
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Dian
Ia sedang sibuk mencatat daftar nama penumpang yang akan me-reschedule tiket di lain hari saat Novi memanggilnya dengan suara penuh keresahan.
" Si Arimbi mana? Lama banget ngambil manifestnya?" Tanya Novi muram. Dua alis yang makin berkerut menjadi penegas jika senior itu tengah dirundung kecemasan. Mengabaikan tatapan penuh selidik dari antrian penumpang yang mengular.
Tak terhitung sudah manusia yang berjejalan di tiap-tiap counter check in yang hendak mengurus keperluan mereka. Nampak berbondong-bondong meminta prioritas untuk di dahulukan.
" Mbak, buruan saya mau ngejar kereta ini. Lelet amat!" Protes salah seorang penumpang yang sedari awal nampak gusar dengan pelayanan Novi dan kawan-kawan.
Novi mendecak demi menahan dirinya untuk tak terbawa emosi. Pria itu mulutnya benar-benar tidak memiliki rem pikirnya.
" Yohan monitor?" Tanya Novi buru-buru.
" Yohan monitor Han!" Ucapnya makin tak sabar.
" Gohet mbak!"
" Arimbi suruh cepetan balik, disini crowdit banget! Ngapain aja sih?" Novi bahkan sampai marah demi kegentingan yang kian mendesaknya.
" Arimbi gak ada disini mbak. Emangnya dia mau kesini kah?" Sahut Yohan. Membuat Novi melongo tiada percaya.
DEG
Kemana Arimbi? Situasi benar-benar sedang genting, mustahil anak itu tidak melakukan yang diperintahkan oleh Novi.
" Gimana mbak?" Tanya Dian yang agak panik sebab baru saja kena damprat manusia marah di depannya.
" Elu cari deh Yan. Atau kalau enggak, elu yang ambil manifestnya sana. Si Yohan pasti lagi sibuk disana! Arimbi gak ada di sana katanya!" Jawab Novi dengan wajah frustasi yang begitu kentara.
Tanpa menunggu, Dian langsung pergi sesudah menerangkan kepada rekannya yang lain untuk mengambil alih antrian penumpang di depan mejanya.
Dian nampak berlari membelah gerumbulan beberapa penumpang lain, yang juga menuju ruang tunggu kala menaiki eskalator.
Dan beberapa waktu kemudian, Dian yang kini berada di ruang tunggu membelalakkan matanya demi melihat Yohan yang seorang diri dalam mengurus manifest itu.
" Lah, kemana tu anak? So Yohan sendirian? Astaga!" Batin Dian menatap kasihan ke arah rekannya yang berkulit gelap itu. Nampak sibuk merapikan beberapa kertas continue.
" Si Arimbi belum datang Han?" Ucapnya kepada Yohan manakala ia datang. Membuat laki-laki itu seketika mengalihkan pandangannya.
" Gak ada dia dari tadi. Aku aja sendirian dari tadi. dia kan di check in!" Jawab Yohan bersungut-sungut demi kesal.
" Kemana dia?" Gumam Dian.
" Tanya ke operation deh, kali aja dia kesana!"
Membuat Dian seketika menyambar HT yang ada di depannya.
" Operation monitor? Ada Arimbi kah disana?"
" Negatif ya!" Sahut Daniel dengan cepat.
Membuat dua orang itu saling bertukar pandang.
.
.
Sementara itu, didalam mobil berkabin lega, seroang wanita terlihat memejamkan matanya akibat pengaruh obat bius yang di bekapkan ke wajahnya beberapa saat yang lalu.
Mobil itu dihuni oleh seorang pengemudi pria, seorang laki-laki yang berada di jok depan, juga seorang laki-laki yang kini duduk di sebelah Arimbi yang memejamkan matanya.
" Target sudah aman bos. Menunggu perintah selanjutnya!" Ucap pria datar itu usai men-dial nomor seseorang.
" Bawa ke lokasi yang aku kirimkan. Ingat, permainanmu harus rapih!"
" Siap!"
Anthoni yang wajahnya masih datar terlihat memutuskan sambungan teleponnya, usai menerima instruksi dari bosnya. Entah apa yang ad di dalam isi kepala pria itu saat ini. Wajahnya sama sekali tiada bisa di tebak.
" Ken, tolong jalan lebih cepat!" Titahnya keras kepada rekannya yang kini menjadi juru mudi
.
.
Kedengkian yang mungkin benar itu sebenarnya mulai tumbuh manakala Deo selalu unggul daripada dirinya.
