My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 169. Kehidupan baru



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


...Aku tak tahu harus mulai dari mana?...


...Aku tak tahu harus menulis apa?...


...Di tanganku duka...


...Di tanganku suka...


...Lagu cinta ingin kunyanyikan...


...Namun lidahku kaku, hatiku beku...


...Aku rindu...


...Aku tak tahu...


...Lagu cinta di mana kamu?...


...Mencari apa yang dicari...


...Menunggu apa yang ditunggu...


...Aku merasa dikejar waktu...


...Mencari apa yang dicari...


...Menunggu apa yang ditunggu...


...Aku merasa dikejar waktu...


...Dari mana kamu datang?...


...Aku tak mendengar langkahmu...


...Lagu cinta...


...Pelan-pelan bangunkan aku...


...Mencari apa yang dicari...


...Menunggu apa yang ditunggu...


...Aku merasa dikejar waktu...


...( Iwan Fals ~ Lagu Cinta)...


.


.


Berita tentang meninggalnya Anthoni menjadi trending topik di kalangan pebisnis juga masyarakat sipil. Seorang pesakitan, ditemukan tak bernyawa dalam penjara saat dini hari karena overdosis obat.


Selidik punya selidik, pihak berwajib menemukan sebuah surat yang begitu aneh. Surat yang menjadi penegas jika Anthoni begitu menyesal karena harus terus menerus membuat adiknya repot.


Team forensik melaporkan jika mereka tak menemui tanda-tanda kekerasan pada tubuh laki-laki itu. Praktis, semua itu murni niatan Anthoni untuk mengakhiri hidupnya.


Membuat keluarga Darmawan yang ingin menyeret Sadawira ke pihak berwajib seketika membatalkan niatnya demi segumpal rasa kemanusiaan.


Seperti yang diketahui banyak orang, bila ujian hanya datang untuk insan yang hendak naik kelas saja. Mungkin untuk jiwa yang akan lebih dewasa, atau bahkan untuk raga yang bakal menjadi tegar bagai bagai batu karang. Who know's?


Apapun yang terjadi, waktu tetaplah berjalan angkuh menggilas. Meninggalkan jiwa-jiwa yang mungkin saja belum mau beranjak dari rasa kehilangan.


Menebarkan aroma luka.


Tapi hari hari tetaplah hari, yang datang dan berganti dengan menggelar harapan yang sama. Menyajikan peluang bagi siapa saja yang mau berusaha serta berupaya.


Boni yang masih menjadi abdi setia saat bos-nya terpuruk, hanya bisa menatap muram Sada yang kini bahkan nyaris tak pernah membuka mulutnya untuk berbicara.


Pria itu menjadi manusia yang gila kerja setelah kematian kakaknya. Apalagi, satu pesan yang diawal membuatnya bahagia, kini berganti menjadi sumber keputusasaan.


..." Aku membencimu lebih dari apapun. Jangan pernah berniat menemuiku lagi! Karena pria jahat seperti mu, tidak akan pernah mendapat tempat lagi di dalam hatiku!"...


Sebuah pesan dari nomor yang beberapa detik kemudian tak lagi bisa ia hubungi itu, seketika menyeretnya ke titik paling hampa dalam hidupnya.


Detik ini, ia benar-benar kehilangan pengharapan dalam hidupnya.


Melody, yang awalnya ingin mengatakan kebenaran kepada Sadawira, mengurungkan niatnya demi keamanan Claire. Tak hanya kakaknya, ia kini juga terguncang batin dan jiwanya.


Apalagi, secuil niat yang dipergoki oleh Papa Leo, benar-benar membuat orang tuanya itu berang. Entah kapan tabir gelap ini akan tersibak, tapi yang jelas keutuhan keluarganya kini lebih penting dari apapun.


Pak Edy bahkan menemani Claire dan Melody pindah sementara hingga menunggu anak itu lahir. Mereka yang tahu jika Sadawira juga bukan orang biasa, takut jika pria itu akan menyakiti anak mereka lagi.


Di sisi lain, Demas kini bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya, sebab ia tak salah pilih. Wanita yang bahkan sering ia lukai hatinya itu, nyata-nyata selalu ada di sisinya, dalam keadaan kurang baik sekalipun.


Eva terus dan terus membantunya terapi hingga membuat kemajuan yang sangat pesat.


Deo yang beberapa waktu ini akan menjadi ayah, menjadi pelipur lara keluarga Darmawan yang baru saja mendapatkan sebuah petaka. Semua orang nampak mencurahkan perhatian kepada Arimbi yang hamil besar dan nampak lebih gemuk.


Seluruh keluarga Darmawan yang tahu kabar kepindahan Claire ke suatu tempat, menjaga rahasia rapat-rapat. Mereka tidak tahu, kapan Claire akan memutuskan kembali. Namun yang jelas, semua orang perlu waktu untuk berdamai dengan diri sendiri. Dan biarlah, waktu menjadi sebaik-baiknya penyembuh luka.


" Tenang bos, sebaiknya anda..."


