My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 94. Lari dari kejaran



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


" Perbesar di menit ke tujuh!" Titahnya yang masih dalam posisi berdiri mengitari seorang operator, bersama Erik yang masih sama tekunnya dalam memandangi layar datar pengawas CCTV.


'' CK, masih tidak jelas!" Erik mendecak kesal demi melihat rekaman yang kali ini tak menguntungkan mereka. Membuat Deo turut resah.


" Coba lihat rekaman yang ada di pintu keluar tolgate!" Tutur Deo dengan wajah tegang. Mendadak ingat jika kawasan itu pasti memiliki sisi lain untuk di telusuri.


" Benar. Ren, coba pindah ke kawasan luar!" Ucap Erik kepada Reno dengan raut tak sabar.


Sang operator pun segera melakukan apa yang diminta oleh Deo. Beruntung, Hendra yang notabene merupakan Komandan utama Avsec disana, mau membantu Deo.


" Putar juga yang di sebelah parkir!" Titah Hendra tak kalah tegangnya." Ambil juga yang dari sisi kanan biar kita bisa tahu nomor polisi mobilnya!"


Deo dan Erik masih terus menatap ketiga layar yang kini telah di perbesar itu. Benar dugaan mereka. Sepertinya orang yang membawa Arimbi lupa mengantisipasi hal sepele macam itu.


Plat nomor.


" Stop, coba kau geser beberapa detik sebelum itu. Ya itu, yang saat kaca mobilnya terbuka waktu menyerahkan tiket!" Ucap Deo makin antusias demi melihat kendaraan yang diduga membawa Arimbi.


Erik kian tak sabar demi melihat video yang kini di pelankan. Reno dengan sigapnya menggerakkan jari lentiknya untuk memperbesar ukuran wajah terduga pelaku itu


" Dapat!" Ucap operator itu puas manakala berhasil mengidentifikasi wajah supir mobil terduga.


DEG


Membuat tubuh Deo seketika membatu demi melihat wajah pria yang ada dilayar itu.


Shiit!!!


.


.


Demas


Ia tengah menekuni beberapa laporan keuangan saat sebuah panggilan datang menginterupsi. Panggilan dari sang kakak yang jelas-jelas menunjukkan sebuah kecemasan yang begitu kentara.


Membuat pria datar itu seketika mengeraskan rahangnya, manakala menerima info terkait Arimbi yang di bawa pergi oleh orang misterius.


" Aku perlu bantuanmu!" Begitulah ucapan kakaknya beberapa waktu lalu.


Kesemuanya belum berani menyimpulkan apakah itu sebuah penculikan atau Arimbi memang pergi atas kemauannya sendiri.


"Fadli, tambah kecepatanmu!" Ucap Demas yang tak kalah panik. Berniat segera menemui kakaknya di bandara. Pria itu sejurus kemudian terlihat menggulir ponselnya.


" Halo Pa. Aku dan kak Deo sepertinya akan membutuhkan tenaga Papa beberapa saat lagi!"


Kini, sepertinya ia tak bisa lagi menganggap sepele masalah yang tengah menyerang kakaknya itu. Jika sudah menyangkutkan Arimbi, entah mengapa ia juga tak bisa menahan dirinya.


.


.


.


.


Arimbi


Matahari semakin melorot ke sisi barat. Ia terus berlari dengan kaki telanjang membelah rerumputan liar menuju kedalam hutan yang nampak semakin suram. Kawasan di villa itu dulunya merupakan kebun cengkeh di zaman kompeni. Dan hingga kini, tanaman itu masih ada. Tumbuh subur sejauh mata memandang.


" Berhenti!" Teriak seseorang yang tak ia hiraukan. Ketakutan yang nyata membuat Arimbi bahkan tak memperdulikan belukar yang menyakiti kulit kakinya.


" Akan ku bunuh kau jika kau tak mau berhenti!" Seru orang itu makin keras.


DOR


DOR


DOR


Tembakan peringatan itu di ledakkan oleh pria botak yang nampak tak sabar.


BUG


PLETAK


" Apa kau sudah gila. Jangan gunakan apapun sialan!" Anthoni memukul pria botak itu sebab tak setuju dengan caranya. Membuat pria botak itu merasakan nyeri di tangannya akibat di tendang oleh Anthoni.


Wanita itu di sela ketakutannya berusaha memetakan keadaan dalam gempuran keterbatasan waktu. Ia melihat hutan Pinus yang gelap di ujung timur. Lebih mengerikan lagi, ada jurang yang entah sedalam apa isinya.


