My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 157. Jalan menuju....



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Tak seperti konsep yang pernah ia pelajari bila kehamilan itu selalu identik dengan mual. Ia yang agak aneh sebab beberapa waktu ini sudah tidak merasa mual menjadi gemar makan buah-buahan.


Namun, ia sedikit kehilangan selera makannya terutama nasi. Juga, ia lebih tertarik untuk mencicipi minuman dingin dan manis. Entahlah, hamil itu benar-benar membuatnya merasakan banyak sekali hal unik.


Apalagi, mood yang kerap naik turun acapkali membuat Arimbi merasa bersalah kepada Deo. Pria yang tak pernah kurang memberinya nafkah lahir batin itu, sukses membuat dirinya merasa bagai Cinderella di era nyata.


...Mas, minggu depan kontrol jangan lupa!...


Begitu ucap Arimbi melalui pesan singkat kepada suaminya.


...Iya sayangku. Aman kalau itu!...


...Ibu jadi datang? Maaf nanti aku pulang telat, aku sudah minta farel buat bawain kamu es degan mbak Wiwit! Jangan capek-capek, simpan tenaga buat malam😁...


Membuat Arimbi mencibir tanpa membalas pesan Deo. Suaminya itu makin hari makin menjadi maniak saja.


Maunya!


Arimbi tak tahu, jika wanita hamil itu memiliki rasa yang berbeda. Begitu pikir Deo.


.


.


Meninggalkan dua pasangan yang tengah belajar jadi calon orang tua, malam ini Claire nampak bingung di depan meja riasnya.


Bolak balik mematut diri usai memastikan tampilannya sudah baik atau belum.


Padahal, ia hanya akan bertemu untuk makan dengan Wira. Pria yang baru ia kenali kurang dari seminggu ini. Tapi, kenapa dia bisa seheboh ini? Apa karena hatinya yang terlalu lama kosong, sehingga ia menjadi seperti ini.


Tapi tunggu dulu, bukankah ia memiliki banyak teman pria, namun kenapa justru Wira yang menjadi berbeda?


Entahlah. Ia sendiri juga tidak tahu akan hal itu, yang jelas Claire merasakan hal yang tak bisa ia jelaskan, tiap memandang mata laki-laki itu.


Apa karena pria itu memiliki sifat yang unik dan terus membuatnya penasaran? Atau karena mereka banyak memiliki kesamaan yang bisa dikatakan sama-sama workaholic?


" Jadi pergi Claire?"


Ia kaget sebab mengira tak ada orang di ruang keluarga rumah budenya itu.


" Jadi Bude. Boleh ya?"


" Pakai nanyak. Kalau enggak di ijinin, palingan dia juga kabur!" Cibir Melody dengan wajah menyebikkan bibirnya.


Claire melotot dengan gerakan ingin mencekik Melodi. Membuat gadis tomboy itu menjulurkan lidahnya.


Week!


" Kayaknya dia bukan adikku deh bude!" Rajuk Claire demi sikap adiknya yang begitu menyebalkan.


" Dia yang bukan anaknya Mama!" Sergah Melody tak mau kalah.


" Sudah- sudah malah ribut! Claire, kamu boleh pergi. Tapi, jangan pulang terlalu malam ya!"


.


.


Sadawira


Ia sendiri juga tak bisa mengerti kenapa gadis bernama Claire itu sungguh menarik hatinya. Memikat perasaan, serta membuatnya gencar untuk mengenal lebih dalam lagi.


Pembawaannya yang easy speaking, supel, ditambah wawasannya yang luas soal manajemen bisnis membuat Sadawira sedikit melupakan kesibukannya untuk balas dendam.


Walau, dalam otak dan benaknya, laki-laki itu telah memiliki cara manjur untuk membuat Demas juga keluarganya menderita.


...Aku di meja 12...


Ia berkirim pesan kepada Claire. Sengaja membuka ponselnya demi memastikan penampilan. Ini jelas gila. Pria bertato itu bahkan sampai mengganti pakaiannya sebanyak tiga kali sebelum berangkat ke tempat itu.


Ia tersenyum manakala melihat Claire melambaikan tangan kepada dirinya dari jarak empat meter. Sempat terpana beberapa detik demi melihat Claire yang cantik dengan rambut yang digerai menjuntai.


Terlihat memukau.


" Udah lama?" Tanya Claire sembari menarik kursi di depan Wira. Wanita itu nampak duduk berhadapan dengan pria yang terlihat mengenakan kemeja flanel green army yang tergulung sebatas siku.


Terlihat segar dan tampan.


" Belum, baru aja kok!" Balas Wira.


" Udah pesan?"


" Belum!"


" Mbak...!"


.


.


Mulai dari track record pekerjaan, juga beberapa target pasar yang pernah mereka kuasai.


Bahkan, Claire tak mengira jika Wira sudah merintis usaha sejak kuliah.


" Kamu jalan begini enggak ada yang bakal marah?" Tutur Wira sesaat setelah meneguk sisa minumannya.


