My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 115. Bikin malu



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


" Bersiaplah. Aku jemput satu jam lagi!"


Itulah salah satu pesan yang berhasil ia tangkap melalui sambungan telepon beberapa saat lalu, kala ia tengah sibuk menyiangi bunga aglonema kesayangannya di halaman depan rumahnya.


Membuat Eva seketika berlari terbirit-birit, demi menyadari jika dia jelas membutuhkan waktu yang lama untuk mandi dan berdandan. Oh tidak!


Beberapa waktu kemudian, ia nampak berdiri bingung, kala menatap isi lemari pakaiannya selepas melakukan ritual mandinya. Resah demi memikirkan dress code apa yang cocok di acara yang benar-benar belum jelas untuk apa ia diundang hadirkan itu.


Rupanya, ia dan sebagian besar wanita di negara Konoha itu rupanya memiliki keresahan yang sama. Yakni merasa bingung dan mendadak merasa tak memiliki baju, padahal satu lemari terisi penuh gombal yang masih layak, saat orang terdekatnya hendak mengajaknya pergi.


Sungguh aneh.


" Mau kemana Va, tumben dandan rapih begitu?" Ucap Ibu memindai tampilan Eva yang kali ini mengenakan dress biru langit sebatas lutut yang nampak memukau, dengan heels yang tak terlalu tinggi. Sangat cocok dengan cerahnya pagi itu.


Ya, Eva memilih mengenakan dress sebab pakaian itu nyambung digunakan di berbagai acara. Cari aman saja lah. Begitu pikirnya.


" Gak tau, Pak Demas Buk tadi telpon mendadak! Ngajak pergi kerumah saudaranya kayaknya!" Jawab Eva asal yang sebenarnya tak tahu hendak diajak kemana dirinya nanti.


TOK TOK TOK


Belum juga obrolan itu terpungkasi dengan normal, suara ketukan nampak menginterupsi keduanya. Membuat Eva seketika berjalan demi menyongsong si pengetuk pintu itu.


CEKLEK


Dan sesuai dengan dugaannya, pria yang pagi itu juga mengenakan kemeja biru yang sama dengan dirinya, nampak kaget saat Eva menatapnya penuh kekaguman.


" Bagiamana bisa samaan gini?" Batin Demas tak habis pikir. Pun dengan Eva.


" Mau acara kemana nak, kok pakai baju kopel/ couple segala?" Tanya Ibu melongokkan kepalanya, yang mengira jika mereka berdua sengaja janjian dalam mengenakan warna pakaian senada.


Oh tidak. Bukan seperti itu padahal kenyataannya.


Entah sebuah kode alam atau jalan terang dari yang kuasa, pertanyaan dari ibu Eva itu membuat Demas senyam-senyum penuh arti.


" Mohon izin, saya mau ngajak Eva untuk ketemu calon mertuanya . Boleh kan Bu?" Tanya Demas tersenyum dengan kerlingan mata yang sungguh mendayu.


DEG


Apa?


Membuat Ibu Eva seketika memegangi dadanya karena keterkejutan yang tiada bisa ia halau lagi.


" Kok Eva ngga ada bilang?" Batin Ibu Eva yang langsung menatap kesal ke arah anaknya yang juga nampak kaget.


.


.


" Kenapa diam aja? Gak suka ya aku ajak kerumahku?" Tanya Demas resah demi merasai kebungkaman Eva bahkan sejak mereka keluar rumah tadi.


Membuat wanita yang sejak tadi manyun itu kini menghela napas panjang.


" Bukannya enggak suka, Pak Demas kenapa enggak bilang sih kalau mau kerumahnya Pak Demas? Kan aku bisa bikin sesuatu untuk Bu Jes buat buah tangan!" Jawab Eva yang nampak kesal.


" Emang bisa?" Lirik Demas sesekali disela kegiatan mengemudinya.


" Ya kan ada ibuk, belajar lah paling tidak, namanya juga usaha!" Sahutnya lagi semakin kesal.


Membuat Demas terkekeh, " Nggak surprise dong kalau aku kasih tahu Mama duluan!"


" Ya kalau gini jadinya aku Ibuku yang serasa dapat surprise. Alhasil, lihat sendiri kan aku tadi kena damprat. Pak Demas sih enak, gak kira dimarah sama Ibuk!" Rajuk Eva dengan bubir mengerucut.


" Tenang aja, mereka semua enggak tau kok kalau aku jemput kamu!" Tutur Demas terus terang.


