My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 44. Apakah itu perhatian?



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


" Dari mana aja kamu ?"


Ia bertanya dengan nada sinis, manakala pintu lebar di rumahnya itu, terlihat baru saja di buka oleh Arimbi di jam jelang petang itu.


Ya, Deo sengaja menunggu istri rahasianya itu di depan ruang tengah, sambil menonton berita yang membosankan.


Arimbi diam dan terlihat sama sekali tak berniat apalagi berminat menjawab. Gadis itu kesal, demi mengingat keputusan Deo yang dinilai merugikannya.


" Apa kau tuli?" Tanya Deo sedikit keras tepat di belakang Arimbi yang baru saja nyelonong dan terlihat membisu.


Membuat pergerakan wanita itu kini terhenti sebab kesal.


" Apa aku harus menjawab aku dari mana? Apa itu penting?"


Arimbi yang sore itu sudah sangat lelah, menatap Deo dengan tatapan jengah dan seolah tak ingin berdebat lagi.


Deo mengeraskan rahangnya lalu maju beberapa langkah menyusul Arimbi yang kini menatapnya tak bersahabat. Membuat jarak jarak mereka sangat dekat.


" Aku tanya sekali lagi, kau dari mana?"


Hembuskan hangat yang menerpa wajah Arimbi seolah menerangkan jika pria itu tengah serius kali ini. Dan, kecanggungan yang terbentang benar-benar menggerus keberaniannya.


Arimbi meringis kala ia merasa sakit sewaktu Deo mencengkeram lengannya saat melayangkan pertanyaan itu.


Membuat Deo yang melihat wanita itu meringis kesakitan, seketika melepas tangan Arimbi, sebab teringat akan kejadian tadi siang di toilet.


" CK, sini!" Deo menggeret paksa lengan sebelah Arimbi, dan membawa wanita itu untuk duduk ke sofa. Tanpa Arimbi duga, Deo rupanya sudah menyiapkan peralatan kotak P3K di sana.


" Hah, jadi Deodoran nunggu aku?" Batin Arimbi demi melihat kotak dengan logo 'plus merah ' yang bertengger diatas kotak putih besar itu.


" Cepat buka!" Ucap Deo dengan wajah ketus.


Arimbi mendelik. Apa maksud pria itu?


" Buka jaketmu! Apa kau tidak dengar? Aku mau lihat lukamu tadi!" Imbuh Deo dengan alis yang sudah mengkerut.


Arimbi menghembuskan nafasnya lega, manakala ia mendengar hal itu. Ia pikir Deo akan...


" Kenapa? Jangan mikir macem-macem. Aku bahkan tidak berselera denganmu!" Imbuh Deo demi menerka isi pikiran Arimbi.


" Ih, sialan sekali mulutnya orang ini!" Arimbi mendengus demi mendengar ucapan bernada sumbang itu. Ia heran, mengapa Bu Jessika yang baik hati dan bersahaja, memiliki seorang anak bermulut kurang ajar macam Deo.


" Dasar Deodoran gendeng!"


Ups!!


Arimbi reflek menutup mulutnya, tatkala apa yang ada di dalam otaknya, kini justru terlontar lugas dari bibir tipisnya.


" Kau bilang apa tadi?" Tanya Deo dengan wajah syok dan hati kesal. Beraninya!


" Apa? Memangnya aku bilang apa?" Ucap Arimbi berdalih.


Deo kini ganti mendengus demi merasa jika Arimbi benar-benar wanita bar-bar yang berani kepadanya.


" Sini!"


" Auwh!" Ringis Arimbi kala Deo menarik lengannya agak keras, demi melihat luka di tangannya yang lumayan dalam itu.


Deo membisu sambil terlihat memindai goresan dalam yang tercetak cukup banyak di lengan gadis itu. Pria itu juga tak menggubris Arimbi yang komat-kamit mengumpati dirinya.


" Kau ini benar-benar membuatku rugi! Apa kau pikir dengan berduel seperti tadi bisa membuat dirimu keren?" Omel Deo sambil memulai membuka kapas dan juga cairan antiseptik.


Arimbi mengerutkan keningnya saat tangan besar Deo kini sibuk menotolkan cairan antiseptik itu dengan lihainya, guna membersihkan darah kering di area lengannya.


Jessika tak tahu jika ia baru saja bergulat hari ini. Wanita itu juga tak berniat memberitahukan hal memalukan seperti itu kepada perempuan elegan macam Jessika.


" Alah Bu, tadi enggak sengaja kejatuhan pot bunga di meja check in pas bersih-bersih!"


Begitu ucapnya tadi saat Jessika melayangkan pertanyaan, soal kenapa bibirnya lebam dan sedikit sobek. Arimbi mengenakan jaket, membuat Jessika tak mengetahui, jika lengan wanita itu penuh dengan luka.


" Apa aku harus diam saat aku di tindas orang?"


" Apa aku aku juga tidak boleh melawan jika ada orang yang mengusikku?"


" Kau pernah dengar kisah elang dan gagak?" Ucap Deo sejurus kemudian.


