
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Ia hanya akan sebentar berada di gedung penerbangan internasional itu. Sebab, setelah ini ia akan menemui para petinggi Nawangsa Pura dan akan menghadiri seremonial, bersama punggawa dari Andanu Air dalam acara itu.
Dan saat ia memasuki ruangan luas dengan puluhan anak buahnya yang telah sibuk di bagian lini masing-masing, ia menangkap satu objek lain yang menyita perhatiannya.
" Anak itu bisa beda sekali kalau pakai seragam ya? Ah tidak, bicara apa aku ini, dia kan karyawan yang paling berani melawanku!" Batinnya mendecak kagum sekaligus kesal di waktu bersamaan.
" Daniel!, cross check semua yang ada disana! Pastikan anak-anak yang bertugas sudah hadir semua!"
" Siap Pak!" Daniel berjalan beberapa meter dari tempatnya berdiri dan terlihat berbicara kepada para senior.
Dari tempatnya berdiri pula, ia bisa melihat Arimbi yang masih menyuguhkan tatapan tajam kepadanya. Cenderung menghindar.
" Dasar!" Cibir Deo dalam hati.
Deo tidak tahu, Arimbi sengaja seperti itu karena selain kesal, wanitanya itu juga meminimalisir potensi bertatap muka karena lelah dengan Deo yang sering menghinanya.
" Begitu dong bos, cari karyawan itu yang fresh, yang cantik. Siapa itu namanya?"
Ia tersentak kala tepukan mendarat di bahunya yang kokoh. Ya, Zakaria selaku kepala operasional Andanu Air yang saat ini baru saja menemui kepala bagian imigrasi dan bea cukai di bangunan itu, menemui Deo yang berdiri di dekat mesin X-ray guna memantu anak buahnya.
" Namanya Arimbi!"
" Kau memang sangat juara dalam memilih karyawan!"
" Terimakasih!" Ucapnya singkat.
" Masih single kan?" Ucap pria itu sedikit mengajaknya berkelakar. Namun entah mengapa, Deo malah tidak suka mendengarkan guyonan pria itu. Semacam tidak rela.
.
.
" I've reduced the contents of my luggage, I don't want to pay! (Aku sudah mengurangi isi bagasiku, aku tidak mau bayar!)"
Seorang penumpang berkebangsaan asing yang menjadi salah satu penumpang perdana rute baru itu, terlihat marah di depan meja check ini milik Kenanga.
Bule itu bahkan sudah membuang beberapa barang dan masih saja kelebihan.
Arimbi yang berdiri di belakang Joy, sedari tadi memperhatikan wanita judas itu dengan lekat. Ia melihat cara Kenanga yang kurang sabar dalam menangani persolan penumpang.
" Your banggage is 37 kg, and bag allowance only 30 sir!"( Tidak pak, disini tertera bagasi anda seberat 37 kilo, dan bagasi cuma-cuma hanya 30 kilo")
" You must pay, of you not pay your banggage not board! ( Kau harus bayar, jika tidak bagsimu tidak akan naik!)
" Sorry, I still have another queue. Please step aside!" (Maaf, saya masih ada antrian lain. Silahkan minggir dulu!")
Kenanga yang tidak mau di temani siapapun itu, terlihat kaku sekali dalam menjelaskan. Membuat penumpang itu geram karena tidak menemukan solusi lain.
Ragam penumpang itu memang banyak jenisnya. Meskipun ia miliki sejumlah uang yang cukup, namun beberapa orang sangat enggan untuk mengeluarkan tambahan biaya lagi. Sepertinya orang itu contohnya.
Merasa perdebatan mereka tidak membuahkan hasil, Arimbi berinsiatif mendatangi bule itu dengan sopan dan keramahan, saat yang bersangkutan terlihat kesal dan mengumpat kala menepi di dinding.
" Excuse me, Sir! ( Permisi Pak!)" Ucap Arimbi menyapa pria itu, sesaat setelah izin kepada Joy.
