My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 90. Sirnanya kegundahan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Eva


Ini merupakan kali pertamanya mereka beradu pandang, setelah beberapa kali terlibat pertemuan dalam keadaan impulsif. Pertemuan yang tak jarang justru membuat keduanya ribut.


Ia juga heran, mengapa beberapa waktu belakangan ini, ia kerap di pertemukan dengan pria yang sangat hemat ngomong itu. Meski waktunya benar-benar tak di sengaja.


" Baiklah saya duluan kalau gitu!" Sahut Eva demi memungkasi kecanggungan yang tercipta.


"Terimakasih banyak pak Demas sudah mau ngantar saya. Tapi ..bisa tidak saya minta tolong sekali lagi?" Eva nyengir sambil memegang lengan Demas dengan tatapan memohon, juga sorot mata puppy eyes.


Benar-benar sok imut.


Demas terbengong-bengong demi melihat wajah yang terlihat aneh di depannya itu.


" Apa?" Ucapnya Demas datar. Sedikit curiga dengan wanita di depannya itu. Akal bulus apalagi yang hendak dilakukan.


" Jangan bilang-bilang kalau saya baru di keroyok ya Pak. Bilang aja saya kenapa gitu, pokoknya jangan bilang kalau saya habis begini. Please!"


Demas yang rautnya masih tak berubah, masih datar dan lempeng itu , terlihat menatap jari-jari bersih Eva yang kini menangkap lengan kekarnya.


Anehnya, Demas tak marah.


" Kau ini merepotkan saja!" Sahutnya pura-pura menatap ke arah lain sebab mendadak ia menjadi grogi. Nah loh!


" Yaelah Pak Dem, katanya mau nolongin, ya sekalian aja dong! Tolong yah..yah?" Turut Eva kembali menggoyangkan lengan pria tampan itu.


" Siapa bilang aku mau nolongin, aku cuman bilang mau nganterin tadi kan?" Ketus Demas masih tak berani menatap wanita ceplas-ceplos itu.


" Ya sama aja kali Pak. Kan judulnya udah nolongin saya CK, duh kok jadi debat sih!" Eva berengut. Melirik Demas seraya memikirkan sesuatu.


" Oke, kalau Pak Demas enggak mau...aku cii..."


" Ehh...Ehh..Ehh..."


Demas seketika menjauhkan tubuhnya mundur ke belakang, manakala melihat Eva yang bibirnya sudah di monyongkan.


Sama sekali tak mengira jika Eva benar-benar agresif, dan hendak mencium Demas demi memaksa pria itu agar tunduk kepada titahnya.


Definisi dari ilmu kelicikan.


Membuat pria itu menatap ngeri Eva. Haish, apa dia selalu bodoh seperti ini?


" Makanya tolong saya. Masuk yuk!" Eva merengek putus asa sembari terus menarik lengan pria itu.


Demas menghembuskan napas seraya mengelus dada. Wanita di sampingnya itu benar-benar lain daripada yang lain.


Astaga!


.


.


Demas


" Aku pulang!" Seru Eva saat wanita itu baru membuka pintu rumahnya.


Ia mengekor di belakang gadis mengerikan itu sembari memindai tampilan dalam rumah Eva. Rumah bersih dengan perabot minimalis.


" Eva, wajah kamu kenapa itu?" Tanya seorang wanita berambut pendek dengan wajah yang agak pucat. Menyongsong kedatangan mereka dengan tatapnya.


Demas mengikuti Eva masuk ke ruang tengah dimana wanita itu duduk, dengan sebuah televisi yang tengah menyala.


" Nggak apa-apa, tadi jatuh dari motor. Buk kenalin, ini Pak Demas. Adik dari bos Eva! Beliaulah yang nolongin Eva. Tadi ketemu berlaku dijalan pas Eva baru jatuh"


" Ya ampun, ini bos kamu Va?" Ibu Eva seketika bangkit lalu menyapa Demas dengan penuh kesungkanan.


"Aduh...maafkan anak saya ya Pak, sudah merepotkan anda! Dia ini memang susah di kasih tahu. Selalu grusa- grusu kalau ngapa-ngapain!" Ucap ibu Eva dengan tatapan murung. Membuat Demas tersenyum.


" Anak itu benar-benar berbeda dengan ibunya. Sama sekali tidak sama. Ibunya sopan begini. Nah dia?" Batin Demas.


