My Boss My Enemy My Husband

My Boss My Enemy My Husband
Bab 172. Seberkas sinar kebahagiaan



...🌿🌿🌿...


...•...


...•...


...•...


Arimbi


Tangan kekar dengan otot kentara itu kini tak luput dari hujaman kuku seorang Arimbi yang tengah mengejan. Ya, wanita itu tengah berjuang dengan segenap jiwa dan raganya untuk mengeluarkan buah cinta mereka ke dunia di waktu malam itu.


Sungguh, durasi yang cukup lama mulai dari bukaan pertama, hingga bukaan terakhir. Membuat Deo kini mengetahui, bila menjadi perempuan benar-benar se sakral ini.


Deo yang merasa perutnya turut nyeri akibat mengikuti langsung jalannya persalinan itu, nampak bolak-balik menghela napas. Walau sebenarnya tak tega, namun dia masih setia di sisi Arimbi yang bermandikan peluh demi wujud nyata kasih sayang seorang suami.


" Sebaiknya ganti posisi pak. Anda bisa pindah ke belakang Bu Arimbi dan bantu mendorong ya. Ini bayinya besar sepertinya!"


Dokter itu nampak memberi saran sebab Arimbi mulai terlihat kelelahan.


Deo yang tangannya membekas tancapkan kuku bahkan tak menghiraukan rasa perih itu. Ia nampak sigap membetulkan posisi di belakang istrinya sebab ia benar-benar turut panik.


" Ayo nduk, tinggal dikit lagi. Tadi kepalanya udah kelihatan!" Bu Ning yang juga diminta Arimbi untuk berada di sana bahkan tiada lelah menyemangati putrinya yang tengah bertaruh nyawa.


Wanita itu menahan air matanya, kala menyaksikan langsung anaknya yang kini mulai kehabisan tenaga.


" Dok rasanya mau..." Arimbi merasa dirinya hendak buang air besar, dan merasa bayi dalam perutnya mengajaknya untuk mengejan kembali.


" Teruskan saja, ayok kita sama-sama hitung yaBu. Satu ..dua...ti..."


" Engghhhh!"


Tangisan bayi yang begitu kencang sesaat setelah Arimbi mengejan dengan seluruh sisa tenaga yang ada, membuat Deo seketika membeku selama sepersekian detik kala menatap bayi licin yang kini di balik oleh dokter itu.


" Anakku!"


Arimbi yang kini mengeluarkan napas dengan kembang kempis, melirik bayi merah yang kini tengah di pegang oleh dokter itu seraya menggumam lirih penuh keharuan.


Membuat sakit yang semula ia rasa sirna sudah.


Ya, bayi laki - laki itu lahir dengan selamat.


" Tolong betulkan posisi duduknya Pak, biarkan bayinya melakukan IMD ( Inisiasi Menyusu Dini)!" Titah dokter yang juga nampak senang itu.


Deo yang menitik air matanya nampak bergerak cepat kala melonggarkan tempat untuk Arimbi. Sungguh, hatinya begitu bahagia kala melihat bayi laki-laki yang kini mencari pu ting milik ibunya itu tampak gesit.


"Lihatlah sayang, dia sangat mirip denganmu!" Ucap Arimbi yang masih sangat terharu manakala anaknya kini berada di atas dadanya.


" Itu karena aku tampan!" Ucap Deo seraya mencium pipi istrinya dari samping. Membuat perawat yang masih ada di sana seketika baper.


" Selamat Nak!"


" Kau sudah jadi Ibu!"


Bu Ning yang setia menunggu kini menangis seraya mengusap rambut anaknya yang basah karena keringat perjuangan.


" Ibuk udah jadi nenek Buk!"


Mereka berdua menangis dengan rasa hati yang begitu bahagia. Membuat dokter yang melihat hal itu turut merasakan hal yang sama.


Deo nampak berkali-kali menyusut sudut matanya yang terus saja basah tanpa mau berhenti. Sungguh, ia kini benar merasa hidupnya sungguh sempurna.


" Eh, dok itu istrinya saya mau di apain?"


Tanya Deo yang melihat dokter itu membawa benda yang mirip dengan pancing, dan nampak mengarahkannya ke area jalan lahir istrinya.


Membuat dokter itu ingin tertawa demi melihat wajah Deo yang mendadak pias.


" Saya akan membetulkan surga dunia anda! Jangan khawatir. Saya jamin bentuknya akan bagus seperti semula!" Jawab dokter itu enteng dengan wajah tersenyum ceria.


