
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Jessika
" Astaga, Demas ini keterlaluan ya Va. Masa dia enggak ada bilang ke Tante kalau mau ngajak kamu. Tau gitu kamu tak suruh datang pagi biar bisa sama-sama Claire buat makanan. Pasti seru deh kalau ramai!" Seru Jessika yang tahu bila Eva speechless demi keadaan yang tercipta.
Membuat semua anggota keluarganya turut menyimak kehebohan di jam sepagi itu.
" Udah- udah, karena semua udah ngumpul, kita lanjut sarapan aja yuk!" Ajak Bella dengan hati senang. Ingin memungkasi kecanggungan yang nampak di dera oleh Eva.
" Boleh!" Sahut David menyetujui.
" Sebaiknya kita tunggu Melodi dulu, kasihan. Dia baru mandi!" Sergah Pak Edy yang teringat satu anggota keluarganya yang belum nongol juga.
Membuat kesemuanya menyadari jika salah satu anggota keluarga mereka belum hadir. Astaga!
"Astaga, anak itu. Duh kakak ipar, aku sampai lupa kalau masih punya anak gadis besar yang masih aja bangor. Udah kalian lanjut aja ke meja makan, biar aku yang bangu...."
TAP TAP TAP
Suara pijakan yang khas itu membuat ucapan Bella menguap, dan membuatnya seketiku menoleh.
Kesemua manusia di ruang tengah itu pun akhirnya serempak menatap ke sumber suara, yang rupanya berasal dari pijakan sendal jepit yang bercumbu asik dengan lantai granit marmer dirumah itu.
"Apa, kenapa melihatku begitu?" Tanya melodi polos demi lihat wajah manusia - manusia yang nampak keheranan kala menatapnya.
Semua orang terpaku demi melihat Melodi yang hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong berwarna putih, wajah polos tanpa make up, serta sandal jepit favorit.
Benar-benar kontras dari yang lainnya.
" Malah pada bengong, ya udah duluan ya. Opa, yuk kesana aku lapar!" Tukas Melodi yang berjalan tanpa dosa. Meninggalkan wajah-wajah yang kini keheranan itu.
Dan, tanpa menunggu lama, Pak Edy dengan sigap seketika bangun demi melihat cucu kesayangannya itu ngeloyor pergi menuju meja makan.
" Ayo kita sarapan!" Seru Pak Edy tanpa dosa. Benar-benar sudah klop dengan cucu paling bontot itu. Oh God!
Astaga, yang di tunggu justru meninggalkan. Dasar!
.
.
" Pssstt!"
" Psssst!"
Eva melirik ke arah Arimbi yang duduk tepat di sampingnya. Mendesis bagai ular kala mencolek lemak kerdil di perutnya. Sialan!
" Apaan?" Balas Eva dengan suara yang benar-benar lirih. Takut mengundang perhatian para anggota keluarga yang sibuk menyantap makanan lezat di depannya itu.
" Lu hutang penjelasan ama aku Va. Kenapa baju kalian bisa samaan. Bukan bilang kalau elu juga mau kesini, malah main kejut mengejut!" Dengus Arimbi yang merasa kecolongan dengan sahabatnya itu.
Padahal, sedikit banyak ia sudah mengendus aroma jika Demas memang tengah dekat dengan sahabatnya itu.
" Aku aja terkejut sialan. Gak tahu kalau acara ini acara intern. Elu sih enak gak kira malu, orang udah jadi istrinya Pak Deo. Nah aku apa kabar?" Balas Eva yang sepertinya masih malu-malu. Mengendarakan pandangan guna memastikan bila tak seorangpun terganggu dengan kegiatan mereka yang bergunjing di tempat makan itu.
Membuat Arimbi tekrikik-kikik.
" Jadi kamu sama Demas...."
" Apaan sih? Udah jangan bikin aku makin belingsatan kampret. Minder sama sepupu suami kamu tuh. Lihat mereka elegan dan anggun banget!" Tunjuk Eva menggunakan dagunya, seraya berbisik.
