
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Arimbi
Tangan yang semula menganggur itu kini nampak ia gerakkan menyusuri dada keras nan liat milik suaminya. Bersamaan dengan lidah yang saling membelit, Arimbi dengan jari lentiknya membuka satu persatu kancing milik suaminya, lalu membuka kemeja berwarna hijau army itu dengan sedikit terburu-buru.
Yeah!
Arimbi menyentuh enam cetakan otot suaminya yang sontak membuat darahnya berdesir. Jika dilihat, rasanya Arimbi tak rela jika wanita lain melihat keindahan itu.
" Astaga, aku pasti sudah gila. Kenapa aku baru menyadari jika dia seperkasa ini!" Batin Arimbi menelan ludah demi melihat otot tubuh yang bermasa liat itu.
Kini, Deo yang sudah bertelanjang dada itu nampak mengangkat tubuh Arimbi lalu dengan sigap pula, Arimbi melingkarkan kakinya ke punggung suaminya yang nampak mengetat demi menahan bobot istrinya itu.
Membuat Arimbi sangat bahagia. Ia merasa begitu dicintai dan di ayomi oleh suaminya yang luar biasa itu.
Mereka nampak terus berciuman, semakin lama semakin mendalam dan berubah menjadi sebuah tuntutan. Ya, tuntutan yang jelas sama-sama mereka butuhkan saat ini.
Hingga, Deo yang merasa sesuatu dari anggota tubuhnya yang bersemayam dibawah sana telah bangkit, seketika merentangkan tubuh istrinya keatas ranjang dengan seprei warna putih bersih itu dengan perlahan.
Kedua terlihat mengatur napas dengan dada kembang kempis seraya menatap mesra satu sama lain. Tatapan sayu dan sendu itu, seolah menegaskan jika keduanya benar-benar menginginkan hal yang sama saat ini.
Melebur cinta.
.
.
Resita
Di waktu yang sama, namun berada di lokasi lain, seorang wanita nampak duduk seorang diri di dalam cafe berdesain outdoor sembari melamun.
Perasaannya gundah juga resah. Sengaja ingin menyendiri demi ingin mencari sebuah jawaban atas kebingungannya.
Kilasan ingatannya kembali pada keadaan beberapa hari yang lalu. Kejadian dimana ia kini berada di persimpangan pilihan.
...Flashback...
Hari dimana ia diminta Daniel untuk datang membantu ibunya membuat kue terlaksana juga. Ia yang memang berasal dari kalangan orang berada, memang memiliki hobi mengulik beberapa resep dari portal media sosial.
Ia merasa tak percaya, bahkan semua itu terasa seperti mimpi, karena ia bisa berada di dalam rumah Daniel.
" Daniel ini anak Tante satu-satunya. Papanya meninggal sewaktu bertugas mengamankan kerusuhan saat dia masih SMP dulu!"
Ia tercenung demi mendengar penuturan wanita berusia paruh baya. Sedikit terkejut sebab rupanya Daniel selama ini menjadi tulang punggung keluarganya.
" Kamu ini teman perempuan pertama Daniel yang bisa bikin kue. Beberapa yang lainnya kebanyakan pinter dandan aja. Anak muda sekarang memang lebih bisa make up ketimbang urusan dapur!"
Ia turut tersenyum manakala ini Daniel tergelak.
Sejurus kemudian, Daniel yang turut berada di meja makan diantara dua wanita itu nampak menatap Resita dengan senyuman yang begitu lembut. Menyentuh kalbu Resita yang selama ini memang menaruh rasa terhadap Daniel.
Namun, kebahagiaan itu seolah lenyap manakala sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
" Kamu kapan libur? Keluarganya Danu pingin ketemu kamu. Atau kalau kamu tidak bisa pulang, biar kami yang kesana!"
Pesan dari sang papa sukses membuat selera makannya menguap.
Danuarta, pria yang selama ini ia tolak sebab selain memiliki sikap childish, pria itu sama sekali tidak masuk kriterianya.
Keluarganya yang pembisnis, seringnya memang seperti itu. Melakukan perjodohan agar circle nama baik keluarga mereka tetap terjaga. Dan keluarga Danuarta merupakan orang yang memiliki kualitas ekonomi yang sangat baik.
Dia menyukai Daniel dengan segala kurang lebihnya, walau ia juga tahu bila keluarga Daniel tidak sekaya keluarga Danuarta. But, kehidupan berumahtangga itu kan bukan soal harta yang selalu berlimpah. Ada perasaan sayang, juga rasa cinta yang harus turut berperan juga disana bukan?
Ia yang seringkali tak bisa membantah titah kedua orangtuanya. Namun, ia juga berhak atas kebahagian hidupnya sendiri.
Benar-benar terseret dalam arus kebingungan yang membuatnya berada di titik lesu.
...Flashback end...
