
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Ia tak cemburu atau merasa kesal, atau sejenisnya. Hanya saja, ia tak menyangka jika suaminya itu masih mau mempedulikannya wanita yang pernah melukai hatinya secara dalam itu.
Membuat Arimbi memiliki penilaian baru terhadap pria yang berkali-kali pernah menggaulinya penuh rasa cinta itu.
Ya, semakin kesini, Arimbi semakin dibuat takjub akan sikap Deo yang baru tergali saat ia bersama. Pria yang semula menjadi bos sekaligus musuh bebuyutan itu kini menjelma menjadi suami yang melebihi ekspektasinya.
BRAK!
Suara pintu mobil yang ditutup oleh Deo itu menjadi penegas jika sebentar lagi, ia akan memulai kisah baru dalam kehidupannya. Lagipula, setelah ini ia juga harus menyiapkan jawaban yang pas, sebab David telah mengatakan jika Eva dan Dian telah mengetahui jika Arimbi dan Deo telah menikah secara siri sesaat sebelum mereka melajukan mobilnya tadi.
Ia hanya diam sembari mencoba berdamai dengan rasa luka di kaki dan tangannya yang semakin nyeri, saat Deo nampak berbicara kepada papa mertuanya soal tujuan mereka saat ini.
" Sini!" Pinta Deo kepada Arimbi untuk meletakkan kepalanya keatas paha kokohnya.
Ia menurut seraya terdiam kala suaminya meminta dia untuk merebahkan diri dan menjadikan paha kokoh itu sebagai bantal.
David menginisiasi untuk menyetir mobil yang mereka tumpangi, sementara Tomy dan Erik nampak membawa mobil Resita yang tadi sempat oleh Eva.
"Bertahanlah. Papa akan membawa kita kerumah sakit dimana Demas dan Eva dirawat!"
Arimbi mengangguk. Sungguh, aroma tubuh suaminya seolah mampu menjadi obat keresahan yang menyerangnya.
" Mereka sudah tahu kalau kita..."
" Biarkan saja. Lagipula, setelah ini aku memang ingin menunjukkan kepada dunia jika wanita cantik ini adalah istriku, hm?" Ucap Deo lembut seraya mencium punggung tangan Arimbi.
Membuat David yang kini menjadi supir dadakan itu, terlihat tersenyum senang demi mendengar perbincangan dua cikal bakal komposisi calon cucunya itu. Ihuy!
.
.
Deo
Bagiamanapun juga, Roro telah berkontribusi terhadap mitigasinya dalam aksi pencarian Arimbi. Sekalipun perasaannya telah sirna terhadap wanita itu, tapi secara manusiawi ia berharap Roro bisa selamat dan bisa memperbaiki diri.
Lagipula, ia merasa sikap membenci hanya akan menjadi penyakit hati.
Dalam hitungan menit saja, Arimbi nampak memejamkan mata demi rasa lelah yang sudah pasti telah menyerangnya. Membuat Deo menyunggingkan senyum tertulus yang pernah ada.
CUP
Deo bahkan mencium kening serta bibir Arimbi detik itu juga. Mengusap kening dengan tatapan penuh cinta kasih.
" Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang unik!" Batin Deo dengan senyum tak luntur, seraya lekat menatap wajah Arimbi yang nampak lelah.
" Apa rencana mu setelah ini De?" Tanya Papa dengan fokus yang masih belum teralihkan.
Ia menatap ke arah depan dengan tangan yang masih tekun mengusap kening lembut Arimbi. Meski raganya terasa lelah, tapi batinnya saat ini merasa lega.
" Maksud papa?"
" Zakaria pasti setelah ini akan berdalih! Perusahaan mu terancam!"
Deo tertegun. Papa benar. Permasalahannya belum usai semuanya.
"Entahlah Pa. Deo mau fokus ke Arimbi dulu. Aku ingin semua orang tahu jika dia adalah istriku!"
" Lagipula, polisi pasti setelah ini akan bersurat ke Andanu pusat. Kita lihat saja. Yang jelas, jika mereka menempuh jalur hukum, Erik sudah siap dengan team penasehat hukum kita!"
Dari kondisi yang tak terlihat, David menarik seulas senyum kala mendengar ucapan penuh ketegasan dari bibir anaknya. Membuat pikiran Deo kembali melayang soal dia yang akan bermain riang bersama cucu- cucunya yang comel. Ahay!
