
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Sepasang sepatu berjalinan tali rumit dengan tapak tebal, nampak tekun menapaki lantai bersih pada bangunan yang di huni oleh para residivis, penjahat, juga beberapa pelaku tindak kejahatan mulia dari kelas ringan, hingga kelas berat.
Kaki milik seorang pria tampan yang hidupnya sedikit runyam akibat ulah sang kakak.
Adalah Sadawira, pria muda yang sejatinya memiliki sikap baik namun dibutakan oleh dendam atas nama kakaknya itu, mau tidak mau harus menginjakkan kaki ketempat yang baru pertama kali ia datangi itu dengan hati gusar.
Anthoni, pria salah jalan yang harus berkecimpung dengan dunia gelap lantaran hidupnya yang selama ini jauh dari sentuhan kasih sayang. Kedua orangtuanya yang kaya raya telah bercerai dan telah hidup masing-masing dan kini entah kemana rimbanya.
Hidup berdua dengan adiknya yang workaholic, benar-benar membuat hidupnya laksana di neraka. Tak ada tegur, tak ada sapa, tak ada kasih sayang yang menghiasi hari-hari mereka.
Hingga akhirnya, ia yang tak sepandai Wira dalam berbisnis, mengenal Zakaria dan tergiur dengan upah fantastis jika dia mau bergabung dengan pria itu.
Namun, sayang seribu kali sayang, kejadian bersama Zakaria tempo hari, justru menjadi titik balik terbongkarnya bisnis terselubung kakaknya itu, membuat Sadawira terpukul sebab baru mengetahui jika selama ini ia dan kakaknya benar-benar berjauhan dalam arti sesungguhnya.
Walau bagaimanapun juga, meski betapapun jua, darah akan selalu lebih kental dari pada air.
Walau selama ini sikapnya selalu bertolak belakang dengan sang kakak, namun mendapati kakaknya yang mendapat putusan berat dari pengadilan, jelas membuat jiwa karibnya tergugah.
SREK!
Suara tirai yang terbuka itu membuat Sadawira mendongak.
Wira yang duduk di sebuah meja baja itu, mendadak terharu manakala pandangannya bertumbuk pada sosok yang kini lebih kurus dengan wajah yang masih datar.
" Lima belas menit!" Ucap sipir yang menjadi petugas pengantar itu tehadap Sadawira .
Wira mengangguk sekilas, sejurus kemudian ia menatap wajah sang kakak dengan tatapan muram.
" Bagiamana kabarmu?"
" Seperti yang kau lihat, menunggu mati!"
Hening. Pertemuan yang benar-benar kaku, dingin, dan tak memiliki kesan.
Telak dan benar. Antoni yang memiliki bisnis jual beli serta mengedarkan barang terlarang di negara itu harus siap menanggung putusan hukuman mati.
" Aku akan banding!"
" Sudahlah Wira, lanjutkan saja hidupmu! Sudah takdirku seperti ini!" Ucap Anthoni membuang muka sebab sebenarnya ia teramat sedih.
Apakah begini rasanya terseret dalam lembah kekelaman? Bukankah semua orang memiliki kesempatan yang sama untu memperbaiki diri?
" Jangan melibatkan hidupmu pada hidupku yang seperti ini. Hidupmu lebih mujur dariku!" Tukas Anthoni dengan hati yang sesak.
Dua pria yang tak pernah bahkan sulit mengekspresikan diri itu nampak canggung. Menit demi menit yang berjalan sombong haya terisikan oleh kebungkaman dua bersaudara itu.
Sama-sama bingung harus bersikap seperti apa dan bagiamana.
" Aku akan membalas keluarga Deo!"
" Untuk apa?" Jawab Anthoni nampak tak setuju.
" Agar mereka juga tahu arti sebuah kehilangan!"
" Kau jangan gila. Hiduplah bebas sesuai kemauanmu. Berteman dengan dendam hanya akan membuatmu cepat mati!"
Anthoni tak setuju sebab ia paham bila ini adalah konsekuensi dari perbuatannya sendiri.
" Aku tidak peduli!"
" Terserah!"
Wira menatap lekat dua mata kakaknya yang nampak lelah. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa membuat Anthoni mendapatkan keringanan hukuman.
Sebab menurut Wira, Deo harusnya bisa lebih objektif dengan membela Anthoni karena dia hanyalah suruhan.
.
.
" Papa Killo Alpha Golf Nancy ( PK - AGN)! Capten Bambang Sigit Wardana, refuel aftur di sembilan ..."
Suara bising engine pesawat yang bercampur sahutan handy talky di ruang operation itu, kini menjadi santapan hari-hari Dian yang sedikit banyak sudah bia menyesuaikan diri dengan lingkungan yang selalunya di penuhi oleh oatai pejantan itu.
