
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Selepas pekerjanya rampung di jam siang itu, ia yang memang sudah janjian dengan kekasihnya itu terlihat mengajak Roro makan siang di sebuah tempat makan yang berada tak jauh dari jalan by pass menuju bandara.
Ia tidak tahu, jika Arimbi juga berada di sana bersama para teman-temannya yang baru saja lepas dinas. Tadinya, Deo pikir Arimbi akan menemui para teman-temannya itu ke bandara.
Dan tidak tahunya, dari tempatnya duduk, Deo terkejut demi melihat Arimbi yang menatapnya sinis.
Membuat Roro mengerutkan keningnya karena tak suka.
" Dia ada disini?" Gumam Deo dalam hati. Menatap Arimbi dengan tatapan resah.
" Sayang!" Roro menyentuh pipi Deo yang terlihat menatap Arimbi. Merasa kesal. " Kamu ngapain lihatin dia?"
Roro merajuk demi melihat Deo yang tak hentinya menoleh ke arah wanita yang tak ia sukai itu.
" Enggak, kaget aja. Kenapa bisa kebetulan begini!" Ucap Deo yang sebenarnya tak nyaman.
" Kita pindah?" Tawar Roro.
Deo menggelengkan kepalanya. " Tidak perlu, biarkan saja! Tidak penting. Kamu pesan makanan aja . Aku lapar!" Deo tersenyum ke arah Roro yang kini juga menatapnya penuh gairah.
Roro tersenyum licik manakala mendengar jika Deo mengatakan hal itu. Menandakan jika Deo masih memujanya
Roro masih sangat sakit hati kepada Arimbi yang dulu pernah menyerangnya. Ia berniat terus menyakiti hati wanita kurang ajar itu.
Namun, tanpa Roro sadari, entah mengapa Deo masih saja terus menatap ke arah Arimbi, saat Roro sibuk memesan menu makanan kepada pelayan wanita yang baru saja menghampiri mereka itu.
Merasa tak suka dan juga tak rela manakala Arimbi tertawa lepas bersama teman-temannya.
"Lihatlah, wanita itu bahkan seperti sengaja menantangku!" Batin Deo yang makin geram.
Dan, pria itu dibuat lebih terkejut lagi saat dirinya melihat kedatangan seseorang yang ia kenali, yang terlihat masuk bersama anak buahnya yang lain.
" Daniel?"
.
.
Arimbi
Ia sesekali menatap Deo yang juga menatapnya tajam dari kejauhan. Benar-benar tak mengira jika akan bertemu di tempat ini, setelah tadi pagi ia bersusah payah meminta izin agar ia biasa lepas dari rasa tak nyaman, akibat sendirian di rumah.
Hah, kebetulan macam apa ini!
Arimbi terus memperhatikan interaksi mesra antara Roro dan Deo, dengan hati mencelos. Mengabaikan mulut kurang ajar Eva dan Dian yang saling bersahutan tiada henti.
" Pria itu benar-benar!"
" Elu udah resmi jadi jomblo kan Va? Mending kamu cari yang lain deh. No.. Avsec banyak yang ototnya segede gaban. Pasti sedotannya yah...!"
PLETAK!!
" Aduh!" Dian mengaduh saat Eva baru saja memukul kepala Dian menggunakan garpu. Kesal sebab sekali di bully akibat kisah cintanya yang kini kandas.
" Mulut enggak pernah di slametin ya gini. Asal nyeblak aja!" Dengus Eva dengan bibir monyong. " Tapi, yang kemaren...."
" Lho, kak Daniel?" Ucapan Eva terhenti manakala ia melihat Daniel bersama Ben, yang berjalan menuju ke meja mereka.
Arimbi seketika memutar tubuhnya demi melihat Daniel yang datang bersama staff Ramp, yang siang itu sepertinya tengah sengaja beristirahat.
" Pada disini juga ternyata?" Sapa Daniel yang tiba-tiba mendudukan tubuhnya tepat di samping Arimbi. Sementara Ben, terlihat duduk di sebelah Yohan.
Membuat Resita tak hentinya menatap pria yang diam-diam ia sukai itu, dalam keresahan hatinya.
" Kita dapat rezeki. Arimbi yang traktir kak. Dapat rejeki nomplok dia! Sekalian ketemu dan kasih semangat Arimbi" Ucap Yohan yang senang dengan kehadiran senior berhati lembut itu.
" Oh ya?" Jawab Daniel terlihat antusias, " Aku masih bisa dapat traktirannya nggak?"
Arimbi tersenyum nyengir kala mendengar Daniel mengucapkan hal itu.
" Bolah dong. Kak Ben juga boleh. Sekalian mau ngucapin terimakasih karena sudah di bantu buat kronologi kemarin!" Jawab Arimbi meringis menatap dua seniornya secara tak.
Akhirnya, mereka semua larut dalam canda dan tawa yang mengundang rasa tak suka pria yang duduk di meja lain, yang mendadak geram.
Ya, rahang Deo bahkan terlihat berkali-kali mengetat, manakala ia melihat Arimbi yang sengaja menunjukkan keakrabannya dengan Daniel.
" Eh Ar, ada saus di mulut kamu, bentar!" Daniel menotolkan tissue ke sudut bibir Arimbi, dan membuat Dian dan Eva seketika belingsatan.
" Cie!!! Bikin iri aja deh!" Eva yang tak sadar memeluk Dian , kini melakukan gerakan tangan pura-pura menangis.
Membuat Yohan dan Ben tergelak. Namun, tidak semua orang rupanya senang dengan apa yang tejadi barusan.
" Aku ke toilet dulu bentar!" Ucap Resita yang menyambar tasnya sedikit terburu-buru.
