
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Ia mengabaikannya rasa kepalanya yang seolah mau pecah pagi itu. Menepikan setumpuk deadline yang musti ia garap, sebab nyatanya mamanya lebih penting dari apapun.
Termasuk pekerjaan itu sendiri.
Deo tak bisa sebenarnya melihat mamanya menangis. Terlebih, ia tahu rekam jejak kisah pilu mamanya saat muda dulu. Dan hal yang terjadi pagi tadi, mendiktator dirinya untuk memilih menurut.
" Minta gadis itu untuk kemari!" Titahnya kepada Erik yang sedang tekun mengetik sesuatu.
" Aku benar-benar mumet jika Mama marah begini!" Ia bermonolog dengan keresahan yang dapat di rasakan langsung oleh Erik.
Erik mengangguk lalu tangannya terulur meraih ponsel yang ada di depannya tanpa menunggu lagi, pria itu nampak serius dan terlihat turut tegang, sewaktu mengetik sebuah pesan dalam chat pribadi kepada Arimbi
Dan beberapa saat kemudian, pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.
" Masuk!" Sahut Deo masih dari mejanya.
Rupanya benar dugaannya, orang yang datang itu tak lain ialah Arimbi. Membuat Erik seketika menutup laptopnya dan undur diri dari ruangan itu.
Pria dengan rambut yang selalu terlihat basah itu, cukup tahu diri jika Deo pasti akan membicarakan hal krusial bersama Arimbi.
Sepeninggal Erik, seperti biasa , kecanggungan menyeruak. Membuat Arimbi diliputi banyak sekali tanda tanya.
" Aku keluar sebentar, ada saudaraku yang kesini, dia ada di parkiran!" Arimbi menelan ludahnya demi mengingat alasan yang ia buat kepada Eva tadi. Astaga, ia sudah terlalu banyak berbohong.
" Duduk!" Pinta Deo.
Arimbi tak banyak bicara dan hanya diam menurut seraya mengalihkan pandangannya dengan wajah lelah.
" Siapa yang mengeroyokmu semalam?" Tanya Deo melipat kedua tangannya sembari menatap Arimbi.
" Aku tidak tahu, tidak kenal." Sahutnya jujur.
" Kenapa kau bisa dikeroyok?" Tanya Deo lagi masih belum puas.
" Sudah kukatakan aku tidak tahu dan tidak mengenal mereka!" Sahut Arimbi menatap kesal Deo sekilas lalu menunduk kembali.
Deo menatap wajah Arimbi yang sepertinya sama lelahnya dengan dirinya. Menghela napas demi hal rumit yang mendadak melibatkan gadis kurang ajar itu.
" Aku ingin berbicara serius denganmu!"
Arimbi mendongak dan tatapan mereka kini bertemu. Arimbi agak terkejut demi melihat wajah Deo yang juga sangat lelah pagi itu.
" Kau tahu kita menikah karena sebuah ketidaksengajaan dan kesalahpahaman kan?" Deo mendecak dalam hati demi teringat akan sikap para warga yang menjadi tetangganya.
Arimbi hanya diam. Benar-benar merasa canggung. Bingung harus bersikap bagaimana.
" Lusa aku akan pindah. Aku tidak akan tinggal dirumahku yang kemarin. Dan aku mau kau juga tinggal bersamaku!"
" Apa?" Arimbi terkejut demi mendengar permintaan konyol Deo.
" Dengan dulu!"
" Pertama, baik aku dan kau pasti tidak menginginkan pernikahan ini kan?"
" Jadi mari kita selesaikan hal ini dalam waktu kurang dari setahun!"
Arimbi menatap sengit ke arah Deo yang menurutnya seenaknya sendiri itu.
" Kita bisa berpisah!" Tukas Arimbi cepat.
" Tidak semudah itu!" Sergah Deo yang nampak gusar demi mengingat permintaan mamanya yang ia rasa tak beralasan itu.
" Kedua, Mamaku setelah ini akan menemui keluargamu. Kau tahu kan, dalam pernikahan hanya aku yang bisa menceraianmu, dan posisi ku sekarang di minta Mama untuk bersamamu!"
" Aku, kau sama-sama tertekan. Jadi mari kita bekerjasama!"
DEG
" Jangan, tolong jangan!"
Membuat Deo mengerutkan keningnya.
" Jangan memberitahu hal ini kepada Ibu, aku takut kalau...."
" Tenanglah dulu!" Sahut Deo demi melihat keresahan Arimbi yang kian kentara.
Arimbi terdiam. Ia kini makin pucat demi mendengar bahwasanya, Mama dari pria sombong itu akan menemui Ibunya.
Kau tahu, masalahku saat ini adalah mamaku memintaku untuk tinggal bersamamu. Sedangkan kau tau sendiri jika aku sama sekali tidak tertarik denganmu!"
" Dan Ibumu, pasti juga akan berpikiran sama dengan Mamaku. Orang tua selalu berbeda pendapat dengan kita kan?"