Ya, semakin kesini, Dian semakin berubah lebih baik meski belum sepenuhnya.
" Yan, habis ini pindah posisi cargo seratus kilo ke belakang, penumpang penuh!"
Jujur saja, ia merasakan keanehan dalam dirinya. Bahkan, belakang ini ia membiarkan alisnya tumbuh dan tidak merapikannya seperti biasanya.
Walau untuk urusan penampilan, ia masih tak mau ambil resiko.
... Lu bilang ke Kak Demas kalau aku kemarin grogi ya? Sialan lu!...
Dian mendelik demi membaca sederet nomor yang baru itu. Dan dari kata-kata yang terbaca, jelas menegaskan jika itu merupakan nomor wanita mengerikan itu.
" Astaga, dapat nomerku dari mana dia?"
.
.
Dua pekan telah berlalu. Leo dan Bella kembali ke kota S sebab ada kewajiban pekerjaan yang musti mereka tunaikan.
Melody memilih tinggal di kediaman David sebab Opa juga masih ingin tinggal disana. Seperti biasanya, cucu dan kakek itu selalu menjadi pasangan paling best, sebab memilih kesamaan hobi.
Rencananya, beberapa hari lagi Claire juga akan datang ke kota B, sebab wanita itu sama sekali belum datang di acaranya Demas , sekaligus belum menjenguk sepupu itu karena kesibukannya yang begitu padat.
Seminggu ini pula, Demas rutin diantar Eva untuk terapi meski hasil yang di dapat masih jalan di tempat. Tidak ada yang instan dari sebuah perjuangan. Bahkan, selama ini mereka juga belum melakukan jamuan kasih bersama, karena fokus untuk pengobatan.
Deo dan Arimbi masih saja harus menjaga jarak, sebab mood ibu hamil benar-benar cukup membuat wanita itu uring-uringan, terkadang menangis, juga terkadang insecure dengan sendirinya.
Hari ini, Demas rencananya akan menempati kediaman barunya meski Mama Jessika masih melarangnya.
" Biar kami belajar Ma!"
" Kami ingin belajar mandiri!"
Begitu eyel Demas yang sebenarnya tak ingin membuat istrinya merasa tak nyaman karena tinggal satu atap bersama mertua. Apalagi, mulut Melody yang terkadang blong itu, acapkali membuat suasana makin bocor.
" Sebaiknya kamu cari supir juga pembantu. Kalian boleh pindah tapi tolong pikirkan sarat dari Mama!" Ucap David serius manakala mereka baru menyelesaikan makan siang.
" Minta Fadli untuk mencarikan supir berkompeten, dan pembantu yang sudah senior!"
.
.
Disuatu tempat dalam ruangan bersih dan nyaman, nampak seorang pria yang baru mencukur rambutnya duduk sigap di hadapan seorang Fadli.
Assisten siaga yang menyabet sederet penghargaan atas nama totalitas tanpa batas, juga dedikasi yang tiada henti.
" SIM lengkap? Bisa bawa kendaraan CC tinggi?"
Fadli yang diminta Demas untuk mencarikan supir berpengalaman nampak tertarik dengan seorang pelamar muda, yang memiliki sederet SIM yang sudah dipastikan keasliannya, juga sertifikasi beladiri.
Benar-benar pas sesuai kebutuhan.
" Nama lengkap?" Tanya Fadli membaca resume yang ia pegang. Dari riwayat yang tercantum, laki-laki yang usianya mungkin sama dengannya itu sepertinya berpengalaman.
" S. Rajandra!" Jawab laki-laki itu dengan sorot mata datar.
Fadli nampak memindai tampilan laki-laki itu dengan wajah berpikir. Agak ragu sebab mengapa pria setampan itu mau menjadi supir.
" Kenapa mau jadi supir, kau ini tampan. Kau bisa melamar di perusahaan bonafit karena penampilanmu!"
" Saya tidak tertarik menjadi karyawan Pak!" Sahut laki-laki itu datar. Membuat Fadli takjub
" Obyektif sekali dia sepertinya!"
" Bisa bela diri?" Tanya Fadli mengkonfirmasi sekali lagi.
Laki - laki itu mengangguk yakin.
" Baiklah, kau tunggu disini dulu. Aku segera kembali!" Ucap Fadli sembari mengangkat bokong dari singgasananya yang nyaman.
Sepeninggal Fadli, laki-laki tampan itu nampak menarik sudut bibirnya dengan senyum mengerikan.
" Selangkah lebih dekat denganmu. Keluarga Darmawan!"
.
.
.
.
.