MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
098. AKU MENGHORMATINYA



Sejak kembali dari pertemuan yang diadakan Lion, Niko berada di pinggir kolam, tempat favoritnya dengan sebatang rokok yang sedang dihisapnya. Waktu baru menunjukan pukul sembilan malam dan pemuda itu sudah berada di sana sejak satu jam yang lalu dengan terus menghisap rokoknya.


"Siapapun tahu kau memanfaatkan Lion." Ivan datang menemui Niko.


Niko tertawa kecil mendengarnya dengan tatapan kosong mengarah pada kolam renang dan tidak menoleh pada kedatangan Ivan.


"Sekarang semuanya menjadi tidak seseru sebelumnya. Semuanya kacau hanya karena seorang gadis." Tambah Ivan berdiri di jarak dua meter di samping Niko. "Jika Lion menang, gadis itu akan membencinya karena menghabisi kakaknya, dan jika Ars menang, kau berhasil menyingkirkan penghalangmu dalam hubunganmu dengan gadis itu."


"Sejak awal Lion yang ingin menantang Ars, aku hanya menyemangatinya." Jawab Niko masih pada posisinya. "Dia bukan penghalangku, aku tak ada niat menyingkirkannya. Aku sudah menganggap Lion saudaraku melebihi kau yang adalah sepupuku, Ivanovic."


"Seharusnya aku tahu kenapa waktu itu kau memintaku menyembunyikan dan tidak memberitahu Lion saat kau pindah sekolah." Ujar Ivan. "Semua akan membencimu kalau Lion sampai tidak selamat."


"Mereka semua sudah membenciku sekarang, tapi aku tidak peduli, aku akan pindah ke Rusia dengan gadis itu sesegera mungkin."


"Kalau begitu seharusnya kau tidak membiarkan Lion dan Ars bertarung. Kau sudah memiliki gadis itu—"


"Kau tidak mengerti Ivan!!" Niko beranjak dari duduknya dan mencengkram kerah baju Ivan dengan sangat kuat. "Aku ingin menyingkirkannya dari dalam hati gadis itu."


"Sekarang kau menunjukkan sifat aslimu. Sifat asli orang Rusia." Ucap Ivan.


Niko melepaskan cengkramannya dari Ivan. Dengan tak habis pikir Ivan berjalan menuju pintu keluar dari tempat itu, meninggalkan sepupu jauhnya.


"Hanya kau yang akan menderita jika pertarungan itu sampai terjadi, kakak sepupuku yang kejam." Seru Ivan sebelum keluar dari sana.


Niko tertawa sarkastis mendengarnya.


...***...


Lion membuka pintu kamarnya dan Aramis sudah menunggunya di sana. Lion tidak heran bahkan dia sudah menebaknya. Aramis menunggu kedatangannya karena masalah tantangan yang sudah menyebar luas.


"Apapun yang kau katakan aku tidak akan menurutinya." Ujar Lion sembari masuk kamarnya dan meletakan dompet beserta handphone-nya di meja belajar dekat Aramis duduk. "Kita akan melakukan pertarungan itu besok."


"Baiklah Lion, kita akan bertarung tapi bukan pertarungan hidup dan mati. Kita lakukan pertarungan biasanya, siapapun yang mengaku kalah atau segera pergi, lawannya adalah pemenangnya."


Lion menggelengkan kepalanya sambil melepas jam tangan yang dipakainya.


"David bilang kau hanya dimanfaatkan Niko." Seru Aramis.


"Ternyata kau benar, Ars." Ucap Lion menatap Aramis yang masih duduk tak memedulikan perkataan Aramis. "Punya banyak teman memang merepotkan."


"Kau mungkin saja mati jika pertarungan itu terjadi."


"Astaga, kau sangat meremehkan kemampuanku, Ars." Tatap Lion kesal. "Kau yakin sekali kalau akan menang. Kau memang sama sombongnya dengan kedua kembaranmu. Ya, semua orang juga memang sudah tahu itu. Kalian bertiga sangat sombong karena tidak ada yang bisa mengalahkan kalian bertiga di kota ini."


"Itu semua juga karena ada kau di belakang kami, bodoh." Jawab Aramis. "Aku tidak akan datang besok, hentikan semua kekonyolanmu." Aramis bangkit berdiri dan segera keluar dari kamar Lion.


Sepeninggalan Aramis, Lion duduk di kursi yang tadi Aramis duduki. Dia mengambil handphone-nya dan menghubungi seseorang.


"Halo, sayang." Suara wanita terdengar di ujung telepon. "Tumben sekali kau yang menelepon. Aku sangat merindukanmu."


"Kemungkinan aku akan segera pergi jauh dan tidak bisa dihubungi, mom." Jawab Lion pada ibunya. "Aku juga sudah memakai semua uangku, apa boleh aku memintanya sedikit lagi?"


...***...


Aramis masuk ke rumah Anna. Rumah itu sekarang menjadi tempat yang sering dirinya kunjungi. Anna tidak jadi menjualnya karena permintaan Aramis yang ingin memakainya menjadi studio melukisnya.


