
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Claire
Otaknya mendadak buntu, bahkan tak bisa berpikir normal saat ini. Mengapa ia bisa kecolongan, mengapa ia tak mengetahui bila Sadawira merupakan orang yang bekerja pada keluarganya?
Bukankah Sadawira seorang pengusaha sukses?
Serentetan kejadian itu semakin menguatkan dugaannya bila Wira jelas-jelas memanfaatkan dirinya demi kepentingannya untuk membalas dendam.
Merasa dirinya begitu kotor demi mengingatkan kejadian malam itu.
" Claire tunggu dulu, aku bisa...."
PLAK!
Belum cukup rasanya ia menumpahkan kekesalan, kekecewaan, dan ketidakterimaan yang mendadak menyerangnya saat ini. Dengan terengah-engah Claire menampar wajah Wira dengan keras.
Tangan Claire bahkan sampai terasa sakit saking kerasnya kala menampar wajah pria yang pernah bercumbu dengannya itu.
" Aku bisa jelaskan. Tolong beri aku kesempatan bicara!" Ucap Wira muram dengan tatapan mengiba yang tak mempedulikan wajahnya yang pedih usai di tampar oleh Claire.
" Jelasin apa, jelasin kalau ternyata aku bodoh, mau kamu rayu biar kamu bisa balas dendam? Menjijikan!" Ucap Claire lagi dengan kekecewaan yang berada di puncak.
Sejurus kemudian, wanita itu pergi dengan rasa kecewa yang tiada bertepi.
" Claire!"
" Claire!"
Teriak Sadawira sembari menangkap tangan Claire yang terus menghindar.
" Lepaskan Claire!" Suara berat seorang David Darmawan membuat keduanya menoleh. Nampak juga seorang wanita cantik yang kini menatap keponakannya dengan tatapan cemas.
Membuat Sadawira seketika melepaskan tangan Claire yang semula ia pegang. Ya, semenjak ia mengetahui bila Claire merupakan anggota keluarga Darmawan, Sadawira merasa tensi kebenciannya seketika memudar.
David nampak memajukan langkahnya dan kini berhadapan dengan pria tampan yang nampak tak baik- baik saja itu.
" Papa!" Seru Deo dari dalam bersama para sandera yang kini telah di bebaskan. Menatap papanya dengan tatapan penuh arti.
Kini, entah mengapa Wira hanya terfokus kepada Claire yang menatapnya penuh kebencian. Hatinya benar-benar dibuat tersiksa oleh sikap Claire yang jelas-jelas nampak benci kepadanya.
David mengangguk paham kala anak sulungnya memberikan kode lewat kedipan dan anggukan, dengan maksud untuk segera pergi dan membahas hal ini di kediaman mereka.
Semua itu terjadi sebab ada beberapa hal yang harus mereka gali, terutama soal Claire.
.
.
Setibanya di rumah besar keluarga David, ada hal yang membuat mereka terkejut. Claire langsung masuk dan mengunci kamar yang biasa ia tinggali.
Membuat Melody yang pagi jelang siang itu baru selesai workout, menatap bingung saat kakaknya melintas dengan mata sembab.
" Biarkan dia dulu!" Seru Jessika yang kini bingung sebab Claire berubah murung. Yang jelas, ia tahu bila sesuatu memang telah terjadi.
Jessika dan Claire pulang diantar oleh Fadli, sementara yang lainnya membawa Demas dan anggota keluarga yang lain menuju rumah sakit guna menjalani pengobatan.
Mereka juga membiarkan Sadawira pergi sebab ada hal yang harus diluruskan disini. Lagipula, soal Zakaria juga Antoni, sepertinya mereka akan melakukan tindakan setelah ini.
Sama sekali tak bisa menunda bila sudah menyangkut soal keadilan.
David terlihat sibuk berbincang dengan Tomy anak bungsunya nampak di obati. Eva nampak setia mendampingi sang suami yang kini menjalani pengobatan di area wajahnya yang babak belur akibat di hajar oleh Sadawira.
Ibu Eva bersama bik Sulis juga nampak mendapat perawatan lantaran syok dengan kejadian itu.
Sementara Deo bersama Erik nampak berbicara serius di lobi dekat ruang tindakan adiknya.
" Apa mereka mengenal satu sama lain? Atau ada hal lain yang sedang terjadi yang tida kita ketahui bos?" Terka Erik demi rasa penasarannya akan Claire.
" Pikiran mu sama denganku Rik. Aku melihat tatapan keterkejutan dari mata Rajandra!"
Kini, keduanya sama-sama tertegun demi mencoba menarik benang merah dari selaksa persolan serta peristiwa yabg yang terjadi.
.
.
Sadawira
Telah lebih dari sebotol minuman ia teguk. Di sampingnya ada puluhan chat dalam ponsel yang ia kirim kepada Claire namun sepertinya nomor wanita itu telah tidak aktif.
Ia juga semakin frustasi kala nomor yang ia panggil, sekali tak bisa. Membuat kepalanya serasa mau pecah. Apalagi, David sudah tahu jika ia merupakan otak penyebab kecelakaan Demas
Membaut segala sesuatunya semakin runyam.
" Bos, tolong jangan begini!" Ucap Boni muram.
" Jangan menyiksa diri bos!"
