
...🌿🌿🌿...
...•...
...•...
...•...
Deo
Malu, canggung, rikuh, segan, sungkan, apalagi?
Kata itu agaknya relevan untuk menggambarkan perasaan Deo, yang pastinya kehilangan telah kehilangan taringnya saat ini.
Alih-alih sok cuek, ia justru kena tulahnya sendiri.
Nyahok nggak tuh! 😁
Deo bersikap sok tenang kala Arimbi kini menarik sudut bibirnya penuh kemenangan. Menatap tak habis pikir ke arah Deo, yang masih saja terlihat tak mau kalah walau telah salah.
Deo terlihat berdehem sebanyak dua kali, demi menetralisir rasa malu dalam hatinya. Ya, mana mungkin seorang Deo Alfa Darmawan mau mengakui kebodohannya. No way never ever!
Arimbi tak lagi menggubris semua hal yang dilakukan oleh pria konyol itu, wanita itu sejurus kemudian terlihat menuju ke arah lemari pakaian, lalu berjongkok.
" Mau apa kau?" Tanya Deo kepada Arimbi yang terlihat sibuk mengaduk isi lemari bagian bawah. Mencari sesuatu yang membuat Deo dirundung keingintahuan yang besar.
Arimbi tak menjawab, ia masih tekun mencari jaket atau sejenisnya yang mungkin berada di sana. Arimbi merasa sekujur tubuhnya kedinginan bahkan di saat matahari lekas meninggi. Mengindikasikan jika dirinya memanglah tak sehat, seperti yang dikatakan oleh Demas tadi.
" Hey, apa kau tul...."
Deo seketika menghentikan ucapanya manakala melihat Arimbi kini berdiri lalu terlihat mulai mengenakan jaket, yang barusaja ia dapatkan dari dalam lemari itu.
Usai mengenakan Hoodie warna abu-abu itu, Arimbi terlihat mengabaikan Deo, dan memilih untuk meletakkan kepalanya, diatas bantal yang telah tata di sofa, lalu melingkupi sekujur tubuhnya menggunakan selimut.
Membuat Deo tercenung , demi melihat tampilan Arimbi yang mirip seperti setandan pisang yang hendak di karbiti menggunakan karung.
" *Apa dia benar-benar sakit? "
"CK, kenapa aku peduli*!" Decak Deo dalam hati.
Namun, kebisuan Arimbi justru membuat Deo semakin tak tahan saja. Membuat pria itu mendatangi Arimbi sebab kesal karena di acuhkan.
" Kau ini benar-benar tak punya kup..."
Deo tiba-tiba menghentikan niatnya lalu mendadak mematung, demi merasakan suhu tubuh Arimbi yang sangat panas, kala tangannya tak sengaja menyentuh pipi wanita itu, saat ia dengan gusarnya menarik paksa selimut yang di kenakan oleh Arimbi.
Ya, Arimbi benar-benar sakit.
" CK, kau demam rupanya!"
Wajah Deo berubah panik, manakala melihat sorot mata layu Arimbi yang menatapnya jengah.
Wanita itu bahkan terlihat tak memiliki selera untuk sekedar mendebat ataupun menjawab Deo. Laksana mengibarkan bendera putih, sebagai pertanda jika ia tak akan melakukan gencar senjata.
Deo meneguk ludahnya manakala melihat Arimbi yang mencelos dan terlihat tak suka di dalam kerapuhannya, saat wanita itu kembali menarik selimut putih lalu memunggunginya .
" Astaga, dia benar-benar sakit!" Resah Deo dalam hati.
Sejurus kemudian, Deo terlihat pergi secara tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun. Entah akan kemana pria itu. Arimbi tak tahu dan tidak mau tahu. Yang dia pikirkan saat ini, hanya ingin beristirahat saja sebab badannya teras nyeri dan sang pengganggu telah pergi.
.
.
Sementara itu di suatu tempat, terlihat sekumpulan orang-orang santai yang larut dalam pembicaraannya tak santai.
" Jadi apa rencanamu?" Tanya seseorang yang tengah duduk menatap wanita yang kini meneguk minuman memusingkan itu dengan alis bertaut.
" Aku tidak tahu. Tapi aku rasa, kita agak sulit buat menjatuhkan anak itu! Orang Airlines bahkan lebih menyukai dia daripada aku yang lebih dulu bekerja disana!" Jawab wanita itu sembari meneguk segelas minuman yang telah terhidang untuknya, dengan bekas kulit kacang yang berserak di kolong meja.
" Aku benar-benar membenci anak itu!" Wanita itu mencengkeram gelas yang kini kosong itu dengan kuat, seraya menggertakan giginya geram.
" Kau benar, bahkan teman-temannya itu juga sangat susah diatur! Aku bahkan melihat mereka dekat dengan Daniel!" Jawab salah satu dari mereka dengan memijat bayi yang sudah terasa sangat berat di jam sepagi itu.
" Mungkin mereka pakai susuk! Makanya mudah cari perhatian!"
Membuat beberapa orang berhati picik itu saling melempar tatapan penuh keresahan.
" Aku punya cara!" Ucap wanita itu tersenyum licik, membuat empat kian rekannya turut menatapnya penuh arti.
.
.
Arimbi
Jelas menegaskan akan kondisi kesehatannya saat ini tengah menurun.
Ia lega saat mendengar pintu itu tertutup. Mungkin Deo menemui Roro. Tapi bodo amat, yang penting dia kini bisa beristirahat.
