My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 85. Interogasi kelas amatir



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Deo


Ia sudah merapatkan mitigasi singkat bersama adiknya seharian. Salah satunya ialah dengan merencanakan kembali menuju ke kota B lebih cepat.


Ada banyak sekali ide yang merasuk ke dalam otaknya. Walau, pikirannya saat ini benar-benar tak sinkron dengan perasaannya.


Namun beginilah dinamika kehidupan, dimana beberapa lembaran hari-hari yang ada , kerap membuat kita kalang kabut tanpa kenal kasihan.


Usai kembali menggarap Arimbi di pagi yang gelap serta begitu dingin tadi, pria itu nampak telah mandi dan mengenakan pakaian yang semalam ia gunakan untuk kembali ke kamarnya dengan tubuh bugar.


Berjalan santai sebab suasana hatinya tengah baik. Oh andai Roro tahu jika Deo justru lebih bahagia saat dia meninggalkannya. Mungkin wanita itu akan nangis darah di hadapannya.


Namun, rupanya rasa rileks yang menyelimuti dirinya itu tak bertahan lama. Perasaan ringan dan santai itu dalam sekejap berganti dengan sebuah keterkejutan yang nyata, manakala dua netranya menangkap objek hidup yang benar-benar membuatnya tak percaya.


" Eva?"


Detik itu juga, baik dirinya maupun Eva terlihat sama-sama kaget. Membuat Deo mempercepat langkahnya.


" Eva, ngapain kamu disini?"


Eva yang mendapat pertanyaan itu hanya bisa menelan ludah. Benar-benar definisi dari tertangkap basah.


"Kenapa kau malah berdiri disitu? Pergilah, jangan sampai kita semua terlambat karena menunggumu!"


Belum juga ia mendapatkan jawaban dari keterkejutan yang kini menderanya, sesosok mahluk lain dari golongan pemilik testosteron itu menyembulkan kepalanya dari balik pintu dengan wajah datar.


Demas sialan!


" Ayo cepat. Apa kau lupa, jika aku tidak suka mengulang perintah?" Ucap Demas kembali kali ini dengan suara agak tinggi.


Eva tidak tahu, Demas sengaja melakukan itu agar wanita itu bisa segera lepas dari cecaran pertanyaan kakaknya, yang jelas-jelas membidik mereka dengan tatapan penuh selidik.


Namun, alih-alih mengerti dan paham kode yang diberikan oleh Demas, wanita itu justru nampak pucat dan kini terlihat bloon, manakala menatap kakak beradik itu secara bergantian.


Bingung harus menuruti siapa dulu.


" CK, pakai acara ada Pak Deo segala lagi. Haduh, gimana dong? Dia kan bosku yang asli." Eva membatin resah.


" Cepat!" Hardik Demas demi melihat Eva yang malah membeku.


Oh astaga!


" Sa- saya permisi dulu Pak!" Eva bahkan seketika gagap demi melihat Deo yang nampak terbengong-bengong, dengan tubuh yang kini kaku.


Ya, wanita itu akhirnya melewati Deo yang menatapnya tak lekang, dengan gerakan sedikit berlari dan mulut komat-kamit sebab tengah merutuki diri sendiri.


Demas benar-benar kurang ajar.


" Kau juga kak, sebaiknya cepat ganti bajumu. Jangan sampai kita semua turut menjadi penyebab pesawat delay!" Ucap Demas seraya membalikkan badannya, manakala melihat Eva yang sudah berhasil lolos dari makhluk yang pasti saat ini berpikiran ngeres itu.


Membuat Deo menatap tak percaya ke arah adiknya, dengan hati yang haus akan jawaban nyata.


" Apa mereka berada dalam satu kamar semalaman?"


.


.


Demas


Ia tidak rikuh tidak juga gupuh. Namun, ia yang melihat Eva membeku di saat berhadapan dengan kakaknya itu jelas membuatnya harus turun tangan.


Ia tahu kak Deo seperti apa. Walau sebenarnya ia juga khawatir terkait potensi kesalahpahaman yang mungkin Deo voniskan terhadap mereka, namun menurutnya, tidak ada yang perlu di khawatirkan kecuali keselamatan perusahaan kakaknya.


Lagipula, Demas merasa mereka memandang tidak melakukan apapun. So, apa yang musti di khawatirkan?


Berani karena benar dan takut karena salah itu benar-benar sebaik-baiknya kata bijak.


" Apa yang kalian lakukan semalaman?" Cecar Deo mengejar adiknya dan terus mengekor di belakang Demas.


" Tidur!"


Demas menjawab santai seraya menekan tombol indikator air panas, dan berniat menyeduh kopi. Sama sekali tidak terganggu dengan pernyataannya dari kakaknya.