Membuat wajah Deo seketika memerah. " Dokter sialan! Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan santainya!"


.


.


Hari telah gelap.


Sebenarnya, Papa Tomy tak benar-benar makan. Pria itu hanya berniat memberikan kesempatan pada Erik untuk berduaan bersama Wiwit. Ia tahu, menunggu itu rasanya teramat menyiksa. Terlebih, selama ini putranya itu sering teraniaya oleh rasa sepi.


Sebagai pria yang sudah mencecap pahit manisnya menjadi budak cinta, Tomy paham dengan hal-hal remeh temeh macam itu.


Papa David yang juga telah kembali dari aksi berbohongnya, terkejut demi melihat Papa Tomy dan Mama Eka berjalan menuju ke arah yang sama.


What the...?


Membuat otak mereka, seketika memikirkan hal yang sama.


" Ehem! Roman- romannya ada yang..."


Mama Eka sengaja berdehem dari jarak lima meter, kala Erik sedari tadi memegang tangan Wiwit saat keduanya kepergok duduk dengan posisi yang tak berjarak.


Dasar pencari kesempatan dalam kesempitan! Membuat dua orang itu malu sebab terciduk.


" CK, Mama nih ganggu aja!" Gumam Erik kesal karena kini Wiwit menjadi malu.


Membuat Mama Jessika tergelak kecil.


" Wah wah, sepertinya ada yang bakalan mantu nih dalam waktu dekat!" Celetuk Jessika seraya memainkan alisnya menatap Mama Eka. Menggoda sahabatnya yang nampak senang.


" Ya dong, selain pingin cepet punya mantu, aku kan juga pingin tegang di rumah sakit karena nunggu calon cucu, iya nggak mas?"


Erik serasa ingin muntah demi melihat Mamanya yang bermanja-manja di depan Papanya yang selalu saja datar. Hadehhh!


Laki-laki itu bingung. Sebenarnya, bagiamana sih cara kerja papanya sehingga bisa menciptakan dirinya saat ngomong saja sangat jarang.


Dan satu lagi, kenapa Papanya bisa tahan memiliki istri secerewet itu?


" Punya mantu, Tante Eka udah punya calon mantu?"


Kini, kesemua manusia yang ada di sana terkejut demi mendengar suara pria yang sangat familiar, menginterupsi obrolan mereka.


DEG


Mata para manusia itu seketika terbelalak demi melihat Demas yang menggandeng tangan Eva bersama Ibu mertuanya, tengah berjalan berdiri tegak menatap wajah-wajah terkejut itu.


" De- Demas?" Mama Jessika yang semula ingin tertawa demi reaksi konyol sahabatnya, kini seketika membeku demi melihat putra bungsunya telah berdiri tegak di depan sana.


" Demas!"


" Kau sembuh nak?" Ucap Mama Jessika seraya memeluk anaknya dengan lelehan air mata yang tiada mau terhenti.


Membuat Mama Eka seketika di peluk papa Tomy sebab mendadak turut menangis. Kini, Papa David merasa sangat bersyukur, sebab di tengah penantiannya akan kabar bahagia yang sudah di depan mata, kesembuhan Demas menjadi pelengkap yang luar biasa.


Erik dan Wiwit nampak saling melempar senyum demi merasakan hal yang sama. Kebahagiaan.


" Kenapa tidak bilang kalau..."


" Mas Demas sengaja kasih kejutan ke kita semua Mah, Pah. Aku bahkan juga tidak tahu kalau beliau sudah bisa jalan Ma!" Tutur Eva yang juga masih belum bisa move on dari suguhan nikmat suaminya beberapa menit yang lalu.


Mama Jessika tersenyum penuh kelegaan. Kini, kedua anaknya terlihat bahagia dengan keadaannya saat ini. Benar juga apa kata orang suci, kebahagiaan pasti akan di temui oleh orang-orang yang selalu mau bersabar.


CEKLEK


Saat keharuan masih menyeruak, pintu yang semula tertutup rapat itu mendadak terbuka.


" Bayi nyonya Arimbi sudah lahir dengan selamat. Mohon menjaga kebersihan saat memasuki kamar bayi nanti ya. Kami Permisi dulu!"


Kini, Jessika benar-benar menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Anak sulungnya telah resmi bergelar sebagi Papa, dan anak bungsunya telah melewati masa-masa sulitnya bersama istrinya yang begitu tabah.


" Ayo cepat, kita masuk kedalam!" Ucap Mama Jessika berlari tak sabar kala melintasi wajah-wajah sumringah disana.


