My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 105. Mengusik hati



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


...Flashback...


Hosea merupakan seorang polisi yang menyamar. Pria muda itu ditugaskan oleh komandannya untuk menuju ke Villa yang sudah di infokan oleh Erik atas perintah David.


Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, sekecil apapun persoalan, sebaiknya melibatkan pihak penegak hukum.


Belasan tahun yang lalu saat mereka mengalami insiden dengan mantan mandor mereka sendiri, menjadi titik balik pentingnya berkoordinasi dengan pihak kepolisian.


Pria itu dengan mudahnya menyelinap dan melumpuhkan satu orang driver yang akan membawa Bram pergi, dengan cara halus dan nampak terlatih.


Tak tanggung-tanggung, Hosea bahkan melucuti pakaian yang dikenakan oleh anak buah Bram, lalu menggunakannya guna mengelabuhi pria itu.


Definisi dari tugas optimasi.


Topi hitam dan masker telah ia gunakan dengan sempurna. Membuat tampilannya benar-benar paripurna. Bahkan, Bram yang telah berada di depannya, sama sekali tak menaruh rasa curiga terhadap dirinya.


" Jalan, kita langsung ke sisi jurang dan masuk lewat bawah. Biar yang lain menunggu!" Titah Bram sesaat setelah mendudukkan tubuhnya di jok belakang, lalu menutup pintu mobil itu dengan arogansinya.


Hosea mengangguk kala Bram duduk di jok belakang dan nampak sibuk dengan ponselnya.


" Halo Pak!"


Hosea melirik cermin kecil di depannya lali melirik Bram yang sepertinya menelpon seseorang, yang pasti juga terlibat dalam aksi kejahatan terencana itu.


" Aduh gawat. Semua kacau, Deo mengetahui tempat ini. Tidak, tempat ini tidak ada yang tahu. Saya juga heran kenapa anak itu sampai bisa tahu tempat saya!"


"Oke oke, saya sedang menuju lokasi!"


" CK, brengsek!"


Hosea dapat melihat gurat keresahan yang terpancar di wajah Bram, dari pantulan rear vission mirror di depannya. Pria itu benar-benar terlihat frustasi.


Hosea telah berkoordinasi dengan teamnya dan meminta mereka untuk tak menampakkan diri sampai waktunya tiba.


Bersamaan dengan itu, ia telah mendapat info dari komandannya jika Bram merupakan pelaku ilegal logging yang selama ini diburu di kawasan hutan itu.


Benar-benar definisi dari, malang tak dapat di tolak, dan untung tak dapat di raih.


Membuat mereka berkolaborasi dengan POLHUT guna memenuhi sinergitas antara dua stakeholder terkait itu


Hosea nampak berkendara dengan tenang, kalem dan santai. Membuat pria ria itu terlihat tenang dan nampak tak terbebani.


Hingga beberapa saat kemudian.


" Ada apa?" Tanya Bram dengan wajah sebal kala mobil itu mendadak berhenti dengan cara gak normal.


" Tidak tahu bos, mobilnya mogok!" Balasnya seraya berakting memindai indikator mobil.


" CK, yang benar saja!" Gumam Bram kesal demi melihat mobil yang kian tak beres.


Dan sejurus kemudian.


KLAK KLEK


Suara kokangan senjata membuat Bram terkejut dengan mata mendelik, demi melihat pria yang ia ketahui sebagai supirnya itu, kini mengintimidasi dirinya dengan sebuah senjata.


" Hey, apa kau sudah gila? Turunkan senjatamu!" Ucap Bram dengan penuh keterkejutan, kala melihat senjata asli yang mengerikan itu.


" Serahkan dirimu dan semua akan baik-baik saja, atau kau akan merasakan timah panas ini bersarang di perutmu!" Ucap Hosea seraya membuka masker wajahnya, dan membuat Bram syok.


DEG!


...Flashback end...


.


.


Rumah sakit


***


Demas


Ia terlihat berlari mengiringi Eva yang nampak tak sadarkan diri sebab agaknya telah kehilangan banyak darah.


Dian yang juga berlari bersisian bersama Fadli tak hentinya menangis, demi melihat kondisi Eva yang memprihatinkan.


" Va, please elu jangan kenapa - kenapa ya!" Ucap Dian di sela tangisnya yang kian menjadi. Membuat Demas seketika merasa bersalah.


Rahang pria itu nampak berkedut saat entah mengapa, kekhawatiran juga nampak menyerang kalbunya.


Demas mencemaskan Eva.