Meski ia tak tahu apa yang sebenarnya di pikirkan oleh bosnya, namun Boni semakin resah manakala melihat bosnya yang tak pernah se kacau ini.
" Kenapa aku tidak mengetahui bila Claire adalah sepupunya Demas Bon?" Tanya Wira dengan tatapan mata kosong, di hadapan gelas dan minuman itu.
Boni membuka sebuah lembaran. Pria itu sangat bisa bergerak cepat. Ia berinisiatif mengumpulkan informasi soal Claire. Wanita yang ia lihat menjadi sumber perubahan sikap bos-nya tadi.
"Saya barusan mencari informasi tentang silsilah keluarga Darmawan. Nona Claire merupakan anak pertama dari putra kedua Pak Edy Darmawan bos. Leo Prawira.
" Mereka selama ini tinggal di kota lain!" Jawab Boni dengan hati-hati.
Membuat Sadawira seketika terjun dalam jurang penyesalan demi mengingat serentetan cerita yang pernah dilontarkan oleh Claire.
" Aku selama ini tinggal di S. Tapi masa kecilku disini!"
" Aku dirumah Pakde ku!"
Sama sekali tak mengira bila Pakde yang di maksud adalah David Syailendra Darmawan.
Nyatanya, sekuat dan segagah apapun seorang lelaki, bila permasalahan yang di hadapi menyangkut perasan, hati dan wanita yang ia cintai, sudah bisa di pastikan jika waktu yang bergulir, akan sulit ia gunakan untuk tidur nyenyak.
...🌿🌿🌿...
Sebulan lebih berlalu pasca kejadian itu. Demas nampak mendapatkan kemajuan dalam kesehatannya. Semua itu atas kolaborasi yang baik antara Eva dan Jessika yang tiada lelah untuk mencari obat-obatan terbaik, serta terapis yang kawakan.
Disamping itu, sepertinya Tuhan memang memberikan ujian seperti ini, agar mereka semua menyadari betapa pentingnya arti keluarga yang rukun.
Ada harga mahal yang harus di bayar demi sikap tahan uji.
Para pejantan dalam lingkup keluarga Darmawan telah membereskan apa yang seharusnya mereka berantas dari dulu. Meski tidak bebas secara serta merta, namun hukuman mati tak jadi dijatuhkan kepada kakak dari Sadawira.
Kerja keras Sadawira terbayarkan meski baru beberapa tahun lagi ia akan hidup bersama kakaknya. Sebab seorang penjahat, harus mendapatkan bagiannya.
Kini, ia menyadari, bahwa akan ada konsekuensi besar dari sebuah kejahatan, walaupun itu hanya secuil.
Oknum yang menerima suap dari Zakaria tertangkap usai David menyewa tim investigasi guna membongkar kebusukan oknum tak bertanggung jawab itu.
Sangat sulit, bahkan waktu yang mereka gunakan cukup lama. Nyaris habis tiga Minggu. Tapi begitulah kebenaran, ia akan tetap bersinar pada waktu yang seharusnya.
Kini, tinggallah seorang Sadawira yang batinnya semakin tersiksa, lantaran usahanya untuk menemui Claire selalu sia-sia. Wanita itu sepertinya benar-benar membencinya.
" Claire tidak mau keluar!" Jawab Jessika yang terkejut tatkala melihat sesosok pria yang kini nampak lebih kurus, berasa di depan kediamannya.
Hingga, ia tak jera dan ingin berusaha, mendapatkan fakta mengecewakan.
" Claire sudah kembali ke kota S!"
Demikian jawaban yang seketika meluruhkan segala harapannya, kala ia mengetahui bila wanita yang ia cintai telah meninggalkan kota B.
Tanpa ucapan, tanpa pertemuan. Bahkan, tanpa ia menjelaskan tentang yang sebenarnya terjadi. Claire telah pergi.
Dan ini akan semakin sulit baginya.
Ini salahnya, ini juga dosanya. Terlalu larut dalam pusaran api kebencian, yang nyatanya kini justru menghanguskan dirinya sendiri.
.
.
Kota S
Telah dua Minggu ini, Leo dan Bella semakin khawatir dengan kondisi Claire yang enggan keluar bahkan tak pernah berkomunikasi dengan mereka lagi.
Hingga detik ini, baik David maupun Leo belum mengetahui duduk persoalan yang terjadi antara Claire dan Sadawira.
Yang Leo tahu, Jessika mengatakan bila pria bernama Sadawira itu sering datang untuk bertemu Claire.
Membuat Leo hari ini memutuskan untuk mendobrak kamar Claire karena seharian ini, Bella mengatakan jika anak mereka itu sama sekali tak keluar kamar.
BRAK!
Pintu yang berhasil terjeblak dengan paksa itu membuat Bella dan Melody bernapas lega.
" Claire!"
" Claire!"
Bella yang cemas nampak mengekor di belakang suaminya bersama anak bungsunya.
Namun,
" Huek!"
" Huek!"
Bella, Leo dan Melody yang mendengar suara orang muntah seketika berlari menuju kamar mandi.
DEG
Mereka semua terkejut demi melihat Claire yang lemas dan nampak begitu pucat kini bersimpuh dilantai kamar mandi.
" Astaga Claire! Kamu kenapa nak?"
.
.
.
.