Arimbi menatap tajam Deo yang selalu bermulut pedas. Ia pikir dia apa?
" Kumohon, kurang dari setahun saja!"
Arimbi tertegun, menelaah tawaran tak rasional dari pria itu.
" Tapi, kau tidak boleh melarangku ini itu. Termasuk urusan pribadiku. Kita hanya tinggal serumah agar mama dan orangtuamu tahu kita baik-baik saja, setelah itu biar mereka tahu secara alami jika kita memang tidak cocok, lalu kita selesai... bagaimana?"
Arimbi terlihat menitikkan air matanya. Bagiamana bisa pria didepannya itu terlihat begitu santai saat dirinya tengah dirundung berbagi kecemasan.
" Kau jangan menangis, aku akan memberimu uang. Kau jangan takut, tenang saja, lagipula kau ini sangat jauh dari ekspektasi ku, aku tidak akan menindih mu!"
.
.
Jessika
Jika ada yang mengatakan jika ia tengah aji mumpung itu benar adanya. Mumpung Deo terlibat skandal, ia ingin memanfaatkan hal itu agar Deo terhindar dari malapetaka.
Ia yang kini resah berlipat kali ganda sebab selain ditempa masalah Deo, ia juga mengendus kabar soal Roro.
" Kalau begitu tidak ada cara lain mas. Lebih baik Deo kita alihkan dengan Arimbi. Mama ngerasa, wanita itu jauh lebih baik. Mas ingat cara dia bicara, cara dia menjawab, Arimbi itu...."
" Persis kayak kamu dulu?" Tebak David tersenyum ke arah istrinya yang kini sudah mau tersenyum. David senang sebab istrinya sudah bisa sedikit mengurangi kesedihannya.
Yang Jessika mau adalah kerukunan serta anak-anaknya mendapatkan kebahagiaan, tanpa gangguan dari orang-orang jahat. Sesimpel itu.
" Papa nurut aja sama Mama. Deo sama Demas kan anak Mama. Papa jamin, Deo pasti lebih takut ke mama daripada ke papa!"
" Kita berangkat sekarang?" Tanya Jessika yang hatinya senang kala David selalu membuatnya bahagia.
David mengangguk, " Kita temui Arimbi dulu. Biar kita seiya sekata nanti!"
.
.
Arimbi
" Terimakasih!" Ucapnya menghaturkan salam usai melayani penumpang yang menchekinkan tiket mereka.
Ya, Arimbi telah kembali ke terminal sebab ia tak mau menimbulkan kecurigaan jika berlama-lama di ruangan Deo. Untuk saat ini, ia aman. Entah esok hari, entah lusa nanti.
Ia kini duduk di sebelah Novi. Wanita normal yang tak memihak siapapun. Ini bagus, sebab Kenanga tengah off duty.
" Nanti kalau ada penumpang, kamu belajar sistem ya Ar. Gampang kok, nanti aku tuntun!" Ucap Novi membuyarkan lamunan Arimbi.
" Oh iya mbak, tadi aku dikit-dikit juga udah ngelihatin mbak Novi kok!" Jawab Arimbi nyengir, menutupi hatinya yang berkecamuk.
Pikiran Arimbi resah demi mengetahui jika Bu Jesika hendak menemui Ibunya.
Pucuk dicinta ulam tiba, pria yang ia batin itu kini nampak memasuki pintu X-ray, bersama petinggi Nawangsa Pura untuk menjemput kedatangan menteri pendidikan dan kebudayaan yang akan mengadakan kunjungan di kota itu.
Deo ganteng.
Ia sempat merasa deg-degan kala melihat Deo yang lewat bersama orang pentinggi dari Nawangsa Pura, yang hendak menuju lounge di bandara itu, guna menunggu pesawat yang di tumpangi bapak menteri landing.
Sungguh tiada mengira, pria tampan yang sombong itu semalam mengucapkan ijab kabul atas namanya.
" Psssttt!" Bengong aja lu! Kenapa, lu mulai ngepen ( nge- fans) sama Pak Deo?" Ucap Dian yang duduk di counter check in sebelahnya, terkikik-kikik.
" Orangnya tinggi besar begitu, enggak mungkin itunya...."
TUK!
" Mau ngomongin apa lu? Ini di counter check in setan!" Eva memukul kepala Dian menggunakan pulpen saat ia sadar jika balanya itu hendak mengatakan hal yang berbau absurd.
" Biang sablah ni nyamber aja kayak LPG bocor. Ih, kalau aku jadi kalian, udah aku datangin itu pak Deo, aku goyang biar dia enggak kaku begitu!" Jawab Dian terkikik-kikik.
" Hay Ar, kamu kenapa semalam pulang dulu? Jangan bilang kamu janjian sama Pak Deo!" Daniel yang tiba-tiba melintas itu mencandai Arimbi.
" Hah?" Dian langsung terkejut.
.
.
.
.