
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Laki-laki ganteng itu sebenarnya cemas. Lebih tepatnya, ia ketar- ketir demi memikirkan kehidupannya setelah pulang dari airport nanti. Jika mamanya datang dan menemui Arimbi dalam keadaan seperti itu, bisa-bisa ia dikira melakukan KDRT.
" Kunci mobilku mana Rik, kamu tolong gantikan aku temui kolegaku di lounge. Astaga, aku sampai lupa!" Ucap Deo demi mengingat tujuannya masuk ke terminal tadi.
Semua sirna demi mengurus dua perempuan tadi.
" Anda mau kemana Pak?" Tanya Erik sembari menyerahkan kunci yang diminta oleh juragannya itu.
Deo tak menjawab namun kini lebih memilih menyambar kunci mobil yang baru diberikan oleh assistenya itu. Membuat Erik menggelengkan kepalanya.
" Bilang aja kalau udah mulai khawatir Pak... Pak. Makanya, jangan suka sesumbar. Giliran di gebet orang aja, enggak terima dia. Dasar buaya!" Ucap Erik bermonolog dengan nada mencibir, sambil berniat untuk keluar demi menjalankan titah yang mulia Deodoran.
.
.
Arimbi
Ia memilih melajukan motornya ke rumah ibunya terlebih dulu. Malas sekali pikirnya jika harus kembali ke rumah Deo cepat-cepat. Bibir Arimbi masih terasa ngilu. Bekas cakaran di tangannya pun, juga kini terasa kian perih. Padahal tadi tidak.
Ia membelokkan motor milik Deo dengan kondisi tenang. Namun, sesuatu yang tak ia duga kini makin membuatnya syok, kala dua netranya melihat ibunya menangis.
Keterkejutannya makin menjadi, manakala melihat lima orang asing dengan tubuh besar-besar yang sibuk mengeluarkan seluruh isi barang-barang berharga dari dalam rumahnya.
Membuat Arimbi tegang dan bingung dalam waktu bersamaan.
" Loh, ada apa ini?" Teriak Arimbi dan membuat adik dan ibunya menoleh karena terkejut.
Terkejut demi melihat wajah Arimbi yang babak belur.
" Ar!" Ibu seketika merengkuh tubuhnya sembari menangis. Wanita itu terlihat rapuh dan begitu lemah, " Kamu...kenapa wajahmu babak belur begini nduk?" Bu Ning yang dirundung kemalangan itu, kini bertambah sedih dan panik manakala melihat Arimbi yang pulang sebelum waktunya dengan keadaan wajah babak belur.
" Jangan khawatirkan aku, ini enggak sengaja tadi. Ini kenapa barang-barang kita pada di keluarin sih Buk?" Jawab Arimbi resah saat bertanya soal kekacauan yang mendadak tercipta.
Para tetangga yang melihat hal itu dari kejauhan terlihat saling berbisik.
" Adikmu terlibat pinjaman online dan karena gak bisa bayar mereka ngambil barang-barang kita Ar!" Ucap Ibu dengan suara terisak.
DUAR!
" Pinjaman online?"
Arimbi seketika menatap geram adiknya yang kini tertunduk dengan wajah murung. Ia menangis dengan tubuh yang seketika lemas. Belum juga ia bisa melunasi hutang peninggalan Bapaknya. Kini, ia harus menghadapi kenyataan memilukan lainnya yang di perbuat oleh Farel.
Sebagai saudara tertua, ia wajib menanyakan kejelasan soal ini, " Tunggu dulu, kenapa ini bisa begini?"
Membuat kegiatan orang-orang tersebut tejeda selama beberapa waktu.
" Adik anda sudah lima bulan menunggak pembayaran. Kami terpaksa melakukan ini karena di perjanjian sudah tertulis, apabila nasabah tidak memiliki itikad baik, maka kami berhak dan bisa melakukan penarikan secara paksa!"
DEG
Arimbi seketika mematung. Sama sekali tak mengira jika adiknya bisa melakukan hal merugikan seperti ini.
" Lima bulan?"
" Maaf, kami hanya menjalankan tugas dan prosedur yang sudah di sepakati bersama!"
Arimbi hanya bisa mematung usai mendengar kenyataan pahit itu. Adiknya benar-benar membuat hidupnya bagai di ujung tanduk.
" Kurang aj...!"
" Ar!!"
Ibunya menarik kaki Arimbi yang hendak menampar wajah Farel yang kini mulai menangis. Tak bisa lagi menahan diri meski beberapa orang itu masih sibuk keluar masuk mengambil dispenser juga lemari es dari dalam rumahnya.
" Jangan Ar, jangan! Sudah biarkan mereka mengambil apapun Ar, yang penting Farel enggak kenapa-kenapa!" Seru Ibu dengan suara terisak. Membuat Farel kini mengusap wajahnya sebab tak bisa lagi membendung kesedihannya.
" Ini yang embak bilang dari dulu! Jangan bergaul dengan orang yang enggak setara dengan kita Rel. Kamu ini dengerin embak enggak sih? Denger enggak?"
Farel hanya bisa diam saat Arimbi memiliki adiknya sebab begitu marah. Luka di wajah dan tangannya akibat Bullyan seniornya belum sepenuhnya reda. Kini, hati dan batinnya kembali dibuat sakit oleh kenyataannya pahit yang dibuat oleh adik laki-lakinya itu.