" Kau ini benar-benar seperti diplomat ulung
Pindai sekali mengelak ya!" Ucap seseorang dengan cara tiba-tiba, yang benar-benar membuatnya terkejut.
" Kak Daniel? Kak Daniel kok ada di..." Ia bahkan tak mampu melanjutkan ucapannya demi kaget kala Daniel malah menarik kursi kosong di depannya, lalu duduk di depan wanita itu.
Terlihat tanpa dosa.
" Mas!" Daniel malah terlihat melambaikan tangannya kepada pelayan di cafe itu. Mengabaikan keterkejutan Resita yang tak mengira jika Daniel ada disana, bahkan saat ia sengaja beberapa hari ini menghindari Daniel.
Membuat Resita tertegun.
" Kenapa dia bisa ada disini? Kenapa setelah aku ingin tidak bersamamu kau malah mendekat seperti ini Kak?" Batin Resita resah seraya menatap Daniel yang sibuk berbicara dengan pelayan laki-laki itu.
" Kamu enggak ada balas chatku. Ya udah, aku lacak aja kamu pakai ponselmu, gak taunya ada disini. Ada apa? Semua baik-baik saja kan? Mama enggak ada ngomong apa-apa ke kamu kan?"
Terlebih, Mamanya suka dengan perempuan luwes, dan memiliki gaya bicara yang halus.
" Aku..." Ia mendadak gagap. Tak mungkin menjelaskan kerumitan yang ia dera.
" Res, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Daniel dengan raut yang lebih serius, sembari menyentuh punggung tangan Resita.
Membuat gadis itu seketika mendelik dengan getaran dada yang berubah menjadi tremor, kala tangannya di sentuh oleh pria tampan yang sejak awal membuatnya gila itu.
" Aku..."
" Sita!!!"
Keduanya spontan menoleh ke sisi kanan, saat sebuah sumber suara bernada berang nampak menggema ditempat itu. Mengundang perhatikan beberapa pengunjung lain.
DEG
" Danu?"
" Itu siapa Res?"
.
.
Arimbi
Ia mencengkram erat punggung suaminya yang kini basah sebab tekun menghentak tubuhnya. Menghujam bagian bawahnya dengan begitu kuatnya hingga ia merasakan ngilu di bagian pangkal pahanya. Oh God!
" Uhh!"
Suara-suara bernada sejenis makin membuat Deo tekun mengayun tubuhnya, menciptakan rasa indah yang hanya bisa merasa tafsirkan detik itu juga.
Nikmat langsung dari sang maha cinta.
Wajah sendu dengan tubuh yang terus bergetar hebat itu, semakin membuat Deo menghentak dengan begitu keras. Arimbi yang terlihat tak mampu membuka matanya demi menikmati rasa luar biasa itu, semakin membuat Deo beringas kala menjajah tubuh istrinya.
Deritan yang sebenarnya membuat Deo khawatir akan membangunkan penghuni rumah itu, nampak Deo tepiskan demi rasa nikmat yang tiada bisa ia tahan. Oh man!
Dalam posisi yang masih menghentak istrinya, Deo kembali menyambar bibir yang nampak terbuka demi mengatur napas.
" Mas!!"
Des*ahan yang meluncur dari mulut Arimbi bahkan seolah menjadi pemandu sorak bagi jiwa perkasa Deo. Membuat jiwa keduanya larut dalam lautan kasih sayang.
" Aku mencintaimu!"
.
.
Farel
Ia yang barusaja selesai melakukan editing tugas musik milik group bandnya didalam laptop, tiba-tiba merasa haus. Botol plastik merk ternama itu kosong dan lupa ia isi. Kopi susu dalam cangkir itupun juga sudah tandas.
Membuatnya mau tak mau harus ke dapur untuk mengambil air.
Jam masih menunjukkan pukul sembilan malam lebih sedikit. Tapi, ibu sepertinya sudah tidur.
Sementara kakaknya? Entahlah. Mungkin juga telah beristirahat. Sebab usai mereka mengobrol bersama tadi, semua penghuni rumah sederhana itu nampak masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
Termasuk dirinya.
Laki-laki seperti Farel pasti menganggap jam sembilan merupakan jam yang masih sore, sangat berbeda dengan kaum ibu-ibu yang di jam selepas isya saja, sudah kehilangan kesadarannya dan memilih terbang bersama mimpi.
HURRKKH!
DEG
Ia mendadak membeku demi mendengar suara aneh, kala ia melintasi kamar kakaknya yang berada di dekat lorong jalan menuju dapur.
HURRKKH!
Lagi, suara yang baru pernah ia dengar itu kembali membuatnya menelan ludah. Sungguh, tubuhnya seketika menjadi tegang, demi mendengar suara yang seharusnya tidak ia dengar dengan pikiran yang mendadak berkelana jauh.
What the....?
.
.
.
.
.
.