
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Demas
" Mau kemana kau?" Sergah Demas yang menatap Eva datar manakala wanita itu hendak membuka pintu belakang mobil mengkilatnya.
" Lah, katanya mau makan!" Jawab Eva dengan wajah bingung. Menjeda niatnya untuk membuka pintu mobil berwarna hitam itu.
" Duduk di depan. Enak aja kamu, kamu pikir saya supir kamu!" Seru Demas dengan wajah ketus.
Membuat Eva melongo dengan hati mendongkol.
" Orang itu bener-bener ya!"
Di dalam mobil.
Eva yang masih mencelos itu terlihat membuka sanggul rambutnya, lalu menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Berharap rambut panjangnya mau terurai, manakala Demas baru saja menyalakan mesin mobilnya.
Demas melirik Eva yang nampak hot dengan rambut yang bergelombang manis, mendadak terpaku akan objek yang ia tangkap.
" Mau makan dimana?" Tanya Demas masih dengan wajah tak bisa di tebak. Sibuk mengenakan sabuk pengamannya.
" Terserah Bapak aja. Apa aja saya makan, yang penting bukan tai ayam, lencung, atau sebangsanya. Tahu karena apa? Karena saya sudah lapar dari tadi. Baru kali ini saya dapat bos, kejamnya kalah-kalah kompeni." Tukas Eva tanpa tedeng aling-aling, dan kini nampak sibuk melihat wajahnya di depan cermin ajaib yang selalu ia bawa kemana-mana.
Membuat Demas menghela nafasnya.
" Anak ini sungguh menyebalkan!"
Seperti biasanya, Demas tak menjawab dan lebih memilih memasukkan perseneling mobilnya, seraya fokus bermanuver usai menyalakan mesin mobilnya.
Dalam hati Demas begitu merasai sikap wanita yang benar-benar apa adanya itu. Disaat kebanyakan wanita diluar sana jaim atau jaga image terhadap dirinya, Eva justru bertingkah seadanya.
Matahari yang telah melorot ke sisi barat membuat Demas malas untuk pilih-pilih makanan. Akhirnya, demi memangkas waktu dan juga tenaga yang telah lelah, Demas memilih membelokkan mobilnya ke sisi kiri jalan, dimana restoran seafood nampak ramai sore itu.
" Kita makan disini saja, saya malas nyari-nyari lagi!" Ucap Demas seraya menarik tuas handbreak dan memperlihatkan lengannya yang mengetat.
" Hem!" Sahut Eva yang kini mulai menyambar tasnya dan bersiap untuk turun. Membuat Demas melirik Eva yang hanya ber- ham hem ria.
Kaki Demas yang jenjang membuat langkah pria itu tak bisa di ikuti oleh Eva yang nampak ketinggalan jauh.
" Memang sialan orang itu, main ninggal aja!" Eva menggerutu sepanjang perjalanannya yang tersuruk-suruk manakala mengejar pria tinggi itu. Heels yang tinggi makin memperparah keterlambatannya. Benar-benar hamsyong.
Demas yang tiba lebih dulu nampak langsung menekuni buku menu yang di suguhkan oleh pelayan cantik yang nampak sopan.
" Bapak nih gimana sih, main ninggal aja. Kalau saya di culik gimana?" Dengus Eva yang kini menarik kursi di hadapan Demas yang mulai membuka buku menu.
Membuat pelayan wanita itu tersentak.
" Siapa juga yang mau nyulik wanita pecicilan kayak kamu. Orang mikir-mikir kalau mau nyulik kamu. Untung enggak, buntung iya!" Jawab Demas dengan wajah datar namun mulut yang semakin kurang ajar.
Membuat Eva melebarkan cuping hidungnya seraya mendengus sebal.
" Mbak!" Panggil Demas kepada pelayan yang masih syok dengan apa yang dia lihat itu
" Ya Pak?"
" Saya mau Tomyam, Dimsum yang ini, sama minimnya Lemon water aja!"
" Baik, kalau mbaknya?"
" Sek bentar. Coba lihat sini!" Eva nampak melihat - lihat menu yang cocok yang ia yakini bisa meredam kehebohan cacing yang menjadi demonstran di dalam perutnya.
Membuat Demas menghela nafasnya kembali. Baru kali ini ia bertemu dengan wanita yang sama sekali tak jual mahal.
" Nah ini aja deh, cumi saus pedas, terus yang ini yang sayur ini, duh namanya susah banget sih di eja, ya pokoknya yang ini, terus nasinya tiga ya. Minumnya terserah yang penting dingin!"
Demas membulatkan matanya demi mendengar jumlah nasi yang di pesan oleh Eva. Benar-benar wanita gila.
" Apa kau tidak malu makan dalam jumlah nasi yang banyak?" Ketus Demas menatap Eva yang sibuk berfoto-foto tanpa mempedulikan tatapan heran dari Demas.
