My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 74. Cause you are My Boss My Enemy My Husband



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Demas


Sudah menjadi kebiasaan dirinya bercuap-cuap di depan pemburu berita, yang berkorelasi langsung dengan beberapa majalah dan surat kabar lokal yang memuat berita terkait update informasi seputar hal-hal baru di dunia bisnis.


Sebenarnya, sedari datang tadi ia agak resah karena belum sempat mengajak wanita cerewet itu untuk mengisi perutnya. Bahkan, ia sampai turut merasa lapar, karena di jam se sore itu ia juga belum memasukkan sesuatu kedalam lambungnya.


Sedatar apapun Demas, pria itu juga masih memiliki nurani yang wajar kali.


Namun, alih-alih bergerak cepat kembali menuju ke stand Eva dan berniat mengajak wanita super jahil itu untuk makan, ia justru terkejut manakala mendapatkan sesuatu yang tiada ia sangka-sangka.


CUP


Eva mencium bibirnya.


Mendadak dan gerakannya sama sekali tak terbaca. Membuat Demas membeku selama beberapa detik.


Oh Gosh!


" Bapak boleh marah sama saya nanti Pak. Saya siap dapat hukuman. Tapi..."


" Tolong saya sebentar Pak, saya janji setelah ini akan menurut sama Bapak. Tolong diam dan mengangguk saat saya berbicara apapun kepada orang di depan saya!"


What?


Eva berbisik usai mencium bibir dan pipinya. Memanfaatkan kesempitan yang ada, guna mendoktrin Demas agar pria itu mau bersekutu dengannya.


" Astaga, apa maksudnya perempuan ini? Yang benar saja!" Dalam waktu sepersekian detik itu, Demas mencoba mencerna keadaan yang tejadi. Tentang mengapa ia mendadak terlibat dan terseret acara konyol itu.


Eva menangkap lengan besar Demas dan langsung melingkarinya dengan tangannya, seraya menyenderkan kepalanya bak pasangan mesra yang dimabuk asmara.


Bagai tersambar petir di siang bolong, jantung dan tubuh Demas menegang manakala wanita itu menempel ke tubuhnya.


Oh astaga, andai Dian melihat hal ini. Sudah pasti wanita itu akan panen gunjingan.


"Kalian mau testimoni produk ku? Boleh silahkan!"


" Sayang bolehkan mereka cobain produk baru kita? Mereka ini temanku!"


Demas yang hendak membuka mulutnya hanya bisa mendesaah kesal dengan hati dongkol, manakala Eva mencubit kecil pinggangnya, sebagai pertanda jika pria itu harus mengangguk.


Benar-benar licik.


Pria yang biasa di panggil Sinyo oleh Eva saat mereka masih menjadi sepasang kekasih itu hanya mampu menelan ludahnya. Sungguh, pria itu nampak berwajah pias demi melihat sosok yang bersanding mesra mencolok di samping Eva, yang berhasil mencolok matanya.


Demas Wirasatya Darmawan.


" Kalian sia..."


Eva mencubit kembali pinggang Demas sebagai isyarat agar pria itu diam. Membuat Demas menatap tak percaya ke arah Eva yang tersenyum penuh arti kearah Sinyo dan kekasihnya.


Benar-benar ratu drama.


"Maaf, skincreku lebih mahal dari ini. Ayo sayang!"


Wanita yang telah merebut Sinyo darinya itu seketika lesu dan mengucapkan kata-kata yang enggan diremehkan, sesaat sebelum ia ngacir karena kalah telak.


Membuat Eva tersenyum penuh kemenangan. Rasian kalian!


Walau dalam hatinya masih nyeri karena melihat Sinyo mengajak wanita itu pergi jalan-jalan keluar kota, namun ia senang manakala berhasil membuat wanita itu kesal.


Ya, meski dengan jalan berbohong dan menipu. Ia tak peduli, yang paling penting bagi Eva, hatinya puas.


" Heh, kau ini benar-benar gila ya. Sebenarnya apa yang kau lakukan. Untung anak-anak tidak ada yang lihat. Kau ini...!" Demas menatap kesal dan geram ke arah Eva yang kini kaget manakala tangannya di hempaskan oleh Demas.


Memungkasi sandiwara yang Eva lakukan dengan semangat muka tebal.


" Maaf Pak. Saya enggak ada pilihan. Tadi itu mantan pacar saya. Dan yang perempuan tadi itu pelakor. Saya..." Jawab Eva kini murung. Membuat Demas turut mendecak.


" CK, udah jangan banyak omong. Saya lapar, kamu mau makan tidak. Menyusahkan saja!"


Eva terbengong-bengong. Ia bahkan berasa mau mati sebab sedari tadi menunggunya untuk makan. Dan sekarang?


What the fuuck!!


.


.


Deo


Ia kini tengah memeluk erat Arimbi dalam dekapannya, dalam keadaan tubuh yang hanya tertutupi oleh selimut tebal, usai melebur gelora bersama.