" Kalau masuk ya pasti ke dalam Tante!"


Membuat sisa manusia yang ada diluar itu saling menatap. Apa maksudnya coba? Gak jelas!


" Karena kalau keluar di dalam, itu lain lagi istilahnya. Lebih ekstrem!" Sahut Erik menaikturunkan alisnya seraya tersenyum cabul.


" Erikkk!!!"


.


.


" Dia mirip Kakeknya!"


" Lihatlah, dia mirip denganku Bel!"


Ya, sepeninggal dokter yang semula bertugas tadi, David terlihat melakukan panggilan video bersama keluarga Leo.


Kini, ruangan luas itu terlihat sempit sebab lebih dari sepuluh orang yang kini berada di sana.


Para orang tua seperti Papa David, Mama Jessika, Papa Tomy, Mama Eka, Bu Ning, serta Ibu Eva, tengah berbondong-bondong mengerubungi primadona baru keluarga Darmawan yang lucu itu.


Sementara tiga pasang kawula muda yang nampak bahagia itu, tengah berada di dekat Arimbi yang baru saja mandi. Terlihat ingin berbagi rasa.


" Apa kau benar-benar sudah sehat?"


Tanya Deo kepada adiknya. " Aku tidak menyangka jika ramuan itu mujarab!"


Ya, sebagai saudara kandung, meski mereka dulu sering bersitegang, namun rasa saling mengasihi itu selalu ada.


" Tentu saja. Aku juga ingin segera menggendong keponakanku! Kau pikir aku enak rasanya di bawah terus?"


Membuat semua orang tergelak demi ucapan absdurd Demas yang membuat Eva kembali merinding.


" Tapi sepertinya, ada yang sedang...ehem..ehem...!" Arimbi yang masih berbaring diatas ranjang, nampak melirik Erik yang sedari tadi menunjukkan wajah secerah mentari pagi yang bersinar menyinari bumi.


Membuat Arimbi dan Eva saling tersenyum penuh arti.


" Haish, jangan bergunjing! Tolong jangan bergunjing!" Ucap Erik jumawa yang membuat Deo dan Demas memutar bola matanya malas.


"Kalian pikir, aku tidak iri melihat kalian bangun pagi selalu ada yang pegang-pegang ?"


Seloroh Erik yang membuat dua laki-laki bersaudara itu tergelak kencang, dan Wiwit malu dengan wajah memerah. Damned!


" Apa yang sebenarnya laki-laki itu bicarakan?"


" Haduh, kenapa jadi pada bahas beginian sih? Ingat ya... jangan mau enaknya aja, awas gantiin popok anaknya enggak bisa!" Ancam Arimbi yang membuat Deo seketika nyengir.


" Tapi tunggu dulu, yang kita lihat ini bener kan mbak? " Tanya Eva menyentuh lengan Wiwit. Membuat kesemuanya juga nampak menunggu.


Sejurus kemudian, Wiwit terlihat mengangguk dengan wajah yang malu-malu dan seketika membuat dua pasangan itu saling bersorak demi rasa gembira yang meluap.


" Yeee!!"


" Cieee?!!"


" Suit- suit!"


" Sssttt! Woy! Apa yang kalian lakukan? Cucuku baru saja tertidur dan kalian malah ribut seperti di pasar!". Mama Jessika nampak memarahi tiga pasangan yang telah be berbuat onar itu dari radius dua meter.


Membuat tiga pasangan muda itu seketika meringis kikuk.


" See, benarkan? Sepertinya jabatan kalian sebagai anak dari Tante Jessika udah ekspaiyet ( expired/ kadaluarsa) deh. Tuh lihat, sepertinya, bayi itulah yang kini bakal bertahta di atas segala!"


" Habislah kalian!"


" Hahahah!"


Erik berbicara jumawa dengan tawa yang menggelegar kala mengejek wajah-wajah kikuk itu.


Namun tiba-tiba.


Swiinggg!


PLETAK!


" Aduh!" Erik mengaduh kesakitan manakala sebotol minyak kayu putih ukuran jumbo mendarat di jidatnya.


" Apa kau sudah tidak waras, suaramu membuat bayi ini berjingkat. Dasar anak kurang ajar!"


Kini, Deo, Arimbi, Eva, Demas juga Wiwit nampak tertawa lepas bersama - sama, demi melihat Erik yang manyun sebab di damprat oleh Mama Eka.


" Belum juga resmi punya anak mantu. Tapi udah buat aku b'rasa jadi anak tiri!"


.


.


.