.
.
Demas
" Pantes si Fadli gercep ( gerak cepat)!" Batin Demas demi melihat wanita muda yang nampak sederhana itu.
Ya, Demas yang ngawur sebab main ngeloyor masuk itu, kini nampak keranjingan. Membuat Dian ingin tertawa.
" Dokter, bagiamana keadaannya?" Tutur Demas demi mengalihkan kecanggungan yang menyeruak.
Dian bahkan seketika berubah melongo, demi mendengar pertanyaan bernada kekhawatiran yang terlontar dari bibir Demas. Oh man!
" Untung saja belum terlambat. Kami sudah melakukan transfusi darah juga penjahitan luka sobek. Pasien belum bisa pulang, besok kami masih akan melakukan observasi lanjutannya. Semoga tidak ada infeksi lain, mengingat luka itu cukup dalam. Beruntung korban bisa sekuat dan setahan itu!" Terang dokter dengan kalimat lugas yang membuat adik Deo itu mengangguk mengerti.
Kini, Demas tak henti-hentinya menatap seraut teduh yang kini memejamkan mata itu. Debaran aneh itu kian terasa demi melihat bibir yang dengan nagawurnya pernah menciumnya secara tiba-tiba waktu mereka berada di Tenggarang tempo hari.
Membuat wajah Demas seketika memerah tanpa sebab. Sialan!
" Kalau begitu, saya permisi dulu! Selamat malam!" Pamit dokter itu dengan sopan.
" Terimakasih dok!"
Demas kini mendekat dan menatap Eva dari tepi ranjang. Sama sekali tak bisa memecahkan misteri, mengapa perasaan senang kala di dekat Eva kian menggebu.
" Dem?"
Kedua laki-laki itu yang kini menunggui Eva itu, seketika menoleh ke arah belakang kala Jessika yang datang bersama Eka nampak menjengukkan kepalanya ke dalam.
Eka dan Jessika masuk dengan wajah bingung. Ia terlambat datang sebab salah masuk koridor. Membuat Fadli terkena getahnya, padahal pria itu sudah memperingati.
Fix, Eka dan Jessika telah menjelma menjadi ibu-ibu sebenarnya.
" Mama dari mana aja, kenapa baru datang?"
" Si Fadli tuh, jadi navigator enggak bener!" Sahut Tante Eka yang berengut. Membuat Fadli geleng-geleng kepala demi menjadi kambing hitam oknum ibu-ibu itu.
" Siap salah!" Tukas Fadli yang dibalas kekehan oleh Demas.
" Ini Eva ma. Dia yang selamatin Demas!" Ucap Demas kepada Jessika yang lekas mendekatkan diri ke bibir ranjang. Berasa segaris dengan Dian, yang nampak kehilangan dayanya.
" Kalau bukan karena dia, mungkin anak mama yang saat ini ada di posisi dia, atau... bahkan Demas mungkin yang meregang nyawa!"
DEG
Jessika seketika menatap muram wajah Eva yang masih nampak pucat. Menggeser tubuh Demas dan kini Jessika terlihat mengusap lembut surai hitam lurus milik wanita manis itu.
" Aku berhutang banyak sama kamu nak!" Ucap Jessika tulus lalu sejurus kemudian menciumi kening Eva yang belum sadarkan diri itu. Membuat mata Tante Eka berkaca-kaca demi melihat interaksi mengharukan itu.
Fadli nampak sibuk berbalas pesan dengan seseorang yang entah siapa itu. Pun dengan Tante Eka yang juga nampak sibuk senam jari kala berbalas pesan bersama suaminya, Tomy.
Dan Sejurus kemudian.
KRUUUK!!
Suara memalukan dan nampak mengerikan itu berhasil memecahkan kesunyian yang tercipta.
KRUUUK!!
Lagi, suara itu bahkan kian membesar.
Fadli, Demas, Eka serta Jessika, seketika kompak menatap ke arah Dian yang kini nyengir tanpa dosa.
Ya, lagi-lagi, laki-laki hompimpa itu menjadi biang keonaran, sekaligus tersangka kasus pengeretan.
" Apa tidak ada yang punya cita-cita membelikan aku sebungkus nasi Padang atau semacamnya? Sepertinya, perutku lebih jujur dari apapun saat ini!" Tutur Dian meringis dengan gerakan memegangi perutnya yang terasa perih.
Wadiaww!
.
.
.
.