
...πΏπΏπΏ...
...β’...
...β’...
...β’...
Deo
" Kak Deo, kak Demas!!!!" Teriakan seorang wanita sukses membuat kedua pria ganteng itu menoleh.
Tak mengira jika ia akan bertemu dengan Claire. Anak dari adik Papanya. Apa sebutannya? Adik sepupu begitu?
Ya, Claire merupakan anak Om Leo dan tante Bella, wanita tinggi semampai yang wajahnya lebih condong ke papanya itu, berusia dua tahun lebih tua dari Deo.
"Kenapa enggak bilang kalau datang kemari. Perasaan storimu kemarin di Miangas deh. Kenapa mendadak ada di sini Kamu sendiri?" Deo mencecar pertanyaan sepupunya dengan raut senang.
" Ada workshop dadakan soal UMKM sama team kampus aku dulu Kak. Ini aku juga baru landing. Tadi aku transit dulu soalnya Duh, Pakde sama Bude gimana, sehat semua? Kakak kapan nikah?" Balas Claire dengan semangat usai melepaskan pelukannya.
Ya, pertemuan tak sengaja di area kedatangan itu membuat keluarga Darmawan hanyut dalam obrolan. Nyatanya, dewasa justru membuat satu sama lainnya jarang bersua.
Demas hanya diam saat kakaknya di berondong pertanyaan oleh saudara sepupunya itu.
" Tunggu aja. Nanti baka...."
" Pak!"
Suara Daniel menginterupsi mereka. Membuat Deo urung meneruskan ucapannya.
Demas sebenarnya agak terkejut, demi melihat wanita yang tadi sempat mendamprat tanpa tedeng aling- aling. Namun, as ussualy pria itu nampak menunjukkan ketenangan, yang ia kemas dalam raut datar.
Deo yang melihat pancaran kekesalan di wajah Arimbi, seketika menarik seulas senyum.
" Mari kita lihat, apa dia juga memiliki perasaan yang sama?"
" Emmm Daniel, kamu meluncur duluan sama Eki ya. Saya sama Demas mau ngobrol dulu. Kamu tinggal ke resepsionis. Erik udah atur semua!"
" Siap Pak!"
"Yuk sayang! Dan, jangan lupa kalau udah sampai kabari saya!"
Deo menggandeng tangan Claire dengan wajah berbinar. Pun dengan Demas yang turut memegangi punggung saudara sepupunya itu.
Daniel mengangguk tanpa curiga, sementara dua wanita itu menjadi speechless di waktu bersamaan. Termenung dalam versi masing-masing.
" Kak, yang tadi itu siapa sih?" Eva kini bertanya dengan wajah bersungut-sungut, demi ingat akan tatapan tajam pria yang menyebabkan ponselnya retak tadi.
" Yang mana? Yang perempuan aku ngga kenal!" sahut Daniel.
" Itu yang laki!"
" Oh itu, itu kan adiknya Pak Deo. Namanya Pak Demas! Masa kamu ngga kenal? Orangnya sering kok riwa-riwi ke Airport." Tutur Daniel yang kini berjalan beriringan seraya menggeret koper hardcasenya.
" Hah!" Eva mendelik.
Astaga!
Wanita yang gemar mengenakan eyeliner itu nampak menggigit bibir serta mencubit sebelah pipinya frustasi.
" Jadi dia adiknya Pak Deo? Waduh gimana dong ini, bisa berabe ini urusan!" Resah Eva dalam hati.
" Kenapa sih?" Tanya Daniel heran. Menatap Eva yang mendadak gelisah.
" Enggak apa-apa. Orangnya kelihatan serem!" Jawab Eva meringis.
Dan saat Daniel dan Eva sibuk merasai Demas. Arimbi sedari tadi justru tercenung demi teringat akan siapa wanita yang menempel bersama suaminya.
Mengapa sangat akrab dan di panggil sayang oleh Deo.
" CK, kenapa aku bisa se kesal ini?" Batin Arimbi yang benar-benar gundah.
Mendadak lesu sebab ia teringat akan suatu hal yang menyentil logika.
Bukankah bos bisa berbuat apa saja?
.
.
Hotel Panorama
Daniel yang diantar oleh Eki kini membawa serta dua wanita di bawah tanggungjawabnya itu, menuju ke sebuah hotel yang berada di pusat kota. Berjarak sepuluh kilo meter, dari Bandara Tenggarang.
" Nih!" Daniel menyerahkan dua card lock kepada dunia wanita itu.
" Kenapa kamarnya enggak samaan sih, aku takut kak!" Jawab Eva saat Daniel memberikan kunci berbentuk kartu itu.
" Gak tau, aku tinggal ambil aja. Mas Erik yang udah ngurus semua. Udah, mending kita masuk. Kita istirahat dulu. Nanti malam kita ada acara buat ketemu orang otoritas!"
Eva manyun. Walau sepecicilan apapun perempuan itu, ia sebenarnya agak takut jika sendirian.
" Psstt! Ar, elu kenapa diam aja. Kesambet lu?"