"Ivan, aku tahu, banyak dari kalian tidak ingin pertarungan itu terjadi." Aramis menelepon Ivan. "Kau harus menghentikan bocah itu. Aku tidak berniat datang ke pertarungan besok, tapi aku yakin dia juga sudah meminta kalian melakukan sesuatu agar aku datang 'kan?"


"Datanglah, Ars, dan hadapi si bodoh itu." Ujar Ivan. "Biarkan dia berbuat sesukanya, selama ini dia tidak pernah melakukan apapun sesukanya."


"Apa yang kau katakan? Dia bisa mati."


"Dengarkan kata-kataku..."


...***...


Prothos keluar rumah pagi-pagi sekali untuk lari pagi. Akhirnya dia memutuskan untuk melakukannya lagi dan kembali membenahi hidupnya, walau saat ini kesedihan masih saja dirasakannya. Dia masih belum mampu menerima kepergian kekasihnya, dan bayang-bayang Widia juga masih ada di dalam dirinya, membuat lukanya tidak kunjung sembuh.


"Oto..." Panggil Lion ketika Prothos melewati rumahnya. "Aku juga ingin lari pagi, ayo kita lakukan bersama." Lion berlari di samping Prothos. "Bagaimana kondisi Ato?"


"Kemungkinan hari ini dia akan dipindahkan ke ruang perawatan." Jawab Prothos.


"Itu kabar baik kan?"


"Aku rasa sudah seharusnya dimulai. Kalian akan lulus kan? Ato ingin fokus pada project-nya itu saat sudah lulus nanti." Jawab Lion masih berlari di samping Prothos.


"Kau serius menantang Ars? Aku yakin kau hanya bertingkah aneh."


"Aku serius." Jawab Lion kesal.


Prothos menghentikan larinya begitupun dengan Lion. "Apa tujuanmu sebenarnya? Jangan bilang kau memang ingin mengakhiri hidupmu?"


"Kau pun meremehkan kemampuanku." Tatap Lion semakin kesal.


"Kau tahu kan kau tidak akan bisa mengalahkan Ars, tak ada yang bisa mengalahkannya di pertarungan satu lawan satu." Seru Prothos. "Tak ada yang berani menantangnya di pertarungan satu lawan satu karena mereka tahu tidak akan bisa mengalahkannya. Selama ini mereka hanya mengeroyok Ars untuk kesenangan mereka bukan untuk mengalahkan Ars. Walau begitu Ars juga tidak terkalahkan saat mereka mengeroyok-nya."


Lion tertawa mendengar ocehan saudara kembar sahabatnya itu.


"Masa bodoh, aku tidak ingin ikut campur urusan kalian para orang aneh yang bodoh." Ujar Prothos dengan sangat kesal dan kembali berlari lagi.


Lion menghentikan tawanya dan berlari kembali di samping Prothos.


"Lion, pasti kau tahu mengenai Mona kan? Dia adalah kakak dari Mario, si berengsek yang berniat merusak wajah tampanku." Tanya Prothos menoleh pada Lion.


"Mona? Kau sudah tahu kalau dia kakak dari Mario?"


"Dia yang bertugas membersihkan penthouse Niko di mana aku berada kemarin. Kami mengobrol beberapa kali." Jawab Prothos. "Bukankah dia berkuliah? Kenapa sekarang dia bekerja? Bahkan sepertinya dia sudah beberapa kali berganti pekerjaan. Bagaimana dengan kuliahnya?"


"Sepertinya dia berhenti kuliah setelah kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan akhir tahun lalu." jawab Lion. "Saat ini dia bekerja untuk bertahan hidup setelah Mario pun meninggal."


"Jadi sekarang dia hidup sendirian?"


"Tidak, sebenarnya dia masih punya seorang adik laki-laki yang lain." Jawab Lion.


"Benarkah?"


"Usianya baru sembilan tahun." Ujar Lion. "Jadi dia bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, dia juga harus membiayai adiknya yang masih kecil itu, karena itu dia berhenti kuliah dan bekerja. Bahkan aku dengar dia punya banyak kerja sampingan. Ketika seseorang meneleponnya, dia akan datang menemui orang itu."


"Apa kerja sampingannya?"


"Heh, kenapa kau ingin tahu?" Tatap Lion curiga. "Sepertinya kau sudah tidak sedih lagi dengan kepergian bu guru."


Prothos mengubah ekspresi wajahnya menunjukan kesedihan.


"Aku sudah tidak berniat memiliki hubungan serius dengan wanita manapun." Ucap Prothos berhenti berlari.


"Aku akan membunuhmu kalau kau berniat main-main dengannya." Ancam Lion menatap serius Prothos.


"Tidak akan, Lion." Jawab Prothos juga menatap Lion. "Aku sangat menghargai gadis itu, aku menghormatinya."


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


Terimakasih sudah membaca sejauh ini, mohon maaf kalau terlalu panjang, dan jadi bosan.


Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen.


Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini.


Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari.


Baca juga karya author lainnya.


Terimakasih...