Hening.


Sedetik.


Dua detik.


Tiga detik.


Eva masih kesal sebab Demas begitu tega membuat suasana penting ini seolah-olah tidak penting. Haish, laki-laki kenapa menyebalkan lagi sih kalau begini.?


" Kamu jangan marah dong. Tenang, kamu nanti pasti bakal happy disana!" Ucap Demas jumawa demi teringat jika Arimbi pasti sudah ada disana.


" Ngomong-ngomong, kok bisa kamu pilih baju warna itu. Kayaknya kita..."


CIT


" Aduh! Pak Demas itu bisa nggak sih jang..." Eva mengaduh demi aksi rem mendadak yang dilakukan oleh pria di sampingnya itu. Dan sejurus kemudian.


SRET!


CUP


Demas yang tak tahan demi melihat bibir yang monyong karena merajuk itu, seketika menarik tubuh Eva dengan gerakan cepat, untuk sejurus kemudian melahap habis bibir yang nampak menggoda itu dengan sekali lumataan.


Membuat Eva tekun memukuli dada bidang Demas sebab tak bisa bernapas.


Kini, Eva menjadi tersengal-sengal demi merasakan ciuman yang menjajah pola napasnya itu. Sialan!


" Pak Demas!" Protesnya sebab benar-benar kaget juga kesal. Kaget dengan perlakuan Demas yang selalu mendapat, juga kesal karena ia tk diberi kesempatan untuk sekedar menghirup napas.


Membuat Demas tergelak penuh kemenangan.


" Jangan panggil aku Pak lah. Kayak bapakmu aja. Panggil aku..."


Eva melirik Demas yang nampak sengaja menggantung ucapannya, sembari menatapnya penuh arti.


" Panggil aku Mas Demas!" Ucap Demas penuh kesombongan.


" Apa?"


"Nggak- nggak- nggak! Malu! Lagian mereka semua kan..."


" Panggil aku Mas atau kamu aku..." Ancam Demas dengan posisi mulai menundukkan kepalanya.


Membuat Eva spontan mendorong tubuh berat Demas, demi takut terjadi hal seperti tadi lagi.


" CK!" Decak Eva penuh kekesalan.


Demas mengusap pipi Eva dengan begitu gemas, kala wanita itu masih memberengut terhadap dirinya.


Oh Gosh, you are so cute beib!


" Kamu tadi bilang apa? Enggak punya baju? Besok kamu ikut aku ke mall. Kamu pilih sendiri baju disana sesuka hati kamu!"


" Enggak perlu, bajuku udah banyak!" Ketus Eva sebal.


" Lah tadi katanya?"


" Udahlah, cepet Pak. Udah enggak bawa apa-apa, jangan sampai kita telat habis ini. Malu tau!"


Namun, Demas tak menanggapi ocehan Eva. Jika dulu Demas kerap pusing kala kerap bertemu tanpa sengaja dengan wanita itu. Kini, hal itu justru sebaliknya.


Demas mulai candu dengan sikap Eva yan selalu apa adanya itu. Hah, cinta itu benar-benar misteri ya?


.


.


Hingga beberapa saat kemudian.


" Eva?"


Seru Arimbi yang tak kalah kagetnya kala menatap wanita yang berdandan berbeda dari biasanya. Sama sekali tak menduga jika sahabatnya itu benar-benar ada di sana.


Membuat tubuh Eva seketika menegang, demi tatapan- tatapan penuh kekepoan dari sekumpul manusia disana.


" Ternyata selama ini dugaan Mamamu tidak meleset De!" Bisik David kepada Deo dengan tatapan lurus memandang dua manusia dengan warna pakaian yang sama itu. Membuat suami dari Arimbi itu tersenyum penuh arti.


" Cocok, yang satu lempeng, yang satu heboh!" Sahut Deo tekrikik-kikik.


" Woow, Arimbi, Deo kalian kalah telak nih kayaknya. Si Demas aja pakai couple dress, kok kalian enggak?" Ucap Claire terkekeh-kekeh. Membuat Deo menyebikkan bibirnya.


Eva yang baru tiba disana, selain terkejut akan kehadiran Arimbi, matanya seketika melebar demi melihat banyak sekali orang yang belum ia jumpai sebelumnya.


" Pak Demas sialan, enggak bilang kalau acaranya acara keluarga besar. Benar-benar bikin malu!"


.


.


.


.


.


.