" Maksudnya?" Jawab Claire tak mengerti.


" Ya, someone maybe!"


Membuat Claire tersenyum sekilas.


" Aku single. Lebih tepatnya nggak laku!" Jawab Claire terkekeh. Sebab itu memang kenyataannya.


Entah mengapa, Wira alias Raja sangat senang dengan sikap Claire yang tak jaim. Mereka berdua nampak terlihat dekat cenderung cocok satu sama lain.


" Oh ya, kemarin kenapa bisa ke club?" Timpal Wira yang memang begitu ingin mengetahui hal itu.


" Ketemu temen. Aku habis landing loh itu, terus langsung kesana!"


" Serius?"


Claire mengangguk.


" Mau minum disana lagi?"


Claire nampak berpikir dan menimbang tawaran Wira.


" Boleh!"


Akhirnya, keduanya pergi menuju club' untuk minum. Claire wanita dewasa yang tak menganggap tabu hal seperti itu. Semua harus seimbang. Lagipula, ia di kota S juga sering minum bersama rekan bisnisnya untuk sekedar menghormati.


Dentuman musik jedang- jedung mampu mengundang beberapa biji kepala manusia yang ada untuk turut manggut-manggut. Menikmati irama bass yang membuat jantung seolah jebol.


Terbawa dalam suasana menyenangkan, Claire yang sebenarnya agak lelah dengan seringnya ia ditinggalkan lelaki, menjadi tertarik dengan Sadawira.


Ya, tidak ada salahnya kan jika malam ini ia ingin bersenang-senang?


Pria tampan, mapan, berkepribadian baik yang memiliki sikap baik terhadapnya itu, dalam waktu singkat mampu membuat dunianya teralihkan.


Wira yang tak memungkiri bila ia tertarik pada pandangan pertama dengan Claire, merasa memiliki keinginan lebih untuk kenal lebih jauh.


" Again?" Tawar Wira lagi menaikkan gelas minumannya.


" Sure!"


Mereka menikmati minuman berkelas itu tanpa mabuk. Sejurus kemudian, keduanya nampak turut berjoged dibawah gemerlap lampu yang memusingkan mata.


Nampak bebrabur dengan pengunjung lain yang sepertinya memiliki tujuan yang sama untuk menghibur diri mereka.


Dari jarak yang begitu dekat, Wira yang mampu menghirup parfum sensual milik Claire nampak memberanikan diri mendekat ke arah wanita cantik itu.


Senada dengan Wira, Claire yang malam itu nampak terpesona dengan Wira nampak membiarkan laki-laki itu menatapnya.


Ada getaran yang semakin menggila, ada rasa yang sulit ia jelaskan. Tentang sesuatu yang dua manusia dewasa itu pendam.


Mengundang gelenyar aneh, serta mengahdirkan debaran yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


" Want more?"


Claire menatap sendu mata jernih Wira. Paham dengan maksud yang di lontarkan oleh pria itu sebagian manusia dewasa. Walau, ia ragu sebab ia belum pernah melakukan dengan siapapun.


Sejurus kemudian, Wira nampak menarik lengan Claire menuju room- room privat yang ada disana.


Wira memilih kamar yang paling baik diantara kamar yang ada disana. Usai mengunci pintu ruangan itu, Wira nampak menarik tubuh Claire lali merapatkan tubuhnya. Menatap lekat wanita itu dengan tatapan sendu.


" Wait!" Claire meletakkan jari telunjuknya ke arah bibir Wira dan berhasil membuat gerakan pria itu terhenti.


" Are you serious to me?"


" I've never been this serious!"


Hangat napas Wira yang sudah terkontaminasi bau alkohol membuat Claire memejamkan matanya kala leher jenjangnya di kecup oleh Wira. Menghadirkan jalaran rasa yang dahsyat juga mendebarkan.


Bibir mereka kini saling melumaat, entah mengapa Wira yang selama ini hanya menggunakan wanita sebagai pemuas diri, kali ini benar-benar terpikat dengan pesona Claire yang merasuk kedalam relung sukmanya.


Mereka terus menerus bertukar saliva. Bahkan, secara tak sadar, Claire nampak membuka kancing baju laki-laki tampan itu.


Tato scorpion yang terbentang di sekujur punggung laki-laki itu, kini tanpa sadar teraba oleh Claire. Dengan gerakan cepat dan begitu kuat, otot tangan Wira mengetat manakala menggendong tubuh Claire yang kini terasa panas.


Wira meletakkan perlahan tubuh wanita itu lalu mengungkungnya. Menatap lekat manik mata jernih yang menyiratkan asmaradahana.


Claire yang kini sudah setengah telanjang, menatap guratan penuh keraguan dari pria itu.


Ya, dalam hati Wira ia ragu untuk memperlakukan Claire seperti ini, ia takut jika di cap sebagai pria pecundang. Namun, siapa jua yang bisa menahan tawaran paling melenakan itu jika kondisi sudah seperti ini.


Bagai terciprat air sungai, sekalian saja berenang kedalamnya.


.


.


.


.