My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 120. Serpihan perasaan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Farel


Ludah licin dalam batang tenggorokan itu, mendadak susah ia telan. Bunyi itu sudah jelas merupakan bunyi benda yang bergerak secara masiv, yang berderit akibat tekanan. Membuat wajahnya seketika merah.


Ia lantas buru-buru menuju kulkas untuk mengambil air. Rasanya, berada di sana saat ini lebih horor dari pada menonton film pengabdi setan. Ngeri!


Ia mengisi air itu dengan debaran yang konyol, perasaan was-was, serta keranjingan dengan sendirinya. Antara takut, malu juga penasaran.


Ah sialan


Membuatnya buru-buru masuk kamar, dan mengunci pintunya rapat-rapat.


BRAK!


Dewasa itu benar-benar penuh misteri ya?


.


.


Daniel


Ia terkejut saat melihat laki-laki asing yang sepertinya memanggil Resita menggunakan sebutan lain itu, dengan suara lantang.


" Sini kamu!" Ucap Danu seraya menarik tangan Resita dengan wajah kesal.


Matanya melebar kala melihat tangan Resita yang mendadak di tarik dengan keras oleh pria itu. Sungguh tidak bisa dibiarkan.


" Anda jangan kasar sama perempuan!" Tukasnya detik itu juga.


Membuat langkah Danuarta yang nampak marah itu seketika terhenti.


" Siapa lu? Banyak bacot!" Sergah Danu dengan wajah songongnya.


Daniel yang merasa di tantang oleh pria itu seolah terpancing. Membuatnya seketika mengepalkan tangan demi menghalau rasa geram.


" Bukan siapa-siapa, tapi tidak pantas laki-laki memperlakukan perempuan seperti itu!" Seru Daniel dengan wajah tak gentar.


" Ni anak bacot juga ya!"


BUG


Wajah Daniel seketika terlempar ke arah kanan, bersamaan dengan tubuhnya yang tiba-tiba limbung akibat serangan tak terbaca itu.


Membuat Resita mendelik.


" Kak Daniel!" Ia berteriak sambil mendorong tubuh Danuarta. Membuat tubuh pria kurang ajar itu seketika terhuyung dua langkah.


" Udah gila kamu!" Maki Resita terhadap pria yang selama ini bersikukuh ingin menikahinya. Menatap wajah beringas itu penuh kebencian.


" Res, kamu jangan lupa, perusahaan papa kamu itu bergantung sama perusahaan papa aku, salah ambil langkah, abis kalian!" Ucapnya penuh kesombongan.


Daniel yang kini masih berada di bawah dan di temani oleh Resita, seketika bingung demi mendengar ucapan pria dengan raut tak ramah itu.


Ada apa memangnya?


Resita membantu Daniel bangun dan sejurus kemudian wanita itu terlihat memajukan langkahnya dengan berani, sembari menatap wajah Danu dengan tatapan muak.


" Aku nggak takut, aku enggak mau sama pria brengsek kayak kamu yang hidupnya cuma bisa minum, mabuk, memanfaatkan fasilitas orang tua, enggak doyan pekerjaan, gak punya eti...."


PLAK!


" Hey!" Daniel seketika maju kala wajah Resita di tampar oleh Danuarta yang geram akibat di hina oleh wanita itu.


" Apa? Elu nggak malu jalan sama calon istri orang, hah? Baji..."


BUG


Daniel yang tersulut emosi nampak geram dan langsung menghadiahi bogem mentah kepada pria itu.


Membuat suasana makin ricuh.


BUG


" Kurang aj..."


" Berhenti!" Seru salah seorang pria yang sepertinya merupakan pengurus cafe itu. Membuat sebongkah niatan ingin membalas Daniel menguap seketika.


Pria itu nampak maju dan berdiri diantara dua orang yang terbakar api permusuhan itu.


" Kalau berkelahi jangan disini mas, dan anda...." Tunjuk pria itu kepada Danu. " Saya bisa laporkan anda karena telah memicu dan menciptakan keributan di tempat ini!"


Membuat Danuarta kalah telak dan hanya bisa menggertakan giginya demi menghalau rasa geram.


Brengsek!


" Awas lu!" Tunjuk Danuarta kepada Daniel dengan tatapan permusuhan, sesaat sebelum ia pergi sebab apa yang dikatakan pengurus cafe itu telah membuatnya takut.


Sejurus kemudian.


" Awh!" Daniel yang kini berada di dalam mobil Resita, nampak meringis ngilu saat kapas berisikan obat itu di totolkan oleh Resita tepat pada luka di sudut bibirnya .


Ya, Resita mengajak serta Daniel pergi sesaat setelah Danuarta datang. Wanita itu tak peduli jika setelah ini ia akan mendapatkan masalah.


Merasa tidak enak sebab telah melibatkan Daniel dalam permasalahannya, secara tidak langsung.


" Sakit?" Tanya Resita resah dengan posisi masih memangku kotak first aid kit dengan wajah muram.


" Enggak, cuman kaget aja. Dingin!" Balas Daniel mencoba tersenyum.


"CK, aku kira. Ya udah tahan dulu lah!" Balas Resita dengan wajah yang kini lekas fokus kembali kepada luka yang membiru itu.