"Mohon di tunggu diluar ya Pak, kami akan melakukan tindakan medis di dalam!" Ucap salah seorang perawat dengan masker hijau yang menutupi area bibirnya.


Dian mendudukkan tubuhnya seraya menyeka air mata dengan punggung tangannya, saat pintu yang menelan gerumbulan manusia itu telah tertutup. Membuat Fadli dan Demas seketika saling bertukar pandang.


What a pity!


Sejurus kemudian, Fadli yang nampak memetakan keadaan, seketika teringat dengan keadaan bosnya yang juga sedang tidak baik-baik saja itu.


" Bos, luka anda..."


Dian seketika menatap ke arah adik bosnya itu dengan tatapan syok. Dian lupa jika Demas juga terluka.


" Benar Pak. Kalau tidak salah, di lengan anda itu masih ada..."


" Kau tidak apa disini sendirian?" Sahut Demas menatap muram Dian. Membuat ucapan ras hompimpa itu menguap.


Dian mengangguk dengan wajah murung, " Saya menunggu disini saja. Nanti kalau ibunya Pak Demas datang, biar saya temui dulu!"


Demas mengangguk menyetujui. Dian benar, Mamanya pasti sedang menuju kesana.


" Ya sudah, aku kesana dulu!"


Dian kembali mengangguk tanda setuju.


" Ayo Dli!" Demas berjalan dengan isi dada yang tak bisa ditebak. Entah mengapa, bayangkan wajah Eva yang meringis kesakitan sewaktu di dalam mobil tadi benar-benar mengusik pikirannya.


" Apa yang terjadi denganku sebenarnya?" Batin Demas resah yang benar-benar tak mengerti kenapa wajah wanita ceriwis itu terus mengusiknya.


.


.


Jessika


Bersama supirnya, ia melesat menuju rumah sakit yang telah di infokan oleh anaknya beberapa saat lalu. Ia dan Eka nampak tergopoh-gopoh demi perasaan khawatir terhadap Demas.


" Gimana?" Tanya Eka kearah Jessika yang resah kala ponsel Demas tak aktif.


" Gak bisa di hubungi!" Balas Jessika dengan wajah muram.


" Sebaiknya tanya resepsionis saja!"


Kini, dua wanita yang telah menjadi ibu-ibu dalam arti sebenarnya itu nampak berjalan menuju meja resepsionis dengan kekhawatiran yang begitu kentara.


" Ada pasien atas nama Demas? Mungkin baru saja datang..."


Petugas wanita yang tahu siapa Jessika seketika terhenyak. Wanita yang beberapa kali ia temui di media massa kota itu nampak lebih cantik daripada di gambar.


" Sebenar Bu, saya cek dulu ya?"


Berbekal info dari petugas wanita ramah tadi, ia kini terlihat menuju ke koridor yang telah di informasikan. Masih dengan tajuk terburu-buru, sebab takut kalau-kalau Demas mengalami cidera yang begitu parah.


" Bu Jessika?"


Sapa seorang pria cemerlang yang alisnya bahkan lebih rapih dari miliknya, kala ia melintas dan terlihat kebingungan.


" Ya?" Jawab Jessika penuh kebingungan. Mendekat ke arah pria unik yang kini tersenyum kearahnya dengan mata bengkak.


" Kenalkan Bu, saya Dian. Karyawan di DA GH. Saya tadi sama Pak Demas dan assistenya, beliau sedang menemui dokter bedah sepertinya. Beliau sed..."


" Demas kenapa?" Sahut Eka yang cenderung tak sabar demi melihat raut Dian yang berubah murung. Membuat Dian menelan ludahnya dengan kesusahan.


" Nganu Bu, beliau ngambil peluru!"


" Hah?" Sahut Eka yang makin tak mengerti kemana arah Dian berucap.


" Anu, beliau tertembak dan sepertinya sedang mengambil proyektil yang ada di lengannya!"


DEG!


Membuat Jessika seketika meninggalkan Dian dan Eka, demi rasa terkejut yang tak bisa ia tepis.


Eka yang ada di sana nampak memindai tampilan Dian sejenak, sebelum menyusul sahabatnya.


" Alis kamu bagus. Sulam dimana?"


What?


Dian yang mendapat pertanyaan mengejutkan dari seorang wanita manis yang tak ia ketahui bila itu merupakan mama dari Erik, seketika membulatkan matanya.


" Ibu ini siapa sih? Orang lagi tegang malah ngomongin sulam alis!"


.


.


.


.


.