
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Fadli
Ia yang sudah menerima kabar genting itu, nampaknya memiliki cara lain untuk berkontribusi membereskan. Jika para bosnya langsung menuju lokasi sebab sudah di pastikan karena cemas dan panik, ia lebih memilih untuk tak mengotori tangannya dan membawa polisi.
Lagipula, hal ini benar-benar telah masuk tindak pidana kejahatan berencana.
" Astaga, itu kan?" Gumamnya terkejut demi melihat sosok David yang nampak berdiri dengan posisi siaga, dengan kerumunan anak buah musuhnya yang begitu banyak.
Membuat beberapa orang yang tak menyerang, lari tunggang langgang masuk ke dalam hutan.
BRAK!
Dengan gusar ia menutup pintu mobilnya, kala ia telah tiba di tempat yang seharusnya belum menjadi titik tujuannya.
" Polisi, angkat tangan kalian!"
.
.
Anthoni
Terkejut, tersentak, terkaget?
Apalagi kata yang bisa menggambarkan perasaan hatinya saat ini. Pria datar itu seketika merasa nyalinya ciut demi melihat personel berseragam cokelat itu menodongkan senjata ke arahnya juga anak buahnya.
Membuat Anthoni nampak memetakan keadaan saat kesempatan untuk kabur benar-benar tidak memungkinkan. Pria itu sejurus kemudian terlihat menyambar senjata yang di bawa oleh rekannya, lalu menembakkannya ke arah polisi.
DOR
" Shiit! Kejar mereka!" Titah sang komandan polisi yang melihat Anthoni dan rekan-rekannya melakukan perlawanan dan memilih kabur masuk ke dalam hutan. Semua yang tejadi benar-benar diluar dugaannya.
Mereka lari dan terus berlari, semakin masuk dan masuk kedalam hutan dengan suara tembakan yang terus berbunyi memecah keheningan malam di dalam rimba.
Puluhan personel polisi yang berada di sana, terus mengejar kawanan penjahat itu, bahkan membuat mereka sangat jauh dari titik lokasi dimana komandan mereka masih bersama Demas dan yang lainnya.
.
.
" Pak Demas, anda baik-baik saja?" Tanya Fadli nampak panik demi melihat lengan Demas yang terbebat sobekan kain yang warnanya sama dengan baju yang dikenakan oleh David.
" Jangan khawatirkan aku, Eva lebih membutuhkan penanganan saat ini!" Balas Demas tak kalah panik.
" Eva?"
David, Tomy, Erik serta Dian nampak mengerubungi Eva. Membuat Fadli tahu siapa yang di maksud oleh atasannya itu.
" Dli, nyalakan mobilmu, cepat!'' Teriak Demas dengan kepanikan yang sungguh teramat. Membaut pria muda itu tergopoh-gopoh demi melaksanakan titah sang baginda Demas.
Pria itu dengan menahan rasa nyeri dan sakit yang menghujam lengannya hingga ketulang, mati-matian mengangkat tubuh Eva yang nampak lemah itu menuju mobil.
Benar-benar menahan rasa sakit dan nyeri yang teramat.
Membuat David tertegun. Ia jarang sekali bahkan hampir tidak pernah melihat anaknya begitu perhatian terhadap lawan jenis.
Namun saat ini?
" Maaf Pa, aku..." Ucap Demas menatap muram Papanya sesaat setelah ia meletakkan Eva di jok tengah.
" Pergilah, bawa Eva kerumah sakit dan obati lukamu. Jangan lupa kabari Mamamu!" Balas David yang tahu kemana arah pembicaraan anak bungsunya, yang nampak tak enak hati karena tak bisa membersamai mereka dalam mencari Deo juga Arimbi.
Demas mengangguk menatap Tomy juga Erik yang nampak bersimbah keringat.
" Dian, cepat masuk! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Membuat Tomy, David dan Erik seketika berlari menyusul polisi yang masuk ke hutan, sebab tak ingin kehilangan jejak dalam aksi pencarian Deo.
.
.
Deo
DOR!
Matanya yang semula terpejam seketika terbuka kala indera pendengarannya menangkap gelombang suara, yang berasal dari letusan tembakan.
Begitu mengejutkan.
Sedetik kemudian, ia yang sadar reflek menatap Arimbi yang semakin pucat. Membuatnya spontan mengulurkan tangannya demi menyentuh kening istrinya.
DEG
" Astaga, dia demam!" Gumamnya panik bercampur resah demi melihat suhu tubuh Arimbi yang panas. Entah sudah berapa lama mereka mengistirahatkan tubuh disana.