Ia tak mau ambil resiko jika masuk kesana. Hutan Pinus itu benar-benar gelap. Apalagi, topografi wilayah disana belum pernah Arimbi ketahui sebelumnya.


Membuat Arimbi sejurus kemudian memilih untuk menggulingkan tubuhnya ke jurang lembah. Itu lebih baik pikirnya.


" Lebih baik aku mati daripada kalian tangkap. Deo, semoga kau menemukan aku!" Gumam Arimbi dengan napas memburu dan kian yang semakin mengucur deras.


" Berhenti. Kubilang berhenti!" Seru pria bertato itu demi mengetahui jika Arimbi akan melompat ke jurang.


" Lebih baik aku mati daripada bersama kalian, cuih!" Arimbi meludah diatas tanah. Menatap para pria bertubuh besar yang kini mengepungnya itu.


" Wanita bodoh!" Maki pria yang berada di samping Anthoni.


Namun, Arimbi yang sepertinya memiliki siasat lain itu, lebih memilih melompat daripada mendengarkan pria itu.


" Selamat tinggal pria brengsek!" Ucap Arimbi menyunggingkan senyum penuh arti, sesaat sebelum ia menerjunkan diri ke jurang itu.


SRUUUAAAAAKKKK!!


Membuat pria-pria bertubuh kekar itu seketika mendelik demi melihat aksi nekat Arimbi.


" Sial, nekat juga dia. Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya pria botak dengan wajah penuh keresahan kepada Anthoni.


Assiten Bramasta itu nampak tertegun. Terlihat begitu bingung dengan apa yang musti mereka lakukan.


" Kita kembali!"


.


.


BRAK!


Anthoni nampak datar-datar saja manakala Zakaria menggebrak meja dengan kobaran api kemarahan di dua netranya. Membuat Bram turut dilanda kegusaran.


" Menangkap satu perempuan saja kalian tidak becus. Kalau sampai dia lapor polisi, habis kita semua!" Maki Zakaria yang tak menyangka jika semua hal yang baginya akan menjadi kesenangan, seketika berubah menjadi malapetaka.


" Tenang saja Pak. Wanita itu pasti mati dimakan binatang buas!" Seru pria botak itu.


Zakaria menatap pria itu lekat-lekat. Mengangkat dagu lali nampak seperti ingin mengatakan sesuatu, " Kalau dia hidup bagaimana? Kenapa tidak kau susul saja ke jurang tadi, hah?" Maki Zakaria melempar wajah pria botak itu dengan gusar.


Membuat Bram semakin kesal. Sama sekali tak mengira jika wanita bernama Arimbi itu sungguh berani.


" Pak Zakaria benar. Cari dia. Kalau sampai Deo tau istrinya kita perlakukan seperti itu, habis kita. Temukan dia dan bunuh saja kalau perlu!" Ucap Bram, membuat Zakaria mengangguk.


.


.


Jessika


" Mama nggak mau tahu, pokoknya mas harus temukan menantu Mama dalam kondisi selamat!" Jessika yang baru mengetahui kabar mengejutkan itu nampak benar-benar frustasi.


David yang melihat istrinya marah kini kesulitan menenangkan.


" Tunggu sebentar Ma, anak-anak habis ini datang!" Ucap David muram demi merasakan bingung. Jessika adalah keutamaan baginya. Bagi David, titah Jessika adalah harga mati.


Jessika nampak duduk lesu di atas sofa nyaman itu. Menutup wajahnya sebab bingung harus bagaimana.


" Bagiamana jika Bu Ning tahu mas!" Ucap Jessika dengan suara yang bergetar. Membuat David turut resah.


Tak berselang lama, sebuah mobil dengan deru mesin yang garang tiba di kediaman mereka. Mobil yang sudah jelas berisikan dua anak jantan mereka.


Kedua pasangan itu, seketika bangkit dan nampak menuju ke luar demi menyongsong dua anak laki-laki mereka.


" Ma kita ak..."


PLAK!


" Suami gak becus kamu. Cari dia sekarang. Mama gak mau tahu, Arimbi harus pulang dalam keadaan selamat Deo!"


Deo tertegun bersama dengan ucapannya yang menguap percuma, dengan rasa pipi yang panas usai di tampar oleh Mamanya.


Sungguh, bukan hanya keluarganya saja yang kini di landa kekalutannya. Ia dan seluruh jiwa raganya bahkan merasa bagai tersiksa saat ini.


.


.


.


.


.