Namun, di tengah-tengah aksi pengambilan paksa benda-benda elektronik yang bisa dijual oleh pihak bank itu, sebuah mobil mewah datang dan mengejutkan keluarga Arimbi.
.
.
" Sebenarnya bukan Farel yang pinjam Buk. Farel enggak tau kalau jadinya begini!"
" Terus siapa?" Ketus Arimbi yang masih kesal dengan adiknya.
Membuat Bu Ningrum dan kedua anaknya duduk tercenung dengan wajah kuyup air mata, tepat di hadapan Jessika.
Mereka malu, sungkan, merasa kecil di hadapan wanita yang menjadi besannya secara mendadak itu. Terlebih, Jessika baru saja melunasi semua tanggungan yang tertuju pada Farel itu.
Laki-laki manis itu akhirnya menceritakan jika sebenarnya ia hanya meminjamkan KTP miliknya, tanpa tahu resiko dan konsekuensi di tipu. Farel menolong atas dasar rasa kemanusiaan, dan rasa kasihan pada temannya yang yatim itu.
Farel tak bisa menolak, saat teman bandnya meminta tolong karena kebingungan untuk biaya pengobatan Ibunya. Di jaman sekarang, kadang melakukan pinjaman online lebih bisa di jadikan alternatif, dari pada meminjam ke tetangga, yang justru akan memantik prahara lain.
Naas, teman Farel yang awalnya berjanji akan membayar rutin tenor yang di tentukan, kini raib entah kemana. Membuat segala tanggungjawab mau tidak mau terlimpahkan kepadanya. Ia bahkan tidak tahu, berapa nominal yang diajukan oleh rekannya.
Arimbi seketika merasa bersalah kepada adiknya. Apa mau dikata jika sudah seperti itu kenyataannya.
" Sudah, semua sudah tejadi dan Farel juga sudah jujur. Rel, menolong orang itu baik. Tapi, kita juga harus mengukur kapasitas diri!"
" Semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu ya nak!"
Farel tertegun demi mendengar nasihat dari Jessika. Merasa senang dengan sikap dan sifat keibuan yang begitu menonjol.
"Bu, sebaiknya ibu istirahat ya. Saya tadi kesini sebenarnya mau ngasih ini!" Ucap Jessika menunjukkan beberapa kue dari acara nya kumpul-kumpul bersama sahabatnya, Eka dan Arin.
"Repot-repot sekali Bu!" Jawab Bu Ning masih sungkan. Wanita itu jelas sungkan sebab heran, mengapa dengan mudahnya Jessika menggelontorkan uang demi menutup hutang anaknya yang begitu banyak.
" Tidak repot. Oh ya Ar, berhubung kamu disini, kamu ikut Mama sebentar ya. Mama ada perlu sama kamu!"
DEG
" Mama?"
.
.
Arimbi menggigit giginya sendiri demi menahan rasa pilu yang berkecamuk. Ia malu, sebab hutang segunung yang tertunggak akibat ulah adiknya tadi telah lunas di bayarkan oleh Jessika.
Ya, Jessika bersama supirnya datang kesana kesana karena berniat untuk bertemu Bu Ning. Tidak taunya, ia malah mendapati Arimbi juga sebuah kenyataan menyedihkan yang membuat Jessika teringat akan dirinya di masa lalu.
" Terimakasih banyak karena Bu Jessika sudah menolong saya!" Seru Arimbi dengan wajah malu.
Jessika tersenyum, " Sama-sama. Tapi, sekarang saya juga mau minta tolong sama kamu boleh?" Ucap Jessika dengan tatapan penuh arti. Membuat Arimbi mendongak.
"Bisa kamu tolong saya?" Ulang Jessika dengan tatapan lekat menatap Arimbi.
Arimbi mengerutkan keningnya. Apa semua yang dilakukan Jessika itu ada timbal baliknya?
" Ada apa Bu?" Tanya Arimbi ragu.
" Buat anak saya jatuh cinta sama kamu dan melupakan Roro. Saya akan bantu kamu melunasi hutang mendiang Bapak kamu, deal?"
DEG
Darimana wanita cantik itu tahu soal hutang piutang Bapaknya? Dan tunggu dulu, membuat Deodoran jatuh cinta? Astaga, ia bahkan baru saja dimarahi oleh pria itu.
" Ar!" Ucap Jessika mengulurkan tangannya meraih tangan Arimbi yang nampak terkejut. Merasa ini harus cepat di pungkasi.
" Jika tidak bisa, setidaknya buat Deo agar jauh dari Roro. Mama hanya tidak ingin anak Mama merasakan sakit hati dan kekecewaan nak"
Membuat Arimbi tertegun sembari gencar berpikir. Apa Jessika tengah membuat satu permohonan?
" Kamu tahu nak, Mama dulu memerlukan waktu yang lama saat menanti kehadiran Deo dalam rahim Mama!"
Arimbi menekan ludahnya ke dalam esofagunya. Bagiamana ini, mengapa ia tak tega menatap Jessika yang kini menatapnya dengan air mata yang sudah berurai.
" Tolong mama nak, wanita itu tidak baik untuk Deo!"
" Maaf Ar, saya terpaksa begini ke kamu. Entah mengapa, saya merasa melihat diri saya dalam diri kamu!" Batin Jessika yang menatap Arimbi yang nampak bingung itu, penuh harap.
.
.
.
.