" Hah, serius kalian semalaman....?"


Demas menatap sebal kakaknya yang sepertinya salah mengartikan jawabannya. Bahkan wajah kakaknya namaku mendakwanya dengan tatapan cabul.


Oh common man!


" Kau pikir aku ini kau yang suka icap icip?" Tatap Demas jengah. Mendengus kesal sebab kakak mulai ngawur.


" Demas, ayolah. Jangan sampai kau menamb..."


" Dia tertidur di sini saat semalam membawakan aku makanan. Aku mandi, dia tidur. Ya udah...jadi aku biarkan dia disini!" Sela Demas dengan wajah malas. Membuat Deo memicingkan matanya sebab semakin penasaran.


Oh ya?


Are you serious?


Namun sayangnya, Deo kini justru senyam-senyum sendiri demi mengartikan jawaban adiknya. Semacam tak percaya dan justru meyakini dengan terkaan yang timbul sendiri dalam otak seronoknya itu.


Oh ayolah, bukankah mereka sudah sama-sama pejantan? Kenapa kau tidak jujur saja?😜


" Sebentar.. kau membiarkan dia tidur disini kan, tidak mungkin manusia berbeda jenis dalam satu ruangan tidak melakukannya apapun. Apa adikku ini sudah mengikuti keberhasilan kakaknya?" Ucap Deo dengan wajah sumringah. Melirik wajah adiknya dengan tatapan penuh arti. Ihiir!


" Apa yang kau pikirkan memangnya? Keberhasilan apa memangnya, jangan aneh-aneh. Ingat itu perusahaan lagi sakit, malah sibuk bully orang!" Demas makin mendengus demi melihat kakaknya yang benar-benar sudah tidak waras.


Deo semakin tergelak manakala melihat adiknya yang marah namun wajahnya begitu memerah. Apalagi indikasinya jika bukan karena malu.


Sebuah kemajuan yang pesat pikirnya. Demas yang selama ini agak selektif dan tertutup, hari itu nampak lebih open minded. Apalagi, bagi pria dewasa macam mereka, pikiran soal betina sudah pasti merupakan hal riskan dan patut untuk di pertanyakan.


" Sepertinya aku harus berterima kepada Eva!" Gumam Deo dengan wajah mencurigakan, dan sukses membuat Demas melirik kakaknya.


" Untuk apa?" Sahut Demas yang terlihat akan menyeruput kopi buatannya sendiri. Menatap lekat kakak satu-satunya itu dengan tatapan penuh tanya.


"Sebab..." Jawab Deo yang kini mendekatkan wajahnya ke arah adiknya yang nampak tegang.


" Sebab aku sekarang sudah aman. Karena...kau pasti sudah tidak tertarik lagi untuk merecoki aku dengan istriku kan? Sepertinya, kau baru kali ini membiarkan wanita dekat denganmu. Tidakkah ku sadari itu? " Deo menaikturunkan kedua alisnya, seraya menepuk pipi adiknya yang kini lekas mendekatkan pinggiran gelas itu ke arah mulutnya, dengan wajah penuh kebahagiaan.


Yes!


" Uhuk - Uhuk!"


" Uhuk- uhuk!"


Demas seketika tersedak kopi yang barusaja ia seruput demi mendengar kalimat bernada sindiran itu kepada dirinya.


"Kak Deo sialan!"


" Bhahahahahaha!" Deo langsung terpingkal-pingkal demi melihat adiknya yang terlihat grogi maksimal.


Pria itu bahkan kini berselebrasi seorang diri, meninggalkan Demas yang sibuk mengelap kopi yang menumpahi pakaiannya, dan tanpa mereka berdua sadari, mereka sejenak bisa melupakan isi otak yang sedang semrawut itu.


Oh God! Lihatlah! Adik kakak itu sungguh memiliki perbedaan yang benar-benar nyata.


" Whuuu, Eva. You are my Hero!" Seru Deo laksana orang gila yang kini mengangkat kedua tangannya keatas penuh kegembiraan dari dalam kamar adiknya.


Membuat Demas seketika melebarkan cuping hidungnya seraya mendengus sebal.


Namun, sejurus kemudian, pria itu nampak tertegun demi merasai kalimat yang beberapa detik lalu di ucapkan oleh kakaknya.


Deo sepertinya benar. Tanpa Demas sadari, ia memang kini lebih menjadi sibuk dengan gadis pecicilan itu ketimbang mengorek informasi soal hubungan Arimbi dan kakaknya. Begitu pikir Demas.


" Apa aku yang aku pikirkan!" Batin Demas seraya menggelengkan kepalanya demi niat untuk mengugurkan bayangan wajah Eva, yang malah mendadak melintas di dalam pikirannya.


Are you kidding me?


.


.


.


.