Namun kelegaannya rupanya hanya bersifat fana. Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu itu terlihat terbuka saat ia berada di ambang sadar dan tidak sadar, sebab demam yang semakin tinggi.
Ya, Deo kembali saat Arimbi tengah lelap dan tidur dalam mode berhalusinasi, efek dari demam tinggi yang menyerangnya.
" CK, panas sekali dia!" Ia bisa mendengar Deo yang bergumam, di saat dirinya tak lagi sanggup untuk membuka matanya secara penuh.
" Ibuk!" Kata itu mendadak lolos begitu saja tanpa Arimbi sadari, bahkan di saat sekujur tubuhnya mendadak lemah.
Panas yang terlalu tinggi memang kadang bisa membuat orang berhalusinasi. Dan Deo tak tahu, wanita yang terlihat kuat dari luar itu, selalunya begitu tiap sakit. Memanggil sembari merintih memanggil nama Ibunya.
" Ibuk!" Gumam Arimbi lagi yang membuat Deo semakin resah.
Bagiamana ini?
Deo yang baru saja meletakkan air didalam mangkuk kaca besar, yang sudah ia masuki sebuah kain untuk mengompres Arimbi terlihat membalikkan tubuhnya lalu berjalan embu sofa yang digunakan Arimbi untuk membaringkan tubuhnya.
" CK, sok galak kalau sakit aja manggil-manggil emakmu terus!" Gerutu Deo yang kini mendadak tak tega kala melihat Arimbi yang terus berucap dalam kondisi mata terpejam.
Pria itu terlihat membuang selimut yang di kenakan Arimbi, lalu tanpa menunggu langsung mengangkat tubuh wanita itu dan berniat memindahkannya ke atas ranjang.
" Ibuk!"
Deo yang kini membopong Arimbi mendadak merasa iba kala melihat bibir pucat yang kemarin ia lahap secara paksa itu, terus memanggil- manggil Ibunya.
" Ibuk!"
DEG
Deo terkejut kala melihat tangan Arimbi yang tiba-tiba menahan tangannya, lalu menempelkan tangan berjari besar itu, ke arah leher panas milik Arimbi.
" Jangan pergi Buk!"
Deo mendecah tak percaya, Arimbi pasti berhalusinasi dan menganggap dirinya sebagai Ibunya.
Haish, yang benar saja!
Deo terlihat melepaskan tangan Arimbi secara perlahan, dan sejurus kemudian mencelupkan kain itu dua kali ke dalam air.
Arimbi tak melihat jika Deo kini menjelma menjadi orang yang mendadak telaten, saat memeras kain putih yang hendak ia gunakan untuk mengompres Arimbi.
" Hah, kau ini benar-benar ceroboh sekali!" Ucap Deo sebal manakala menempelkan kain basah itu, keatas kening Arimbi.
Deo bergumam seperti itu bukan tanpa alasan, ia tahu bila Arimbi kemarin mengunci dirinya didalam kamar mandi dalam waktu yang cukup lama.
" Dingin buk!"
Deo kembali mendecak meski akhirnya ia mengambil juga selimut yang tadi ia lempar itu, lalu menutupkannya ke tubuh Arimbi.
Namun, ia semakin resah kala melihat Arimbi yang terus menggigil walau bad cover miliknya, sudah ia tambahkan untuk menyelimuti tubuh Arimbi.
" Buk peluk Arimbi Buk!"
Deo mendelik manakala tangan Arimbi terulur menarik lengan kekarnya. Membuat Deo menelan ludah. Oh ****!
" Peluk Arimbi Buk!" Ucap Arimbi dengan tubuh menggigil. Deo tak tahu, jika Arimbi sakit, ibunya selalu memeluk Arimbi bagai masa kecil dulu.
Melihat Arimbi yang terus menerus meminta di peluk sebab wanita itu sepertinya masih sangat berhalusinasi, membuat Deo menepikan egonya atas nama empati.
" Hah, jangan sampai kau menyalahkan aku, saat kau sadar nanti ya, awas kau!" Gumam Deo yang mau tak mau, kini turut membaringkan tubuhnya memeluk Arimbi yang kini menggigil.
Kini, selain tubuh Arimbi yang sedikit hangat, hati milik pria itu juga mendadak terasa aneh, manakala ia memeluk Arimbi dari arah depan. Pria itu bahkan bisa mencium aromanya sampo Arimbi yang begitu wangi.
Membuat sesuatu yang bersemayam di bawah sana tergugah untuk terjaga.
Oh common man, hold yourself back!"
.
.
.
Keterangan:
Demam adalah kondisi dimana terjadinya peningkatan suhu tubuh manusia. Suhu tubuh normal berkisar antara36,10C sampai 37,50C. Keluhan demam dapat menandakan terjadinya sebuah reaksi peradangan sistemik dalam tubuh, yang bisa disebabkan oleh infeksi baik bakteri / virus, penurunan daya tahan tubuh, penyakit auto imun, konsumsi alkohol berlebihan.
Gejala lain yang biasanya menyertai demam adalah sakit kepala, berkeringat, menggigil, lemas, nyeri otot, nafsu makan menurun, dsb. Apabila demam terlalu tinggi >38,50C atau bahkan >390C, dapat menimbulkan gejala lain seperti bermimpi buruk, mengigau, atau berhalusinasi.
( Sumber : Alodokter)