Menjadikan kesemua orang yang ada di sana, kini menjadi melongo demi melihat Resita yang mendadak pamit, saat mereka tengah asik bercanda.
What's wrong guys?
Membuat Arimbi tertegun dan seperti menyadari sesuatu.
.
.
Resita
Ia tidak marah kepada Arimbi. Tidak sama sekali.
Namun, ia tak kuat jika harus melihat kejadian itu lebih lama. Ia menyukai Daniel dalam diam. Dan melihat Daniel yang bersikap manis terhadap Arimbi, sontak membuat dirinya merasa sakit.
Ia menghapus air matanya yang terus meleleh membasahi pipi, tanpa seizinnya. Menghela napas dalam-dalam demi menetralisir rasa tak enak hati.
Group kece badai
Resita : "Sory guys, aku duluan ya. Perutku mendadak enggak enak. @Arimbi, thanks buat traktirannya ya🙂"
Ia terpaksa berbohong guna menutupi ganjalan di hatinya. Ia tidak tahu apakah ini salah atau benar. Namun jujur, ia tak tahan jika harus terus-menerus melihat semua itu.
Membuatnya memutuskan untuk pulang saja.
.
.
Ke enam manusia itu saling tercenung usai Dian membacakan pesan di grup mereka yang berisikan informasi soal kepulangan Resita yang mendadak.
" Tadi perasaan enggak kenapa-kenapa deh!" Ucap Dian memanyunkan bibirnya. Merasa tak rela jika Resita harus pamit duluan.
" Yee... emang elu wanita jadi-jadian , makanya enggak tahu gimana rasanya kalau cewek itu lagi nyeri haid! Kau tahu, rasanya itu seperti orang setengah mampus!" Tukas Eva yang membela Resita.
" Kayak pernah ngerasain mampus aja lu!" Sergah Dian memberengut.
" Yee, di kasih tahu juga!" Sahut Eva yang mengira jika Resita mungkin pulang mendadak karena nyeri datang bulan.
Namun, Arimbi makin tercenung demi melihat sikap yang mendadak berubah dari rekannya itu. Jelas mengindikasikan jika sesuatu telah terjadi.
"Kayaknya aku juga musti pergi nih. Bang, aku duluan ya. Tamuku udah datang rupanya! Ar, thanks ya makan siangnya!" Ucap Ben tersenyum bersahabat sesaat setelah membaca sebuah pesan dalam ponselnya.
" Iya nih, adik saya kebetulan juga sudah datang kaka Daniel . Adik saya dari Wamena. Saya pulang dulu ya? Ar, terimakasih banyak makanannya. Tuhan kasih balas berlipat kali ganda ya!" Ucap Yohan yang kini juga memiliki kepentingan.
Praktis, meja itu tinggal menyisakan Arimbi, Daniel, Deo dan juga Eva.
Rupanya, interaksi mereka tak luput dari sorot mata tajam penghuni meja di ujung sana.
Sepasang mata dengan isi dada tak beres, yang anehnya enggan untuk meninggalkan tempat itu, walau kekasihnya telah mengajaknya pergi sedari beberapa menit yang lalu.
" Ya udah lah, kita juga balik dulu kalau gitu. Semoga elu cepet bisa masuk lagi. Kangen tahu, lusa ada rombongan tour dari The Soebardjo Vineyards yang bakal landing. Kata Mbak Hera mereka biasa kasih sangu ke anak pasasi. Duh, wajib hadir kamu Ar. Lumayan biar buat jajan!" Ucap Eva mantap sembari menyandang tas warna maroon miliknya.
" Duit mulu isi otak lu" Ucap Dian mencibir.
" Daripada elu, isinya si otong terus. Enggak jebol tuh matahari!" Sahut Eva mendengar sebal.
Daniel seketika tergelak demi melihat keseruan para rekan Arimbi yang unik - unik itu.
" Ya udah Ar, kita duluan ya? Aku mau belajar nyetir mobilnya si Eva mumpung dia enggak pelit. Lumayan, siapa tahu nanti bisa beli!" Ucap Dian yang kini menyambar tasnya.
" Thanks ya Ar, ketemu lagi nanti. Semoga hukuman kamu cepet kelar. Kita kangen bergunjing di anjungan tahu!" Eva memeluk Arimbi yang tanpa sepengetahuan mereka masih curi-curi pandang membalas tatapan sengit Deo.
Dan, selepas dua manusia heboh itu pamit, kini Daniel dan Arimbi terlihat canggung. Kedekatan yang ada benar-benar menggerus kepercayaan diri masingmasing.
" Saya mau bayar dul..."
" Mbak!" Panggil Daniel kepada seorang pelayan itu. Membuat Arimbi ucapan Arimbi menguap.
" Ya Mas?" Jawab pelayan itu ramah, manakala memenuhinya panggil Daniel.
" Bayar yang tadi, semua!" Ucap Daniel sopan tatkala menyerahkan sebuah kartu, kepada pelayan itu untuk membayar semua tagihan bill makan mereka.
Arimbi dibuat terkejut manakala Daniel lah yang justru membayar ongkos semua makanan itu.
" Lho kak Daniel, kok kakak yang..."
" Ssstt, biarkan. Sekali-kali. Aku seneng banget bisa makan sama geng kamu. Anaknya rame! Seru!" Jawab Daniel tersenyum meletakkan jarinya ke bibir Arimbi sebagai titah untuk tidak melawan.
Membuat Arimbi menelan ludahnya.
" Ar, boleh nggak kalau aku deket sama kamu?"
DEG
Kini, sepasang mata tajam di sebrang sana terlihat memerah demi melihat interaksi tak biasa dua sejoli itu.
.
.
.
.
.
Keterangan :
Ramp: Petugas koordinator yang menjembatani petugas di dalam gedung bandara, dan awak kabin di salam pesawat.