MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
147. MALAIKAT VS IBLIS



Melody yang bersama dengan Niko berada di restoran steak baru saja menyelesaikan makannya. Niko menatap gadis yang duduk di hadapannya dengan lekat. Sebentar lagi mereka akan bertunangan dan semua persiapannya sudah diatur olehnya. Itu membuat dirinya merasa sangat senang.


"Niko, jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku takut." Ucap Melody tidak berani menatap pada Niko dengan menundukan kepalanya.


Niko tersadar dan langsung menarik tatapan lekatnya dari Melody. Dia mengambil pelembab bibir dan mengoleskannya ke bibirnya yang tampak kering dan sedikit pucat.


"Maafkan aku, sayang." Ucap Niko setelah memasukan pelembab bibirnya ke saku mantelnya. "Kakimu masih sakit? Apa perlu kita periksa ke dokter?"


"Tidak usah. Ini hanya terkilir, beberapa hari pasti akan sembuh." Jawab Melody.


"Pertunangan kita sebentar lagi, semoga akan sembuh sebelum acara itu."


"Bagaimana dengan tanganmu?" Melody melihat ke tangan kiri Niko yang memakai sarung tangan. "Apa sudah sembuh?"


"Ya sepertinya begitu, walau masih sedikit sakit tapi sudah semakin membaik." Niko tersenyum menjawab perhatian Melody. "Apa yang kau inginkan untuk hadiah pertunangan kita?"


"Tidak ada." Jawab Melody dengan sangat cepat.


"Sekitar satu bulan setelah bertunangan kita akan menikah. Lalu apa yang kau ingin kan untuk hadiah pernikahan?"


"Niko, aku tidak ingin apapun."


"Harus ada yang kau inginkan agar aku bisa memberikannya padamu." Seru Niko dengan sedikit memaksa. "Setelah pertunangan aku akan mengajakmu berlibur dengan kapal pesiar. Kita akan ke laut dan berlayar beberapa hari. Hanya kita berdua."


"Apa?" Melody terkejut mendengar perkataan Niko. "Niko, aku tidak ingin berlayar, aku takut karena tidak bisa berenang. Kita tidak perlu kemanapun karena setelah pertunangan seminggu setelahnya kau akan membawaku ke Rusia."


Niko membuang napasnya dengan sedikit kesal. Dia pun sebenarnya tahu jika Melody akan menolaknya untuk berlibur dengan kapal pesiar.


"Aku punya satu keinginan." Ujar Melody. "Minggu depan orang tuamu akan datang untuk bertemu dengan keluargaku. Dan setelahnya adalah hari ujian kenaikan kelas, itu berarti satu minggu sebelum acara pertunangan. Apa bisa selama seminggu itu kita tidak perlu bertemu?"


"Ada apa? Kenapa kau tidak ingin kita bertemu?"


"Aku ingin fokus ujian dulu." Jawab Melody menundukan kepalanya. "Aku juga ingin menyendiri sebelum kita bertunangan. Kebetulan saat ujian kita berada di kelas yang berbeda jadi kita tidak usah bertemu dulu."


...***...


"Kau semakin terlihat segar, Oto. Kau semakin tampan." Ujar Ricky yang berdiri di belakang Prothos sambil menyisir rambut Prothos yang sudah di potong dan diwarnai. "Tidak akan ada wanita yang menolakmu sekarang."


"Kau semakin sangat tampan, Oto." Seru seorang pegawai wanita dan dapat persetujuan dari yang lainnya.


Prothos memperhatikan dirinya di pantulan cermin. Rambutnya yang hitam berubah menjadi cokelat terang. Dia merasa dirinya memang semakin tampan sekarang, ditambah dengan potongan rambut Mona yang terlihat cocok untuknya.


"Ya, ini sangat cocok denganku." Jawab Prothos. "Aku akan melesat dengan cepat di tangga popularitas." Prothos tersenyum dengan ciri khasnya, memperlihatkan kedua lesung pipinya. Jurus andalannya untuk menebar pesona.


"Memang harus seperti itu!!" Seru Mona yang duduk di sebuah sofa di belakang Prothos. "Semua wanita akan menyukaimu tapi jangan sampai mereka tahu sifat aslimu atau mereka akan berpikir lagi untuk menyukaimu."


"Apa maksudmu?" Tatap Prothos pada Mona dari pantulan cermin.


"Mulai sekarang kau aku larang tersenyum pada semua wanita yang melihatmu, dan jangan menatap mereka juga." Ujar Mona dengan tatapan tajam pada Prothos.


"Astaga, kenapa kau melarangku?" Prothos menoleh dengan heran. "Kau bukan pacarku kenapa melarangku seperti itu? Bahkan pacar-pacarku dulu tidak ada yang berani melarangku seperti itu. Atau jangan-jangan selama ini kau menyukaiku ya? Apa kau cemburu aku tersenyum pada banyak wanita?"


Mona mendengus kesal mendengar perkataan Prothos. Tatapannya menjadi malas pada pemuda yang menoleh padanya.