Pria itu mendongak, menatap Arimbi dengan wajah bingung.
" Yes, do you also want to ask me to pay? No, I have no more money! (Ya, apa kau juga ingin memintaku untuk membayar? Tidak, aku tidak punya uang lagi!) "
Arimbi tersenyum. Bukan itu tujuannya. Ia hanya berusaha melakukan sesuatu yang cukup masuk akal.
" No sir, you can reduce the weight in your luggage and put it in this bag, after this you can take seven kilos to the cabin. This is my bag, you can use it!"
(Tidak Pak, anda bisa mengurangi berat dalam bagasi anda dan meletakkannya di tas ini, setelah ini yang tujuh kilo bisa anda bawa ke kabin. Ini tas saya, bisa anda gunakan!)
Arimbi menyerahkan sebuah tas kain hitam besar, yang selalu ada di dalam tas ranselnya. Tas multifungsi yang tak pernah lepas sejak ia bekerja di Tirta Dewata dulu.
Bule itu tercengang. Ia menatap Arimbi dengan wajah tak percaya.
" I don't know what to say, but you are a very polite good person. There should be people like you at the airport check-in desks! Thanks very much!"
(Aku tidak tahu harus berbicara apa, tapi kau adalah orang baik yang sangat sopan. Harusnya orang-orang seperti kamu yang ada di meja-meja check in bandara ini! Terimakasih banyak)
Bule itu sangat senang dengan keramahan Arimbi. Akhirnya, ia tak kembali kepada Kenanga dan memilih mengantri ke meja check ini lain, usai membereskan beberapa personal effect atau perlengkapan pribadi yang bisa ia kurangi.
Ia kini berada di depan antrian meja Daniel yang bersama Cassandra.
" I'm happy, your employees are very smart and friendly. But, I don't like the one at the end of the table! People will be happy if all the officers like that short hair.
("Saya senang, karyawan anda sangat cerdas dan ramah. Tapi, saya tidak suka dengan yang ada di meja paling ujung! Orang-orang akan senang jika semua petugas seperti yang berambut pendek itu!")
Daniel terkejut kala penumpang yang dia layani mengatakan hal itu. Apa yang di maksud adalah Kenanga?
Daniel menyunggingkan senyum kala melihat Arimbi yang memang cepat beradaptasi, dan sangat lancar berkomunikasi dengan para penumpang, yang sebagian besar warga negara asing itu.
Tanpa Arimbi sadari, Daniel juga memotret dirinya yang tengah tersenyum saat memberikan salam. Membuat pria itu tersenyum penuh arti.
.
.
Flight pertama itu terbilang sukses dan bisa memenuhi OTP ( On time Performance). Sebuah tolok ukur standarisasi penanganan Ground Handling.
Dua ratus lebih penumpang telah terbang dan kini, mereka tinggal mencetak data manifest sebagai dokumen yang wajib mereka buat, pasca pesawat itu lepas landas.
" Terimakasih atas kerjasama kalian semua, sehingga pagi ini penerbangan perdana kita sukses dan lancar. Bisa on time, tidak ada masalah yang begitu berarti. Hanya saja, Kenanga!" Panggil Daniel kepada perempuan yang duduk persis di hadapannya. Tengah sibuk bermain HP. Membuat wanita itu tersentak.
" Lain kali tolong kamu upayakan melayani dengan cara yang baik. Tadi ada seorang penumpang yang complain sama cara handle kamu!"
Berpuluh-puluh orang yang saat ini duduk di ruang tunggu yang telah kosong itu, kini menatap Kenanga yang speechless.
" Tap..."
" Ini peringatan ya untuk semua! " Sahut Daniel yang membuat ucapan Kenanga menguap. Kenanga kesal.
"Saya enggak mau sampai kita viral gara-gara hal enggak sopan yang membuat hati penumpang sakit, terus bikin mereka ngada- ngada di medsos!" Titah Daniel tegas. Menyapukan pandangannya kepada beberapa anak buahnya, termasuk Arimbi.
