
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
" Pastikan semua tertangani dengan baik. Hotel bagiamana?"
Deo rupanya sengaja boarding terakhir karena menemui beberapa orang penting yang telah bersinergi dengan perusahaannya terlebih dahulu. Pria itu benar-benar bisa mengakomodir skala prioritasnya dengan baik.
" Aman Pak. Nanti ada orang kita yang jemput di sana!"
" Arimbi?"
" Sudah di gate sama teman-temannya. Tadi, sepanjang perjalanan dia hanya diam. Enggak kayak biasanya!"
Deo mengangguk namun sejurus kemudian tertegun. Ia menyadari, seminggu terakhir ini ia memang disibukkan dengan kegiatan rapat, pertemuan dengan orang Nawangsa Pura, bahkan sesi zoom dengan orang kementrian di TGR. Benar-benar tak memiliki waktu untuk sekedar menjahili Arimbi.
" Mas Demas juga sudah datang. Beliau akan bersama anda atas permintaan Bu Jessika. Maaf saya..."
" Tidak masalah!" Sahut Deo cepat demi melihat kekuatiran dari wajah assistenya itu. Lagipula, ia sudah tidak marah kepada Demas. Kadang, seseorang memang ekstrem dalam menunjukkan kebaikannya.
Demas salah satunya.
Erik takut jika Deo marah. Tapi ia lebih takut kepada David, jika permintaan Jessika tak segera tertunaikan. Benar-benar bagai memakan buah simalakama.
Dua pria gagah yang merupakan saudara sekandung itu terlihat berjalan tegap penuh karisma, manakala last call atau panggilan terkahir terdengar meraung di setiap penjuru bandara.
Demas terlihat biasa saja dan berjalan lurus dengan wajah datar seraya mengenakan kacamata hitamnya, terlihat cool.
Sementara itu, Deo terlihat tersenyum tipis sembari sesekali mengangkat tangannya manakala menyapa anak buah yang melintas, maupun beberapa orang yang ia kenal.
Nampak sangat berwibawa.
" Selamat datang di penerbangan kami Pak!" Greeting penuh nada keramahan, dari salah satu cabin crew senior manakala dua penumpang terakhir itu memasuki pesawat.
Arimbi melirik lega, kala melihat Deo yang telah memasuki kabin pesawat itu bersama Demas.
" Demas jadi ikut rupanya?"
Eva yang asik selfi tak menggubris kehadiran dua orang ganteng yang cukup mengundang perhatian itu. Ya, Eva tak mengetahui dan tak menyadari kedatangan dua bersaudara itu sebab asik foto dan ingin pamer di medsos miliknya.
Benar-benar definisi dari norak tapi beken. Ahay!
Arimbi dan Eva sama-sama duduk di satu seat di lajur kiri, sementara Daniel terlihat duduk aisle seat di lajur sebelah kanan. Pria itu terlihat sibuk mencumbu jarinya dengan layar pipih yang ia bawa. Entah apa yang dikerjakan oleh pria berparas rupawan itu.
Lalu, bagiamana Deo dan Demas?
Jangan di tanya lagi. Jelas dua petinggi kerajaan itu tengah duduk manis di kursi bisnis yang ada di baris depan mereka. Terpisahkan tirai khusus berwarna merah. Membentangkan kasta yang jelas tak bisa di sangkal oleh siapapun.
Deo sesekali melirik istrinya yang nampak pias dan berwajah murung. Membuat Deo menarik napas dalam-dalam.
Deo terpaksa mereservasikan ketiga anak buahnya di kelas ekonomi sebab tak ingin mengundang perhatian. Lagipula, ia tak ingin melihatnya Arimbi terus di ajak ngobrol oleh adiknya.
" Pak Deo silahkan!" Arimbi mengernyit kala melihat pramugari yang terlihat begitu akrab, saat menyuguhi Wellcome drink kepada dua orang penghuni seat bisnis itu. Mereka bahkan saling tergelak dan berbicara dengan suasana yang begitu karib.
" Dasar buaya!" Ucap Arimbi yang mendadak tak suka.
" Hah?" Daniel yang mendengar Arimbi mengatakan" buaya " dari sampingnya, seketika menatap heran ke arah wanita itu.
What the hell?
Membuat Arimbi meringis dengan wajah keranjingan. " Enggak mas, ini lihat majalah! Aku kira gambar buaya!" Jawab Arimbi malu sembari mengangkat majalah bertulisan Tropis itu.
Daniel menatap garing ke arah Arimbi yang terlihat aneh. Tersenyum seraya menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Pasalnya, majalah di kabin pesawat itu jelas-jelas majalah yang menyuguhkan beberapa daftar kuliner dan citra rasa the Archipelago ( kekayaan Nusantara).
Bukannya flora dan fauna.
.
.
Naik belakangan, dan turun duluan. Itulah definisi sultan yang berada di lingkup pesawat terbang. Terlihat eksklusif dan berbeda.
Sepanjang perjalanan yang memakan flying time dua jam lebih tadi, Arimbi melihat Daniel yang tertidur dengan pulasnya mengenakan masker dan juga neck doll.
Pria itu benar-benar terlihat lelah.
Jelas lelah. Ia tahu jika tanggung jawab yang di emban Daniel sungguh seabrek. Bergelut dengan hal riskan yang berhubungan langsung dengan safety and security awareness.
Sementara Deo dan Demas. Dua pria itu nampak terus ngobrol dengan pramugari senior cantik, dan terlihat begitu akrab. Membuat Arimbi merasakan kesal, dan rasa tak nyaman lainnya yang cukup membuatnya resah.
Are you jealous?
