My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 163. Kenyataan itu pahit



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Jessika


Ia mendadak ingin menemui Demas pagi itu. Ingin mengantar ginseng untuk kesembuhan anaknya. Namun, pagar yang terjeblak di jam pagi itu membuatnya agak terkejut.


" Claire, kenapa pintu rumah sama gerbangnya kebuka begini?" Gumamnya seraya memetakan keadaan.


Claire yang pagi itu diajak oleh Jessika turut memusatkan perhatiannya pada objek yang di ucapkan oleh wanita di sampingnya itu.


Membuat dua wanita itu segera masuk kedalam rumah besar. Hal yang cukup janggal.


" Eva!"


" Bik, Buk Sulis!" Panggil istri David itu dengan suara keras


Jessika menatap muram keponakannya yang saat ini turut mengerutkan keningnya demi keheningan yang menjawab.


" Va! Demas!" Teriak Claire yang saat ini merasa curiga sebab rumah itu nampak sedikit berantakan dan tak berpenghuni.


" Bude coba kedalam, kamu coba kesana Claire!" Ucap Jessika membagi tugas.


Anak sulung Leo itu mengangguk dengan kepanikan yang kentara. Kemana semua orang? Dan kenapa rumah itu nampak berantakan?


Dua wanita lintas usia itu seketika berpencar demi mencari tahu, apa yang sebenarnya telah terjadi.


Namun tak berselang lama, " Bude! Bude!" Teriak Claire dengan suara panik. Membuat Jessika seketika keluar.


" Ada apa Claire?"


" Aku lihat senjata tergeletak di sana Bude. Jangan-jangan..."


.


.


Deo


Ia tengah memeluk istrinya yang tengah ia jerat sedari padi manakala ponselnya bergetar.


📞 Papa Calling...


Membuatnya seketika mengulurkan tangan demi meraih benda pipih diatas nakas kamarnya.


" Hal..."


" Kerumah adik kamu sekarang juga, ajak Erik!"


TUT


" CK!" Ia mendecak demi telepon yang di putuskan secara sepihak oleh papanya.


" Ada apa mas?" Tanya Arimbi membetulkan posisi duduknya dengan wajah yang cukup serius demi melihat reaksi Deo.


" Sepertinya terjadi sesuatu!"


.


.


David


Ia meminta Tomy untuk datang ke lokasi yang telah ia informasikan. Sama sekali tak bisa menunda jika sudah menyangkut air mata istrinya.


Menjadi sedikit marah sebab kesemua nomor ponsel anggota keluarga Demas tak bisa ia hubungi.


" Nomor Raja juga tidak bisa ditelpon!" Gumam Fadli dengan alis berkerut sesaat setelah ponsel yang semula menempel di daun telinganya ia tarik dengan gusar.


Namun, mendadak David teringat akan sesuatu. Sesuatu yang bisa ia pastikan akan dapat membuka tabir teka-teki apa yang sebenarnya telah terjadi.


" Pa, Papa mau kemana?" Tanya Deo yang melihat papanya pergi ke suatu tempat di lantai dua.


" Tom, periksa sekarang!" Titah David sesaat setelah mereka tiba di lantai dua.


" Baik!"


Kini, Erik, Fadli, juga Deo benar-benar tak mengerti dengan ucapan Papanya. Membuat Claire juga Jessika turut bingung.


" Kamera pengawas tersembunyi. Hanya aku dan Papamu yang tahu!" Ucap Tomy tersenyum kepada Deo.


" Apa? Kenapa bisa begini?" Sergah Deo tak percaya.


" Sepertinya kau juga harus memeriksa rumahmu bos!" Bisik Erik terkekeh-kekeh, membuat Deo mendengus.


" Sudah-sudah, mas cepat lihat rekamannya, ibunya Eva sama bik Sulis juga enggak ada!" Timpal Jessika yang tak bisa menyembunyikan kepanikannya.


Kini, mereka semua nampak mengelilingi Tomy yang masih cekatan dalam mengotak-atik komputer di depannya. Harus Jessika akui, suaminya itu benar-benar selalu selangkah lebih maju.


" Dapat!" Seru Tomy penuh kepuasan manakala ia berhasil memutar video dari kamera tersembunyi di kediaman Demas yang bahkan pemiliknya saja tidak mengetahuinya.


Benar-benar definisi dari orang tua yang siaga.


" Tunggu, coba Om Tomy perbesar di menit 49!" Pinta Fadli yang begitu serius, membuat kesemuanya turut memusatkan perhatian termasuk Claire.


" Bukankah itu supir Demas?" Ucap Deo dengan tatapan tak percaya, manakala video yang terputar tengah menunjukkan Raja yang menodongkan pistol ke arah Demas.


Damned!


" Sial, kenapa Raja melakukan semua ini?" Gumam Fadli merasa tak habis pikir.


" Siapa Raja, minggir coba lihat!" Claire menyibak tubuh Fadli yang sedikit menghalangi pandangannya.


Hingga, saat mata kepalanya menangkap gambar sesosok laki-laki yang membuat begitu terkejut.


DEG


Claire yang melihat dan mengenali wajah seseorang dalam layar rekaman itu, seketika mendelik demi mengenali sosok yang disebutkan.


" Sa.. Sadawira...?" Batin Claire menjerit tak percaya.


Kini, dalam ketegangan dan emosi keluarga yang memuncak, ia merasa bagai di hantam sebuah balik besar. Bertubi-tubi dan membuat kepalanya begitu sakit.


" Raja? Ra..Raja?"


Kesemua orang langsung menoleh ke arah Claire yang mendadak pias.


" Iya nona, dia Sadawira Rajandra, supir Pak Demas dan Bu Eva atas rekomendasi saya. Aku benar-benar tidak menyangka jika kecurigaan Pak Demas selama ini benar!"


DUAR!


Bagai tersambar petir. Sepenggal nama lengkap yang diucapkan oleh Fadli barusaja menjadi penegas bila pria dalam video itu, merupakan pria yang sama yang pernah berpeluh bersamanya beberapa Minggu yang lalu.


Tidak!


Apakah yang dibicarakan oleh Sadawira tempo hari soal balas dendam adalah tak lain kepada saudaranya?


Bagaimana ini?


Bagiamana semua ini bisa terjadi?


Apalagi, antara dirinya dan juga Sadawira bahkan telah melangkah terlalu jauh.


" Cari lokasi mereka segera Dli, kita serang mereka sekarang! Ingat, jangan melibatkan polisi!"


Kini, tubuh Claire bagai tak menjejak bumi. Belum juga ia berdamai dengan kenyataan tentang siapa sebenarnya Sadawira, kini ia harus dibuat bimbang dengan perasaannya.


Dalam hati, ia telah jatuh cinta kepada laki-laki itu. Namun jika sudah begini, bagaimana cara dia untuk memetakan persoalan jika sudah menyangkut keluarga besarnya?


.


.


.


.


.