Membuat suasananya senyap selama beberapa detik.


Ia kini tercenung, menatap nanar pinggiran taplak rumbai dengan hati tak percaya. Bagaimana bisa? Bagiamana mungkin?


" Kami mohon maaf sekali lagi Bu. Sungguh Bukan maksud kami melangkahi Ibu sebagai orang tua dari Arimbi. Tapi, keadaannya malam itu sangat ricuh dan membuat kami sangat bingung!"


Ia menitikkan air matanya demi mengingat penjelasan Jessika yang bisa ia pahami. Ia tahu, pria dan wanita yang saat ini bertandang ke rumahnya itu bukanlah orang sembarangan.


" Lalu gimana nasib anak saya sekarang Buk? Ya Allah, kenapa jadi begini. Pantas saja semalam dia pulang telat. " Tanyanya sambil mengusap air matanya untuk kesekian kali. Suara Ningrum bahkan sampai bergetar.


Jessika menghela napas, ia makin dirundung rasa bersalah" Bu, saya..." Jessika tercekat.


" Kami akan bertanggungjawab Bu. Pernikahan bukan untuk bermain-main. Tujuan saya kemari karena ingin meminta izin kepada Ibu, dan...."


Ningrum mengerutkan keningnya demi rasa penasaran.


" Dan saya ingin anak-anak menjalani sebagaimana mestinya."


DEG


Ningrum seketika mematung. Apa itu artinya ia akan menjadi besan keluarga Darmawan? Kebetulan macam apa ini?


"Jika Ibu belum siap, kami akan merahasiakan hal ini dan akan saya jamin. Saya mohon sama Ibu!"


Ningrum menatap kedua bola mata Jessika yang juga menangis. David melirik istrinya yang begitu lembut saat menjelaskan apa yang terjadi.


" Tapi, Buk. Baik anak saya maupun anak Ibuk tidak mengenal satu sama lain, sa..."


" Untuk itulah tujuan saya datang kemari Bu!" Ucap David dengan suara bass nya.


" Tolong Ibu izinkan mereka tinggal bersama!"


David dan Jessika belum berani mengatakan jika selain itu, mereka punya maksud lain agar Deo bisa menjauhi Roro yang di sinyalir memiliki tabiat kurang baik.


" Secara pribadi kami menyukai pribadi Arimbi walau masih satu kali bertemu! Bu, mari kita mulai semuanya dengan segala kebaikan!" Jessika meraih tangan Ningrum yang sedari tadi ia satukan.


Ningrum sebenarnya senang, karena yang menikahi anaknya itu merupakan bosnya. Sesuai dengan ekspektasinya selama ini, berharap anaknya akan mendapatkan yang lebih dari Wira.


Tapi, ia juga merasa kasihan dengan anaknya.


" Jadi Janaka yang datang kesana?"


Jessika mengangguk, " Arimbi yang menunjukkan kalau dia memilik paman dari pihak mendiang bapaknya Bu!"


Ningrum memijat keningnya. Seketika tak memiliki mood untuk berdagang.


" Bagiamana jika Pak Deo tidak menyukai Arimbi?" Tanya Ningrum murung, " Kami ini orang tidak punya! Pasti beliau...."


" Bu Ning!" Ucap Jessika kembali kali ini dengan tatapan mata yang dalam, " Bukan tidak menyukai, tapi belum menyukai!" Jessika tersenyum. Membuat Ningrum kini juga menarik seulas senyuman.


" Kita coba ya Bu. Saya sangat membutuhkan Arimbi!"


Mereka kini saling menatap. Jessika yang menatap Ningrum penuh harap, dan Ningrum yang menatap Jessika dengan penuh tanda tanya.


" Membutuhkan?"


.


.


.


.


.