" Mengajakku hanya untuk menunjukkan hal kayak gitu. Menyebalkan sekali!"
Arimbi bahkan sempat membuang pandangannya dan memilih menoleh ke sisi Eva yang kini justru molor dengan mulut setengah terbuka.
" Hah, astaga! Mereka semua kok bisa tidur dengan mudahnya sih?" Batin Arimbi kesal.
Welcome to Tenggarang Airport.
...----------------...
Arimbi serta Eva dan juga Daniel nampak sibuk menurunkan carry on baggage yang mereka tempatkan pada headtrack mereka masing-masing. Saat Deo dan Demas telah lebih dulu meluncur menuju terminal kedatangan.
" Aku bawakan ya? " Tawae Daniel yang merasa Arimbi kerepotan.
" Oh enggak usah Kak. Aku..."
" Cie.. Cie, jangan nolak lah. Itu kan juga rejeki Ar. Terima aja. Iya nggak kak?" Eva menaikturunkan kedua alisnya seraya menggodai Arimbi. Membaut Daniel terkekeh.
" CK, jangan mulai!" Tukas Arimbi dengan mata melotot.
Membuat Eva justru tergelak saat melihat Arimbi yang mulai marah.
Mereka lantas berjalan beriringan menuju ke terminal kedatangan. Daniel yang sibuk berteleponan dengan seseorang membuat keduanya penasaran.
" Kami sudah di arrival desc Pak. Oh baik-baik. Ya, kami sedang menunggu bagasi. Baik! Kalau begitu biar kami menunggu di lost and found saja. Siap! Baik Pak Deo. Nggeh!"
" Siapa kak?" Tanya Eva begitu sambungan telepon itu terpungkasi. Tak bisa menahan dirinya untuk tak bertanya.
" Pak Deo. Beliau nunggu di kantor cabang kita. Habis ini kita nyusul kesana! Biar aku yang antre bagasi. Kalian nunggu di LL aja ya, yok aku antar!"
Arimbi hanya terdiam. " Bahkan dia seakan-akan tidak mengenaliku. Dasar deodoran!"
Batin Arimbi yang kesal sebab merasa di abaikan.
.
.
BRUK!
KROPYAK!!
PRAK!
PRAK!
PRAK!
Suara ponsel yang terpelanting sebanyak beberapa kali itu, sukses membuat sang empunya benda berharga itu mendelik.
" Aduh, ini gimana sih kalau jalan!" Eva mengomel dengan wajah kesal, manakala seseorang menabraknya dan membuat ponselnya bahkan terpelanting, dan menimbulkan keretakan pada layarnya.
" Anda yang berjalan tidak lihat-lihat. Ini kawasan ramai, kenapa anda bisa ceroboh?"
Demas yang baru keluar dari toilet, dan hendak kembali ke ruangan dimana kakaknya berada, justru dibuat tak mengerti dengan wanita yang mengomel, dan nampak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia perbuat sendiri.
" Yee, situ yang enggak hati-hati. Aduh, mana ponsel belum lunas udah rusak. CK, sialan!" Eva yang juga terburu-buru sebab kemihnya penuh itu, sibuk memposting fotonya dan tak melihatnya lalu lalang di depannya.
Demas yang menyadari jika memang ia tak salah, langsung ngacir tanpa mau mendengar ocehan wanita bermulut kasar itu.
" Woy! Lah malah pergi. Setan tuh orang. Bukannya tanggung jawab malah pergi!"
Demas menggelengkan kepalanya. Mimpi apa dia semalam. Mengambil bertemu dengan wanita tidak tahu malu macam orang tadi.
.
.
" Kenapa pulang dari pipis wajahmu begitu? Toiletnya antri lama?" Tanya Arimbi saat Eva kembali masuk ke ruangan lost and found ( ruangan petugas bagasi bandara TGR, tempat dimana Daniel mengajak mereka menunggu sementara disana).
" Bukan. CK, ponsel ku nih, lihat!" Eva menunjukkan ponselnya yang retak pada again kaca depannya dengan wajah berengut.
" Hah, kenapa bisa begitu?!" Arimbi meraih ponsel Eva yang kini retak.
" Tau tuh, ada orang stres lewat. Bukannya minta maaf atau apa, dia malah main minggat aja!" Sungut Eva yang benar-benar tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Arimbi menatap prihatin rekannya yang terlihat kesal.
" Udah, nanti di cek dulu dalemannya kalau udah nyampe ke hotel. Semoga enggak kenapa-kenapa. Kalau LCD nya enggak kena sementara pakai itu dulu. Namanya musibah!" Tutur Arimbi yang nampak prihatin.
" CK, pingin aku gampar aja rasanya tuh orang!"
" Va, Ar, yuk. Pak Deo dan adiknya udah datang. Kita ke hotel sekarang, bagasinya juga udah complete!" Daniel yang terlihat menjengukkan kepalanyake pintu dari kaca itu, membuat keduanya mengalihkan atensi.
Kedua wanita itu mengangguk, lalu dengan segera mengikuti langkah Daniel.
Namun, saat mereka berdua kini telah berada di luar, keduanya kompak membulatkan matanya, demi melihat hal yang masing-masing membuat dua betina itu terkejut.
Deo terlihat berpelukan dengan seorang wanita yang tidak Arimbi kenali. Terlihat cantik dengan pakaian mahal dan bergaya elegan. Membuat hati Arimbi mendadak nyeri.
Dan Eva, wanita itu nampak melebarkan matanya demi melihat pria yang tadi ia damprat, turut larut dalam obrolan Deo dan wanita itu.
Eng Ing Eng
🤣🤣🤣
.
.