" Dan untuk Arimbi, kamu udah bagus hari ini. Tolong dipertahankan kalau perlu di tambah. Secara komunikasi kamu memang enggak bisa diragukan, bahkan bule tadi kasih compliment (pujian) buat kamu tadi. Dia bahkan bikin postingan yang di tujukan kepada direksi, dan pak GM Andanu Air senang akan hal itu. Good! tolong yang lain juga ya. Sikap kita itu setiap saat enggak akan pernah luput dari yang namanya netizen. Jadi, saya harap kalian bisa jaga nama perusahaan, yang ada pada seragam yang kalian kenakan, mengerti?"
" Mengerti!" Koor semua karyawan yang kini menunjukkan reaksi beraneka ragam itu.
Kenanga sangat sakit hati manakala Daniel memuji-muji Arimbi yang sedari tadi menunduk tanpa ekspresi.
" Awas kamu Ar!" Batin Kenanga geram.
Jika Joy senang dengan apa yang di ucapkan team leadernya barusan, berbeda dengan Kenanga dan Cassandra yang terlihat menatap iri kepada Arimbi.
" Oscar dua monitor!"
" Oscar dua monitor!"
Panggil Erik kepada Daniel yang masih duduk di depan sana, melalui Handy Talky.
" Gohet!" Sahut Daniel pada radio komunikasi miliknya. Membuat fokus kesemua karyawan yang ada beralih kepada Daniel.
" Infokan sama yang handle flight inter hari ini, nanti malam di undang makan malam sama Pak Deo ke resto Tropis!"
Membuat Kesemuanya kini berjingkat senang dan seketika bersorak-sorai. Namun, entah mengapa Arimbi malah memanyunkan bibirnya. Itu artinya, ia akan sendirian.
.
.
" Hah? Enak banget elu bisa ikutan acara begituan Ar!" Ucap Dian yang kini sudah berkumpul dengan lima rekan sejawatnya itu.
Ya, Arimbi menceritakan hal itu kepada rekan-rekannya yang baru saja menghandle flight domestik.
Chanel komunikasi antara anak-anak di inter dan di domestik berbeda frekuensi, sehingga mereka berempat tidak tahu info yang di sampaikan oleh Erik tadi.
" Enak lah, makanya pinter dikit jadi orang biar elu bisa naik kasta handle flight Inter!" Cibir Eva yang pagi itu asik memamahbiak bekal yang mereka bawa untuk sarapan pagi ini, di anjungan tempat biasa geng kupret itu mangkal.
" Tapi aku malas. Kalian enggak ada soalnya!" Arimbi memanyunkan bibirnya. Terlihat tidak semangat.
Resita yang sedari tadi diam hanya bisa menahan diri. " Pasti kak Daniel nanti ikut, beruntung banget Arimbi!"
" Woy, kenapa diam saja kao! " Yohan yang melihat kebisuan Resita menyenggol lengan wanita itu.
" Tau nih, kesambet baru tau rasa ntar!" Timpal Dian yang sama herannya demi melihat kebisuan perempuan yang memiliki mobil pribadi itu.
" Jangan suka diem Res. Takutnya kayak si Dian elu nanti!" Sahut Eva terkikik.
" Emang gue kenapa?" Sungut Dian yang curiga.
" Kalau Lusi elu lagi sakit , kan kan elu pasti diem kayak orang ngambek! Nah, persis nih sama si Resita!"
Yohan dan Arimbi benar-benar tidak maksud dengan ucapan kawannya yang paling cablak itu.
" Apan Lusi?" Tanya Dian makin resah.
" Kalian bener enggak ada yang tahu?" Tanya Eva menatap wajah lainnya, yang sama menggelengnya dengan Dian.
" Hah!" Eva menghela napas.
" Lusi is, Lubang Silit!"
.
.
.
.