" Saya lebih malu kalau pingsan dijalan karena kelaparan Pak!" Jawab Eva asal, dan masih tersenyum sok cantik di depan kamera ponsel barunya.
" Astaga, kenapa kak Deo bisa menerima karyawan seperti dia!"
" Sini dulu Pak, Bapak ganteng kalau begini, sayangnya Pak Demas lebih galak dari Pak Deo. Sini- sini aku mau pamer dulu, nanti follow Instagram aku ya Pak!"
Eva yang kecanduan unjuk taring di jejaring sosial, nampak tak mau melewatkan kesempatan di setiap momen yang ada. Apalagi tujuannya jika bukan pencitraan.
Demas hanya menyuguhkan wajah datar saat Eva mengarahkan kamera depannya, dan sedikit menggeser tubuhnya demi mengikutsertakan Demas, dalam aksi berfoto rianya.
Membuat Demas geleng-geleng kepala.
.
.
Eva
" Emmm, ini cumi gaes. Endulitak banget. Aku lagi ada di Tenggarang nih! Kalian ada kah yang dari kota ini, kebetulan aku lagi dinas disini!"
Demas yang menyeruput kuah segar Tomyam hanya bisa menggelengkan kepalanya demi melihat Eva yang ribut sendiri. Membiarkan wanita yang telah berkontribusi membantu kegiatannya siang hingga sore tadi, untuk berbuat semaunya.
Demas makan dengan cara elegan, cepat dan terarah. Mengindikasikan jika pria itu benar-benar rapih dalam melakukan apapun.
Sementara Eva, jangan di tanya lagi. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyusun suapan sebesar gaban, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk mengatur ponsel yang tengah menyalakan aplikasi siaran langsung.
Direstoran makan pakai tangan? Oh no!
Dan entah mengapa, melihat Eva yang terlihat senang manakala menikmati makanan dengan caranya itu, membuat hati Demas tiba-tiba terasa hangat. Apalagi, pria itu ingat jika ia pernah tak sengaja mendengar sepenggal kisah hidup Eva, yang rupanya tak mudah.
Tiada menyangka, jika dibalik sikap bar-bar dan apa adanya itu, tersimpan hati perasaan yang sebenarnya rapuh.
"Eeekk!"
Demas mendelik demi mendengar Eva yang bersendawa.
" Ah, enak banget Pak. Akhirnya finis juga perjuangan ku melahap cumi lezat dan gurame. Semoga mereka di dalam perutku enggak bertengkar ya Pak!" Eva terkikik-kikik walau Demas masih saja diam dengan rasa hati yang terheran-heran.
Seperti kata - kata seorang penulis amatir, habis kenyang terbitlah ngantuk. Itulah yang tejadi terhadap Eva saat ini.
Demas yang sejak masuk kedalam mobil usai meninggalkan restoran seafood tersebut, tak hentinya menerima panggilan telepon dari para anak buahnya yang memberikan laporan. Membuat dirinya tak mengetahui apa yang terjadi pada Eva.
" Kalau cepat, lusa aku balik. Kamu atur aja, kalau harganya cocok kamu langsung booking aja ke perusahaan manufaktur yang itu, iya...ok ok. Yok!"
Demas menghembuskan nafasnya lega, kala satu persatu tuntutan yang mendesak itu barusaja ia pungkasi. Benar-benar melelahkan.
Namun, Demas yang merasa suasana terlalu hening, kini melirik makhluk hidup yang berada di sampingnya itu.
Hah?
Dan, betapa terkejutnya Demas demi melihat Eva yang tertidur dengan menyandarkan kepalanya ke kaca mobil dengan mulut sedikit terbuka. Membuat pria itu mendecak heran.
"Setelah menandaskan nasi tiga piring, seenaknya saja kau molor ya?" Gerutu Demas demi melihat wajah lelap yang sudah tak ingat apa-apa itu.
Namun, wajah teduh yang nampak lebih baik jika tak sadarkan diri itu, membuat pria itu tak sadar menyunggingkan senyumnya.
Eva manis.
Demas lantas menepikan mobilnya usai menyalakan lampu sen ke sisi kiri. Berniat membetulkan posisi tidur wanita merepotkan di sampingnya itu.
" Kau ini benar-benar!" Demas menggerutu saat ia mengatur tuas guna menyeting jok itu agar sedikit lurus. Sejurus kemudian pria itu membetulkan letak kepala Eva, karena merasa kasihan.
DEG
Jantung Demas mendadak berdebar saat kedua netranya melihat buah dada Eva yang sedikit menyembul, akibat baju seragam yang sedikit melorot itu. Membuat adik kandung Deo Alfa itu menelan ludah kegawatdaruratan yang benar-benar terasa menyiksa.
Sialan!