Eva yang kini mulai berjalan di belakang punggung lebar Daniel bersama pegawai hotel itu, baru menyadari kebungkaman rekannya saat ia kini berjalan bersisian.
" Enggak kok. Mungkin capek aja. Tadi waktu kalian tidur di pesawat, aku enggak bisa tidur!" Balas Arimbi tersenyum simpul. Mana mungkin mengutarakan isi hatinya yang keruh itu.
" Kamar aku di ujung, kalian adep- adepan di sini. Tetap nyalain ponsel ya. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan buat hubungi aku. Dah sekarang kalian istirahat. See you!"
Eva mengangguk manakala Daniel menjelaskan hal itu. Arimbi pun sama. Hanya saja, hingga saat ini hati dan jiwanya resah manakala mengingat Deo yang saat ini entah kemana.
" Kenapa pria itu susah di tebak?"
.
.
Arimbi
Ia nampak terpukau dengan kamar yang akan ia tempati selama beberapa hari kedepan itu. Kamar yang lebih bagus dari kamar dirumah Ibu. Ukurannya luas, terdapat mini sofa yang terletak di tepi dinding kaca lebar transparan.
Di sebelah sana lagi, terdapat meja multifungsi, juga beberapa alat penunjang lain yang sungguh membuat Arimbi berdecak kagum.
Di sebelahnya juga terdapat pintu kamar mandi yang mudah ia jangkau. Satu hal yang menarik, ada Wellcome drink yang menyambutnya siang itu.
Arimbi sejenak melupakan kecemburuan hatinya soal Deo yang bersama seorang wanita tadi. Ia terlalu terpana akan pemandangan kota yang terhampar padat, yang dapat ia nikmati kala membuka tirai dinding kaca kamarnya.
Wonderful!
Ia melempar tubuhnya ke atas kasur lebar yang rapih dan wangi itu. Menggerakkan tangannya membentuk pola busur. Mirip anak kecil yang kegirangan.
" Hah, baru kali ini kerja kek orang healing- healing!" Arimbi tekrikik-kikik. Sungguh pengalaman kerja yang menyenangkan.
" Semoga suatu saat aku bisa ajak Ibu sama Farel jalan-jalan!" Harapnya penuh kesungguhan.
Tanpa terasa, Arimbi yang berniat hanya bermain-main itu, malah hanyut bersama kantuk yang berkawan dengan rasa lelah.
Ya, Arimbi tertidur manakala kenyamanan mulai melenakan dirinya yang letih itu.
.
.
Deo
" Hati-hati, kalau pulang nanti, sampaikan salamku pada Om dan Tante, juga Opa!"
" Kami disini beberapa hari, kalau butuh bantuan langsung telpon aja!" Seru Demas serius.
" Wah gini nih enaknya punya abang laki ya!" Sahut Claire tersenyum senang.
Deo mengantar Claire hingga ke lobi depan. Memastikan jika sepupunya itu telah berada di kendaraan yang seharusnya.
" Pasti. Kalian yang rukun ya. Buruan nikah. Pak direktur itu enggak baik kalau lama-lama membujang!" Ucap Claire mengelus dua lengan kokoh kakak sepupu yang usianya di bawahnya itu.
" Kau saja belum begitu!" Ucap Demas dengan wajah datar.
" Ya, mau gimana lagi. Hidup itu enggak ada yang tau. Pacarannya sama siapa, nikahnya sama siapa!" Balas Claire yang ingat akan kekasihnya yang meninggalkan dirinya, demi wanita lain.
Membuat Deo merasa tersindir. Sebab apa yang terjadi antara dirinya dan Roro, begitulah adanya.
Claire menghilang bersamaan dengan mobil yang membawanya melesat jauh. Menyisakan fatamorgana akibat cuaca terik disana.
" Boleh aku tanya?" Ucap Demas kala keduanya berjalan beriringan menuju mobil, yang akan membawa mereka menuju hotel.
" Ya?" Balas Deo yang kini sibuk membuka ponselnya sembari berjalan.
" Siapa wanita yang bersama Arimbi tadi?"
Deo menghentikan langkahnya, lalu menatap adiknya lekat, " Yang rambutnya panjang tadi?"
" HM!"
" Oh itu anak buahku. Nah, itu yang mau aku rekomin ke kamu buat jadi ikon kosmetik di mall baru kamu. Dari pada pusing nyari amoy amoy sexy tapi belum dapat. Pakai aja dia, free of charge!" Ucap Deo tersenyum sebab sepertinya suasananya telah mencair.
" Dia aku bawa kemari atas rekomendasi Erik. Jago dandan dia!" Timpal Deo kembali, demi mengingat reason atau alasan Deo membawa serta Eva.
Membuat Demas menyunggingkan senyum liciknya.
" Siap-siap kau gadis kurang ajar!"
.
.
.
.
.
Ojo lali like and komen e Yo rek.
sukur-sukur, mommy di kasih mawar πΉππππ
.
.
Yang pingin tahu siapa Leo dan Bella, baca di karya pertamaku " Nada Cinta Jessika"