Bram yang sejak awal ingin mengulas pasar industri Aviasi, selalu kesulitan untuk melawan kompetitor unggulan seperti Deo. Padahal, ia juga memiliki kecerdasan juga inovasi-inovasi di bidang pelayanan yang tak kalah baiknya.
Hanya saja, nama Darmawan group yang sudah membuana itu, jelas menjadi tantangan terberatnya selama ini.
Ia yang kini sedang berada dalam sebuah ruangan sedikit kaget manakala Roro berdiri di ambang pintu kantornya. Menatapnya penuh selidik.
" Apa yang kau lakukan? Siapa yang kau telpon?" Tanya Roro manakala melihat Bram yang senyam-senyum.
Menguping pembicaraan pria yang sering menidurinya itu dengan rasa ingin tahu yang teramat.
" Kau- kau ada disini?" Jawab Bram yang mendadak gagap. Sedikit kaget sebab takut Roro tahu.
" Kau mau menipuku? Hah?" Ucap Roro geram. Kesal karena beberapa hari ini pria itu seringkali tak menjawab panggilannya.
Bram yang sebenarnya sudah tidak membutuhkan wanita itu lagi, sedikit kaget manakala melihat Roro yang berani muncul di ruangannya.
" Sayang...aku..."
" Aku menyesal telah meninggalkan Deo demi pria licik sepertimu. Kau ternyata tidak lebih dari seorang pria melarat yang suka menipu! Brengsek!" Ucap Roro geram melempar tatapan sengit ke arah Bram.
" Pria bangsat!" Makinya lagi demi kekesalan yang memuncak. Membuncah lalu berubah menjadi kebencian yang teramat, demi menyadari jika ia hanya di manfaatkan.
Bram menatap wajah Roro geram. Ia pikir dengan mengambil Roro bisa membuat Deo stress, frustasi dan hidupnya hancur. Namun, alih-alih mendapatkan apa yang dia inginkan, pria itu justru bingung kenapa Deo sama sekali tak merasakan apapun.
" Akan aku bongkar kejahatanmu brengsek. Aku harus mengambil hati Deo! Aku harus mengambil Deo kembali dari Arimbi sialan itu!" Teriak Roro frustasi.
DEG
" Arimbi? Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Deo demi mencerna luapan emosi dari mulut Roro.
" Arimbi? Apa maksudmu?" Tanya Deo memicingkan matanya.
" Aku yang seharusnya menjadi istri Deo, bukan wanita itu! Dan semua ini gara-gara pria nggak berguna sepertimu!" Maki Roro makin berang.
" Istri?" Gumam Bram dengan suara lirih.
Bram yang melihat rona penuh kebencian dari wajah Roro seketika memiliki ide. Apakah Arimbi benar memiliki hubungan?
Oh God, sepertinya keberuntungan berpihak kepada dirinya.
" Tunggu, apa kau serius?" Tanya Bram menatap serius Roro yang mulai menaruh kecurigaan.
" Untuk apa dia mau tahu?" Batin Roro yang mulai menyadari gelagat aneh dari pria di hadapannya itu.
" Untuk apa kau ingin tahu?" Sahut Roro sembari melipat kedua tangannya, menatap Bram dengan tatapan sombong.
KLAK KLEK!
Roro membulatkan matanya demi melihat sepucuk senjata yang kini di todongkan oleh Bram ke arah dirinya. Benar-benar sialan!
" Katakan ada hubungan apa Deo dan Arimbi?" Tanya Bram menatap tajam wanita yang kini wajahnya berubah menjadi pias itu.
Roro diam dan seketika merasa tegang.
" Jawab!" Hardik Bram dengan sebuah bentakan, dan membuat Roro tersentak dengan ketakutan yang teramat.
" Me - mreka berdua sebenarnya su - sudah menikah. A- Arimbi adalah istri dari Deo!" Jawab Roro dengan tubuh gemetar, juga hati yang benar-benar risau.
Bram tersenyum licik. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu pikirnya. Selain mendapatkan info berharga yang bisa membuatnya dengan mudah menjatuhkan seorang Deo Darmawan. Kini, ia bisa mengambil keuntungan dari Zakaria yang begitu menginginkan Arimbi.
BUG
BRUK!
Roro seketika ambruk manakala Bram dengan cepatnya memukul tengkuk wanita itu dengan keras secara spontan dan tak terbaca. Membuat wanita yang hobi berpakaian minim itu, seketika tak sadarkan diri.
" Halo, Thon? Bawa dia ke filla. Aku sepertinya punya rencana lain!" Ucap Bram dengan senyuman yang paling licik.
.
.
.
.
.
.