"Bukan hanya penampilan, aku akan merubah sifat dan sikapmu agar kau tidak terlihat seperti pria murahan!!" Seru Mona dengan kesal.


"Apa maksudmu? Pria murahan?" Prothos menjadi kesal mendengar perkataan Mona.


"Dan lagi, aku juga sudah pernah bilang padamu sebelumnya. Dunia hiburan sudah memiliki Juan yang terkenal dengan sifat ramahnya. Dia selalu tersenyum hangat pada siapapun, kalau kau masih seperti dirimu yang suka tersenyum menebar pesona, maka tak ada tempat untukmu di dunia hiburan. Ubahlah dirimu mulai sekarang, jangan tersenyum dan tajamkan tatapanmu. Jika Juan adalah malaikat maka kau harus membentuk image-mu seperti saingannya, jadilah seorang iblis dengan tatapan dingin yang tajam."


"Itu juga membuatmu terlihat tidak murahan." Jawab Mona. "Itu juga cocok dengan sifat aslimu kan? Iblis!!"


"Terus kau mau bilang kalau Juan adalah malaikat?" Prothos bertanya dengan sangat kesal.


Mona hanya tersenyum dengan dibuat-buat menjawab Prothos. Itu membuat Prothos semakin kesal. Kebenaran bahwa Juan tidak sebaik dugaan gadis itu membuat Prothos sangat kesal karena Mona masih berpikiran jika Juan adalah pria baik.


Prothos jadi menyesal karena melindungi gadis itu dari Juan. Dirinya menyesal mengaku menjadi malaikat pelindungnya sedangkan Mona sendiri menganggap dirinya adalah iblis dan sebaliknya dengan Juan. Gadis itu melihat Juan seperti seorang malaikat padahal apa yang ingin dilakukan pada Mona lebih cocok dibilang dia adalah seorang iblis. Bahkan pria itu pun mengakui jika dirinya adalah iblis pengintai.


"Kau mengerti kan sekarang?" Tatap Mona.


Prothos hanya membuang napas dan duduk kembali bersandar di kursi.


"Ricky, tolong bilang juga pada Oscar untuk melepas gambar-gambar dirinya di sana." Seru Mona menunjuk gambar-gambar Prothos ketika menjadi model di salon tersebut. "Dia akan memulai karirnya sebagai artis, jadi jika masih memasang gambarnya aku akan mengenakan royalti pada salon ini."


Prothos semakin terkejut mendengar perkataan Mona karena mempermasalahkan gambar-gambar dirinya yang sudah lama ada di salon tersebut.


Tidak berapa lama mereka berdua keluar dari salon tersebut dan hendak menuju ke toko pakaian. Dengan tampilan baru Prothos yang membuat pemuda itu semakin tampan membuat siapa saja menatapnya. Aura bintangnya memancar hingga tak ada yang tidak melihat ke arahnya saat ini.


"Ingatlah kata-kataku tadi." Ucap Mona yang berjalan di samping Prothos karena Prothos terlihat memberikan senyumnya pada semua yang melihat ke arahnya.


Prothos jadi menahan senyumnya dan berjalan dengan tatapan terus ke depan, menahan dirinya menoleh pada siapapun yang menatapnya agar tidak memberikan senyumnya.


Mereka berdua sampai di sebuah toko brand yang sangat terkenal. Mona memilihkan beberapa pakaian untuk Prothos coba.


"Ini juga cocok untukmu." Ucap Mona saat Prothos saat keluar dari fitting room.


Mona membenarkan kerah kemeja hitam yang dipakai Prothos setelah membuka dua kancingnya.


"Semua yang aku pakai akan cocok untukku." Ujar Prothos tersenyum.


"Sudah aku bilang jangan tersenyum di tempat umum." Celetuk Mona.


Mona berada di kasir untuk membayar semua pakaian yang dibelinya dengan menggunakan kartu kredit yang diberikan Athos. Prothos berdiri di sampingnya.


"Bukankah kau Prothos dari Musketeers?" Tanya seorang pegawai yang berada di balik meja kasir.


Prothos tidak langsung menjawab dan melihat pada Mona. Dia takut kalau dirinya salah bersikap saat ini.


"Ada apa?" Tanya Mona pada pegawai tersebut.


"Bolehkah kami berfoto dengannya?"


"Maaf, untuk saat ini dia tidak boleh berfoto dengan siapapun. Kalian bisa berfoto dengannya saat dia sudah terkenal nanti." Jawab Mona dengan sebuah senyuman. "Kalian bisa mengikuti akun sosial medianya dan melihat perkembangannya nanti. Dia akan menjadi seorang artis."


"Astaga, benarkah?"


"Kalian harus mendukungnya ya." Ujar Mona.


Prothos berjalan meninggalkan kasir dan menuju keluar. Dia sudah tidak kuat menghadapi tingkah Mona yang sekarang berkuasa atas dirinya.


"Kenapa Ato harus menjadikan dia asisten sekaligus manager-ku?" Gumam Prothos kesal.


...–NATZSIMO–...


Follow IG author untuk tampilan visual Prothos terbaru ya di @natzsimo.author