Daniel nampak memperhatikan Resita yang tekun mengobati luka di bibirnya dengan tatapan lekat.


Membuat Resita grogi.


" Udah selesai, kita bisa jal..."


" Res!" Sergah Daniel yang berhasil membuat ucapan Resita terjeda.


Resita mendadak mematung kala tangannya di tangkap oleh Daniel. Oh ya ampun.


" Tadi itu siapa?" Tanya Daniel tanpa basa-basi.


Membuat Resita membeku. Apa iya dia harus menceritakan hal itu kepada Daniel?


" Maaf, tapi...kenapa dia bilang kalau perusahaan papa kamu..."Timpal Daniel kembali demi melihat reaksi membeku Resita.


" Dia pria yang ingin papa jodohkan dengan aku kak!" Jawab Resita dengan wajah lesu.


What?


Dan entah mengapa, jawaban itu membuat hati Daniel mendadak tak beres. Daniel resah.


" Terus?"


" Terus apanya?" Tanya Resita tak mengerti.


" Ya ..kamu mau di jodohkan?"


Resita memejamkan matanya kemudian menghela napas panjang. Membuat Daniel mengerutkan keningnya demi rasa yang aneh dalam hatinya.


" Ada seseorang yang udah bikin aku jatuh cinta sejak awal bertemu!"


Daniel menatap lekat wajah Resita yang nampak menerawang ke depan.


" Meski aku tidak tahu apakah orang itu memiliki perasaan yang sama!" Jawab Resita dengan tatapan lurus kedepan. Membuat hati Daniel semakin resah.


Siapakah?


Kenapa mendadak ia ingin tahu sekali?


" Seseorang?" Timpal Daniel.


Resita mengangguk, menatap Daniel seraya tersenyum. " Kak Daniel pernah tidak suka dengan seseorang, tapi tidak pernah tercapai?"


Membuat Daniel seketika tertegun demi mengingat Arimbi yang tiada mungkin ia miliki. lagipula, antara junior dan juga bosnya itu agaknya sudah terbangun satu hubungan yang begitu erat.


Dan soal Resita, ia bukanlah pelarian. Namun, sosok lain yang karakternya berbeda dengan Arimbi itu rupanya lebih bisa membuatnya nyaman. Definisi dari tiap orang pasti memiliki tempat khusus di hati orang yang tepat.


" Ada...tapi itu dulu. Sebelum aku mengenal satu pribadi yang menyenangkan!" Sahut Daniel menatap lurus wajah Resita.


" Apakah Arimbi?" Terka Resita tanpa tedeng aling-aling.


DEG


Membuat Daniel tersentak.


" Kamu tahu kalau aku..."


" Dia memang wanita luar biasa. Cantik, baik, juga sangat memikirkan teman! Bahkan, Pak Deo saja bisa ditaklukkan olehnya. Tidak heran jika semua laki-laki pasti suka dengan wanita perfect seperti dia!"


" Arimbi sang..."


" Res, no body's perfect in the world!" Sahutnya membuat ucapan Resita menguap. Lagipula, Daniel tak suka mendengar Resita terlalu memuja orang lain.


" Semua orang tajam di bidangnya masing-masing. Dan semua orang akan terlihat menarik di mata orang yang tepat!"


" Aku menyukai kak Daniel sejak kita bertemu di ruang Boeing sewaktu interview. Aku juga pernah kesal kepada Arimbi karena selalu dapat kesempatan bersama kakak, aku iri aku..."


SREGH!


CUP


Daniel seketika menarik tengkuk Resita, kala wanita itu mulai menitikkan air matanya kala menumpahkan segumpal perasaan. Pria itu tak ingin mendengarkan kalimat bernada keputusasaan dari wanita itu.


Ia tahu, jika Resita selama ini telah menyukainya.


" Kau tahu, Resita sangat menyukaimu, bahkan sedari awal!"


" Dia wanita baik, jangan sakiti dia. Percayalah padaku!"


Ucapan Arimbi beberapa waktu sesaat sebelum Arimbi keluar dari pekerjaannya itu, mendadak tengiang- ngiang di kepalanya. Sangat relevan dengan apa yang ia alami saat ini.


Resita yang kaget akan perlakuan Daniel seketika membulatkan matanya kala bibir hangat pria itu kini melumaat bibirnya.


Namun, saat matanya melihat mata Daniel yang justru terpejam kala menciumnya itu, membuatnya seketika terlena dan ikut terhanyut akan suguhkan menggilakan yang diberikan oleh pria berwangi maskulin itu.


Sungguh, Resita merasa tidak percaya dengan semua ini. Dalam suluhan lampu jalan yang bercahaya pendar, mereka berciuman di dalam mobil yang kian bersuhu panas.


Oh God, thanks for everything that you give to me!


Resita tertunduk malu kala Daniel telah melepaskan ciumannya beberapa saat kemudian, dengan napas yang saling terengah.


" Maafkan aku jika aku pernah menyakitimu. Sekarang, bolehkah kita sama-sama mengenal?"


Harum napas pria yang menatapnya begitu dekat itu, sontak membuat Resita tak bisa berpikir waras.


Apakah ini mimpi?


.


.


.


.


.


.