Sejenak ia berpikir, apakah Bram telah mengajarnya dan berhasil menemukan keberadaannya?
" Sayang!" Tepuknya perlahan yang sebenarnya tak tega membangunkan istrinya itu.
" Sayang!"
DOR
Arimbi yang lekas membuka matanya, seketika tersentak demi mendengar suara tembakan yang begitu keras.
" Mas, itu.."
" Ssstt, jangan takut, ada aku!" Deo menatap lekat mata Arimbi di bawah samar cahaya bulan yang menembus dinding tepas itu.
" Aku tidak tahu siapa mereka. Tapi jika itu Bram, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu sedikitpun!" Lirih Deo dengan sorot mata menguatkan.
Membuat mata Arimbi berkaca-kaca demi mendengar ucapan Deo yang benar-benar membuatnya merasa terlindungi.
Kini, mereka berdua saling memeluk untuk beberapa saat, sebelum mereka berdiri.
" Auwh!"
Deo mengerutkan keningnya demi melihat istrinya yang mengeluh sakit saat hendak bangkit.
" Ada apa?" Tanya Deo menatap cemas istrinya.
" Kakiku!"
Deo seketika membuka ponselnya dan mengarahkan cahaya terang itu ke bagian kaki Arimbi.
DEG
Mata Deo mendadak purnama manakala melihat telapak kaki Arimbi yang terluka. " Astaga, kenapa kamu tidak bilang kal.."
" Tidak apa-apa mas, aku masih bisa bertahan!" Balas Arimbi tersenyum tidak mau membuat Deo cemas. Ia tahu, suaminya itu tengah memikul beban pikiran yang tak main-main.
" CK!" Deo mendecak penuh kekhawatiran. Keadaan ini sungguh membuatnya benar-benar tak berdaya.
BUG
KROSAK!
Keduanya kompak tertegun demi mendengar suara gaduh, yang terasa semakin dekat. Deo meminta Arimbi untuk duduk saat ia berniat untuk melihat siapa yang ada di sana.
DOR
" Argghhhh!!"
Deo tercenung sejenak demi mengindetifikasi suara yang semakin mendekat itu. Menatap istrinya yang juga menatapnya penuh kekhawatiran.
" Polisi brengsek, mati kau!"
BUG
Deo seketika menoleh demi menajamkan pendengarannya, demi memastikan suara yang menyebut kata 'polisi'. Membuatnya segera keluar demi melihat keadaan yang ada.
Dan benar, dari arah tempatnya kini berdiri, nampak segerumbulan polisi yang mengepung pria-pria yang nampak bermandikan keringat. Membuat secercah sinar pengharapan menyuluh asa Deo. Thanks God!
" Deo!" Teriak seseorang yang begitu ia kenali. Seseorang yang di sisa usianya masih nampak bugar dan tampan.
" Papa!"
.
.
Sementara itu, di dalam mobil yang memuat empat orang yang larut dalam ketegangan itu, nampak Dian yang tiada henti menitikan air matanya.
Entah mengapa, ia merasa kasihan melihat Eva. Ia sering adu mulut dengan sahabatnya itu, namun bagi Dian, enak merupakan kawan yang apa adanya.
" Dian, tolong ambilkan tissue itu!" Pinta Demas yang kini memangku kepada Eva yang meringis dengan kesadaran yang kina terkikis.
" Ini Pak!" Ucap Dian mengulurkan tangannya dengan sebuah kotak tissue.
Demas dengan telaten menekan luka di perut bagian samping itu menggunakan tissue. Ia menatap Eva dengan wajah panik.
" Kau akan baik-baik saja. Aku janji!" Gumam Demas yang tak menyadari telah menggenggam tangan Eva begitu erat.
Membuat Fadli melirik kaca kecil di depannya, demi merasa jika Demas nampak berbeda.
" Siapa dia? Apa dia kekasih Pak Demas? Kenapa ada dalam situasi genting seperti ini?" Batin Fadli yang sebenarnya terkejut dengan adanya wanita cantik dan makhluk jenis hompimpa yang kini asik menyusut ingus di sampingnya.
" Dli, sambungkan telepon ke Mama, loudspeaker suaranya!" Titah Demas yang seketika membuyarkan lamunannya.
" Baik Pak!"
Dan tak berselang lama, nada nut nut membosankan itu berubah menjadi sapaan seorang wanita yang suaranya khas.
" Halo?"
" Ma, ini aku Demas. Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Mama tolong ke rumah sakit Ma. Aku dan Eva terluka!"
" Apa?"
.
.
.
.
Mommy sebenarnya semalam up. Lakok tibake reviewnya belum lolos hingga sekarang. Harap maklum ges