Sisa napas yang masih kembang-kempis itu menjadi original soundtrack yang menemani keduanya kala bersandar ke kepala dipan.


"Aku mau..."


Arimbi yang merasa malu sebab dua kali pria itu telah berhasil mengajaknya terbang tinggi, dalam menggapai puncak kenikmatan duniawi yang ternyata sangat membuatnya merasa ketagihan.


Oh God, terimakasih banyak atas rasa titipan yang begitu indah itu.


" Perusahaanku sedang dalam masalah!"


Arimbi yang diam menatap ke arah dada bidang suaminya itu nampak serius manakala mendengar Deo yang lekas membuka suara seriusnya.


"Pria yang berselingkuh dengan Roro sepertinya sedang melakukan rencana, dan aku tidak tahu itu!"


Arimbi menatap suaminya dengan wajah mendongak. Berselingkuh? Jadi selama ini?


" Aku hanya tidak ingin mereka tahu siapa kamu karena aku tidak ingin membuatmu dalam bahaya!"


Deo akhirnya mengutarakan keresahannya selama ini agar Arimbi mau mengerti, mengapa ia masih tak ingin menunjukkan siapa Arimbi ke hadapan publik.


" Kenapa memangnya?"


Deo memejamkan matanya seraya menghela nafas sejenak. "Dalam dunia bisnis, persaingan itu selalu ada. Bahkan, di era papanya dulu, Om Tomy juga pernah bercerita jika pengkhianat dalam intern itu selalu ada."


" Bahkan, kadang kami harus bertaruh nyawa!"


Membuat Arimbi seketika meneguk ludahnya.


" Kata papapaku, musuh itu tidak selalu dari luar. Bahkan tak jarang mereka mau berkhianat demi uang!"


Arimbi tertegun. Walau ia belum paham benar soal apa yang di maksud oleh Deo, tapi ia menangkap raut penuh kesungguhan manakala Deo mengucapkan hal itu.


" Aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain!" Ucap Deo menyusui bingkai wajah cantik Arimbi. Menatap sendu istrinya yang benar-benar bercitarasa luar biasa itu.


" Tapi kau selalu dek.."


CUP


Deo membungkam mulut Arimbi dengan mulutnya. Menolak untuk di sergah. Membuat wanita itu mendecah kesal.


" Aku akan berusaha membatasi diri setelah ini. Kau tahu, semenjak kita bersama, semakin kesini aku semakin..."


Arimbi merasa geli kala Deo menciumi ceruk lehernya. Astaga pria itu, mereka saja bahkan belum berpakaian wajar loh.


" Aku rasa aku harus berterimakasih sama Mama dan juga warga yang pernah menggrebek kita!"


Arimbi turut tersenyum manakala Deo tertawa. Pria itu terlihat makin tampan jika membuka mulutnya, dan menampilkan deretan giginya yang rapi.


Sungguh, malam itu menjadi titik balik longsornya gunung es yang selama ini menjadi penghambat dua sejoli itu.


" Apa kau, juga memiliki perasaan yang sama?"


Arimbi mengulum bibirnya demi memikirkan jawaban yang pas.


" Maybe yes, maybe no. Cause you are my Boss, My Enemy also my Husband!" Jawab Arimbi menatap Deo penuh arti.


Membuat Deo seketika mencium kening Arimbi dengan sangat lama, demi mendengar jawaban yang luar biasa itu.


" Aku janji akan segera mengumumkan siapa kamu dan kita akan menikah secara negara nanti kalau aku berhasil memenangkan tender besar di Bandara Tabuhan." Ucap Deo saat ia kembali menarik Arimbi kedalam dekapannya.


" Daerah itu kan daerah konflik?"


" Ya, dan aku tetap harus bisa membuka cabang disana!"


Arimbi menatap suaminya dengan wajah muram. Entah mengapa ia menjadi kasihan. Di balik suaminya yang selama ini kerap membuatya kesal, ada sesosok pria yang penuh dengan tanggung jawab dan ambisi untuk memajukan daerah-daerah tertinggal.


" Kau sudah kaya, Kenapa tidak berdiam diri dan menikmati yang ada?


" Pertanyaan bagus. Tapi, aku masih ingin mewujudkan mimpi mama Ar. Mama ingin banyak lagi orang yang bisa mendapatkan pekerjaan, dari peluang kerja yang keluargaku ciptakan. Makanya aku, Demas, juga papa masih gencar buka cabang dimana-mana!"


Luar biasa. Arimbi baru mengetahui kenyataan jika suaminya benar dermawan, sesuai dengan nama perusahaan yang ia tempati itu. Membuat Arimbi berjanji dalam hati untuk menolong sebisanya.


" Ngomong - ngomong, adikku bangun lagi Ar. Bisakah kamu menidurkannya kembali!"


Arimbi yang larut dalam obrolan berbalut keseriusan itu, seketika mendelik manakala Deo mengarahkan tangannya ke atas kejantanannya yang telah mengeras.


Bagaimana bisa?


Bukankah sedari tadi mereka berbicara serius?


Oh God!


.


.


.


.


.


Lantas?