" Tenang-tenang, bagiamana aku bisa tenang Rik, istriku mau melahirkan dan aku masih ada di rapat sialan ini, Shiit!" Maki Deo seraya berjalan ke luar hotel sebab ia mendapatkan kabar jika Arimbi mengalami kontraksi.


Erik seketika muram. Deo benar-benar menyebalkan sekali jika begini. Padahal, Mama Eka beberapa menit yang lalu mengabari jika beliau telah bersama Mama Jessika dan Bu Ning baru saja tiba dirumah sakit.


" Memangnya dia superhero yang bisa Cling pindah tempat?" Menggerutu tiada henti.


" Masih bukaan dua Pak!" Tutur Erik lagi seraya memutar bola matanya malas, dan mencoba mengingatkan Deo yang gempar.


Deo yang nampak panik, bolak-balik menelpon keluarganya namun tak satupun menjawab. Tak menggubris Erik yang kini mulai memasukkan perseneling mobilnya.


Sementara itu, di sebuah rumah sakit terbesar di kota B, nampak aura- aura penuh ketegangan kala menunggu Arimbi yang hendak bersalin.


" Buk, apa mas Deo sudah sampai?" Tanya Arimbi yang masih meringis kala merasakan nyeri yang tak terdefinisikan itu.


" Belum Nak. Tapi info dari Erik, mereka sudah hendak menuju kemari!" Sahut Mama Eka mengelus Arimbi yang kini tengah berbaring.


Mulas di sertai jalaran sakit yang luar biasa dari salam perutnya, membuat Arimbi benar-benar mengharap kedatangan ayah dari jabang bayi yang saat ini ada dalam perutnya.


Merasa terlalu banyak orang dalam ruangan, membuat Mama Jessika keluar untuk bergantian dan Bu Ning.


" Apa sudah keluar? Kenapa lama sekali?" Tanya Papa David polos saat Jessika dan Eka kini bergantian keluar dan membiarkan Bu Ning di dalam ruangan.


" Gini ini yang taunya cuma produksi, enggak tahu mekanisme pengeluaran yang membutuhkan waktu lama!" Sahut Mama Eka melirik Papa David dengan tatapannya yang mengiris.


Membuat Jessika menahan tawanya. Bahkan saat usia mereka setua ini, suami dan sahabatnya itu masih saja kerap adu mulut.


" Untuk itu aku bertanya. Gimanapun juga, aku juga gak sabar pingin lihat cucuku!" Jawab Papa David mendengus.


" Kemu nenye? Kemu bertenyek- tenyek?" Menjawab dengan logat konten kreator ala cepmek yang tengah viral dengan sikap mencibir.


Membuat Mama Jessika tergelak.


" Aku bahkan masih tidak percaya jika dia ini istrimu Tom!" Sahut Papa David dengan cuping hidung yang melebar akibat kesal dengan Mama Eka.


Tomy seperti biasa, pria itu masih datar saja walau istrinya kerap di buli. Bagi Tomy, David tidak tahu saja jika istrinya itu Numero Uno kala memberikan service-nya.


" Apa kau bilang? Jes, suamimu ini benar-benar!"


" Aku benar kan?"


Saat dua orang tua itu masih adu mulut, derap langkah yang tergopoh-gopoh nampak menginterupsi dan membuat mereka berempat menoleh.


" Maaf aku terlambat, dimana Arimbi?" Deo yang datang dengan wajah pias membuat Mama Eka salah fokus karena wajah pria itu nampak bodoh.


" Di sana!"


" Baiklah. Rik, bawa ini!" Dengan tergesa-gesa, ia menyerahkan tas kerjanya kepada Erik dengan ngawur lalu seketika melesat kedalam ruangan.


" Dia bahkan sudah berperilaku seperti hendak berperang saja!" Gumam Erik menggelengkan kepala.


" Enak aja, makanya cepat kawin biar ngerasain gimana sensasi nunggu istri brojol Rik. Mama kok jadi heran sama kamu. Kamu ini enggak laku- laku karena apa sih sebenarnya?"


David tekrikik-kikik kala melihat wajah Eka yang nampak frustasi saat membicarakan anaknya.


Membuat Erik seketika muram karena terus di omeli oleh Mama Eka.


Namun, saat mereka masih saling berbicara perihal Erik yang belum kaki, langkah lain nampak terdengar dari lorong rumah sakit itu.


TAP TAP TAP


Kini, ke empat manusia itu seketika menoleh.


" Mas Erik, gimana Arimbi? Apa bayinya sudah lahir?"


Bagai slow motion yang sedang terjadi, Erik nampak mendelik manakala tangannya di pegang oleh wanita yang beberapa bulan ini tak mau menggubrisnya.


Ya, Wiwit yang datang seorang diri tanpa sadar menyentuh tangan Erik sebab pria itu berasa di posisi yang paling dekat dengannya saat ini. Maklum, orang cemas selalunya kurang memperhatikan hal-hal kecil macam itu.


" Kau bahkan sudah mau menyentuhku Wit. Apa ini artinya...?" Ihiir!!!


Ia terpesona dengan hati yang meledak-ledak saat wanita yang nampak selalu acuh kepadanya itu, kini menyentuh tangannya.


Ah God, apakah aku bermimpi?


.


.


.