" Aman kalau itu. Dia ramah kok tenang aja. Apalagi yang satunya itu, coba kamu lihat!" Ucap Arimbi masih berbisik menunjuk ke arah Melodi yang asik mempreteli tulang ayam kampung itu.
" Mereka itu rata-rata merakyat. Apalagi mama Jessika. Pokoknya masuk zona aman lah !"
"Apaan sih?" Demas mengangkat dagu terhadap kakaknya seolah menanyakan hal itu.
" Mana aku tahu!" Balas Deo yang mengendikkan bahunya demi mewakili jawaban tersebut.
Sungguh, dua laki-laki kakak beradik itu dibuat penasaran oleh dua perempuan yang kini menjadi pusat perhatian masing-masing itu.
Kesemuanya nampak menikmati makanan dengan santai. Tak jarang, sesama penghuni kursi itu saling mengobrol di sela-sela acara sarapannya.
Hanya Melodi yang terlihat paling cuek dan tidak mau ambil pusing. Makan menggunakan tangan, dengan nasi serta lauk yang menggunung. Juga suara cap cep kala menggerogoti leher ayam kampung gurih itu.
Membuat Bella menghela napas demi melihat anak bungsunya itu.
" Oh iya, Kapan kamu nyusul aku Claire?" Tanya Deo sesaat setelah menandaskan segelas air putih. Tak ingin membuat suasana dingin dan kaku.
" Jangan tanya aku yang belum jelas sama siapa akan menikah, tanya sebelah mu yang udah kompak pakai baju biru-biru itu!" Jawab anak sulung Leo itu seraya tekrikik-kikik.
Membuat Eva yang di sindir itu langsung mencubit paha keras Demas demi sinyal rasa malu. Kampret!
Namun, bukannya bersekutu, Demas justru melancarkan aksi yang membuat Eva kembali mendengus.
" Tanya aja sama yang bersangkutan. Kalau aku sih....besok, lusa, hari inipun juga oke. Orang ibunya udah oke!"
" Apa?"
Koor semua orang di sana demi terkejut kala mendengar ucapan Demas yang begitu sangar. Membuat leher Eva yang tengah sibuk menelan urap gurih itu mendadak seret.
Damned!
" Biasa ajak semua. Jangan terkejut massal kenapa?"
" Ngomong - ngomong, mereka emang cocok kok. Kak Demas konsonan, dan mbak Eva kayaknya vokal. Amanlah! Kak Dem, bawa sini telur ikannya itu. Kenapa enggak ada yang makan sih?" Ucap Melodi yang ternyata sedari tadi turut menyimak.
Demas ingin terbahak-bahak detik itu juga demi melihat wajah syok semua orang atas jawabannya.
.
.
" Kita kayaknya pernah ketemu tapi dimana ya?" Sapa Claire kepada Eva saat mereka berada di dapur, usai membereskan sisa sarapan pagi mereka.
Bersama-sama mengambil alih urusan cuci mencuci dan membiarkan ART mereka melakukan tugas lainnya.
Eva seketika menghentikan kegiatannya menggosok perabotan berlemak itu. Menatap wajah gadis yang rupanya begitu ramah.
" Di terminal kedatangan Bandara Tenggarang sepertinya!" Sahut Eva tersenyum. Teringat akan ia dan Arimbi yang memergoki Deo saling berpelukan dengan wanita yang tak lain merupak saudara sepupunya itu.
" Astaga, benarkah? Kau juga ada disana? Aku kira Arimbi saja yang ada disana?" Jawab Claire dengan wajah sumringah.
Dan berawal dari sapaan itu, keduanya nampak akrab. Eva orang yang begitu periang, sementara Claire pun sama.
" Kau sudah tahu kalau dia adikku kan. Jadi jangan cemburu lagi ya!"
CUP
Eva yang belum bisa berdamai dengan keterkejutan kala Demas mendadak muncul dari arah belakang itu, kini dia dua kali dibuat terkaget-kaget demi sebuah kecupan mesra yang mendarat di pipinya.
Membuat Claire menutup mulutnya demi terperangah.
" Pak Demas!!!"
.
.
.
.