Arimbi mengerutkan keningnya. Sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakan oleh Deo.


Arimbi menggeleng.


" Dengar ini!"


" Gagak merupakan satu-satunya burung yang berani mematuk dan mengusik Elang. Namun, Elang tidak menggubris Gagak yang terus mengganggu dan mengusiknya. Ia terus dan terus terbang tinggi hingga mencapai ketinggian tertentu, tanpa mempedulikan si gagak yang sibuk mematuk tubuhnya. Dan kau tau apa yang terjadi setelahnya? Gagak itu seketika jatuh sebab kesulitan bernapas di ketinggian yang tak biasa ia jangkau!"


Arimbi tertegun. Di mode serius ini, ia bisa melihat jika pria itu memanglah tampan, seperti yang di gembar-gemborkan rekan-rekannya selama ini.


" Kau tau apa artinya itu?" Deo menatap lekat-lekat ke arah Arimbi, "Sama seperti dirimu. Kau memiliki pilihan untuk meladeni dan membuang waktumu dan berpotensi membuat dirimu rugi, atau kau fokus memperbesar kapasitas dirimu dan membuat mereka yang mengusikmu pergi dan menjauh dengan sendirinya!"


Luar biasa, Arimbi terpukau dengan gambaran yang baru saja di ucapkan oleh Deo.


" Tidak semua masalah itu biasa diatasi dengan cara adu otot. Kau perempuan, pikirkan soal dirimu juga! Kalau kau sampai kenapa-kenapa, aku yang bakal kena damprat Mama. Merepotkan sekali!"


Deo berkata-kata sembari sibuk mengoleskan salep ke kenang Arimbi. Ia hanya takut kepada Mama Jessika, jika wanita itu melihat Arimbi dalam keadaan seperti ini.


.


.


Arimbi


Ia melipat kedua kakinya diatas kasur besar, sesaat setelah ia mengganti bajunya usai mandi. Menatap nanar ke arah luar jendela besar yang lebar itu.


Deo benar-benar bukan orang biasa menurutnya. Tutur katanya selalu berbobot, membuat nyalinya kini menciut.


Tapi...entah mengapa ia kini terusik akan permintaan Ibu Jessika beberapa saat lalu


Arimbi menolak dikunjungi oleh geng nya sebab ia berdalih jika dirinya pergi ke tukang urut karena merasa badannya pegal.


Alhasil, geng rempongnya itu mau tidak mau membatalkan rencana mereka untuk bertandang ke kediaman Arimbi meski saling menggerutu.


Dan entah mengapa, Arimbi kini berniat menuju dapur dan ingin memasak sesuatu sebab perutnya terasa lapar.


Wanita itu melongokkan kepalanya usai menarik handle pintu kamarnya, dan tak mendapat Deo dalam ruang tengah besar itu.


" Lah, kemana si Deodoran?"


Oh astaga, andai teman-temannya tahu bila ia saat ini telah menjadi istri Deo Alfa, entah apa yang akan ia terima nanti.


"Apa dia pergi?" Batinnya sembari menoleh kesana kemari.


Namun, begitu ia tiba di dapur, ia mendengar suara Deo yang tengah berdiri tak jauh dari sisi ruangan itu, tengah berdiri sambil memaki seseorang.


Deo terlihat marah dan mengumpat kepada seseorang melalui sambungan telepon malam itu. Membuat Arimbi tertegun. Siapa yang di marahi malam-malam begini?


" Kan saya sudah bilang, BTT yang itu jangan digunakan dulu! Kenapa masih saja di langgar?"


" Itu pesawat bisa grounded kalau membutuhkan perbaikan dan biayanya enggak sedikit brengsek!"


" Minta Erik urus semuanya. Non aktifkan dulu operator BTT itu. Shiiit!!"


Arimbi terdiam. Deo terlihat sangat marah malam itu. Sejenak ia merasa kasihan kepada Deo yang seharian ini sudah mendapat dua masalah. Masalah akibat dirinya tadi, dan masalah sekarang.


Arimbi tidak tahu jika saat ini terjadi masalah besar di bandara. Pesawat yang Ron malam itu, tak sengaja tertabrak BTT sewaktu unloading dan membuat body pesawat itu desok.


Faktor human eror jelas menjadi pemicu hal ini.


Arimbi tercenung lalu berpikir, menjadi direktur rupanya tak semudah yang ia lihat. Ternyata banyak sekali resiko dan tanggung jawab yang pria itu pikul.


" Apa dia sudah makan ya? Apa sebaiknya aku masak lebih?"


Tanya Arimbi pada dirinya sendiri, manakala menatap Deo yang kini berdiri tanpa menyadari kehadiranny. Pria itu terlihat lelah sembari memijat kepalanya dengan wajah emosi.


.


.


.


Keterangan :


BTT / Baggage Towing Tractor : Mobil khusus yang digunakan menarik gerobak bagasi pada proses loading / unloading pesawat.


Unloading : Proses menurunkan bagasi dari pesawat ke gerobak