" Tidak repot Bu. Saya kebetulan baru pulang juga tadi!" Jawabnya tak kalah sopan menatap wanita itu. " Saya dengar ibu sedang kurang sehat?"


" Pak Demas bisa sopan begitu ke ibuk. Nah ke aku? Bener-bener pemain sinetron nih orang!" Batin Eva menggerutu.


"Saya sangat senang karena Eva pulang hari ini. Saking senangnya... mungkin saya tidak memikirkan istirahat saat masak-masak tadi. Ya...mungkin karena kecapekan, makanya sakit kepala saya kambuh."


"Oh ya, apa pak Demas berkenan untuk menunggu sebentar? Saya masak banyak tadi. Pak Demas jangan pulang dulu ya, kita makan sama-sama!"


Ia menelan ludah demi menyaksikan sebuah keramahan yang tersuguh nyata di hadapannya. Walau saat ini ia iba demi mengingat posisi mereka berdua yang cukup rumit itu, namun Demas masih bisa bersikap seperti biasanya.


Ia mantap Eva seolah mencari pertimbangan lain. Namun, yang di tatap justru menatapnya dengan tatapan permisi.


" Gak usah pak, pak Demas pulang saja. Ya..ya?" Ucapnya dengan suara tak terdengar. Membuat Eva mirip seperti dukun yang tengah komat-kamit.


Namun, bukannya menurut, Demas justru terlihat memikirkan sesuatu.


" Baiklah Bu. Kebetulan saya juga belum makan. Tidak baik menolak rezeki!" Jawab Demas penuh kemenangan. Melirik Eva yang nampak tidak terima.


Membuat Eva mendelik dengan gerakan melebarkan mulut geram. Damned!


" Va, cepat kamu panasi lauk yang tadi. Kita makan sama-sama setelah ini. Mari Pak silahkan duduk dulu, astaga keasikan ngobrol sampai lupa" Ucap Ibu Eva sembari tersenyum, mengajak Demas untuk duduk.


.


.


Dimeja makan.


Eva yang harap-harap cemas mendadak kehilangan selera makannya. Ia takut jika Demas membocorkan kejadiannya tadi sore.


Demas tak menghiraukan tatapan penuh kekesalan dari dalam Eva yang menusuk-nusuk daging berbumbu pekat itu.


" Pak Demas, monggo tidak usah sungkan!"


Demas mengangguk, " Ibu jago masak. Rasanya gak kalah enak sama masakan mama saya!" Ucap Demas jujur yang mengakui cita rasa rempah yang di ramu oleh wanita bernama Ratih itu


" Cuma makanan biasa Pak. Eva ini suka kalau saya masakan rica daging seperti ini. Tapi...dianya malah enggak bisa masak. Padahal, orang itu biasanya kalau sudah suka sama sesuatu, pasti bisa ngolahnya. Nah ini malah enggak sama sekali. Saya juga heran pak, gimana nanti kalau punya suami. Bocah kok nggak bisa apa-apa!" Ucap Bu Ratih yang nampak riang. Wanita itu suka diri, jika bertemu dengan orang yang mau menjadi pendengar baiknya.


Eva makin kalah skor demi melihat ibunya yang nampak akrab dengan pria itu. Membuat Demas terkekeh. Sungguh hiburan yang ciamik pikirnya.


" Ya kan bisa beli buk. Ada uang ada kenyang. Hari gini jangan di samakan sama era ibuk!" Sahut Eva berengut. Melirik sinis Demas yang juga nampak mencibirnya melalui bahasa mata.


" Ya gak bisa gitu. Perempuan itu kan harusnya bisa melakukan tiga hal, Masak, Macak ( berhias/ berdandan) , Manak ( melahirkan)!" Ucap Bu Ratih tak mau kalah.


Membuat Demas seketika mampu melupakan kegalauan hatinya. Ia begitu merasa nyaman dan benar-benar terhibur dengan sajian yang ada di depannya. Termasuk peperangan Eva bersama Ibunya.


Sejenak, Demas teringat akan Mama Jessika, yang kerap mengucapkan tiga hal tadi. Apakah dalil orang dulu itu benar-benar bagus? Bisa jadi.


Namun, entah mengapa juga, Demas mendadak merasa kerasan dan suka dengan perlakuan ramah Bu Ratih. Pun dengan rasa masakannya.


Dan, sikap Eva yang cenderung berbeda dari wanita pada umumnya itu, membuat ruang-ruang hampa di dalam jiwanya kini tersuluh sebuah cahaya misterius.


.


.


.


.


.